Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » TARA NO ATE; MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

TARA NO ATE; MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

  • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
  • visibility 973
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Perintah wahyu Iqra’ (bacalah) merupakan peradaban literasi pertama kali yang tertuju kepada Nabi Muhammad Saw dalam rangka menghidupkan spirit rohaniyyah untuk membangun desain program peradaban manusia dan alam semesta, amar atau perintah “membaca” sarat dengan aneka ragam makna yaitu, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah tanda-tanda alam, tanda-tanda zaman, membaca fakta sejarah, mengenal diri sendiri, membaca situasi dan kondisi dunia baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Karena amar/perintah yang datang dari peradaban langit untuk “membaca” adalah sesuatu yang dihukumi wajib dan menjadi keharusan bagi penguasa negara dalam kaitannya agar meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup manusia Provinsi Maluku Utara. Melalui approach tiga dimensi dasar yang mencakup umur panjang dan sehatnya manusia Indonesia-Moloku Kie Raha, memiliki kecerdasan ilmu pengetahuan (mencerdaskan kehidupan bangsa), dan kehidupan yang layak bagi rakyat Indonesia-Moloku Kie Raha. Maka untuk krusing dimensi kesehatan manusia-Moloku Kie Raha, digunakan angka harapan hidup waktu manusia Indonesia-Moloku Kie Raha lahir ke alam semesta ini. Dan “membaca” untuk membangun peradaban alam semesta dalam aneka maknanya adalah sebagai salah satu syarat number wahid/pertama dan utama untuk mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di alam semesta ini, serta syarat utama untuk membangun peradaban masyarakat adat se-atorang Moloku Kie Raha untuk menjalin rasa dan merawat warisan di tanah para leluhur katorang samua.

Mencintai tanah air adalah bagian dari Iman (hubbul wathan min al-iman) merupakan jalinan dzauq (rasa) nasionalisme yang kuat dalam diri kita sebagai warga bangsa Indonesia-Moloku Kie Raha yang tak pernah berbohong. Nilai-nilai budaya atau adat-istiadat sangat mengakar pada masyarakat Moloku Kie Raha yang disebut dengan istilah masyarakat-adat untuk membangun jalinan rasa dalam merawat warisan di tanah para leluhur kita sebagai masyarakat Provinsi Maluku Utara yang berkarakter adat se-atorang dalam satu tarikan rasa yang terpatri dalam sanubari kita. Maka sampai hari ini masyarkat adat Moloku Kie Raha tetap istiqamah merawat adatnya ilaa yawmil qiyamah. Hal ini sebagaimana dalam kaidah ushul fikih dikatakan, “bahwa sebuah kewajiban untuk merawat adat-istiadat yang lama dan masih dianggap relevan sampai hari ini, dan kemudian membuka diri untuk mengambil budaya baru yang dianggap baik untuk kemajuan sebuah peradaban.” Hal inilah yang menjadi infrastruktur budaya kesultanan Ternate yang sangat kuat akarnya yang mengharmoniskan untuk menjalin satu tarikan rasa antara nasionalisme dan adat-istiadat di Provinsi Maluku Utara.

Samuel Philips Huntington dalam “clash of civilizations” (benturan peradaban) adalah seorang Guru Besar ilmu politik dunia yang kemudian menyebut tentang pasca bubarnya negara komunis Soviet tahun 1991, akan terjadi perang agama dan perang suku di beberapa belahan negara timur termasuk Indonesia, yang kemudian Huntington menyebutnya dengan istilah “benturan peradaban”. Bahwa akan terjadi perang peradaban yaitu sebuah perang yang dimotivasi, didorong, dan disebabkan oleh perbedaan agama dan suku bangsa. Ramalan Huntington ternyata menjadi kenyataan yang dialami oleh negara-negara Timur Tengah, lalu puncaknya adalah terjadi “Arab Spring” (sebuah serangkaian gerakan anti pemerintah yang berkuasa) dimana terdapat aksi protes, pemberontakan bersenjata yang menyebar di Jazirah Arab yang dimulai dari negara Tunis, Mesir, Libya, Irak, Suriah dan seterusnya. Kenyataan terjadinya perang agama dan suku telah berhasil membuktikan teori Huntington bahwa setelah bubarnya kekuatan negara komunis Soviet maka yang terjadi adalah perang peradaban antar-agama dan antar-suku benar terjadi di negara Timur Tengah. Adapun keinginan untuk menggulingkan pemerintah sah yang berkuasa pada masa itu dilatarbelakangi oleh sikap pemerintah sendiri yang dinilai abai dan selalu melakukan tindakan represif ketika masyarakat akan melakukan unjuk rasa terkait dengan masalah politik, sosial, dan ekonomi.

Ramalan Huntington ternyata tidak terbukti dan tidak akan pernah berhasil untuk diterapkan di Indonesia, karena bangsa Indonesia-Moloku Kie Raha sudah memegang teguh prinsip yang diajarkan oleh alam semesta ini yaitu, Ukhuwwah wathaniyyah yang berarti persaudaraan sesama warga-bangsa yang memiliki prinsip dan asas-asas kebudayaan kuat untuk menyambungkan tali-temali kemajemukan dalam keragaman budaya dan menghargai nilai-nilai moderasi umat beragama sedari awal di Moloku Kie Raha. Maka prinsip dasar ukhuwwah insaniyyah yang berarti persaudaraan se-kemanusiaan adalah nilai-nilai humanis/kemanusiaan yang terlalu kuat ikatannya dan memiliki daya dorong yang luar biasa dalam mempertahankan konsensus bersama untuk mengokohkan empat pilar kebangsaan yakni, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), dan Undang-undang Dasar 1945 untuk menjalin rasa dan merawat warisan di tanah para leluhur katorang di Moloku Kie Raha ini.

Maka membuat perspektif yang lebih luas dalam pelaksanaan kegiatan Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha 2025” ini memiliki kekuatan magnet tersendiri untuk menyedot perhatian para ilmuwan dunia agar mereka dengan sendirinya melancong untuk hadir secara langsung dan menyaksikan lebih dekat untuk kemudian “membaca” ayat-ayat “Alam ma Kolano” atau penguasa alam karena hal ini sejalan dengan kedudukan manusia di alam ini sebagai Khalifah Fi al-Ardhi (lihat QS. Al-Baqarah:[2]:[30]) yang kemudian diamanatkan menjadi khalifah atau wakil Tuhan di alam ini yang tentu saja untuk menjadi bagian kecil dari spirit “Alam ma Kolano” yang menjalankan amanah Rasulullah Saw yang Rahmatan Lil ‘Alamin atau sebagai pelanjut untuk melaksanakan misi Rasulullah Saw sebagai Rahmat bagi semesta alam. Masyarakat dunia secara otomatis akan memberikan apresiasi dan pengakuan yang berkelas tinggi atas hak kepemilikan tanah air yang kita miliki hari ini. Karena dikatakan dalam sebuah adagium yakni, “barang siapa yang tidak punya tanah air, maka ia tak punya sejarah, dan barang siapa yang tak punya sejarah, maka tak punya karakter-kebudayaan”. Maka pelaksanaan rutinitas ibadah sosial dalam format Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha” ini sesungguhnya kita ingin menampilkan kekayaan tradisi dan keunggulan nilai-nilai historis kesultanan Ternate yang pernah jaya, unggul dan kuat dimasa lampau dan bahkan bertahan kesaktiannya sampai masa kini dalam kegiatan “Tasyakkuran Alam ma Kolano”. Inilah spirit dalam menjalin rasa merawat warisan di tanah para leluhur yang saya, anda, dan kita semua cintai.

Terminologi “Tara No Ate” adalah bahasa kultur yang asal-muasalnya telah melahirkan sebuah negeri “Gapi” yang saat ini “bertajalli” atau bermanivestasi untuk terwujudnya sebuah nama di alam ini menjadi sebuah nama “Ternate”. Jika diterjemahkan dalam pendekatan semantik, “tara” artinya turun, “no” artinya anda/kamu, dan “ate” artinya rangkul, menggaet. Ada pemahaman yang tersirat (mafhum-mukhalafah) dalam istilah “Tara No Ate” yang mengandung amar/perintah agar “Alam ma Kolano” harus membumikan peradaban dari alam langit agar segera turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah yaitu alam realitas/bumi untuk merangkul semua penduduk alam yang bertikai atau bermusuhan atau menumpahkan darah agar berkewajiban secara bersama-sama (katorang-samua) untuk membangun kehidupan umat manusia di alam ini dalam keadaan aman dan sentosa berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.

Maka untuk senantiasa menfokuskan dirinya sebagai “Alam ma Kolano” yang hanya satu-satunya menyembah/bertauhid ilahiyyah kepada Allah Swt sebagai penguasa mutlak/tunggal akan menjadi bekal yang sangat penting dalam upaya membentuk alam peradaban dan kebudayaan (tsaqafah dan hadharah) bagi alam Kota Ternate yang maju dan unggul di kancah global. Sehingga pada hakikatnya bahwa memaknai secara loghawiyyah “Tara No Ate” dapat dimaknai sebagai wujud dari manivestasi Asma’ Allah untuk kita lestarikan setiap tahun dalam kegiatan Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha” ini yang didalamnya dilakukan ritual praktik adat-istiadat yang dikenal dengan sebutan “daru gam” yaitu berupa aktivitas kunjungan ke daerah-daerah tertentu untuk berziarah menguatkan hubungan shilaturrahim spritual kepada para arwah leluhur “alam ma kolano”, kemudian melakukan ritual adat “Kololi Kie” yaitu kegiatan ritual adat-istiadat kesultanan Ternate mengelilingi gunung gamalama untuk berkomunikasi secara live (langsung) dengan alam semesta (hablumminal’alam) agar selalu berada dalam keadaan ramah dan lembut dengan kehidupan “Alam ma Kolano”, dan selanjutnya adalah melakukan kegiatan ritual “Fere Kie” yaitu sebagai wasilah untuk yang Mulia sang Sultan menyampaikan permohonan do’a kepada Allah Swt untuk meminta perlindungan (ma’unah dan ‘inahyah) serta jaminan keselamatan untuk “bala kusu se kano-kano” sebagai manivestasi kecintaan sultan/Ou terhadap rakyatnya di alam semesta ini. Maka ke-islaman dan hakikat kalimat tauhid kita akan mencapai puncak yang tertinggi di alam semesta ini karena proses bermakrifat dari alam semesta yakni takhalli-tahalli dan tajalli, hingga ber-wahdat al-wujud, yang kemudian membawa kita pada pemahaman hakiki bahwa segenap realitas alam semesta ini hanyalah fatamorgana dan akan sirna, dan kita semua akan kembali ke hakikat yang tunggal, yaitu Allah Swt melalui “al-mauwtu baabun wa kullu al-naasi daakhiluhu”, yakni kematian adalah pintu dan semua manusia pasti memasukinya. Semoga bermanfaat tulisan ini. Wallahu ‘alam bishshawab.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Libatkan 1.746 Pekerja Lokal, Irine Roba Dorong Kemandirian Petani Lewat Program P3TGAI di Halmahera Timur

    Libatkan 1.746 Pekerja Lokal, Irine Roba Dorong Kemandirian Petani Lewat Program P3TGAI di Halmahera Timur

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 400
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, HALMAHERA TIMUR – Anggota Komisi V DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, menggelar pertemuan dengan 23 kelompok penerima Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) Tahun Anggaran 2025 dan 2026 di Desa Sidomulyo, Rabu (30/7/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 100 peserta ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus sosialisasi pelaksanaan program peningkatan jaringan irigasi […]

  • Rasa Takut dan Khawatir Terus Muncul? Yuk Kenali Apa Itu Gangguan Kecemasan

    Rasa Takut dan Khawatir Terus Muncul? Yuk Kenali Apa Itu Gangguan Kecemasan

    • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 581
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Semua orang pasti pernah cemas. Misalnya saat mau ujian, wawancara kerja, atau menunggu kabar penting. Tapi kalau rasa cemas itu muncul terus-menerus, tanpa alasan jelas, bahkan bikin kamu susah tidur atau takut bertemu orang, bisa jadi itu gangguan kecemasan. Apa Itu Kecemasan? Kecemasan adalah rasa khawatir berlebihan yang muncul karena takut akan sesuatu, meskipun […]

  • Percakapan dalam Bahasa Ternate, yang harus kalian ketahui.

    Percakapan dalam Bahasa Ternate, yang harus kalian ketahui.

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 2.067
    • 0Komentar
  • Anggota DPRD Morotai Naswin Rowo Apresiasi Kontingen MA, MTs, dan MI Juara Galatama II Maluku Utara

    Anggota DPRD Morotai Naswin Rowo Apresiasi Kontingen MA, MTs, dan MI Juara Galatama II Maluku Utara

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 311
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pulau Morotai, Naswin Rowo, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kontingen peserta dari sekolah Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berpartisipasi dalam ajang Galatama II tingkat Provinsi Maluku Utara. Apresiasi khusus disampaikan kepada para siswa yang berhasil meraih juara dalam […]

  • Dilema Guru Masa Kini: Tegas Disalahkan, Diam Dipertanyakan

    Dilema Guru Masa Kini: Tegas Disalahkan, Diam Dipertanyakan

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle Mujais Apling, S.Pd.,M,.Pd (Dekan Fakultas Inovasi Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara)
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Memperingati Hari Guru tahun ini, bangsa Indonesia kembali diajak untuk menoleh sejenak pada realitas yang dihadapi para pendidik di seluruh pelosok negeri. Di balik peran mulia mereka dalam mencetak generasi masa depan, terdapat beban dan tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan beberapa dekade lalu. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga dituntut memahami dinamika sosial, tekanan […]

  • Source : Istimewa

    Usung Semangat Integritas dan Budaya, Rasti Kristanti Daramean Resmi Nahkodai IKEMAP Halteng–Yogyakarta 2026–2027

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 319
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA (BALENGKO) – Ikatan Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Halmahera Tengah–Yogyakarta (IKEMAP Halteng–Yogyakarta) resmi memulai babak baru kepemimpinan. Rasti Kristanti Daramean dilantik sebagai Presiden IKEMAP periode 2026–2027 dalam prosesi khidmat yang berlangsung di Gedung Serbaguna Pemerintah Kalurahan Banguntapan, DIY, Sabtu (14/2). Pelantikan kali ini mengusung tema strategis: “Membentuk Generasi yang Berintegritas dan Berbudaya untuk Menuju IKEMAP […]

expand_less