Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » TARA NO ATE; MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

TARA NO ATE; MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

  • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
  • visibility 553
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Perintah wahyu Iqra’ (bacalah) merupakan peradaban literasi pertama kali yang tertuju kepada Nabi Muhammad Saw dalam rangka menghidupkan spirit rohaniyyah untuk membangun desain program peradaban manusia dan alam semesta, amar atau perintah “membaca” sarat dengan aneka ragam makna yaitu, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah tanda-tanda alam, tanda-tanda zaman, membaca fakta sejarah, mengenal diri sendiri, membaca situasi dan kondisi dunia baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Karena amar/perintah yang datang dari peradaban langit untuk “membaca” adalah sesuatu yang dihukumi wajib dan menjadi keharusan bagi penguasa negara dalam kaitannya agar meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup manusia Provinsi Maluku Utara. Melalui approach tiga dimensi dasar yang mencakup umur panjang dan sehatnya manusia Indonesia-Moloku Kie Raha, memiliki kecerdasan ilmu pengetahuan (mencerdaskan kehidupan bangsa), dan kehidupan yang layak bagi rakyat Indonesia-Moloku Kie Raha. Maka untuk krusing dimensi kesehatan manusia-Moloku Kie Raha, digunakan angka harapan hidup waktu manusia Indonesia-Moloku Kie Raha lahir ke alam semesta ini. Dan “membaca” untuk membangun peradaban alam semesta dalam aneka maknanya adalah sebagai salah satu syarat number wahid/pertama dan utama untuk mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di alam semesta ini, serta syarat utama untuk membangun peradaban masyarakat adat se-atorang Moloku Kie Raha untuk menjalin rasa dan merawat warisan di tanah para leluhur katorang samua.

Mencintai tanah air adalah bagian dari Iman (hubbul wathan min al-iman) merupakan jalinan dzauq (rasa) nasionalisme yang kuat dalam diri kita sebagai warga bangsa Indonesia-Moloku Kie Raha yang tak pernah berbohong. Nilai-nilai budaya atau adat-istiadat sangat mengakar pada masyarakat Moloku Kie Raha yang disebut dengan istilah masyarakat-adat untuk membangun jalinan rasa dalam merawat warisan di tanah para leluhur kita sebagai masyarakat Provinsi Maluku Utara yang berkarakter adat se-atorang dalam satu tarikan rasa yang terpatri dalam sanubari kita. Maka sampai hari ini masyarkat adat Moloku Kie Raha tetap istiqamah merawat adatnya ilaa yawmil qiyamah. Hal ini sebagaimana dalam kaidah ushul fikih dikatakan, “bahwa sebuah kewajiban untuk merawat adat-istiadat yang lama dan masih dianggap relevan sampai hari ini, dan kemudian membuka diri untuk mengambil budaya baru yang dianggap baik untuk kemajuan sebuah peradaban.” Hal inilah yang menjadi infrastruktur budaya kesultanan Ternate yang sangat kuat akarnya yang mengharmoniskan untuk menjalin satu tarikan rasa antara nasionalisme dan adat-istiadat di Provinsi Maluku Utara.

Samuel Philips Huntington dalam “clash of civilizations” (benturan peradaban) adalah seorang Guru Besar ilmu politik dunia yang kemudian menyebut tentang pasca bubarnya negara komunis Soviet tahun 1991, akan terjadi perang agama dan perang suku di beberapa belahan negara timur termasuk Indonesia, yang kemudian Huntington menyebutnya dengan istilah “benturan peradaban”. Bahwa akan terjadi perang peradaban yaitu sebuah perang yang dimotivasi, didorong, dan disebabkan oleh perbedaan agama dan suku bangsa. Ramalan Huntington ternyata menjadi kenyataan yang dialami oleh negara-negara Timur Tengah, lalu puncaknya adalah terjadi “Arab Spring” (sebuah serangkaian gerakan anti pemerintah yang berkuasa) dimana terdapat aksi protes, pemberontakan bersenjata yang menyebar di Jazirah Arab yang dimulai dari negara Tunis, Mesir, Libya, Irak, Suriah dan seterusnya. Kenyataan terjadinya perang agama dan suku telah berhasil membuktikan teori Huntington bahwa setelah bubarnya kekuatan negara komunis Soviet maka yang terjadi adalah perang peradaban antar-agama dan antar-suku benar terjadi di negara Timur Tengah. Adapun keinginan untuk menggulingkan pemerintah sah yang berkuasa pada masa itu dilatarbelakangi oleh sikap pemerintah sendiri yang dinilai abai dan selalu melakukan tindakan represif ketika masyarakat akan melakukan unjuk rasa terkait dengan masalah politik, sosial, dan ekonomi.

Ramalan Huntington ternyata tidak terbukti dan tidak akan pernah berhasil untuk diterapkan di Indonesia, karena bangsa Indonesia-Moloku Kie Raha sudah memegang teguh prinsip yang diajarkan oleh alam semesta ini yaitu, Ukhuwwah wathaniyyah yang berarti persaudaraan sesama warga-bangsa yang memiliki prinsip dan asas-asas kebudayaan kuat untuk menyambungkan tali-temali kemajemukan dalam keragaman budaya dan menghargai nilai-nilai moderasi umat beragama sedari awal di Moloku Kie Raha. Maka prinsip dasar ukhuwwah insaniyyah yang berarti persaudaraan se-kemanusiaan adalah nilai-nilai humanis/kemanusiaan yang terlalu kuat ikatannya dan memiliki daya dorong yang luar biasa dalam mempertahankan konsensus bersama untuk mengokohkan empat pilar kebangsaan yakni, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), dan Undang-undang Dasar 1945 untuk menjalin rasa dan merawat warisan di tanah para leluhur katorang di Moloku Kie Raha ini.

Maka membuat perspektif yang lebih luas dalam pelaksanaan kegiatan Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha 2025” ini memiliki kekuatan magnet tersendiri untuk menyedot perhatian para ilmuwan dunia agar mereka dengan sendirinya melancong untuk hadir secara langsung dan menyaksikan lebih dekat untuk kemudian “membaca” ayat-ayat “Alam ma Kolano” atau penguasa alam karena hal ini sejalan dengan kedudukan manusia di alam ini sebagai Khalifah Fi al-Ardhi (lihat QS. Al-Baqarah:[2]:[30]) yang kemudian diamanatkan menjadi khalifah atau wakil Tuhan di alam ini yang tentu saja untuk menjadi bagian kecil dari spirit “Alam ma Kolano” yang menjalankan amanah Rasulullah Saw yang Rahmatan Lil ‘Alamin atau sebagai pelanjut untuk melaksanakan misi Rasulullah Saw sebagai Rahmat bagi semesta alam. Masyarakat dunia secara otomatis akan memberikan apresiasi dan pengakuan yang berkelas tinggi atas hak kepemilikan tanah air yang kita miliki hari ini. Karena dikatakan dalam sebuah adagium yakni, “barang siapa yang tidak punya tanah air, maka ia tak punya sejarah, dan barang siapa yang tak punya sejarah, maka tak punya karakter-kebudayaan”. Maka pelaksanaan rutinitas ibadah sosial dalam format Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha” ini sesungguhnya kita ingin menampilkan kekayaan tradisi dan keunggulan nilai-nilai historis kesultanan Ternate yang pernah jaya, unggul dan kuat dimasa lampau dan bahkan bertahan kesaktiannya sampai masa kini dalam kegiatan “Tasyakkuran Alam ma Kolano”. Inilah spirit dalam menjalin rasa merawat warisan di tanah para leluhur yang saya, anda, dan kita semua cintai.

Terminologi “Tara No Ate” adalah bahasa kultur yang asal-muasalnya telah melahirkan sebuah negeri “Gapi” yang saat ini “bertajalli” atau bermanivestasi untuk terwujudnya sebuah nama di alam ini menjadi sebuah nama “Ternate”. Jika diterjemahkan dalam pendekatan semantik, “tara” artinya turun, “no” artinya anda/kamu, dan “ate” artinya rangkul, menggaet. Ada pemahaman yang tersirat (mafhum-mukhalafah) dalam istilah “Tara No Ate” yang mengandung amar/perintah agar “Alam ma Kolano” harus membumikan peradaban dari alam langit agar segera turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah yaitu alam realitas/bumi untuk merangkul semua penduduk alam yang bertikai atau bermusuhan atau menumpahkan darah agar berkewajiban secara bersama-sama (katorang-samua) untuk membangun kehidupan umat manusia di alam ini dalam keadaan aman dan sentosa berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.

Maka untuk senantiasa menfokuskan dirinya sebagai “Alam ma Kolano” yang hanya satu-satunya menyembah/bertauhid ilahiyyah kepada Allah Swt sebagai penguasa mutlak/tunggal akan menjadi bekal yang sangat penting dalam upaya membentuk alam peradaban dan kebudayaan (tsaqafah dan hadharah) bagi alam Kota Ternate yang maju dan unggul di kancah global. Sehingga pada hakikatnya bahwa memaknai secara loghawiyyah “Tara No Ate” dapat dimaknai sebagai wujud dari manivestasi Asma’ Allah untuk kita lestarikan setiap tahun dalam kegiatan Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha” ini yang didalamnya dilakukan ritual praktik adat-istiadat yang dikenal dengan sebutan “daru gam” yaitu berupa aktivitas kunjungan ke daerah-daerah tertentu untuk berziarah menguatkan hubungan shilaturrahim spritual kepada para arwah leluhur “alam ma kolano”, kemudian melakukan ritual adat “Kololi Kie” yaitu kegiatan ritual adat-istiadat kesultanan Ternate mengelilingi gunung gamalama untuk berkomunikasi secara live (langsung) dengan alam semesta (hablumminal’alam) agar selalu berada dalam keadaan ramah dan lembut dengan kehidupan “Alam ma Kolano”, dan selanjutnya adalah melakukan kegiatan ritual “Fere Kie” yaitu sebagai wasilah untuk yang Mulia sang Sultan menyampaikan permohonan do’a kepada Allah Swt untuk meminta perlindungan (ma’unah dan ‘inahyah) serta jaminan keselamatan untuk “bala kusu se kano-kano” sebagai manivestasi kecintaan sultan/Ou terhadap rakyatnya di alam semesta ini. Maka ke-islaman dan hakikat kalimat tauhid kita akan mencapai puncak yang tertinggi di alam semesta ini karena proses bermakrifat dari alam semesta yakni takhalli-tahalli dan tajalli, hingga ber-wahdat al-wujud, yang kemudian membawa kita pada pemahaman hakiki bahwa segenap realitas alam semesta ini hanyalah fatamorgana dan akan sirna, dan kita semua akan kembali ke hakikat yang tunggal, yaitu Allah Swt melalui “al-mauwtu baabun wa kullu al-naasi daakhiluhu”, yakni kematian adalah pintu dan semua manusia pasti memasukinya. Semoga bermanfaat tulisan ini. Wallahu ‘alam bishshawab.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Oleh: Sahabuddin Lumbessy (Ketua PC IKA PMII Kepulauan Sula)

    Konsolidasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama untuk Sula Bermartabat

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Sahabuddin Lumbessy (Ketua PC IKA PMII Kepulauan Sula)
    • visibility 521
    • 0Komentar

    Memperkuat sistem pengelolaan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) di daerah merupakan ikhtiar strategis untuk mewujudkan cita-cita luhur para pendiri NU. Dalam perjalanan panjang organisasi, NU telah melalui berbagai dinamika yang justru menempa dirinya menjadi organisasi keagamaan yang kuat, adaptif, dan memiliki basis jamaah terbesar di Indonesia. Data tahun 2019 mencatat jumlah anggota NU mencapai 91,2 juta […]

  • Sahur On The Road Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta – Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar

    Sahur On The Road Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta – Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Yogyakarta, 9 Maret 2025 – Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta menggelar kegiatan Sahur On The Road pada Minggu, 9 Maret 2025. Acara ini berlangsung dari pukul 02.00 WIB hingga 05.00 WIB, dengan tema “Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar”. Acara ini bertujuan membagikan sahur kepada masyarakat Yogyakarta, khususnya kaum […]

  • Kedaulatan di Setiap Ombak: Anak Pulau Loloda dan Perjuangan Menjaga Laut Halmahera

    Kedaulatan di Setiap Ombak: Anak Pulau Loloda dan Perjuangan Menjaga Laut Halmahera

    • calendar_month Minggu, 10 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Asmar Joma
    • visibility 524
    • 0Komentar

    Di tepi lautan luas yang menelan cakrawala, pulau-pulau kecil di Loloda negeri para tetua di Halmahera bagian Utara berdiri sebagai benteng sunyi. Tidak banyak yang memikirkan keberadaan mereka, kecuali saat badai datang atau wacana geopolitik dunia bergeser. Namun, bagi mereka yang tinggal di sana, setiap jengkal tanah, setiap hempasan ombak adalah pernyataan eksistensi yang tak […]

  • BELA RUANG HIDUP: Warga Desa Sagea saat melakukan aksi protes terhadap aktivitas pertambangan yang mengancam lingkungan mereka. WALHI Maluku Utara mendesak kepolisian menghentikan pemanggilan terhadap 14 warga yang dinilai sebagai bentuk kriminalisasi pejuang lingkungan. (Foto: Istimewa)

    WALHI Malut Desak Polda Hentikan Pemanggilan 14 Warga Desa Sagea

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Ternate, (BALENGKO) – WALHI Maluku Utara memandang serius pemanggilan 14 warga Desa Sagea oleh Polda Maluku Utara pasca aksi penolakan aktivitas pertambangan PT Mining Abadi Indonesia (MAI). Aksi yang dilakukan warga bersama Koalisi Save Sagea tersebut merupakan bentuk penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin konstitusi. Hak itu diatur dalam Pasal 28E UUD 1945 serta […]

  • Faisal kritik James Uang terkait demo geothermal dan pemindahan RSP Loloda

    Faisal Umanailo Kritik Respons Arogan Bupati James Uang soal Demo Geothermal dan Pemindahan RSP

    • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 963
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Yogyakarta (6/9/25) – Faisal Umanailo SH, kritik James Uang usai video aksi Semahabar Ternate tentang aksi yang membawa isu geothermal dan pemindahan Rumah Sakit Pratama (RSP) Loloda viral di dunia maya. Dalam video yang beredar, Bupati Halmahera Barat James Uang menyatakan bahwa ia berhak menolak tidak hadir dalam pertemuan dengan mahasiswa. Respons tersebut […]

  • Source : Istimewa

    Gal-Da: Ruang Hidup Elit vs Mimpi Otonomi Rakyat

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Asbar Kuseke
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Semangat Perjuangan yang Tersandera DOB Galela Loloda (Galda) bukan sekadar wacana administratif; ia adalah “lonceng pengingat” sejak Deklarasi 2011 di Galela Selatan. Perjuangan ini lahir dari kolektivisme moral dan ekonomi masyarakat yang masif. Namun, sangat disayangkan jika energi besar dari para tokoh lintas sektor—politik, intelektual, hingga agamawan—kini seolah terbentur tembok kepentingan elit yang tidak linier […]

expand_less