Kun Fayakun IAIN Ternate: Berdaya dan Berdampak bagi Indonesia Timur
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 59
- comment 0 komentar

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut . Source : Istimewa
Menjadikan Institut Agama Islam Negeri Ternate berdaya saing secara akademik di bagian timur Indonesia adalah ekspektasi tinggi-height bagi masyarakat Moloku Kie Raha di masa mendatang. IAIN harus membuktikan dirinya sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi keagamaan-al-diniyyah yang berdaya saing tinggi dalam budaya akademik di bagian timur Indonesia. Maka, Rektor barunya harus memiliki komitmen-istiqamah yang kuat dalam mewujudkan visi, misi, dan programnya untuk meningkatkan kualitas budaya akademik karena hanya dengan cara itu akan tercapai banyak prestasi yang bisa membanggakan saya, anda dan kita semua. Memacu kinerja dan prestasi kerja civitas akademika di IAIN Ternate agar terfokus ke arah pencapaian prestasi gemilang guna terwujudnya atmosfir daya saing akademik melalui desain seluruh program-program kerjanya yang terukur dan wajib dilaksanakan. Oleh karena itu, salah satu hal kongkrit yang harus dilakukan adalah membangun hubungan kolaborasi-ta’awun dengan relasi-hablun niscaya bergandengan tangan bersama pemerintah pusat dan daerah untuk dijadikan mitra terbaik, agar IAIN Ternate memiliki kekuatan energi tambahan dalam menggenjot lajunya percepatan-akselerasi pencapaian terwujudnya IAIN Ternate yang berdaya saing secara akademik di bagian timur Indonesia. IAIN Ternate tidak boleh kalah bersaing dengan UIN Makassar, UIN Ambon, UIN Datokarama Palu apalagi hanya dengan bersaing dengan IAIN Manado, IAIN Kendari dan IAIN Papua.
IAIN Ternate harus didesain untuk membangun peradaban Islam secara andal-dapat dipercaya karena kebesaran nama kesultanan Moloku Kie Raha yang dikenal oleh dunia dan dibaca dunia hingga saat ini, tetapi dalam realitasnya kita masih jumpai perkataan sebagian besar pihak yang mengasumsikan bahwa IAIN Ternate masih berjalan stagnan dan berproses hanya atas dasar berfikir deduktif semata. Sehingga IAIN Ternate belum menunjukkan eksistensi sebagai sebuah lembaga Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam yang berpihak full kepada pengembangan seluruh budaya akademik kampus yang berbasis pada sains dan teknologi pada Tridharmanya, dan Kampus keagamaan ini belum terlihat secara signifikan mendorong bagaimana civitas akademika berfikir menggunakan “nalar kritis” karena dimatikan, bahkan lembaga Pendidikan Tinggi ke-Islaman ini memiliki kecenderungan yang dianggap sebagai institusi yang masih kurang tendangannya dalam kandangnya sendiri-dha’if syahwatiyyah pemimpinnya, dan jika enggan dikatakan kepemimpinannya sama sekali tidak fokus pada skala perioritas berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang modern dan holistik.
- Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar