Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

  • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
  • visibility 497
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Ada masa ketika bendera hijau-hitam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berkibar bukan sekadar kain simbol, tapi api kesadaran. Dari sekretariat sempit di Yogyakarta tahun 1947, Lafran Pane menyalakan obor gerakan intelektual Islam yang menolak kejumudan dan kolonialisme.

HMI lahir bukan dari ruang nyaman, tapi dari kebutuhan eksistensial bangsa, mencerdaskan umat, memperjuangkan keadilan, dan menggabungkan iman dengan ilmu. Kini, lebih dari tujuh dekade berlalu, yang tersisa dari obor itu hanyalah nyala tipis di pinggir arus kekuasaan. HMI sudah mati dan yang hidup hanya benderanya.

Kematian yang saya maksud bukan biologis, tapi eksistensial. Ia bukan mati secara organisasi, melainkan secara makna. Seperti tubuh tanpa jiwa, struktur HMI masih berdiri, AD/ART masih berlaku, kongres masih rutin digelar, tetapi ruh perjuangan telah lama pergi.

Di banyak kampus, sekretariat lebih ramai oleh agenda seremonial ketimbang wacana kritis. Forum yang dulu melahirkan pemikir seperti Nurcholish Madjid kini berubah jadi arena foto bersama dan rebutan posisi. HMI masih ada di papan nama, tapi absen di medan ide.

Padahal, fondasi HMI dibangun atas Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai doktrin moral yang menggabungkan tauhid, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial. Dokumen itu mengajarkan bahwa Islam adalah gerakan pencerahan, bukan sekadar identitas.

Tapi NDP kini hanya dibuka saat pelatihan Basic Training, lalu dilupakan setelah penutupan. Ia dikhotbahkan, tapi tidak dihidupi. Akibatnya, kader mengenal NDP sebatas kutipan bukan kesadaran.

HMI harus menjadi penjaga moral bangsa. Artinya, HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan laboratorium etika. Tapi hari ini, laboratorium itu disulap menjadi pabrik politisi muda yang berebut jalur karier. Di sini, politik identitas berubah menjadi identitas politik, yang akhirnya simbol Islam dipakai bukan untuk menebar nilai, tetapi untuk menambah legitimasi. HMI menjadi anak tangga menuju kekuasaan, bukan ruang pembentukan kesadaran.

Fenomena ini bukan sekadar anomali kader, tapi gejala struktural. Banyak cabang kehilangan arah karena tersandera patronase alumni jejaring KAHMI yang kadang menjelma menjadi tangan kekuasaan. Dukungan alumni yang seharusnya menguatkan justru menjebak HMI dalam politik balas budi. Ketika loyalitas lebih diukur dari siapa yang membiayai acara ketimbang gagasan apa yang diperjuangkan, maka kematian moral itu menjadi keniscayaan.

Dalam terminologi filsafat eksistensialis, kematian HMI adalah bentuk alienasi diri yang terpisah dari esensi yang melahirkannya. Eksistensi organisasi ini masih ada, tapi substansi perjuangannya telah tercerabut.

Seperti kata Albert Camus, “yang tragis bukan kematian, tapi hidup tanpa makna.” HMI hari ini hidup, tetapi tanpa makna perjuangan. Berjalan, tapi tak tahu ke mana. Bergerak, tapi tanpa arah moral. Inilah absurditas gerakan mahasiswa modern yang hidup dalam rutinitas tanpa kesadaran.

Di sisi lain, dunia berubah cepat. Gelombang digital, krisis etika publik, dan politik pasca-kebenaran menuntut keberanian moral baru. Mahasiswa hari ini memerlukan HMI yang berani menabrak arus, bukan menumpang di dalamnya. Tapi yang kita saksikan justru kebalikannya, kader sibuk menjaga hubungan dengan kekuasaan bukannya menantangnya. HMI kehilangan fungsi kritisnya sebagai penyeimbang negara dan penjaga nurani publik. Terjebak menjadi ornamen demokrasi indah di permukaan, hampa di dalam.

Krisis ini tidak bisa disembuhkan dengan seruan klise, tetapi menuntut rekonstruksi total kesadaran kader, bahwa Islam bukan alat untuk meneguhkan ego, tetapi jalan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Bahwa menjadi kader HMI bukan sekadar mengenakan jas almamater hijau, tapi menjalani panggilan intelektual yang jujur dan berani.

Bahwa perjuangan bukan diukur dari jabatan, melainkan dari keberpihakan pada kebenaran. Inilah saatnya membangkitkan kembali spirit inquisitive, semangat bertanya, membaca, menulis, dan menggugat.

HMI juga perlu keluar dari “zona nyaman kampus” dan kembali ke realitas rakyat. Perjuangan hari ini tidak lagi hanya tentang politik kampus, tapi tentang keadilan sosial, krisis lingkungan, korupsi, dan ketimpangan digital. Di sinilah HMI seharusnya hadir memproduksi pengetahuan, bukan sekadar orasi. Membuka diskusi publik, bukan mengulang jargon lama. Menjadi think tank muda Islam Indonesia, bukan sekadar penonton politik nasional.

Namun untuk itu, HMI harus berani mengakui kematiannya sendiri, karena hanya yang berani menghadapi kematian yang bisa lahir kembali. Mengakui bahwa idealisme telah mati adalah langkah pertama untuk menyalakannya lagi. Bendera hijau-hitam akan kembali bermakna hanya jika di baliknya berdiri kesadaran baru, bahwa perjuangan sejati bukan tentang nama besar, tapi tentang keberanian menegakkan nilai di tengah kegelapan.

HMI tidak boleh menjadi menara gading, HMI harus menjadi mercusuar. Kini mercusuar itu padam, tapi bara kecil masih ada di dada segelintir kader yang menolak tunduk. Dari bara itulah kebangkitan bisa dimulai bukan dengan bendera, tapi dengan kesadaran. Sebab bendera hanya kain, tapi kesadaran adalah nyawa. Dan selama ada yang berani berpikir jujur, HMI tak akan benar-benar mati. Kembali membenahi diri kita sebagai oraganisasi perjuangan yang menolak bentuk apapun penindasan.

  • Penulis: Muhammad Asmar Joma
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dilema Guru Masa Kini: Tegas Disalahkan, Diam Dipertanyakan

    Dilema Guru Masa Kini: Tegas Disalahkan, Diam Dipertanyakan

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle Mujais Apling, S.Pd.,M,.Pd (Dekan Fakultas Inovasi Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara)
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Memperingati Hari Guru tahun ini, bangsa Indonesia kembali diajak untuk menoleh sejenak pada realitas yang dihadapi para pendidik di seluruh pelosok negeri. Di balik peran mulia mereka dalam mencetak generasi masa depan, terdapat beban dan tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan beberapa dekade lalu. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga dituntut memahami dinamika sosial, tekanan […]

  • korban penganiayaan di Desa Soakonora, Kecamatan Galela Selatan, Halmahera Utara,Sumber foto: Istimewa

    Keluarga Korban Minta Polsek Galela Percepat Penanganan Dugaan Penganiayaan di Desa Soakonora

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 1.809
    • 0Komentar

    Halmahera Utara (BALENGKO) — Keluarga korban dugaan tindak pidana penganiayaan yang terjadi di Desa Soakonora, Kecamatan Galela Selatan, Kabupaten Halmahera Utara, menyampaikan kekecewaan atas lambannya penanganan perkara oleh Polsek Galela. Kasus tersebut telah dilaporkan secara resmi oleh pihak keluarga korban kepada Polsek Galela setelah peristiwa penganiayaan yang terjadi pada Minggu malam, 21 Desember 2025, sekitar […]

  • Keluarga besar HMJ Gizi Poltekkes Kemenkes Ternate mengabadikan momen bersama Direktur Poltekkes Ternate. (Foto: Dok. HMJ Gizi)

    Bukan Sekadar Seremonial, Begini Cara Mahasiswa Gizi Ternate Edukasi Masyarakat di Benteng Oranje

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 230
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Program Studi D-III Gizi bersama Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Gizi Poltekkes Kemenkes Ternate sukses menyelenggarakan malam penutupan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) 2026. Acara puncak tersebut berlangsung meriah di cagar budaya Benteng Oranje, Ternate, pada Sabtu (24/1/2026) malam. Mengusung tema “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045”, rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan […]

  • GP Ansor Maluku Utara Bersilaturrahim dengan Sultan Ternate: Kolaborasi untuk Mengembangkan Pariwisata Religius dan Menghidupkan Budaya Islam di Kota Ternate

    GP Ansor Maluku Utara Bersilaturrahim dengan Sultan Ternate: Kolaborasi untuk Mengembangkan Pariwisata Religius dan Menghidupkan Budaya Islam di Kota Ternate

    • calendar_month Jumat, 11 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 738
    • 0Komentar

    Ternate, (11/4/25) – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Maluku Utara mengawali masa kepengurusannya dengan melakukan silaturrahim bersama Yang Mulia Sultan Ternate, sebagai langkah awal untuk memperkuat sinergi dengan Kesultanan Ternate, khususnya dalam mengembangkan potensi pariwisata religius di Kota Ternate. Dalam pertemuan penuh kehangatan tersebut, Sultan Ternate menyampaikan pentingnya menghidupkan kembali budaya-budaya Islam yang pernah mengakar […]

  • Penulis : Fahmil Usman Source : Istimewa

    Menghadapi Obesitas Tidak Cukup Hanya dengan Edukasi

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Fahmil Usman
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Peringatan World Obesity Day 2026 kembali mengingatkan bahwa obesitas bukan sekadar persoalan gaya hidup individu. Selama ini, narasi yang berkembang di masyarakat sering kali menyederhanakan obesitas sebagai akibat dari kurangnya disiplin dalam menjaga pola makan atau kurangnya aktivitas fisik. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Lingkungan pangan, kebijakan pemerintah, serta strategi industri makanan dan minuman memiliki […]

  • Komunitas Magister Maluku Utara DIY Tanyakan Arah Pendidikan Malut: Apakah Kita Sedang Membangun Sekolah atau Sekadar Bangunan?

    Komunitas Magister Maluku Utara DIY Tanyakan Arah Pendidikan Malut: Apakah Kita Sedang Membangun Sekolah atau Sekadar Bangunan?

    • calendar_month Minggu, 15 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 2.511
    • 0Komentar

    Balengkospace.com, Yogyakarta, 15 Juni 2025 – Komunitas Magister Peduli Pendidikan Maluku Utara (KOMPPI-MU) di Yogyakarta menyuarakan kritik tajam terhadap arah kebijakan pendidikan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Melalui rilis pers resminya, KOMPPI menilai bahwa banyak program pendidikan yang dijalankan masih bersifat seremonial dan tidak menjawab kebutuhan riil masyarakat, khususnya di daerah terpencil. Ketua KOMPPI […]

expand_less