Menggugat “Rektornya Rektor”: Menanti Fajar Baru Kepemimpinan Visioner.
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 40
- comment 0 komentar

Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
Ada fenomena aneh tapi nyata kawan pada rezim kepemimpinan Rektorat di IAIN Ternate saat ini. Memang ada Rektor, Wakil Rektor satu, dua, dan tiga. Namun, ada jabatan yang lebih tinggi dari seorang Rektor dan sangat besar pengaruhnya dalam mengambil sebuah kebijakan strategis tapi sangat menyebalkan. Jabatan itu diistilah dengan “Rektornya Rektor” di IAIN Ternate yang membuat Rektor sendiri tidak bisa berkutik dan mati kutu olehnya. Segala macam keputusan Rektor di kampus ini harus mendapatkan persetujuan dari “Rektornya Rektor” itu. Artinya, bahwa Rektor IAIN Ternate lebih fokus pada mementingkan kepentingan pribadinya atau kelompoknya saja, daripada memprioritaskan kepentingan institusi dan masyarakat akademik. Indikator “Rektornya Rektor” ini dapat dipotret pada kenyataan hari ini yaitu kurangnya transparansi pada penggunaan anggaran kampus dan rapuhnya prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan institusi. Kurangnya kemampuan untuk meningkatkan kualitas akademik dan penelitian. Tidak adanya upaya maksimal untuk meningkatkan kolaborasi dengan institusi lainnya. Sebuah gambaran nyata tentang keadaan kepemimpinan yang “tara butul” di institusi ini. Bukankah IAIN Ternate telah mengalami fase kemunduran-jika enggan berkata, IAIN Ternate telah terkutuk oleh “Rektornya Rektor”. Sebuah kepemimpinan yang terkutuk karena IAIN Ternate secara riil telah kehilangan arah dan tujuan yang sebenarnya, tidak ada visi dan misi yang jelas dan terukur. Apalagi sama sekali tidak ada prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola-pengelolaannya. Banyak modus operandi yang mengarah kepada inovasi pelanggaran baru untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Realitas inilah yang telah membuat masyarakat akademik IAIN Ternate merasa tidak percaya lagi dan tidak menghargai kepemimpinan yang ada karena sangat “tidak berkeadaban” kawan!
Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat untuk bertindak cepat dalam menyelamatkan institusi IAIN Ternate dari pengaruh negatif “Rektornya Rektor” yang dianggap ngeri-ngeri sedap tapi sangat menyesatkan masyarakat akademik. Sudah saatnya saya, anda dan kita semua menantikan terpilihnya Rektor baru IAIN Ternate yang visioner, berani bertindak pada orang yang salah, tegas, dan jujur dalam kepemimpinannya. Maka tibalah saatnya IAIN Ternate berada pada fase baru dan berkemajuan untuk semua aspeknya. Rektor baru haruslah melakukan perubahan-reformasi totalitas untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan pada level Rektorat demi tercapainya kemashlahatan masyarakat akademik. Menempatkan masyarakat akademik yang tepat pada jabatannya secara profesional dan harus sesuai dengan perintah Statuta IAIN Ternate. Rektor baru IAIN Ternate haram hukumnya menabrak aturan main dalam mengelola institusi ini tapi haruslah mengikuti aturan permainan. Karena institusi ini memang mendesak membutuhkan pemimpin-Rektor jadiidun-baru yang mampu memimpin dengan menggunakan prinsip integritas-satu kata sama dengan perbuatannya, gunakanlah prinsip transparansi dan akuntabilitas yang ditempatkan sebagai panglima bagi seorang Rektor baru IAIN Ternate. Sebagaimana panglima perang yang tak pernah terkalahkan dalam memimpin peperangan di zaman Rasulullah Saw. Itulah seorang sahabat yang bernama Khalid bin Walid. Sebuah model pemimpin yang on the track-kepemimpinannya selalu berada di jalur yang benar-al-Shidqu, wajahnya tidak penuh dengan kemunafikan, bertindak sesuai rencana, dan mengarah pada tujuan bersama yang telah disepakati-tidak berwajah kemenduaan. Inilah sosok figur pemimpin yang kepemimpinannya berjalan efektif dan memiliki fokus yang jelas dalam mencapai sasaran yang hendak dicapai secara kolektif-kolegial. Maka, kepada Rektor baru jangan lagi menciptakan yang namanya “Rektornya Rektor” di IAIN Ternate agar saya, anda, dan kita semua dapat mengalami suasana kebatinan yang penuh dengan kenikmatan yang tiada-taranya. Wallahu ‘alam bishshawab.
- Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar