Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Filosofi tentang Waktu di Antara Kehilangan dan Cinta

Filosofi tentang Waktu di Antara Kehilangan dan Cinta

  • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
  • visibility 596
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Kehilangan datang sebagai penagihnya, sementara cinta hampir selalu datang sebagai janji. Waktu berdiri di antara keduanya, menentukan segalanya seperti hakim yang diam. Kita sering berpikir bahwa cinta adalah tentang perasaan, dan kehilangan adalah tentang nasib. Namun, jika kita melihat lebih dalam, keduanya adalah tentang waktu, tentang kapan kita bertemu, berapa lama kita bersama, dan kapan semuanya runtuh atau hanya menjadi kenangan.

Waktu sering dianggap sebagai komoditas dalam kehidupan modern yang serba cepat. Tenggat waktu, kalender, dan notifikasi digital digunakan untuk mengukurnya. Tetapi dalam hal cinta, waktu tidak pernah berhenti. Ia bisa berlanjut ketika pesan tidak datang dan menunggu kebahagiaan terasa terlalu singkat. Saat ini, filsafat waktu menemukan bahwa itu paling manusiawi. Bukan di kelas, tapi di hati orang-orang yang pernah dicintai dan kehilangan.

Dalam Confessiones, Agustinus bertanya dengan jujur ​​dan berasumsi, “Apakah itu waktunya?” Jika tidak ada yang bertanya, saya mengetahuinya. Jika saya harus menjelaskan, saya tidak tahu. Jika seseorang mencoba menjelaskan rasa kehilangan, pernyataan ini mungkin terdengar familiar. Meskipun kita tahu untuk mempertahankan perasaan, kita tidak menggunakan bahasa yang cukup. Kehilangan selalu terasa seperti kehilangan waktu. Masa lalu terasa terlalu hidup, saat ini terasa tidak ada artinya, dan masa depan tampak tidak jelas.

Waktu berada di dalam kesadaran manusia, bukan di luar diri manusia, menurut perspektif Agustinus. Masa lalu dipersembahkan oleh kenangan, masa depan dipersembahkan oleh harapan, dan saat ini disajikan oleh perhatian.

Dalam tiga lapis itu, cinta bertahan. Kami hidup karena kenangan, harapan, dan cinta. Tiga lapisan ini runtuh sekaligus saat kehilangan. Ingatannya berubah menjadi beban, harapan berubah menjadi ketakutan, dan saat ini terasa kosong.

Hingga tahun 2025, penelitian psikologi kognitif menemukan bahwa pengalaman emosional yang kuat, terutama cinta dan kesedihan, mengubah persepsi subjektif manusia tentang waktu. Studi lintas negara yang diterbitkan dalam Nature Human Behavior (2024–2025) menemukan bahwa orang yang mengalami kehilangan besar cenderung mengalami “time dilation”, yaitu perasaan bahwa waktu berjalan lebih lambat selama fase keringat. Sebaliknya, fase jatuh cinta awal sering menciptakan ilusi bahwa waktu berjalan lebih cepat.  Data ini mendukung dengan gagasan yang telah lama disampaikan para filsuf bahwa waktu adalah pengalaman dalam dan bukan hanya kronologi.

Henri Bergson menyebut “durée”, waktu yang tidak dapat dikurangi menjadi detik, menit, atau tahun. Dalam cinta, durasi ini benar-benar terasa. Dua orang bisa bersama selama bertahun-tahun, tetapi itu membuatnya terasa hampa. Keakraban singkat seperti itu bisa bertahan seumur hidup.

Menurut Bergson, kehilangan berarti tidak hanya berakhirnya suatu hubungan, tetapi juga berhentinya suatu jangka waktu. Oleh karena itu, perpisahan sering terasa tidak proporsional dengan durasi hubungan. Bukan jumlah waktu yang hilang, namun kualitas waktu yang hilang.

Di era media sosial, masalah tentang waktu yang tepat untuk berhubungan dan kehilangan seseorang menjadi semakin kompleks. Logaritma menggunakan logika keberadaan abadi. Masa lalu dapat ditolak sepenuhnya oleh jejak digital, foto lama dapat muncul kembali sebagai “kenangan”, dan pesan lama dapat dibaca ulang.

Data dari Laporan Kesehatan Digital 2025 menunjukkan peningkatan gangguan pemulihan emosional setelah putusnya hubungan, terutama karena paparan memori digital. Arsip yang terus hidup justru mempersingkat waktu penyembuhan.

Pada titik ini, Martin Heidegger tampaknya menjadi relevan. Menurut Being and Time, manusia adalah makhluk temporal. Meskipun, kita berada dalam waktu, kita juga dibentuk olehnya. Menurut Heidegger, cinta adalah usaha eksistensial. Kami memilih seseorang untuk berkontribusi pada masa depan kita.

Oleh karena itu, kehilangan bukan hanya kehilangan orang, tetapi juga runtuhnya kemungkinan yang pernah kita rencanakan. Begitu juga kecemasan yang tidak selalu beralasan sering disertai dengan kehilangan.

Kita tidak hanya membandingkan apa yang telah terjadi, namun juga membandingkan apa yang akan terjadi di masa depan. Waktu yang sebelumnya terbuka tiba-tiba terasa tertutup. Menurut Heidegger, kita dihadapkan kembali pada kefanaan, kenyataan bahwa semua kemungkinan hanyalah sementara.

Namun, modernitas seringkali memberi kita pilihan yang salah. Cinta harus “cepat pasti”, sedangkan kehilangan harus “segera move on”. Semuanya terlihat efektif, termasuk perasaan. Sebaliknya, filsafat waktu mengajarkan tentang kesabaran eksistensial.

Dengan gagasan kekambuhan abadi, Friedrich Nietzsche menantang orang untuk mencintai hidup mereka sehingga bersedia kembali tanpa penyesalan. Pertanyaannya, “apakah kita sungguh-sungguh hadir dalam cinta, atau sekadar melewatinya sambil lalu?” menjadi tajam ketika dia berada di dunia cinta.

Cinta yang tidak memenuhi harapan sering mengakibatkan kehilangan yang berlarut-larut. Bukan karena perpisahannya, tapi karena penyesalan atas waktu yang tidak terpakai dengan baik. Nietzsche mengingatkan bahwa waktu tidak dapat diubah. Ia hanya dapat digunakan atau disia-siakan.

Survei World Values ​​Survey Wave 8 menarik perhatian bahwa selain kecenderungan untuk hubungan jangka pendek, ada peningkatan kekhawatiran tentang eksistensi setelah hubungan berakhir. Ini merupakan paradoks. Hubungan lebih singkat, tetapi penderitaan emosional lebih lama.

Membaca paradoks ini lebih mudah dengan filosofi waktu. Kehilangan akan kehilangan konteksnya dan manusia kehilangan narasi untuk memulihkan diri ketika hubungan dianggap sebagai sebuah fragmen.

Konsep narasi waktu ditawarkan oleh Paul Ricoeur sebagai titik awal.  Dia mengatakan bahwa manusia dapat memahami waktu melalui cerita. Kebersamaan adalah inti dari cinta, dan kehilangan adalah inti dari perubahan. Tidak hanya kehilangan dirinya sendiri yang berbahaya, namun juga kegagalan untuk menerapkannya.

Waktu berhenti menjadi guru dan berubah menjadi penjara ketika kehilangan tidak dimaknai. “Waktu akan menyembuhkan” adalah ungkapan yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sebagian darinya benar.  Tidak ada perbaikan tanpa waktu. Ia hanya memberikan ruang dan yang menyembuhkan adalah cara kita hidup di dalamnya. Apakah kita memaknai waktu sebagai proses menjadi, atau kita membiarkan waktu berlalu tanpa mempertimbangkannya?

Kehilangan dan cinta pada akhirnya bukanlah dua sisi yang sama sekali bercampur. Keduanya melambangkan dua sisi pengalaman manusia yang bersifat temporer. Karena kita tahu waktu kita terbatas, kita mencintai. Kami kehilangan waktu. Manusia belajar tentang dirinya sendiri di keduanya.

Tidak ada nasehat yang diberikan oleh filsafat waktu tentang cara membuat kehilangan atau cinta yang abadi. Ia hanya memberi kita satu pelajaran penting, bahwa berdamai dengan waktu adalah kunci hidup. Dalam cinta kita belajar hadir, dalam kehilangan kita belajar melepaskan, dan dalam waktu kita belajar menjadi manusia seutuhnya, dengan segala kerapuhan dan harapan yang menyertainya.

Saya takut bahwa itu mungkin satu-satunya cara yang benar-benar menghibur. Bahwa waktu memang akan berlalu, namun artinya tidak akan pernah hilang. Ia tetap hidup, tersembunyi dalam kenangan, dalam cerita, dan dalam cara kita mencintai lagi dengan kesadaran bahwa setiap detik selalu berharga karena ia tidak akan kembali.

  • Penulis: Riki Arista
  • Editor: Redaktur Balengko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panen Raya Rumput Laut di Pulau Santari, Wagub Malut Sarbin Sehe Tinjau Langsung Produktivitas Petani Pesisir

    Panen Raya Rumput Laut di Pulau Santari, Wagub Malut Sarbin Sehe Tinjau Langsung Produktivitas Petani Pesisir

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 897
    • 0Komentar

    Halmahera Selatan, Sabtu, 03 Mei 2025 –Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, menghadiri Panen Raya Rumput Laut di Pulau Santari, Desa Madapolo Timur, Kecamatan Obi Utara, Kabupaten Halmahera Selatan. Ia datang bersama Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Abdullah Assegaf, serta Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara, Fauji Momole. Mereka […]

  • Mahasiswa baru UNJAYA mengikuti Sapa Achmad Yani Muda 2025.

    BEM UNJAYA 2025 Gelar Sapa Achmad Yani Muda dan UKM Fair Sambut Mahasiswa Baru

    • calendar_month Senin, 15 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 762
    • 0Komentar

    BEM UNJAYA 2025 menggelar Sapa Achmad Yani Muda dan UKM Fair 2025 di Yogyakarta, Senin (8/9). Agenda ini menyambut mahasiswa baru dan memperkenalkan semangat perjuangan Jenderal Achmad Yani. Presiden Mahasiswa UNJAYA 2025, Faturahman Djaguna, menyampaikan orasi di depan mahasiswa baru. Ia menegaskan bahwa mahasiswa UNJAYA harus memegang teguh spirit perjuangan Jenderal Achmad Yani. “Musuh kita […]

  • PPPK

    LBH Ansor Maluku Utara Soroti Dugaan Ketua DPC Parpol Dilantik sebagai PPPK Paruh Waktu di Kota Ternate

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.180
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO)— Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku Utara menyoroti dugaan keterlibatan oknum berenisial MJ—yang disebut masih menjabat sebagai pengurus sekaligus Ketua DPC salah satu partai politik di Kecamatan Ternate Tengah—dalam proses pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu Pemerintah Kota Ternate pada Senin (1/12/2025). Informasi yang beredar menyebutkan bahwa nama MJ tercantum […]

  • Pembangunan Masjid Mangkrak, Aktivis PMII Desak Inspektorat Audit Anggaran Desa Pas Ipa

    Pembangunan Masjid Mangkrak, Aktivis PMII Desak Inspektorat Audit Anggaran Desa Pas Ipa

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.498
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com , Mangoli Barat, 29 Juni 2025 – Masjid Desa Pas Ipa, Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, yang semula diharapkan menjadi pusat ibadah dan kegiatan keagamaan warga, kini justru menyisakan kekecewaan. Proyek pembangunan rumah ibadah tersebut terlihat mangkrak dan nyaris tidak ada aktivitas pekerjaan selama berbulan-bulan terakhir. Kondisi ini memicu keresahan di tengah masyarakat […]

  • Pendiri Ruang Nyata, Kevin Mardianto, Muhammad Ilham, dan Fatur Djaguna

    Ruang Nyata hadir : gerakan Berdaya, Berjaya, dan Berdampak

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 700
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Yogyakarta, Jumat (15/8/2025) – Tiga serangkai Kevin Mardianto, S.H., Muhammad Ilham, dan Faturahman Djaguna menggagas Ruang Nyata. Gerakan mahasiswa ini lahir dari kegelisahan mereka melihat berbagai persoalan yang membutuhkan wadah untuk menampung dan mengaktualisasikan ide demi kemajuan bangsa. “Politik, hukum kebijakan publik, ekonomi, dan pendidikan menjadi tiga bidang yang konstitusi kita akomodasi. […]

  • Inspektorat Kabupaten Kepulauan Sula

    FPM Desa Pas Ipa Desak Inspektorat Serahkan LHP ke Kejaksaan

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 410
    • 0Komentar

    SANANA (BALENGKO) – Front Persatuan Masyarakat (FPM) Desa Pas Ipa, Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, meminta Inspektorat Kabupaten Kepulauan Sula segera menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kepada Kejaksaan Negeri Kepulauan Sula. Permintaan tersebut berkaitan dengan laporan masyarakat terkait dugaan ketidaksesuaian dalam pengelolaan Anggaran Desa Pas Ipa yang sebelumnya telah dilayangkan FPM ke Kejaksaan pada […]

expand_less