Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 293
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tatanan dunia bekerja seperti mesin besar yang kehilangan tuas pengaman. Roda-roda ekonomi, teknologi, dan militer berputar semakin cepat, sementara sistem pengendali justru haus oleh kepentingan sempit. Ketika rem institusional melemah, geopolitik berubah dari mekanisme stabilisasi menjadi arena uji nyali para pemegang kuasa.

Pada awal 2026, dunia tidak sekadar menghadapi krisis, tetapi memasuki fase baru: krisis sebagai modus operandi politik global. Perang, tarif, sanksi, teknologi, dan iklim tidak lagi berdiri sebagai isu terpisah, melainkan saling menguatkan dalam satu ekosistem ketidakpastian. Dunia tampak bergerak, tetapi tanpa rem institusional yang memadai. Dalam lanskap ini, geopolitik tidak lagi sekadar alat diplomasi, melainkan telah berubah menjadi arena uji coba kekuasaan.

Laporan Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum (WEF) menempatkan geoeconomic confrontation sebagai risiko paling besar yang dapat memicu krisis global dalam jangka pendek, dipilih oleh 18 persen responden ahli. Risiko ini mengungguli konflik bersenjata antarnegara dan cuaca ekstrem. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa dunia sedang bergerak menuju “multipolar or fragmented order” di mana kerja sama multilateral melemah dan logika persaingan mendominasi tata kelola global.

Perang di Ukraina yang berlarut, konflik di Sudan, dan rapuhnya gencatan senjata di Gaza menunjukkan bahwa konflik bersenjata telah menjadi bagian dari “keseharian geopolitik”. Dalam konteks ini, geopolitik tidak lagi berfungsi sebagai instrumen stabilisasi, melainkan sebagai mekanisme demonstrasi kekuasaan.

WEF mencatat bahwa 68 persen pakar global memprediksi tatanan dunia yang semakin terfragmentasi dalam satu dekade ke depan. Fragmentasi ini bukan sekadar perbedaan ideologi, tetapi menyentuh rantai pasok, teknologi, energi, dan sistem keuangan. Dunia tidak hanya terbelah, tetapi terpecah dalam blok-blok kepentingan yang saling mencurigai.

Seperti dikatakan dalam ringkasan WEF, “Multilateralism is in retreat.” Penurunan kepercayaan, meningkatnya proteksionisme, dan politisasi perdagangan telah membuat konflik ekonomi menjadi bentuk baru dari konflik geopolitik.

Ekonomi kini bukan lagi ruang netral pertumbuhan, melainkan medan tempur baru. World Bank memperkirakan pertumbuhan global hanya sekitar 2,6 persen pada 2026, menjadikan dekade 2020-an sebagai dekade pertumbuhan terlemah sejak 1960-an. Sekitar satu dari empat negara berkembang masih lebih miskin dibandingkan sebelum pandemi 2019.

Kepala Ekonom World Bank, Indermit Gill, sebelumnya memperingatkan bahwa “outside of Asia, the developing world is becoming a development-free zone.” Pernyataan ini bukan sekadar alarm ekonomi, melainkan sinyal politik: ketimpangan pembangunan akan memperbesar potensi instabilitas dan konflik di masa depan.

Proteksionisme, tarif, dan sanksi tidak lagi dipandang sebagai kebijakan sementara, tetapi sebagai strategi permanen. Dalam konteks ini, ekonomi berfungsi sebagai alat koersif, bukan sekadar instrumen kesejahteraan. Negara tidak hanya bersaing, tetapi berusaha melemahkan satu sama lain melalui pembatasan perdagangan, kontrol teknologi, dan tekanan finansial.

Teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), mempercepat pergeseran ini. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa investasi AI menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan global, terutama di Amerika Serikat. Namun, IMF juga memperingatkan bahwa optimisme berlebihan terhadap AI dapat menciptakan risiko sistemik baru.

Lebih jauh, riset akademik menunjukkan bahwa AI telah menjadi faktor geopolitik. Studi “Generative AI as a Geopolitical Factor in Industry 5.0” menegaskan bahwa AI kini berfungsi sebagai aset strategis negara, setara dengan energi dan militer. Penulis menyatakan bahwa “countries compete for AI supremacy, reshaping global power hierarchies and accelerating fragmentation of the digital economy.”

Dalam konteks ini, dominasi AI bukan hanya soal efisiensi, tetapi soal kontrol. Siapa yang menguasai komputasi, data, dan chip semikonduktor, menguasai arah ekonomi dan keamanan masa depan. Geopolitik tidak lagi hanya soal wilayah, tetapi juga soal algoritma.

WEF dan berbagai lembaga internasional juga menempatkan disinformasi berbasis AI sebagai ancaman serius terhadap stabilitas sosial dan demokrasi. Disinformasi tidak lagi bersifat sporadis, tetapi sistematis dan terindustrialisasi. Ia menjadi bagian dari strategi geopolitik untuk melemahkan kepercayaan publik, mendeligitimasi pemilu, dan memecah masyarakat.

Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, perang tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang informasi. Kekuasaan tidak lagi hanya diukur dari tank dan misil, tetapi dari kemampuan membentuk persepsi.

Ironisnya, di tengah eskalasi konflik dan kompetisi, krisis iklim justru tergeser dari prioritas jangka pendek. WEF mencatat bahwa hanya 8 persen responden yang menempatkan cuaca ekstrem sebagai risiko utama pemicu krisis pada 2026, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dalam horizon jangka panjang, risiko lingkungan tetap mendominasi.

Artinya, dunia sedang mengorbankan masa depan demi stabilitas jangka pendek yang semu. Ketika negara sibuk mengelola konflik geopolitik, krisis iklim berjalan tanpa negosiasi. Banjir, badai, dan gagal panen tidak menunggu kesepakatan diplomatik.

Jika disusun secara deduktif, kita melihat satu pola besar:

  1. Multilateralisme melemah.
  2. Ekonomi dan teknologi dipersenjatai
  3. Konflik menjadi kronis, bukan insidental.
  4. Krisis iklim tersisih oleh logika kekuasaan.

Secara induktif, dari kasus Ukraina, Gaza, perang dagang, perang chip, hingga politisasi AI, muncul satu kesimpulan: geopolitik global bergerak tanpa rem normatif yang efektif. Hukum internasional, lembaga multilateral, dan etika global tertinggal di belakang kecepatan konflik dan teknologi.

Dunia 2026 bukan hanya dunia yang bergejolak, tetapi dunia yang mulai menormalisasi gejolak. Ketika geopolitik berubah menjadi arena uji coba kekuasaan, risiko terbesar bukan hanya perang atau krisis ekonomi, tetapi hilangnya batas moral dan institusional yang selama ini menjadi rem peradaban.

Tanpa revitalisasi multilateralisme, penguatan tata kelola AI, dan komitmen serius pada krisis iklim, dunia berisiko memasuki era di mana kekuasaan menjadi satu-satunya bahasa. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas bukan lagi tujuan bersama, melainkan sekadar efek samping dari siapa yang paling kuat.

Dan dalam dunia tanpa rem, yang melaju bukan hanya negara-negara besar, tetapi juga risiko global yang suatu saat akan menabrak semua pihak, tanpa memandang blok, ideologi, atau kekuatan.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balangeko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Forum BEM DIY membacakan Maklumat Pemuda Jogja di Yogyakarta dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025.

    Forum BEM DIY Serukan Maklumat Pemuda Jogja: Bangun Persatuan, Rebut Kedaulatan Rakyat

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 408
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO) — Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (Forum BEM DIY) menyampaikan maklumat bertajuk “Maklumat Pemuda Jogja: Bangun Persatuan, Rebut Kedaulatan Rakyat.” Seruan tersebut menegaskan pentingnya peran pemuda dan mahasiswa dalam menjaga semangat persatuan serta menegakkan kedaulatan rakyat di tengah kondisi politik dan sosial yang dinilai […]

  • Nazlatan Ukhra Kasuba Komisi I DPRD Malut menyoroti dugaan pungli di Morotai. Ia meminta warga mengedepankan asas praduga tak bersalah dan lengkapi bukti.

    Nazlatan Ukhra Kasuba Komisi I DPRD Malut Soroti Isu Dugaan Pungli Morotai

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 380
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Ketua Komisi I DPRD Provinsi Maluku Utara, Nazlatan Ukhra Kasuba Komisi I DPRD Malut, memberikan atensi serius terhadap mencuatnya isu dugaan praktik pungutan liar (pungli) yang menyasar para pedagang kecil di kawasan Army Dock dan Desa Darame, Kabupaten Pulau Morotai. Politisi Partai Gerindra yang akrab disapa Nazla Kasuba ini menegaskan bahwa […]

  • Yusrival Hi. Husen terpilih sebagai Ketua Umum bersama M. Rio Al-Farabi setelah pemungutan suara demokratis di Ternate.

    Yusrival Hi. Husen Terpilih sebagai Ketua Umum HMTPWK UNUTARA dalam Mubes Ke-II

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.058
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO)– Himpunan Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (HMTPWK) Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) resmi menyelesaikan Musyawarah Besar (Mubes) Ke-II yang berlangsung pada Sabtu (27/9/2025). Agenda pemilihan kepengurusan baru berjalan lancar dan demokratis di Sekretariat Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Maluku Utara (PW GP Ansor Malut). Proses pemilihan menghasilkan formatur baru untuk periode […]

  • Listrik Sumatera Lumpuh Total pada Jumat malam (22/5). Gangguan sistem kelistrikan membuat wilayah Riau hingga Aceh gelap gulita. PLN sampaikan maaf.

    Listrik Sumatera Lumpuh Total dari Riau hingga Aceh Padam

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 322
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, PEKANBARU – Jaringan kelistrikan di sebagian besar wilayah Pulau Sumatera mengalami kelumpuhan hebat. Gangguan sistem interkoneksi yang terjadi pada Jumat malam (22/05/2026) mengakibatkan wilayah Sumatera Bagian Tengah hingga Sumatera Bagian Utara, mulai dari Provinsi Riau hingga ujung barat Aceh, mengalami pemadaman massal (blackout) total. Merespons insiden berskala besar ini, PT PLN (Persero) langsung […]

  • Kadis Lingkungan Hidup Ternate Sambut Inisiatif Containder untuk Atasi Masalah Sampah di Kota Ternate

    Kadis Lingkungan Hidup Ternate Sambut Inisiatif Containder untuk Atasi Masalah Sampah di Kota Ternate

    • calendar_month Sabtu, 1 Mar 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 798
    • 0Komentar

    Dok. Balengko Space Ternate, (1/2/25) – Setelah pertemuan yang produktif dengan Gubernur Maluku Utara, Ibu Sherly Tjoanda, perwakilan dari Containder langsung menuju Kota Ternate. Mereka melakukan identifikasi mendalam mengenai permasalahan sampah yang ada. Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari langkah yang sebelumnya dilakukan oleh Chiko Molle, yang beberapa minggu lalu meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota […]

  • HERMENEUTIKA PEMBEBASAN DAN PERAN STRATEGIS TOKOH AGAMA

    HERMENEUTIKA PEMBEBASAN DAN PERAN STRATEGIS TOKOH AGAMA

    • calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
    • account_circle Sahrul Ali Poipessy
    • visibility 1.009
    • 0Komentar

    Hermeneutika pembebasan berangkat dari pendekatan yang ditawarkan oleh Hasan Hanafi dalam rangka untuk memahami Al-Qur’an. Pendekatan ini merupakan salah satu cara dan alternatif baru dalam menafsirkan teks suci dengan tujuan untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi. Dalam pengembangannya, Hanafi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Hans-Georg Gadamer dan Edmund Husserl yang merupakan dua […]

expand_less