Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » TARA NO ATE; MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

TARA NO ATE; MENJALIN RASA MERAWAT WARISAN DI TANAH PARA LELUHUR

  • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
  • visibility 932
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Perintah wahyu Iqra’ (bacalah) merupakan peradaban literasi pertama kali yang tertuju kepada Nabi Muhammad Saw dalam rangka menghidupkan spirit rohaniyyah untuk membangun desain program peradaban manusia dan alam semesta, amar atau perintah “membaca” sarat dengan aneka ragam makna yaitu, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah tanda-tanda alam, tanda-tanda zaman, membaca fakta sejarah, mengenal diri sendiri, membaca situasi dan kondisi dunia baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Karena amar/perintah yang datang dari peradaban langit untuk “membaca” adalah sesuatu yang dihukumi wajib dan menjadi keharusan bagi penguasa negara dalam kaitannya agar meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup manusia Provinsi Maluku Utara. Melalui approach tiga dimensi dasar yang mencakup umur panjang dan sehatnya manusia Indonesia-Moloku Kie Raha, memiliki kecerdasan ilmu pengetahuan (mencerdaskan kehidupan bangsa), dan kehidupan yang layak bagi rakyat Indonesia-Moloku Kie Raha. Maka untuk krusing dimensi kesehatan manusia-Moloku Kie Raha, digunakan angka harapan hidup waktu manusia Indonesia-Moloku Kie Raha lahir ke alam semesta ini. Dan “membaca” untuk membangun peradaban alam semesta dalam aneka maknanya adalah sebagai salah satu syarat number wahid/pertama dan utama untuk mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di alam semesta ini, serta syarat utama untuk membangun peradaban masyarakat adat se-atorang Moloku Kie Raha untuk menjalin rasa dan merawat warisan di tanah para leluhur katorang samua.

Mencintai tanah air adalah bagian dari Iman (hubbul wathan min al-iman) merupakan jalinan dzauq (rasa) nasionalisme yang kuat dalam diri kita sebagai warga bangsa Indonesia-Moloku Kie Raha yang tak pernah berbohong. Nilai-nilai budaya atau adat-istiadat sangat mengakar pada masyarakat Moloku Kie Raha yang disebut dengan istilah masyarakat-adat untuk membangun jalinan rasa dalam merawat warisan di tanah para leluhur kita sebagai masyarakat Provinsi Maluku Utara yang berkarakter adat se-atorang dalam satu tarikan rasa yang terpatri dalam sanubari kita. Maka sampai hari ini masyarkat adat Moloku Kie Raha tetap istiqamah merawat adatnya ilaa yawmil qiyamah. Hal ini sebagaimana dalam kaidah ushul fikih dikatakan, “bahwa sebuah kewajiban untuk merawat adat-istiadat yang lama dan masih dianggap relevan sampai hari ini, dan kemudian membuka diri untuk mengambil budaya baru yang dianggap baik untuk kemajuan sebuah peradaban.” Hal inilah yang menjadi infrastruktur budaya kesultanan Ternate yang sangat kuat akarnya yang mengharmoniskan untuk menjalin satu tarikan rasa antara nasionalisme dan adat-istiadat di Provinsi Maluku Utara.

Samuel Philips Huntington dalam “clash of civilizations” (benturan peradaban) adalah seorang Guru Besar ilmu politik dunia yang kemudian menyebut tentang pasca bubarnya negara komunis Soviet tahun 1991, akan terjadi perang agama dan perang suku di beberapa belahan negara timur termasuk Indonesia, yang kemudian Huntington menyebutnya dengan istilah “benturan peradaban”. Bahwa akan terjadi perang peradaban yaitu sebuah perang yang dimotivasi, didorong, dan disebabkan oleh perbedaan agama dan suku bangsa. Ramalan Huntington ternyata menjadi kenyataan yang dialami oleh negara-negara Timur Tengah, lalu puncaknya adalah terjadi “Arab Spring” (sebuah serangkaian gerakan anti pemerintah yang berkuasa) dimana terdapat aksi protes, pemberontakan bersenjata yang menyebar di Jazirah Arab yang dimulai dari negara Tunis, Mesir, Libya, Irak, Suriah dan seterusnya. Kenyataan terjadinya perang agama dan suku telah berhasil membuktikan teori Huntington bahwa setelah bubarnya kekuatan negara komunis Soviet maka yang terjadi adalah perang peradaban antar-agama dan antar-suku benar terjadi di negara Timur Tengah. Adapun keinginan untuk menggulingkan pemerintah sah yang berkuasa pada masa itu dilatarbelakangi oleh sikap pemerintah sendiri yang dinilai abai dan selalu melakukan tindakan represif ketika masyarakat akan melakukan unjuk rasa terkait dengan masalah politik, sosial, dan ekonomi.

Ramalan Huntington ternyata tidak terbukti dan tidak akan pernah berhasil untuk diterapkan di Indonesia, karena bangsa Indonesia-Moloku Kie Raha sudah memegang teguh prinsip yang diajarkan oleh alam semesta ini yaitu, Ukhuwwah wathaniyyah yang berarti persaudaraan sesama warga-bangsa yang memiliki prinsip dan asas-asas kebudayaan kuat untuk menyambungkan tali-temali kemajemukan dalam keragaman budaya dan menghargai nilai-nilai moderasi umat beragama sedari awal di Moloku Kie Raha. Maka prinsip dasar ukhuwwah insaniyyah yang berarti persaudaraan se-kemanusiaan adalah nilai-nilai humanis/kemanusiaan yang terlalu kuat ikatannya dan memiliki daya dorong yang luar biasa dalam mempertahankan konsensus bersama untuk mengokohkan empat pilar kebangsaan yakni, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), dan Undang-undang Dasar 1945 untuk menjalin rasa dan merawat warisan di tanah para leluhur katorang di Moloku Kie Raha ini.

Maka membuat perspektif yang lebih luas dalam pelaksanaan kegiatan Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha 2025” ini memiliki kekuatan magnet tersendiri untuk menyedot perhatian para ilmuwan dunia agar mereka dengan sendirinya melancong untuk hadir secara langsung dan menyaksikan lebih dekat untuk kemudian “membaca” ayat-ayat “Alam ma Kolano” atau penguasa alam karena hal ini sejalan dengan kedudukan manusia di alam ini sebagai Khalifah Fi al-Ardhi (lihat QS. Al-Baqarah:[2]:[30]) yang kemudian diamanatkan menjadi khalifah atau wakil Tuhan di alam ini yang tentu saja untuk menjadi bagian kecil dari spirit “Alam ma Kolano” yang menjalankan amanah Rasulullah Saw yang Rahmatan Lil ‘Alamin atau sebagai pelanjut untuk melaksanakan misi Rasulullah Saw sebagai Rahmat bagi semesta alam. Masyarakat dunia secara otomatis akan memberikan apresiasi dan pengakuan yang berkelas tinggi atas hak kepemilikan tanah air yang kita miliki hari ini. Karena dikatakan dalam sebuah adagium yakni, “barang siapa yang tidak punya tanah air, maka ia tak punya sejarah, dan barang siapa yang tak punya sejarah, maka tak punya karakter-kebudayaan”. Maka pelaksanaan rutinitas ibadah sosial dalam format Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha” ini sesungguhnya kita ingin menampilkan kekayaan tradisi dan keunggulan nilai-nilai historis kesultanan Ternate yang pernah jaya, unggul dan kuat dimasa lampau dan bahkan bertahan kesaktiannya sampai masa kini dalam kegiatan “Tasyakkuran Alam ma Kolano”. Inilah spirit dalam menjalin rasa merawat warisan di tanah para leluhur yang saya, anda, dan kita semua cintai.

Terminologi “Tara No Ate” adalah bahasa kultur yang asal-muasalnya telah melahirkan sebuah negeri “Gapi” yang saat ini “bertajalli” atau bermanivestasi untuk terwujudnya sebuah nama di alam ini menjadi sebuah nama “Ternate”. Jika diterjemahkan dalam pendekatan semantik, “tara” artinya turun, “no” artinya anda/kamu, dan “ate” artinya rangkul, menggaet. Ada pemahaman yang tersirat (mafhum-mukhalafah) dalam istilah “Tara No Ate” yang mengandung amar/perintah agar “Alam ma Kolano” harus membumikan peradaban dari alam langit agar segera turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah yaitu alam realitas/bumi untuk merangkul semua penduduk alam yang bertikai atau bermusuhan atau menumpahkan darah agar berkewajiban secara bersama-sama (katorang-samua) untuk membangun kehidupan umat manusia di alam ini dalam keadaan aman dan sentosa berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.

Maka untuk senantiasa menfokuskan dirinya sebagai “Alam ma Kolano” yang hanya satu-satunya menyembah/bertauhid ilahiyyah kepada Allah Swt sebagai penguasa mutlak/tunggal akan menjadi bekal yang sangat penting dalam upaya membentuk alam peradaban dan kebudayaan (tsaqafah dan hadharah) bagi alam Kota Ternate yang maju dan unggul di kancah global. Sehingga pada hakikatnya bahwa memaknai secara loghawiyyah “Tara No Ate” dapat dimaknai sebagai wujud dari manivestasi Asma’ Allah untuk kita lestarikan setiap tahun dalam kegiatan Festival Budaya Kesultanan Ternate “Legu Tara No Ate Moloku Kie Raha” ini yang didalamnya dilakukan ritual praktik adat-istiadat yang dikenal dengan sebutan “daru gam” yaitu berupa aktivitas kunjungan ke daerah-daerah tertentu untuk berziarah menguatkan hubungan shilaturrahim spritual kepada para arwah leluhur “alam ma kolano”, kemudian melakukan ritual adat “Kololi Kie” yaitu kegiatan ritual adat-istiadat kesultanan Ternate mengelilingi gunung gamalama untuk berkomunikasi secara live (langsung) dengan alam semesta (hablumminal’alam) agar selalu berada dalam keadaan ramah dan lembut dengan kehidupan “Alam ma Kolano”, dan selanjutnya adalah melakukan kegiatan ritual “Fere Kie” yaitu sebagai wasilah untuk yang Mulia sang Sultan menyampaikan permohonan do’a kepada Allah Swt untuk meminta perlindungan (ma’unah dan ‘inahyah) serta jaminan keselamatan untuk “bala kusu se kano-kano” sebagai manivestasi kecintaan sultan/Ou terhadap rakyatnya di alam semesta ini. Maka ke-islaman dan hakikat kalimat tauhid kita akan mencapai puncak yang tertinggi di alam semesta ini karena proses bermakrifat dari alam semesta yakni takhalli-tahalli dan tajalli, hingga ber-wahdat al-wujud, yang kemudian membawa kita pada pemahaman hakiki bahwa segenap realitas alam semesta ini hanyalah fatamorgana dan akan sirna, dan kita semua akan kembali ke hakikat yang tunggal, yaitu Allah Swt melalui “al-mauwtu baabun wa kullu al-naasi daakhiluhu”, yakni kematian adalah pintu dan semua manusia pasti memasukinya. Semoga bermanfaat tulisan ini. Wallahu ‘alam bishshawab.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diskusi Film Pesta Babi Yogyakarta sukses digelar kolaborasi IKAMALRA, IKPMKT, dan IKPMHT di Puskop Tamsis demi mengawal isu hak masyarakat adat.

    Penuhi Puskop Tamsis, Mahasiswa Perantauan Maluku-Maluku Utara Gelar Diskusi Film ‘Pesta Babi’Suarakan Hak Masyarakat Adat

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 322
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Puluhan mahasiswa dari berbagai latar belakang daerah memadati ruang Diskusi Film “Pesta Babi” yang digelar di Puskop Tamsis, Jalan Taman Siswa, Wirogunan, Rabu (20/05/2026). Agenda nonton bareng (nobar) karya dokumenter besutan Watchdoc ini menjadi pemantik ruang refleksi akademis guna membedah dinamika kolonialisme modern, potret tata kelola ruang hidup, serta pelindungan hak-hak […]

  • Program Lapak Baca MTsN 1 Pulau Morotai kembali digelar di kawasan Taman Kota Daruba sebagai upaya berkelanjutan dalam membudayakan literasi di ruang publik. Kegiatan yang diinisiasi oleh Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pulau Morotai ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, khususnya para pelajar yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk membaca berbagai koleksi buku yang disediakan.

    Lapak Baca MTsN 1 Morotai Hadir Kembali, Minat Baca Pelajar dan Masyarakat Terus Meningkat.

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 279
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Program Lapak Baca MTsN 1 Pulau Morotai kembali digelar di kawasan Taman Kota Daruba, Sabtu (6/6/2026) kemarin. Program lapak baca ini sebagai upaya berkelanjutan dalam membudayakan literasi di ruang publik. Kegiatan yang diinisiasi oleh Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pulau Morotai ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, khususnya para pelajar yang memanfaatkan […]

  • Foto: Jamaah IKA-PMII Kota Tidore Kepulauan bersama warga Nahdliyin mengikuti Istighosah Ukhuwah Islamiyah di Masjid Al Istiqamah, Kelurahan Cobodoe, Jumat (26/12/2025).

    Sambut Tahun Baru 2026, IKA-PMII Tikep Gelar Istighosah Ukhuwah Islamiyah

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Menyambut pergantian Tahun Baru 2026, Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kota Tidore Kepulauan (Tikep) menggelar Istighosah Ukhuwah Islamiyah di Masjid Al Istiqamah, Kelurahan Cobodoe, Jumat (26/12/2025). Istighosah dipimpin oleh Kiai Anim Fatahna dan berlangsung khidmat. Kehadiran sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) turut menambah semangat jamaah yang memadati masjid. Dalam […]

  • Source : www.vice.com

    Belajar Nasionalisme dari Etnis Tionghoa

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Malut
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Komunitas Tionghoa sangat menarik untuk dicatat karena terdapat beberapa literatur menegaskan perihal asal-muasal etnis Tionghoa di Indonesia. Etnis ini berawal dari para migran yang masuk ke nusantara ratusan tahun yang lalu. Mereka datang dengan latar belakang sejarah Tiongkok yang tua dan besar-empat ribu tahun yang lalu. Implikasinya, etnis Tionghoa yang tersebar di seluruh Asia Tenggara-bahkan […]

  • Ketua Ansor Malut Tegaskan Komitmen: Kritik Membangun untuk Kemajuan Maluku Utara

    Ketua Ansor Malut Tegaskan Komitmen: Kritik Membangun untuk Kemajuan Maluku Utara

    • calendar_month Jumat, 25 Apr 2025
    • account_circle Nurul Hafizatul
    • visibility 818
    • 0Komentar

    Ternate, 25 April 2025 – GP Ansor Maluku Utara menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan pengawal kepentingan rakyat dalam puncak peringatan Harlah ke-91, Kamis (24/4/2025) di Ballroom Muara Ternate. Ketua GP Ansor Maluku Utara Syarif Abdullah menekankan peran strategis organisasi dalam penguatan sektor pangan dan pelestarian nilai-nilai kebhinekaan. “GP Ansor akan terus memperkuat kemandirian pangan Maluku Utara. […]

  • Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum BEM DIY melakukan long march dan aksi damai di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (25/2/2026), menyoroti berbagai isu nasional dengan salah satu fokus pada polemik proyek geotermal Telaga Ranu. Source : Instagram Forum BEM DIY

    Telaga Ranu di Pusaran Kritik: Isu Geotermal Warnai Aksi Forum BEM D.I Yogyakarta

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO)— Sejumlah massa yang tergabung dalam Forum BEM DIY menggelar unjuk rasa pada Rabu petang (25/2) dengan menyoroti berbagai persoalan nasional, termasuk isu proyek geotermal yang dinilai berkaitan dengan kepentingan asing dan berdampak pada masyarakat. Aksi dimulai dari kawasan eks Parkir Abu Bakar Ali, melintasi Jalan Malioboro, berorasi di depan DPRD DIY, dan berakhir […]

expand_less