Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 291
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tatanan dunia bekerja seperti mesin besar yang kehilangan tuas pengaman. Roda-roda ekonomi, teknologi, dan militer berputar semakin cepat, sementara sistem pengendali justru haus oleh kepentingan sempit. Ketika rem institusional melemah, geopolitik berubah dari mekanisme stabilisasi menjadi arena uji nyali para pemegang kuasa.

Pada awal 2026, dunia tidak sekadar menghadapi krisis, tetapi memasuki fase baru: krisis sebagai modus operandi politik global. Perang, tarif, sanksi, teknologi, dan iklim tidak lagi berdiri sebagai isu terpisah, melainkan saling menguatkan dalam satu ekosistem ketidakpastian. Dunia tampak bergerak, tetapi tanpa rem institusional yang memadai. Dalam lanskap ini, geopolitik tidak lagi sekadar alat diplomasi, melainkan telah berubah menjadi arena uji coba kekuasaan.

Laporan Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum (WEF) menempatkan geoeconomic confrontation sebagai risiko paling besar yang dapat memicu krisis global dalam jangka pendek, dipilih oleh 18 persen responden ahli. Risiko ini mengungguli konflik bersenjata antarnegara dan cuaca ekstrem. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa dunia sedang bergerak menuju “multipolar or fragmented order” di mana kerja sama multilateral melemah dan logika persaingan mendominasi tata kelola global.

Perang di Ukraina yang berlarut, konflik di Sudan, dan rapuhnya gencatan senjata di Gaza menunjukkan bahwa konflik bersenjata telah menjadi bagian dari “keseharian geopolitik”. Dalam konteks ini, geopolitik tidak lagi berfungsi sebagai instrumen stabilisasi, melainkan sebagai mekanisme demonstrasi kekuasaan.

WEF mencatat bahwa 68 persen pakar global memprediksi tatanan dunia yang semakin terfragmentasi dalam satu dekade ke depan. Fragmentasi ini bukan sekadar perbedaan ideologi, tetapi menyentuh rantai pasok, teknologi, energi, dan sistem keuangan. Dunia tidak hanya terbelah, tetapi terpecah dalam blok-blok kepentingan yang saling mencurigai.

Seperti dikatakan dalam ringkasan WEF, “Multilateralism is in retreat.” Penurunan kepercayaan, meningkatnya proteksionisme, dan politisasi perdagangan telah membuat konflik ekonomi menjadi bentuk baru dari konflik geopolitik.

Ekonomi kini bukan lagi ruang netral pertumbuhan, melainkan medan tempur baru. World Bank memperkirakan pertumbuhan global hanya sekitar 2,6 persen pada 2026, menjadikan dekade 2020-an sebagai dekade pertumbuhan terlemah sejak 1960-an. Sekitar satu dari empat negara berkembang masih lebih miskin dibandingkan sebelum pandemi 2019.

Kepala Ekonom World Bank, Indermit Gill, sebelumnya memperingatkan bahwa “outside of Asia, the developing world is becoming a development-free zone.” Pernyataan ini bukan sekadar alarm ekonomi, melainkan sinyal politik: ketimpangan pembangunan akan memperbesar potensi instabilitas dan konflik di masa depan.

Proteksionisme, tarif, dan sanksi tidak lagi dipandang sebagai kebijakan sementara, tetapi sebagai strategi permanen. Dalam konteks ini, ekonomi berfungsi sebagai alat koersif, bukan sekadar instrumen kesejahteraan. Negara tidak hanya bersaing, tetapi berusaha melemahkan satu sama lain melalui pembatasan perdagangan, kontrol teknologi, dan tekanan finansial.

Teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), mempercepat pergeseran ini. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa investasi AI menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan global, terutama di Amerika Serikat. Namun, IMF juga memperingatkan bahwa optimisme berlebihan terhadap AI dapat menciptakan risiko sistemik baru.

Lebih jauh, riset akademik menunjukkan bahwa AI telah menjadi faktor geopolitik. Studi “Generative AI as a Geopolitical Factor in Industry 5.0” menegaskan bahwa AI kini berfungsi sebagai aset strategis negara, setara dengan energi dan militer. Penulis menyatakan bahwa “countries compete for AI supremacy, reshaping global power hierarchies and accelerating fragmentation of the digital economy.”

Dalam konteks ini, dominasi AI bukan hanya soal efisiensi, tetapi soal kontrol. Siapa yang menguasai komputasi, data, dan chip semikonduktor, menguasai arah ekonomi dan keamanan masa depan. Geopolitik tidak lagi hanya soal wilayah, tetapi juga soal algoritma.

WEF dan berbagai lembaga internasional juga menempatkan disinformasi berbasis AI sebagai ancaman serius terhadap stabilitas sosial dan demokrasi. Disinformasi tidak lagi bersifat sporadis, tetapi sistematis dan terindustrialisasi. Ia menjadi bagian dari strategi geopolitik untuk melemahkan kepercayaan publik, mendeligitimasi pemilu, dan memecah masyarakat.

Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, perang tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang informasi. Kekuasaan tidak lagi hanya diukur dari tank dan misil, tetapi dari kemampuan membentuk persepsi.

Ironisnya, di tengah eskalasi konflik dan kompetisi, krisis iklim justru tergeser dari prioritas jangka pendek. WEF mencatat bahwa hanya 8 persen responden yang menempatkan cuaca ekstrem sebagai risiko utama pemicu krisis pada 2026, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dalam horizon jangka panjang, risiko lingkungan tetap mendominasi.

Artinya, dunia sedang mengorbankan masa depan demi stabilitas jangka pendek yang semu. Ketika negara sibuk mengelola konflik geopolitik, krisis iklim berjalan tanpa negosiasi. Banjir, badai, dan gagal panen tidak menunggu kesepakatan diplomatik.

Jika disusun secara deduktif, kita melihat satu pola besar:

  1. Multilateralisme melemah.
  2. Ekonomi dan teknologi dipersenjatai
  3. Konflik menjadi kronis, bukan insidental.
  4. Krisis iklim tersisih oleh logika kekuasaan.

Secara induktif, dari kasus Ukraina, Gaza, perang dagang, perang chip, hingga politisasi AI, muncul satu kesimpulan: geopolitik global bergerak tanpa rem normatif yang efektif. Hukum internasional, lembaga multilateral, dan etika global tertinggal di belakang kecepatan konflik dan teknologi.

Dunia 2026 bukan hanya dunia yang bergejolak, tetapi dunia yang mulai menormalisasi gejolak. Ketika geopolitik berubah menjadi arena uji coba kekuasaan, risiko terbesar bukan hanya perang atau krisis ekonomi, tetapi hilangnya batas moral dan institusional yang selama ini menjadi rem peradaban.

Tanpa revitalisasi multilateralisme, penguatan tata kelola AI, dan komitmen serius pada krisis iklim, dunia berisiko memasuki era di mana kekuasaan menjadi satu-satunya bahasa. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas bukan lagi tujuan bersama, melainkan sekadar efek samping dari siapa yang paling kuat.

Dan dalam dunia tanpa rem, yang melaju bukan hanya negara-negara besar, tetapi juga risiko global yang suatu saat akan menabrak semua pihak, tanpa memandang blok, ideologi, atau kekuatan.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balangeko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Panitia Konfercab NU ke II Kota Tidore Kepulauan, Jafar Noh Idrus (tengah), bersama Ketua Wilayah NU Kiai Amar Manaf (kanan) saat pembukaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) ke II di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025).

    Konfercab NU Ke II Tidore Kepulauan Resmi Digelar, Teguhkan Peran NU Bangun Peradaban Dunia

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 592
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) ke II Kota Tidore Kepulauan resmi digelar di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Meneguhkan Eksistensi NU Dalam Membangun Peradaban Dunia”. Konfercab menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama dalam memilih kepemimpinan baru sekaligus membentuk kepengurusan yang solid untuk […]

  • Zulfikran Bailussy, Ketua LBH Ansor Ternate, membantah larangan pejabat publik memimpin HIPMI

    Ketua LBH Ansor Ternate: Tidak Ada Larangan Pejabat Publik Jadi Ketua HIPMI

    • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 958
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) – Praktisi hukum sekaligus Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, SH, membantah pernyataan yang menyebut Wakil Bupati Pulau Morotai, Rio C. Pawane, harus mundur dari jabatannya jika ingin maju sebagai Ketua Umum HIPMI Maluku Utara. Menurut Zulfikran, penafsiran yang menyebut pejabat publik dilarang memimpin HIPMI adalah keliru. Berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga […]

  • Dugaan Kasus Kekerasan Seksual, BEM UNUTARA Desak Kampus dan Aparat Tindak Tegas Oknum Mahasiswa

    Dugaan Kasus Kekerasan Seksual, BEM UNUTARA Desak Kampus dan Aparat Tindak Tegas Oknum Mahasiswa

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 480
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (BEM UNUTARA) menyatakan keprihatinan mendalam atas mencuatnya dugaan tindakan kekerasan seksual dan pemerkosaan yang menyeret salah satu oknum mahasiswa berinisial BM. Kasus ini dipandang sebagai persoalan yang sangat serius karena menyangkut keselamatan, martabat, serta pemenuhan hak-hak korban. Berdasarkan keterangan keorganisasian, korban dilaporkan merupakan […]

  • PENDIDIKAN TERJANGKAU DAN BERMUTU

    PENDIDIKAN TERJANGKAU DAN BERMUTU

    • calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Konsep pendidikan terjangkau dan bermutu (affordable and quality education) di Provinsi Maluku Utara dapat diartikan sebagai pendidikan yang berkualitas dan dapat diakses secara mudah bagi masyarakat Provinsi Maluku Utara. Karena pendidikan adalah hak dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu tanpa memandang status sosial, ekonomi, dan letak rentan kendali geografis di Provinsi Maluku Utara. Pendidikan […]

  • Gerakan Mahasiswa : Merebut Kemenangan atau Tunduk pada Kekuasaan

    Gerakan Mahasiswa : Merebut Kemenangan atau Tunduk pada Kekuasaan

    • calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
    • account_circle Faturahman Djaguna
    • visibility 1.234
    • 0Komentar

    Gerakan mahasiswa selama ini dikenal sebagai agen perubahan sosial-politik yang membawa aspirasi rakyat dan menjadi suara moral bangsa. Akan tetapi dalam perkembangan kontemporer gerakan mahasiswa menghadapi tantangan serius berupa degradasi semangat, tujuan, dan bentuk perjuangan. Gerakan yang dahulu bersifat ideologis dan transformatif kini kerap terjebak dalam agenda pragmatis, partisan, bahkan kooptatif. Dalam banyak kasus kekinian […]

  • Telaga Rano di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang masuk dalam wilayah rencana proyek geothermal WKP Telaga Ranu. (Dok. Ardian)

    SEMAINDO Tolak Proyek Geothermal Telaga Rano, Desak Pemerintah Cabut Penetapan WKP

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 362
    • 0Komentar

    Jakarta (BALENGKO), 23 Januari 2026 — Sentrum Mahasiswa Indonesia Halmahera Barat DKI Jakarta (SEMAINDO) menyatakan penolakan keras terhadap proyek geothermal Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Rano di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. SEMAINDO menilai penetapan proyek oleh Kementerian ESDM RI berpotensi mengancam sekitar 16.650 hektare kawasan hutan, daerah tangkapan air, serta ruang hidup masyarakat […]

expand_less