Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

HMI Sudah Mati, yang Hidup Hanya Benderanya

  • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
  • visibility 543
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Ada masa ketika bendera hijau-hitam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berkibar bukan sekadar kain simbol, tapi api kesadaran. Dari sekretariat sempit di Yogyakarta tahun 1947, Lafran Pane menyalakan obor gerakan intelektual Islam yang menolak kejumudan dan kolonialisme.

HMI lahir bukan dari ruang nyaman, tapi dari kebutuhan eksistensial bangsa, mencerdaskan umat, memperjuangkan keadilan, dan menggabungkan iman dengan ilmu. Kini, lebih dari tujuh dekade berlalu, yang tersisa dari obor itu hanyalah nyala tipis di pinggir arus kekuasaan. HMI sudah mati dan yang hidup hanya benderanya.

Kematian yang saya maksud bukan biologis, tapi eksistensial. Ia bukan mati secara organisasi, melainkan secara makna. Seperti tubuh tanpa jiwa, struktur HMI masih berdiri, AD/ART masih berlaku, kongres masih rutin digelar, tetapi ruh perjuangan telah lama pergi.

Di banyak kampus, sekretariat lebih ramai oleh agenda seremonial ketimbang wacana kritis. Forum yang dulu melahirkan pemikir seperti Nurcholish Madjid kini berubah jadi arena foto bersama dan rebutan posisi. HMI masih ada di papan nama, tapi absen di medan ide.

Padahal, fondasi HMI dibangun atas Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai doktrin moral yang menggabungkan tauhid, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial. Dokumen itu mengajarkan bahwa Islam adalah gerakan pencerahan, bukan sekadar identitas.

Tapi NDP kini hanya dibuka saat pelatihan Basic Training, lalu dilupakan setelah penutupan. Ia dikhotbahkan, tapi tidak dihidupi. Akibatnya, kader mengenal NDP sebatas kutipan bukan kesadaran.

HMI harus menjadi penjaga moral bangsa. Artinya, HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan laboratorium etika. Tapi hari ini, laboratorium itu disulap menjadi pabrik politisi muda yang berebut jalur karier. Di sini, politik identitas berubah menjadi identitas politik, yang akhirnya simbol Islam dipakai bukan untuk menebar nilai, tetapi untuk menambah legitimasi. HMI menjadi anak tangga menuju kekuasaan, bukan ruang pembentukan kesadaran.

Fenomena ini bukan sekadar anomali kader, tapi gejala struktural. Banyak cabang kehilangan arah karena tersandera patronase alumni jejaring KAHMI yang kadang menjelma menjadi tangan kekuasaan. Dukungan alumni yang seharusnya menguatkan justru menjebak HMI dalam politik balas budi. Ketika loyalitas lebih diukur dari siapa yang membiayai acara ketimbang gagasan apa yang diperjuangkan, maka kematian moral itu menjadi keniscayaan.

Dalam terminologi filsafat eksistensialis, kematian HMI adalah bentuk alienasi diri yang terpisah dari esensi yang melahirkannya. Eksistensi organisasi ini masih ada, tapi substansi perjuangannya telah tercerabut.

Seperti kata Albert Camus, “yang tragis bukan kematian, tapi hidup tanpa makna.” HMI hari ini hidup, tetapi tanpa makna perjuangan. Berjalan, tapi tak tahu ke mana. Bergerak, tapi tanpa arah moral. Inilah absurditas gerakan mahasiswa modern yang hidup dalam rutinitas tanpa kesadaran.

Di sisi lain, dunia berubah cepat. Gelombang digital, krisis etika publik, dan politik pasca-kebenaran menuntut keberanian moral baru. Mahasiswa hari ini memerlukan HMI yang berani menabrak arus, bukan menumpang di dalamnya. Tapi yang kita saksikan justru kebalikannya, kader sibuk menjaga hubungan dengan kekuasaan bukannya menantangnya. HMI kehilangan fungsi kritisnya sebagai penyeimbang negara dan penjaga nurani publik. Terjebak menjadi ornamen demokrasi indah di permukaan, hampa di dalam.

Krisis ini tidak bisa disembuhkan dengan seruan klise, tetapi menuntut rekonstruksi total kesadaran kader, bahwa Islam bukan alat untuk meneguhkan ego, tetapi jalan untuk memperjuangkan kemanusiaan. Bahwa menjadi kader HMI bukan sekadar mengenakan jas almamater hijau, tapi menjalani panggilan intelektual yang jujur dan berani.

Bahwa perjuangan bukan diukur dari jabatan, melainkan dari keberpihakan pada kebenaran. Inilah saatnya membangkitkan kembali spirit inquisitive, semangat bertanya, membaca, menulis, dan menggugat.

HMI juga perlu keluar dari “zona nyaman kampus” dan kembali ke realitas rakyat. Perjuangan hari ini tidak lagi hanya tentang politik kampus, tapi tentang keadilan sosial, krisis lingkungan, korupsi, dan ketimpangan digital. Di sinilah HMI seharusnya hadir memproduksi pengetahuan, bukan sekadar orasi. Membuka diskusi publik, bukan mengulang jargon lama. Menjadi think tank muda Islam Indonesia, bukan sekadar penonton politik nasional.

Namun untuk itu, HMI harus berani mengakui kematiannya sendiri, karena hanya yang berani menghadapi kematian yang bisa lahir kembali. Mengakui bahwa idealisme telah mati adalah langkah pertama untuk menyalakannya lagi. Bendera hijau-hitam akan kembali bermakna hanya jika di baliknya berdiri kesadaran baru, bahwa perjuangan sejati bukan tentang nama besar, tapi tentang keberanian menegakkan nilai di tengah kegelapan.

HMI tidak boleh menjadi menara gading, HMI harus menjadi mercusuar. Kini mercusuar itu padam, tapi bara kecil masih ada di dada segelintir kader yang menolak tunduk. Dari bara itulah kebangkitan bisa dimulai bukan dengan bendera, tapi dengan kesadaran. Sebab bendera hanya kain, tapi kesadaran adalah nyawa. Dan selama ada yang berani berpikir jujur, HMI tak akan benar-benar mati. Kembali membenahi diri kita sebagai oraganisasi perjuangan yang menolak bentuk apapun penindasan.

  • Penulis: Muhammad Asmar Joma
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenkes: Cuaca Panas dan Padatnya Jemaah Picu Lonjakan ISPA di Tanah Suci

    Kemenkes: Cuaca Panas dan Padatnya Jemaah Picu Lonjakan ISPA di Tanah Suci

    • calendar_month Rabu, 21 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 460
    • 0Komentar

    Balengko Space – Kementerian Kesehatan RI mengimbau jemaah haji Indonesia untuk waspada terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hingga pertengahan Mei 2025, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Makkah dan Madinah mencatat 7.957 kasus ISPA. Dilansir dari laman resmi Kemenkes, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi, dr. Mohammad Imran, MKM, menyebutkan bahwa suhu panas ekstrem […]

  • Tim Advokasi Untuk Keadilan Marganda saat melaporkan kasus dugaan malpraktik medis ke lembaga negara. Source : Istimewa

    Dugaan Malpraktik Medis Akibatkan Kelumpuhan, Tim Advokasi Lapor ke DPR RI dan KKI

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 423
    • 0Komentar

    JAKARTA, BALENGKO SPACE – Tim Advokasi Untuk Keadilan Marganda resmi membawa kasus dugaan malpraktik medis yang menimpa seorang pelajar berinisial MS ke ranah pengawasan nasional. Pengaduan tersebut disampaikan kepada Komisi IX DPR RI dan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pada Selasa (21/4/2026). Langkah ini diambil menyusul kegagalan proses mediasi serta penilaian tim advokasi terhadap ketiadaan itikad […]

  • ilustrasi orang yang memberi pengaruh buruk dalam pergaulan

    5 Pribadi yang Harus Dihindari Agar Suksesmu Tidak Terhambat

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 555
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Di era modern yang serba cepat ini, setiap orang berlomba-lomba meraih kesuksesan. Namun dalam perjalanan itu, tak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan positif. Ada yang diam-diam menjadi penghambat. Tanpa disadari, karakter mereka bisa memperlambat langkah atau bahkan menggagalkan tujuan kita. Maka, mengenali dan menghindari pribadi-pribadi yang tidak sehat dalam pergaulan […]

  • Fahrul Abdul Muid

    IAIN-KAN KAMI, UIN-KAN KAMI

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Fahrul Abd Muid
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Institut Agama Islam Negeri—IAIN Ternate memiliki identitas dan peran keagamaan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Islam Kepulauan di Provinsi Maluku Utara. Lebih-lebih pada Civitas Akdemika IAIN Ternate harus memiliki identitas yang kuat pada dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas IAIN Ternate. Kemana dan dimana pun Civitas Akademika berada tetap dirinya adalah bagian dari identitas IAIN Ternate, sehingga dirinya menjadi warna—lawnun yang jelas dalam […]

  • SULA

    LBH Ansor Malut Soroti Dugaan Penganiayaan Oknum TNI yang Tewaskan Warga Sipil di Kepulauan Sula

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Kepulauan Sula (BALENGKO) – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku Utara menyatakan sikap tegas atas dugaan tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oknum anggota TNI berinisial Pratu SB, yang menyebabkan meninggalnya warga sipil SU (36) di Kabupaten Kepulauan Sula. Berdasarkan kronologi awal yang beredar, korban disebut tidak terlibat langsung dalam konflik, namun menjadi sasaran pemukulan hingga […]

  • Source : Istimewa

    KETIKA BERNALAR KRITIS DIBUNGKAM

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Dalam bahasa Inggris, istilah critic kadang diperuntukkan kepada orangnya. Sementara Poerwadarminta [1904-1968], kritik berarti kemelut, keadaan genting. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah kecaman, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya atau pendapat orang lain. Maka, orang yang ahli dalam memberikan pertimbangan-pembahasan tentang baik dan buruknya sesuatu disebut kritikus. […]

expand_less