Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

  • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
  • visibility 634
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Ada masa ketika bendera hijau-hitam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berkibar bukan sekadar kain simbol, tapi api kesadaran. Dari sekretariat sempit di Yogyakarta tahun 1947, Lafran Pane menyalakan obor gerakan intelektual Islam yang menolak kejumudan dan kolonialisme.

HMI lahir bukan dari ruang nyaman, tapi dari kebutuhan eksistensial bangsa, mencerdaskan umat, memperjuangkan keadilan, dan menggabungkan iman dengan ilmu. Kini, lebih dari tujuh dekade berlalu, yang tersisa dari obor itu hanyalah nyala tipis di pinggir arus kekuasaan. HMI sudah mati dan yang hidup hanya benderanya.

Kematian yang saya maksud bukan biologis, tapi eksistensial. Ia bukan mati secara organisasi, melainkan secara makna. Seperti tubuh tanpa jiwa, struktur HMI masih berdiri, AD/ART masih berlaku, kongres masih rutin digelar, tetapi ruh perjuangan telah lama pergi.

Di banyak kampus, sekretariat lebih ramai oleh agenda seremonial ketimbang wacana kritis. Forum yang dulu melahirkan pemikir seperti Nurcholish Madjid kini berubah jadi arena foto bersama dan rebutan posisi. HMI masih ada di papan nama, tapi absen di medan ide.

Padahal, fondasi HMI dibangun atas Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai doktrin moral yang menggabungkan tauhid, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial. Dokumen itu mengajarkan bahwa Islam adalah gerakan pencerahan, bukan sekadar identitas.

Tapi NDP kini hanya dibuka saat pelatihan Basic Training, lalu dilupakan setelah penutupan. Ia dikhotbahkan, tapi tidak dihidupi. Akibatnya, kader mengenal NDP sebatas kutipan bukan kesadaran.

HMI harus menjadi penjaga moral bangsa. Artinya, HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan laboratorium etika. Tapi hari ini, laboratorium itu disulap menjadi pabrik politisi muda yang berebut jalur karier. Di sini, politik identitas berubah menjadi identitas politik, yang akhirnya simbol Islam dipakai bukan untuk menebar nilai, tetapi untuk menambah legitimasi. HMI menjadi anak tangga menuju kekuasaan, bukan ruang pembentukan kesadaran.

Fenomena ini bukan sekadar anomali kader, tapi gejala struktural. Banyak cabang kehilangan arah karena tersandera patronase alumni jejaring KAHMI yang kadang menjelma menjadi tangan kekuasaan. Dukungan alumni yang seharusnya menguatkan justru menjebak HMI dalam politik balas budi. Ketika loyalitas lebih diukur dari siapa yang membiayai acara ketimbang gagasan apa yang diperjuangkan, maka kematian moral itu menjadi keniscayaan.

Dalam terminologi filsafat eksistensialis, kematian HMI adalah bentuk alienasi diri yang terpisah dari esensi yang melahirkannya. Eksistensi organisasi ini masih ada, tapi substansi perjuangannya telah tercerabut.

Seperti kata Albert Camus, “yang tragis bukan kematian, tapi hidup tanpa makna.” HMI hari ini hidup, tetapi tanpa makna perjuangan. Berjalan, tapi tak tahu ke mana. Bergerak, tapi tanpa arah moral. Inilah absurditas gerakan mahasiswa modern yang hidup dalam rutinitas tanpa kesadaran.

Di sisi lain, dunia berubah cepat. Gelombang digital, krisis etika publik, dan politik pasca-kebenaran menuntut keberanian moral baru. Mahasiswa hari ini memerlukan HMI yang berani menabrak arus, bukan menumpang di dalamnya. Tapi yang kita saksikan justru kebalikannya, kader sibuk menjaga hubungan dengan kekuasaan bukannya menantangnya. HMI kehilangan fungsi kritisnya sebagai penyeimbang negara dan penjaga nurani publik. Terjebak menjadi ornamen demokrasi indah di permukaan, hampa di dalam.

Krisis ini tidak bisa disembuhkan dengan seruan klise, tetapi menuntut rekonstruksi total kesadaran kader, bahwa Islam bukan alat untuk meneguhkan ego, tetapi jalan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Bahwa menjadi kader HMI bukan sekadar mengenakan jas almamater hijau, tapi menjalani panggilan intelektual yang jujur dan berani.

Bahwa perjuangan bukan diukur dari jabatan, melainkan dari keberpihakan pada kebenaran. Inilah saatnya membangkitkan kembali spirit inquisitive, semangat bertanya, membaca, menulis, dan menggugat.

HMI juga perlu keluar dari “zona nyaman kampus” dan kembali ke realitas rakyat. Perjuangan hari ini tidak lagi hanya tentang politik kampus, tapi tentang keadilan sosial, krisis lingkungan, korupsi, dan ketimpangan digital. Di sinilah HMI seharusnya hadir memproduksi pengetahuan, bukan sekadar orasi. Membuka diskusi publik, bukan mengulang jargon lama. Menjadi think tank muda Islam Indonesia, bukan sekadar penonton politik nasional.

Namun untuk itu, HMI harus berani mengakui kematiannya sendiri, karena hanya yang berani menghadapi kematian yang bisa lahir kembali. Mengakui bahwa idealisme telah mati adalah langkah pertama untuk menyalakannya lagi. Bendera hijau-hitam akan kembali bermakna hanya jika di baliknya berdiri kesadaran baru, bahwa perjuangan sejati bukan tentang nama besar, tapi tentang keberanian menegakkan nilai di tengah kegelapan.

HMI tidak boleh menjadi menara gading, HMI harus menjadi mercusuar. Kini mercusuar itu padam, tapi bara kecil masih ada di dada segelintir kader yang menolak tunduk. Dari bara itulah kebangkitan bisa dimulai bukan dengan bendera, tapi dengan kesadaran. Sebab bendera hanya kain, tapi kesadaran adalah nyawa. Dan selama ada yang berani berpikir jujur, HMI tak akan benar-benar mati. Kembali membenahi diri kita sebagai oraganisasi perjuangan yang menolak bentuk apapun penindasan.

  • Penulis: Muhammad Asmar Joma
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekretaris Departemen Advokasi Hukum dan Kebijakan HMP UGM, Moh. Resa, S.H. Source : Istimewa

    HMP UGM Mengecam Dugaan Penganiayaan oleh Oknum Brimob di Tual yang Menyebabkan Anak Meninggal Dunia

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO), 22 Februari 2026 — Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (HMP UGM) mengecam keras dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum anggota Brigade Mobil Polda Maluku di Kota Tual yang mengakibatkan meninggalnya seorang anak di bawah umur. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Kamis, 19 Februari 2026. Korban, pelajar berusia 14 tahun bernama Arianto Tawakal, […]

  • Bentor Hiasi Aksi Hari Buruh 1 Mei 2025 di Yogyakarta, Suarakan Tuntutan Pekerja

    Bentor Hiasi Aksi Hari Buruh 1 Mei 2025 di Yogyakarta, Suarakan Tuntutan Pekerja

    • calendar_month Jumat, 2 Mei 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 506
    • 0Komentar

    Yogyakarta, 2 Mei 2025 – Ribuan buruh dan elemen masyarakat turun ke jalan di Yogyakarta pada Kamis, 1 Mei 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional. Mereka memusatkan aksi di kawasan Titik Nol Kilometer sebagai bentuk solidaritas dan perjuangan atas hak-hak pekerja. Massa mulai berkumpul sejak pukul 08.00 WIB di Parkiran Abubakar Ali. Sekitar pukul […]

  • Makrab PKPM NUKU Yogyakarta 2025: Merajut Kebersamaan Mahasiswa Tidore di Tanah Rantau

    Makrab PKPM NUKU Yogyakarta 2025: Merajut Kebersamaan Mahasiswa Tidore di Tanah Rantau

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle muzsta
    • visibility 962
    • 0Komentar

    balengkospace.com Yogyakarta, 30 Mei 2025 – Perkumpulan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa NUKU (PKPM NUKU) Yogyakarta sukses menggelar Malam Keakraban (Makrab) 2025 di kawasan alam Kulon Progo, DIY. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (30 Mei–1 Juni) ini mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Menyatukan Langkah dalam Harmoni Persaudaraan”, dengan fokus memperkuat ikatan antaranggota dan identitas kultural mahasiswa Tidore di […]

  • Antara Introvert dan Ekstrovert; Kamu yang Mana?

    Antara Introvert dan Ekstrovert; Kamu yang Mana?

    • calendar_month Jumat, 3 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Kontributor-Nurul Hafizdatul Muhajirah, S.Psi Balengko Space – Pada tanggal 3 Januari kemarin, kita memperingati hari introvert sedunia. Di mana introvert merupakan salah satu tipe kepribadian yang ada pada manusia. Istilah introvert digunakan untuk menggambarkan sebuah sifat yang cenderung menyendiri, lebih fokus pada dunia-dunia internal seperti terfokus pada diri sendiri, dan cenderung tidak suka bersosialisasi. Sama […]

  • Road to Toadore Fest Vol. II: Gema Budaya Tidore Mengalun di Yogyakarta

    Road to Toadore Fest Vol. II: Gema Budaya Tidore Mengalun di Yogyakarta

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 614
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Yogyakarta | 22 Juli 2025, Semangat pelestarian budaya lokal kembali menggema di Yogyakarta melalui gelaran Road To Toadore Fest Vol. II yang mengusung tema “Budaya Tidore di Bumi Mataram: Jejak, Rasa, dan Nada.” Acara yang digelar pada Senin, 21 Juli 2025 di Ketok Studio, SaRanG Building Block 1, Kalipakis, Bantul, ini menjadi bagian dari […]

  • Tanah Yang Dirampas, Kriminalisasi Rakyat

    Tanah Yang Dirampas, Kriminalisasi Rakyat

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • account_circle Mursid Ruko
    • visibility 908
    • 0Komentar

    Maluku Utara sangat memprihatinkan, tidak ada pulau yang benar-benar terbebas dari aktifitas tambang. Disetiap tanah Maluku Utara yang menyimpan sumber daya mineral mulai dipetakan karena dihitung berapa nominal nilai keuangannya yang nantinya dimasukkan didalam skema besar eksploitasi nasional. Mulai dari Hutan, gunung, pesisir, hingga laut, jadi sasaran investasi atas nama pembangunan yang dimana itu sudah […]

expand_less