Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » MITIGASI BUNUH DIRI

MITIGASI BUNUH DIRI

  • calendar_month Jumat, 11 Apr 2025
  • visibility 369
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Menurut kamus Encyclopedia Britanica, bunuh diri didefinisikan sebagai usaha seseorang untuk mengakhiri hidupnya dengan cara suka-rela atau sengaja. Kata Suicide berasal dari kata latin Sui yang berarti diri (self), dan kata Caedere yang berarti membunuh (to kill). Sedangkan menurut aliran Human Behavior, bunuh diri ialah bentuk pelarian parah dari dunia nyata, atau lari dari situasi yang tidak bisa ditolerir atau merupakan bentuk regresi (hubungan sebab-akibat) ingin kembali pada keadaan nikmat, nyaman dan tentram. (Kartono, 2000:143). Bunuh diri adalah pembunuhan secara simbolis, karena ada peristiwa indentifikasi dengan seseorang yang dibenci, dengan membunuh diri sendiri orang yang bersangkutan secara simbolis membunuh orang yang dibencinya. Bunuh diri adalah satu jalan untuk mengatasi macam-macam kesulitan pribadi, misalnya berupa rasa kesepian, dendam, takut, kesakitan fisik, dosa dan lain-lain. Beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bunuh diri adalah usaha seseorang untuk menyakiti dirinya sendiri dengan tujuan untuk meniadakan atau untuk menghilangkan nyawanya sendiri, hal ini biasanya dilakukan atas dasar motivasi-motivasi tertentu seperti menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Mengutip pendapatanya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya “al-Insan bain al-musayyar wa al-mukhayyar” artinya, manusia antara dijalankan dan memilih berjalan sendiri atau manusia antara dipilihkan dan memilih sendiri dalam kehidupannya. Ketika manusia dilahirkan diatas dunia ini sebagai suku tertentu, apakah manusia itu memilih ataukah dipilihkan, manusia terlahir menjadi suku jawa, suku sumatera, suku madura, suku bajo, suku makian, suku tobelo-galela, suku ternate, suku tidore, suku cina, suku arab dan sebagainya. Ternyata yang berlaku pada diri manusia ketika dilahirkan di atas dunia ini adalah dipilihkan oleh Allah Swt bukan karena manusia itu memilih dirinya sendiri sebagai suku tertentu. Sehingga diantara kita tidak boleh saling mengejek atau mengolok-ngolok antara satu suku dengan suku lainnya dengan mengatakan ‘hai cina-hai batak-hai jawa-hai madura-dan hai bajo. Karena dia tidak pernah memilih dirinya untuk menjadi suku tertentu tapi dia dipilihkan oleh Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedangkan ketika seseorang hendak mau ‘bunuh diri’ dengan menggunakan silet, pisau, pistol, minum racun, melompat dari atas gunung atau dari lantai tertinggi pada sebuah gedung, maka apakah dia ‘memilih’ ataukah dia ‘dipilih’ untuk ‘bunuh diri’? Anda mulai ragu kan kawan! Ketika Buya Hamka di penjara oleh penguasa saat itu sebagaimana yang dijelaskan dalam bukunya “tasawwuf modern” bahwa ketika itu Hamka benar-benar mengalami kondisi psikologi-jiwanya sangat rapuh dan terguncang hebat akibat dipenjarakan, apalagi Hamka diintrogasi oleh petugas keamanan penjara yang sangat galak dengan menaikkan sepatunya ke atas meja dan berkata kepadanya, ‘hai Hamka anda adalah pengkhianat negara yang akan menjual tanah air negara anda sendiri ke bangsa malasyia’.  Maka saat itu tersedia sebuah silet di dinding penjaranya, sehingga setan pun berbisik ditelinganya ‘hai Hamka ambil saja silet itu untuk kau iris urat nadimu’ percuma saja kau hidup saat ini karena kau sama sekali tidak ada lagi harga dirimu, bukannya kau di sumatera barat engkau sebagai ‘datuk’ yang sangat dihargai oleh masyarakatmu di sana. Setan pun berkata kepada Hamka, kau ‘bunuh’ saja dirimu yang tak berguna itu. Hamka sama sekali tidak terpengaruh dengan bisikan setan itu tapi dengan luar biasanya Hamka berhasil melawan bisikan setan dengan kekuatan imannya yang terhunjam kuat dalam kalbu Hamka. Maka bisikan ‘setan’ pun dikalahkan oleh kekuatan imannya Hamka.

Dengan demikian, ada saatnya dia memilih bahwa kenapa dia masuk neraka karena memang dia ‘memilih’ untuk mengikuti ajakan setan untuk menghilangkan ‘nyawanya sendiri’. Oleh karena itu, saya, anda, dan kita semua sangat dianjurkan untuk melakukan mitigasi dengan cara membaca ayat kursi, do’a-do’a, zikir-zikir, wirid-wirid, dan banyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw supaya jangan sampai setan berhasil berbisik kepada kita dengan mengatakan, ‘bunuhlah dirimu’, ‘bunuhlah dirimu’, dan ‘bunuhlah dirimu’. Misalnya ketika dia dikantor ditekan oleh atasannya, di jalan dia pun ditangkap oleh polisi-apalagi dia dikejar-kejar oleh KPK untuk ditangkap, dan lebih-lebih di rumah dia pun ditekan oleh istrinya untuk ‘memilih’ melakukan korupsi uang negara, maka situasi dan keadaan demikian pasti membuat dia mengalami ‘stres’ berat maka begitu dia tengok ‘baigon’ seperti minuman ‘coca-cola’ saja sehingga akhirnya dia pun minum jenis minuman racun itu untuk ‘memilih’ melakukan ‘bunuh diri’ maka dia yang melakukan ‘bunuh diri’ sudah dipastikan masuk ke dalam neraka jahannam, seyogyanya bagi orang Islam yang harus dia cepat-cepat lakukan adalah dengan melakukan mitigasi dengan mengambil air wudhu’ dan mengerjakan shalat fardhu maupun sunnah karena fungsi ibadah shalat itu adalah memberikan pertolongan pertama kepadanya untuk mitigasi dirinya dari perbuatan ‘memilih’ untuk melakukan tindakan ‘bunuh diri’, ‘wasta’inu bi al-shabri wa al-shalat’ (dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu). Ketika dia hendak meminum air digelas yang ada didepannya maka dia pun harus meminum air itu dengan ‘memilih’ untuk menggunakan tangan kanannya dalam mengangkat gelas itu bukan dengan menggunakan tangan kirinya, karena manusia itu diberikan fakultas pancaindra oleh Allah Swt dalam dirinya yakni kedua matanya agar ‘memilih’ untuk melihat yang baik-baik, kedua telinganya agar ‘memilih’ untuk mendengar pembicaraan yang baik-baik, mulut untuk ‘memilih’ berbicara yang jujur, dan kekuatan iradah dan kodrat agar dia memiliki kemampun dalam dirinya untuk ‘memilih’ hal-hal dalam hidupnya yang disukai oleh Allah Swt. Oleh karenanya, bahwa ‘bunuh diri’ itu adalah kemampuan dia untuk ‘memilih’ bukan satu-satunya ‘pilihan’ yang harus dia pilih untuk kemudian menghilangkan ‘nyawanya sendiri’.

Dalam Hadis Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang hukum keras dan haram hukumnya bagi seseorang yang ‘memilih’ melakukan tindakan ‘bunuh diri’ dengan 3 (tiga) jalan yakni, pertama, “Barang siapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi yang tergengggam di tangannya akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya dalam neraka jahannam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya. Kedua, “Barang siapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu minghirupnya di neraka jahannam dan ia kekal di dalamnya. Ketiga, “Barang siapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka jahannam dan dia kekal di dalamnya”.

Cara memahami Hadis ini bahwa apa pun cara dia ‘memilih’ untuk melakukan ‘bunuh diri’ baik yang telah disebutkan dalam Hadis tersebut maupun yang tidak disebutkan caranya dalam Hadis ini, misalnya dengan menggunakan ‘tali’ yang diikat dilehernya untuk melakukan ‘bunuh diri’ sebagaimanya yang sangat viral saat ini cara untuk ‘memilih’ bunuh diri dengan tali gantungan, maka dipastikan yang bersangkutan akan masuk ke dalam neraka jahannam kekal di dalamnya. Tetapi yang dimaksud dengan ‘frasa’ khalidan, mukhalladan fiha abadan dalam redaksi Hadis tersebut, jika seseorang yang telah berhasil ‘bunuh diri’ itu memahami atau berkeyakinan bahwa perbuatan ‘bunuh diri’ itu adalah sesuatu yang ‘halal’ hukumnya, maka yang bersangkutan sudah merubah status hukum ‘bunuh diri’ secara syari’at yang ‘haram’ itu menjadi hukumnya ‘halal’ maka dia akan masuk ke dalam neraka jahannam kekal selama-lamanya karena dia telah mengalami ‘kekafiran’ dalam kematiannya. Sedangkan seseorang yang berhasil ‘bunuh diri’ dengan tidak memahami atau menyakini bahwa perbuatan ‘bunuh diri’ itu adalah hukumnya ‘halal’ maka yang bersangkutan tetap saja masuk ke dalam neraka jahannam dalam waktu yang panjang tapi tidak kekal selamanya di dalam neraka, karena pada akhirnya Allah Swt akan mengeluarkannya dari dalam neraka jahannam itu pada kloter terakhir dalam keadaan masih bertauhid kepada Allah Swt untuk masuk ke dalam surga-Nya. Dengan demikian, bahwa seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan yang mengambil jalan pintas dengan ‘memilih’ bunuh diri, maka dia tetap masih dalam keadaan bertauhid kepada Allah Swt dan kepadanya tidak dihukumi dia telah kafir dalam kematiannya dengan cara ‘memilih’ untuk bunuh diri karena memang ajalnya sudah bersamaan dengan cara dia memilih ‘bunuh diri’. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kenari Morotai Utara mengklarifikasi pemberitaan terkait dugaan penyelewengan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihaknya memastikan seluruh distribusi makanan telah berjalan sesuai prosedur.

    SPPG Kenari Morotai Utara Bantah Petugas Bawa Pulang Jatah Makan Gratis.

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 363
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kenari Morotai Utara mengklarifikasi pemberitaan terkait dugaan penyelewengan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihaknya memastikan seluruh distribusi makanan telah berjalan sesuai prosedur. Kepala SPPG Kenari Morotai Utara, Hasanudin Daiyan, menegaskan bahwa informasi yang beredar perlu diluruskan agar tidak memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. Hasanudin menjelaskan, […]

  • Semangat kader muda Ansor di Pulau Obi. DTD I GP Ansor Halmahera Selatan menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan komitmen kebangsaan.

    Diklat Terpadu Dasar I GP Ansor Halsel Digelar di Obi, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Kepulauan

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 709
    • 0Komentar

    Halmahera Selatan (BALENGKO) – Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Halmahera Selatan menggelar Diklat Terpadu Dasar (DTD) ke-I di Gedung Serbaguna Kecamatan Obi, Desa Laiwui, pada 17–19 April 2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kaderisasi sekaligus konsolidasi organisasi di wilayah kepulauan. DTD yang mengusung tema “Bela Agama, Bangsa dan Negara dalam Bingkai NKRI” diikuti […]

  • HENDRA KASIM Mahasiswa Program Doktor FH UII (Source : Istimewa)

    Kekuasaan Profetik (Etika, Batas, dan Tanggung Jawab Kekuasaan)

    • calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
    • account_circle HENDRA KASIM, Mahasiswa Program Doktor FH UII
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Banyak reaksi pasca Putusan MK No. 01/PHPU.PRES-XXIV/2026, saya sendiri sebelum ini sudah menulis berlatar tema Putusan MK tersebut setidaknya tiga tulisan. Bagi Anda yang mau lahap tulisan itu, scrool saja media sosial pribadi saya. Gratis, Cuma butuh data internet atau numpang wifi di café sambil seruput kopi. Tulisan ini sebisa mungkin saya menghindari bahasan substansi […]

  • Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

    Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Amril N Hi Ade, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta
    • visibility 400
    • 0Komentar

    Orang-orang hidup dengan meniru. Cara berpakaian dipelajari dari sekitar, cara menulis diserap dari yang sering dibaca, cara beretorika ditiru dari yang dianggap meyakinkan. Tanpa sadar, tumbuh, kembang manusia bergerak dalam pola pengulangan. Aristoteles menyebut manusia itu homo mimesis (makhluk peniru). Artinya, makhluk yang belajar dengan cara menyalin dunia di sekitarnya. Apa yang awalnya ditiru, lama-lama […]

  • Kekacauan yang Tak Terlihat: Ketika Rakyat Merasakan, Tapi Tak Selalu Memahami

    Kekacauan yang Tak Terlihat: Ketika Rakyat Merasakan, Tapi Tak Selalu Memahami

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Adika B Saputra
    • visibility 357
    • 0Komentar

    Kegelisahan publik terhadap kondisi nasional semakin terasa di berbagai lapisan masyarakat. Meskipun tidak selalu tampak secara kasat mata, sejumlah persoalan mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Perbincangan tentang keadaan negara pun semakin meluas, mencakup isu ekonomi, kebijakan hukum, hingga arah pembangunan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Di sektor ekonomi, tekanan terhadap nilai tukar […]

  • Ilustrasi

    Mahasiswa Unkhair Ternate Alami Krisis Psikologis, Berhasil Diselamatkan

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 869
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) — Seorang mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) Ternate berinisial T (19) dilaporkan mengalami krisis psikologis di lingkungan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) kampus setempat, Kamis (8/1/2026) dini hari. Korban berhasil diselamatkan dan kini menjalani perawatan medis di rumah sakit. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.30 WIT di Rusunawa Kampus Unkhair, Kelurahan Fitu, Kecamatan Ternate […]

expand_less