Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

  • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
  • visibility 617
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Ada masa ketika bendera hijau-hitam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berkibar bukan sekadar kain simbol, tapi api kesadaran. Dari sekretariat sempit di Yogyakarta tahun 1947, Lafran Pane menyalakan obor gerakan intelektual Islam yang menolak kejumudan dan kolonialisme.

HMI lahir bukan dari ruang nyaman, tapi dari kebutuhan eksistensial bangsa, mencerdaskan umat, memperjuangkan keadilan, dan menggabungkan iman dengan ilmu. Kini, lebih dari tujuh dekade berlalu, yang tersisa dari obor itu hanyalah nyala tipis di pinggir arus kekuasaan. HMI sudah mati dan yang hidup hanya benderanya.

Kematian yang saya maksud bukan biologis, tapi eksistensial. Ia bukan mati secara organisasi, melainkan secara makna. Seperti tubuh tanpa jiwa, struktur HMI masih berdiri, AD/ART masih berlaku, kongres masih rutin digelar, tetapi ruh perjuangan telah lama pergi.

Di banyak kampus, sekretariat lebih ramai oleh agenda seremonial ketimbang wacana kritis. Forum yang dulu melahirkan pemikir seperti Nurcholish Madjid kini berubah jadi arena foto bersama dan rebutan posisi. HMI masih ada di papan nama, tapi absen di medan ide.

Padahal, fondasi HMI dibangun atas Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai doktrin moral yang menggabungkan tauhid, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial. Dokumen itu mengajarkan bahwa Islam adalah gerakan pencerahan, bukan sekadar identitas.

Tapi NDP kini hanya dibuka saat pelatihan Basic Training, lalu dilupakan setelah penutupan. Ia dikhotbahkan, tapi tidak dihidupi. Akibatnya, kader mengenal NDP sebatas kutipan bukan kesadaran.

HMI harus menjadi penjaga moral bangsa. Artinya, HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan laboratorium etika. Tapi hari ini, laboratorium itu disulap menjadi pabrik politisi muda yang berebut jalur karier. Di sini, politik identitas berubah menjadi identitas politik, yang akhirnya simbol Islam dipakai bukan untuk menebar nilai, tetapi untuk menambah legitimasi. HMI menjadi anak tangga menuju kekuasaan, bukan ruang pembentukan kesadaran.

Fenomena ini bukan sekadar anomali kader, tapi gejala struktural. Banyak cabang kehilangan arah karena tersandera patronase alumni jejaring KAHMI yang kadang menjelma menjadi tangan kekuasaan. Dukungan alumni yang seharusnya menguatkan justru menjebak HMI dalam politik balas budi. Ketika loyalitas lebih diukur dari siapa yang membiayai acara ketimbang gagasan apa yang diperjuangkan, maka kematian moral itu menjadi keniscayaan.

Dalam terminologi filsafat eksistensialis, kematian HMI adalah bentuk alienasi diri yang terpisah dari esensi yang melahirkannya. Eksistensi organisasi ini masih ada, tapi substansi perjuangannya telah tercerabut.

Seperti kata Albert Camus, “yang tragis bukan kematian, tapi hidup tanpa makna.” HMI hari ini hidup, tetapi tanpa makna perjuangan. Berjalan, tapi tak tahu ke mana. Bergerak, tapi tanpa arah moral. Inilah absurditas gerakan mahasiswa modern yang hidup dalam rutinitas tanpa kesadaran.

Di sisi lain, dunia berubah cepat. Gelombang digital, krisis etika publik, dan politik pasca-kebenaran menuntut keberanian moral baru. Mahasiswa hari ini memerlukan HMI yang berani menabrak arus, bukan menumpang di dalamnya. Tapi yang kita saksikan justru kebalikannya, kader sibuk menjaga hubungan dengan kekuasaan bukannya menantangnya. HMI kehilangan fungsi kritisnya sebagai penyeimbang negara dan penjaga nurani publik. Terjebak menjadi ornamen demokrasi indah di permukaan, hampa di dalam.

Krisis ini tidak bisa disembuhkan dengan seruan klise, tetapi menuntut rekonstruksi total kesadaran kader, bahwa Islam bukan alat untuk meneguhkan ego, tetapi jalan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Bahwa menjadi kader HMI bukan sekadar mengenakan jas almamater hijau, tapi menjalani panggilan intelektual yang jujur dan berani.

Bahwa perjuangan bukan diukur dari jabatan, melainkan dari keberpihakan pada kebenaran. Inilah saatnya membangkitkan kembali spirit inquisitive, semangat bertanya, membaca, menulis, dan menggugat.

HMI juga perlu keluar dari “zona nyaman kampus” dan kembali ke realitas rakyat. Perjuangan hari ini tidak lagi hanya tentang politik kampus, tapi tentang keadilan sosial, krisis lingkungan, korupsi, dan ketimpangan digital. Di sinilah HMI seharusnya hadir memproduksi pengetahuan, bukan sekadar orasi. Membuka diskusi publik, bukan mengulang jargon lama. Menjadi think tank muda Islam Indonesia, bukan sekadar penonton politik nasional.

Namun untuk itu, HMI harus berani mengakui kematiannya sendiri, karena hanya yang berani menghadapi kematian yang bisa lahir kembali. Mengakui bahwa idealisme telah mati adalah langkah pertama untuk menyalakannya lagi. Bendera hijau-hitam akan kembali bermakna hanya jika di baliknya berdiri kesadaran baru, bahwa perjuangan sejati bukan tentang nama besar, tapi tentang keberanian menegakkan nilai di tengah kegelapan.

HMI tidak boleh menjadi menara gading, HMI harus menjadi mercusuar. Kini mercusuar itu padam, tapi bara kecil masih ada di dada segelintir kader yang menolak tunduk. Dari bara itulah kebangkitan bisa dimulai bukan dengan bendera, tapi dengan kesadaran. Sebab bendera hanya kain, tapi kesadaran adalah nyawa. Dan selama ada yang berani berpikir jujur, HMI tak akan benar-benar mati. Kembali membenahi diri kita sebagai oraganisasi perjuangan yang menolak bentuk apapun penindasan.

  • Penulis: Muhammad Asmar Joma
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keluarga besar HMJ Gizi Poltekkes Kemenkes Ternate mengabadikan momen bersama Direktur Poltekkes Ternate. (Foto: Dok. HMJ Gizi)

    Bukan Sekadar Seremonial, Begini Cara Mahasiswa Gizi Ternate Edukasi Masyarakat di Benteng Oranje

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 310
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Program Studi D-III Gizi bersama Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Gizi Poltekkes Kemenkes Ternate sukses menyelenggarakan malam penutupan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) 2026. Acara puncak tersebut berlangsung meriah di cagar budaya Benteng Oranje, Ternate, pada Sabtu (24/1/2026) malam. Mengusung tema “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045”, rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan […]

  • Makan bergizi Gratis Dimulai Hari Ini, Wujudkan SDM Unggul dan Kurangi Stunting

    Makan bergizi Gratis Dimulai Hari Ini, Wujudkan SDM Unggul dan Kurangi Stunting

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 366
    • 0Komentar

    Balengko Space – Hari ini, Senin (6/1/2024), sekolah-sekolah resmi menjalankan Program Makan Bergizi Gratis. Presiden dan Wakil Presiden terpilih Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, menjadikan program ini sebagai prioritas utama untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Pemerintah memastikan kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi dengan baik dan berkualitas demi meningkatkan kualitas pangan dan gizi […]

  • Kantor Kementerian Agama Maluku Utara terkait isu rangkap jabatan ASN

    Benarkah Ada Rangkap Jabatan ASN di Kemenag Maluku Utara? Ini Klarifikasinya

    • calendar_month Rabu, 17 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 678
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Ternate – LBH Ansor Kota Ternate menegaskan isu rangkap jabatan ASN Kemenag Maluku Utara tidak sesuai fakta hukum maupun administrasi. Klarifikasi ini muncul setelah sejumlah media memberitakan dugaan rangkap jabatan yang menyeret nama Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Malut. Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, SH, menjelaskan bahwa kliennya, Yusri N. Samsudin, […]

  • Kapolres Pulau Morotai Peringatkan Personel: Jauhi Judol dan Pinjol Ilegal Lewat Gaktiblin Rutin

    Kapolres Pulau Morotai Peringatkan Personel: Jauhi Judol dan Pinjol Ilegal Lewat Gaktiblin Rutin

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Muzijad Mandea
    • visibility 102
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI — Propam Polres Pulau Morotai menggelar kegiatan Penegakan, Ketertiban dan Disiplin (Gaktiblin) terhadap personel sebagai langkah preventif untuk memperkuat disiplin sekaligus mencegah anggota terlibat pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol). Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (30/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIT di lingkungan Polres Pulau Morotai. Pelaksanaan Gaktiblin dipimpin oleh Aipda […]

  • FKIP Unkhair Kupas Cara Cerdas Dukung Tumbuh Kembang Anak Lewat Gizi!

    FKIP Unkhair Kupas Cara Cerdas Dukung Tumbuh Kembang Anak Lewat Gizi!

    • calendar_month Rabu, 4 Jun 2025
    • account_circle FAHMIL USMAN, S.Gz.,M.Gz
    • visibility 847
    • 0Komentar

    Balengko Space – Ternate, 4 Juni 2025 program Studi PG-PAUD FKIP Universitas Khairun Ternate menggelar kuliah tamu bertema “Optimalisasi Asupan Gizi bagi Tumbuh Kembang Anak” pada Rabu (4/6). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang peran gizi dalam mendukung perkembangan fisik dan mental anak. Fahmil Usman, S.Gz., M.Gz., dosen Fakultas Kesehatan ISDIK Kie Raha, hadir […]

  • Kepala Dinas Pendidikan Maluku Utara Abubakar Abdullah bersama Gubernur Sherly meninjau sekolah Play Button

    Indeks Kebinekaan Sekolah Maluku Utara Melonjak, Abubakar Abdullah: Ini Prestasi Besar

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO), 2 April 2026 – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengapresiasi capaian indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara yang berada di atas rata-rata nasional berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2025. Menurut Abubakar, capaian indeks kebinekaan sekolah Maluku Utara tersebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga […]

expand_less