Diduga Kecewa Tak Bisa Beli Pena, Siswa SD di Ngada Ditemukan Meninggal Dunia
- calendar_month Rab, 4 Feb 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar

Foto tulisan tangan milik YBS (10), korban dugaan bunuh diri di Kabupaten Ngada, NTT, yang tersebar di kalangan media, Kamis (29/1/2026). Korban merupakan siswa kelas IV sekolah dasar yang tinggal bersama neneknya. (Foto: HUMAS POLRES NGADA/Kompas.id)
NGADA NTT (BALENGKO) — Seorang siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidup di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026). Peristiwa memilukan ini dipicu oleh kesedihan korban yang tidak bisa membeli perlengkapan sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Kronologi Penemuan
Dilansir dari tribunnews.com Jasad YBS ditemukan di sebuah pohon cengkeh yang berlokasi tidak jauh dari rumah neneknya, WN. Korban selama ini tinggal bersama sang nenek di wilayah tersebut.
Di lokasi kejadian, ditemukan sepucuk surat yang ditulis oleh siswa kelas IV SD tersebut. Dalam suratnya, YBS meminta ibunya, MGT (47), untuk mengikhlaskan kepergiannya.
Persoalan Buku dan Pena
Berdasarkan keterangan keluarga, sebelum kejadian YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh MGT.
Uang yang dibutuhkan untuk membeli alat tulis tersebut sebenarnya tidak sampai Rp10.000. Namun, MGT yang bekerja sebagai buruh serabutan dan petani menyatakan sedang tidak memiliki uang saat itu.
Kondisi Keluarga
MGT merupakan seorang ibu tunggal yang harus berjuang menghidupi lima orang anaknya. Keterbatasan ekonomi yang dialami keluarga ini diduga menjadi latar belakang di balik keputusan tragis korban.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius masyarakat Indonesia sebagai pengingat akan pentingnya jaring pengaman sosial dan perhatian terhadap kondisi psikologis anak di tengah kesulitan ekonomi.
Catatan Redaksi: Berita ini mengandung informasi mengenai tindakan bunuh diri. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami tekanan psikologis atau pikiran untuk mengakhiri hidup, segera hubungi layanan kesehatan jiwa atau profesional medis terdekat.
- Penulis: balengko space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: tribunnews.com

Saat ini belum ada komentar