Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Filosofi tentang Waktu di Antara Kehilangan dan Cinta

Filosofi tentang Waktu di Antara Kehilangan dan Cinta

  • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
  • visibility 295
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Kehilangan datang sebagai penagihnya, sementara cinta hampir selalu datang sebagai janji. Waktu berdiri di antara keduanya, menentukan segalanya seperti hakim yang diam. Kita sering berpikir bahwa cinta adalah tentang perasaan, dan kehilangan adalah tentang nasib. Namun, jika kita melihat lebih dalam, keduanya adalah tentang waktu, tentang kapan kita bertemu, berapa lama kita bersama, dan kapan semuanya runtuh atau hanya menjadi kenangan.

Waktu sering dianggap sebagai komoditas dalam kehidupan modern yang serba cepat. Tenggat waktu, kalender, dan notifikasi digital digunakan untuk mengukurnya. Tetapi dalam hal cinta, waktu tidak pernah berhenti. Ia bisa berlanjut ketika pesan tidak datang dan menunggu kebahagiaan terasa terlalu singkat. Saat ini, filsafat waktu menemukan bahwa itu paling manusiawi. Bukan di kelas, tapi di hati orang-orang yang pernah dicintai dan kehilangan.

Dalam Confessiones, Agustinus bertanya dengan jujur ​​dan berasumsi, “Apakah itu waktunya?” Jika tidak ada yang bertanya, saya mengetahuinya. Jika saya harus menjelaskan, saya tidak tahu. Jika seseorang mencoba menjelaskan rasa kehilangan, pernyataan ini mungkin terdengar familiar. Meskipun kita tahu untuk mempertahankan perasaan, kita tidak menggunakan bahasa yang cukup. Kehilangan selalu terasa seperti kehilangan waktu. Masa lalu terasa terlalu hidup, saat ini terasa tidak ada artinya, dan masa depan tampak tidak jelas.

Waktu berada di dalam kesadaran manusia, bukan di luar diri manusia, menurut perspektif Agustinus. Masa lalu dipersembahkan oleh kenangan, masa depan dipersembahkan oleh harapan, dan saat ini disajikan oleh perhatian.

Dalam tiga lapis itu, cinta bertahan. Kami hidup karena kenangan, harapan, dan cinta. Tiga lapisan ini runtuh sekaligus saat kehilangan. Ingatannya berubah menjadi beban, harapan berubah menjadi ketakutan, dan saat ini terasa kosong.

Hingga tahun 2025, penelitian psikologi kognitif menemukan bahwa pengalaman emosional yang kuat, terutama cinta dan kesedihan, mengubah persepsi subjektif manusia tentang waktu. Studi lintas negara yang diterbitkan dalam Nature Human Behavior (2024–2025) menemukan bahwa orang yang mengalami kehilangan besar cenderung mengalami “time dilation”, yaitu perasaan bahwa waktu berjalan lebih lambat selama fase keringat. Sebaliknya, fase jatuh cinta awal sering menciptakan ilusi bahwa waktu berjalan lebih cepat.  Data ini mendukung dengan gagasan yang telah lama disampaikan para filsuf bahwa waktu adalah pengalaman dalam dan bukan hanya kronologi.

Henri Bergson menyebut “durée”, waktu yang tidak dapat dikurangi menjadi detik, menit, atau tahun. Dalam cinta, durasi ini benar-benar terasa. Dua orang bisa bersama selama bertahun-tahun, tetapi itu membuatnya terasa hampa. Keakraban singkat seperti itu bisa bertahan seumur hidup.

Menurut Bergson, kehilangan berarti tidak hanya berakhirnya suatu hubungan, tetapi juga berhentinya suatu jangka waktu. Oleh karena itu, perpisahan sering terasa tidak proporsional dengan durasi hubungan. Bukan jumlah waktu yang hilang, namun kualitas waktu yang hilang.

Di era media sosial, masalah tentang waktu yang tepat untuk berhubungan dan kehilangan seseorang menjadi semakin kompleks. Logaritma menggunakan logika keberadaan abadi. Masa lalu dapat ditolak sepenuhnya oleh jejak digital, foto lama dapat muncul kembali sebagai “kenangan”, dan pesan lama dapat dibaca ulang.

Data dari Laporan Kesehatan Digital 2025 menunjukkan peningkatan gangguan pemulihan emosional setelah putusnya hubungan, terutama karena paparan memori digital. Arsip yang terus hidup justru mempersingkat waktu penyembuhan.

Pada titik ini, Martin Heidegger tampaknya menjadi relevan. Menurut Being and Time, manusia adalah makhluk temporal. Meskipun, kita berada dalam waktu, kita juga dibentuk olehnya. Menurut Heidegger, cinta adalah usaha eksistensial. Kami memilih seseorang untuk berkontribusi pada masa depan kita.

Oleh karena itu, kehilangan bukan hanya kehilangan orang, tetapi juga runtuhnya kemungkinan yang pernah kita rencanakan. Begitu juga kecemasan yang tidak selalu beralasan sering disertai dengan kehilangan.

Kita tidak hanya membandingkan apa yang telah terjadi, namun juga membandingkan apa yang akan terjadi di masa depan. Waktu yang sebelumnya terbuka tiba-tiba terasa tertutup. Menurut Heidegger, kita dihadapkan kembali pada kefanaan, kenyataan bahwa semua kemungkinan hanyalah sementara.

Namun, modernitas seringkali memberi kita pilihan yang salah. Cinta harus “cepat pasti”, sedangkan kehilangan harus “segera move on”. Semuanya terlihat efektif, termasuk perasaan. Sebaliknya, filsafat waktu mengajarkan tentang kesabaran eksistensial.

Dengan gagasan kekambuhan abadi, Friedrich Nietzsche menantang orang untuk mencintai hidup mereka sehingga bersedia kembali tanpa penyesalan. Pertanyaannya, “apakah kita sungguh-sungguh hadir dalam cinta, atau sekadar melewatinya sambil lalu?” menjadi tajam ketika dia berada di dunia cinta.

Cinta yang tidak memenuhi harapan sering mengakibatkan kehilangan yang berlarut-larut. Bukan karena perpisahannya, tapi karena penyesalan atas waktu yang tidak terpakai dengan baik. Nietzsche mengingatkan bahwa waktu tidak dapat diubah. Ia hanya dapat digunakan atau disia-siakan.

Survei World Values ​​Survey Wave 8 menarik perhatian bahwa selain kecenderungan untuk hubungan jangka pendek, ada peningkatan kekhawatiran tentang eksistensi setelah hubungan berakhir. Ini merupakan paradoks. Hubungan lebih singkat, tetapi penderitaan emosional lebih lama.

Membaca paradoks ini lebih mudah dengan filosofi waktu. Kehilangan akan kehilangan konteksnya dan manusia kehilangan narasi untuk memulihkan diri ketika hubungan dianggap sebagai sebuah fragmen.

Konsep narasi waktu ditawarkan oleh Paul Ricoeur sebagai titik awal.  Dia mengatakan bahwa manusia dapat memahami waktu melalui cerita. Kebersamaan adalah inti dari cinta, dan kehilangan adalah inti dari perubahan. Tidak hanya kehilangan dirinya sendiri yang berbahaya, namun juga kegagalan untuk menerapkannya.

Waktu berhenti menjadi guru dan berubah menjadi penjara ketika kehilangan tidak dimaknai. “Waktu akan menyembuhkan” adalah ungkapan yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sebagian darinya benar.  Tidak ada perbaikan tanpa waktu. Ia hanya memberikan ruang dan yang menyembuhkan adalah cara kita hidup di dalamnya. Apakah kita memaknai waktu sebagai proses menjadi, atau kita membiarkan waktu berlalu tanpa mempertimbangkannya?

Kehilangan dan cinta pada akhirnya bukanlah dua sisi yang sama sekali bercampur. Keduanya melambangkan dua sisi pengalaman manusia yang bersifat temporer. Karena kita tahu waktu kita terbatas, kita mencintai. Kami kehilangan waktu. Manusia belajar tentang dirinya sendiri di keduanya.

Tidak ada nasehat yang diberikan oleh filsafat waktu tentang cara membuat kehilangan atau cinta yang abadi. Ia hanya memberi kita satu pelajaran penting, bahwa berdamai dengan waktu adalah kunci hidup. Dalam cinta kita belajar hadir, dalam kehilangan kita belajar melepaskan, dan dalam waktu kita belajar menjadi manusia seutuhnya, dengan segala kerapuhan dan harapan yang menyertainya.

Saya takut bahwa itu mungkin satu-satunya cara yang benar-benar menghibur. Bahwa waktu memang akan berlalu, namun artinya tidak akan pernah hilang. Ia tetap hidup, tersembunyi dalam kenangan, dalam cerita, dan dalam cara kita mencintai lagi dengan kesadaran bahwa setiap detik selalu berharga karena ia tidak akan kembali.

  • Penulis: Riki Arista
  • Editor: Redaktur Balengko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TNI lumpuhkan Wakil Panglima OPM Kodap XII Lanny Jaya di Papua Pegunungan

    TNI Lumpuhkan Wakil Panglima OPM di Papua Pegunungan

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 720
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Papua Pegunungan – TNI lumpuhkan Wakil Panglima OPM Kodap XII Lanny Jaya dalam operasi penindakan di Kampung Mukoni, Distrik Mukoni, Kabupaten Lanny Jaya, Selasa (5/8/2025) pukul 16.30 WIT. Operasi tersebut menargetkan Mayer Wenda alias Kuloi Wonda, buronan sejak 2014 yang menjabat sebagai Wakil Panglima Kodap XII/Lanny Jaya. Prajurit TNI bergerak cepat setelah menerima […]

  • Ageng Pradana: Membawa Kreativitas Baru ke Dunia Video Musik Hip-Hop Indonesia

    Ageng Pradana: Membawa Kreativitas Baru ke Dunia Video Musik Hip-Hop Indonesia

    • calendar_month Minggu, 19 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 425
    • 0Komentar

    Foto : Instagram : agengpradana9 Dunia video musik hip-hop di Indonesia sedang berkembang pesat, dan salah satu nama yang patut diperhatikan adalah Ageng Pradana. Sebagai seorang video director, Ageng telah berhasil bekerja dengan sejumlah rapper dan Grup HipHop terkenal seperti Jumbrong, Punokawan, dan Bennet A.K. Dalam wawancara eksklusif ini, Ageng berbagi cerita tentang perjalanan kariernya, […]

  • Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA), Dr. M. Natsir Tamalene, M.Pd. (kiri), saat bertemu dengan Vice Rector for International Cooperation Bukhara State University, Prof. Abror Juraev (kanan), di Uzbekistan, Jumat (30/01/2026). Kunjungan ini membahas rencana program magang internasional kolaboratif bagi mahasiswa dan dosen PTNU se-Indonesia untuk penguatan kapasitas akademik di bidang sains, teknologi, dan kebudayaan. Dok. Istimewa

    Perluas Jejaring Global, UNUTARA Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Bukhara State University Uzbekistan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 197
    • 0Komentar

    BUKHARA, UZBEKISTAN (BALENGKO) – Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) resmi memulai langkah strategis di kancah internasional melalui penjajakan kerja sama dengan Bukhara State University (BSU), Uzbekistan. Rektor UNUTARA, Dr. M. Natsir Tamalene, M.Pd., melakukan kunjungan resmi bersama jajaran Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) se-Indonesia untuk membahas kolaborasi lintas negara di kantor pusat BSU, […]

  • Source : Istimewa

    Aliansi Peduli Iran Demo Kedubes AS dan Kemenlu: Kecam Agresi Militer, Tuntut Perlindungan WNI

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 91
    • 0Komentar

    JAKARTA (BALENGKO) – Ratusan massa Aliansi Peduli Iran (API) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat (6/3/2026), untuk mengecam serangan militer AS terhadap Iran. Massa yang terdiri dari Pemuda Muslimin DKI, SEMMI Jakarta Raya, dan LMND DKI Jakarta ini menilai agresi tersebut melanggar hukum […]

  • Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua saat menerima audiensi PW IKA PMII Maluku Utara di ruang kerjanya, Kamis (4/12/2025).

    Bupati Halmahera Utara Terima Audiensi PW IKA PMII Malut

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 110
    • 0Komentar

    HALUT (BALENGKO) – Bupati Kabupaten Halmahera Utara, Piet Hein Babua, menerima audiensi jajaran Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Provinsi Maluku Utara pada Kamis (4/12/2025).Kedatangan rombongan turut didampingi Ketua PC IKA PMII Halmahera Utara, Fahmi Musa, beserta jajaran, serta Ketua GP Ansor Halut, Rifki Kasibit. Audiensi ini digelar dalam rangka […]

  • Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair: Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma

    Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair: Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Subhan Samsudin
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Dua dekade pertama abad ke-21 memperlihatkan dunia yang bergerak dalam ketidakpastian yang nyaris konstan. Perang tidak lagi menjadi peristiwa yang jarang terjadi, melainkan hadir sebagai latar belakang berita harian.

expand_less