Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » BUKAN LAGI GEDUNG DAN IJAZAH

BUKAN LAGI GEDUNG DAN IJAZAH

  • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
  • visibility 354
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Memasuki petengahan 2026, wajah pendidikan Indonesia sedang berada di persimpangan jalan yang krusial. Jika satu dekade lalu kemegahan Gedung sekolah dan legalitas ijazah menjadi parameter tunggal kesuksesan institusi, hari ini narasi tersebut mulai using. Kita menyaksikan pergeseran fundamental dari “pendidikan berbasis fasilitas fisik” menuju “pendidikan berbasis ekosistem kompetensi”. Data menunjukkan bahwa relevansi ijazah konvensional terus mengalami devaluasi di pasar kerja global. Berdasarkan laporan Future of Job 2025-2026, lebih dari 65% perusahaan teknologi dan kreatif kini lebih memprioritaskan portofolio digital dan sertifikasi keahlian spesifik (micro-credentials) dibandingkan transkip nilai akademik.

Di Indonesia, angka pengangguran terdidik dari lulusan perguruan tinggi masih bertahan di angka yang mengkhawatirkan, sebuah paradoks di tengah klaim peningkatan infrastruktur pendidikan. “Gedung sekolah hanyalah cangkang. Tanpa manajemen yang mampu mengintegrasikan kecerdasan manusia dengan ketangkasan digital, sekolah hanya akan menjadi museum masa lalu di tengah peradaban yang berlari begitu cepat” Persoalan utamanya bukan pada ketiadaan teknologi, melainkan pada gagapnya manajemen sekolah dalam mengelola transisi.

Banyak sekolah di tahun 2026 ini terjebak dalam “digitalisasi kosmetik” mereka memiliki laboratorium computer canggih dan panel layer sentuh di setiap kelas (tidak berlaku di daerah tertinggal) namun metode pengajaran masih bersifat top-down, administratif, dan kaku. Manajemen sekolah sibuk menghitung jam kehadiran fisik guru dan siswa, alih-alih mengukur progres pencapaian kompetensi individu. Paradigma baru ini lebih fokus pada pengembangan talenta dan problem solving dengan tolak ukur dilihat dari portofolio, proyek, dan sertifikasi industry. Dari ruang belajar dengan paradigma omni-channel (fisik, virtual, metaverse). Selain itu, peran kepala sekolah dengan pandangan lamanya menjadi sebagai manajer administratif/birokrat tetapi dengan paradigma baru ini harus menjadi CEO edukasi serta arsitek ekosistem belajar.

Kritik tajam perlu dilarahkan pada kebijakan anggaran yang seringkali masih berat sebelah pada pemeliharaan fisik. Di era dimana AI (Artificial Intelligence) telah menjadi asisten belajar personal, sekolah seharusnya berinvestasi lebih besar pada pengembangan kapasitas guru sebagai mentor emosional dan curator pengetahuan. Guru tidak lagi dibutuhkan untuk menyampaikan materi yang kini bisa diakses lewat satu klik tetapi juga menjaga api rasa ingin tahu dan etika berpikir siswa. Manajemen sekolah saat ini harus berani meruntuhkan sekat-sekat kelas. Sekolah harus bertransformasi menjadi community hub, tempat di mana praktisi industri, seniman, dan akademisi bertemu.

Konsep sekolah tanpa dinding (borderless school) bukan lagi utopia, melainkan kebutuhan agar siswa tidak asing dengan realitas sosial dan dinamika ekonomi yang mereka hadapi. Penulis ingin menutup tulisan ini dengan melihat juga pendidikan kita kedepan bukanlah membangun lebih banyak Gedung mewah melainkan membangun sistem manajemen yang fleksibel, adaptif, dan manusiawi. Ijazah mungkin masih diperlukan sebagai bentuk formalitas, namun kompetensi nyata dan karakterlah yang akan menentukan siapa yang bertahan di tengah disrupsi. Jika sekolah gagal menata ulang arsitekturnya sekarang, makai a akan kehilangan relevansinya sebagai institusi pembentuk peradaban.

  • Penulis: Irfandi R. Hi Mustafa Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
  • Editor: Redaksi Balengko Space

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertemuan antara Ketua PW GP Ansor Maluku Utara Syarif Abdullah dan Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Waris Agono di ruang kerja Kapolda, membahas penguatan sinergi dan kolaborasi dalam menjaga keamanan dan semangat kebangsaan di Maluku Utara.

    Silaturahmi Penuh Keakraban, GP Ansor Maluku Utara Mantapkan Kolaborasi dengan Kapolda

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 521
    • 0Komentar

    Sofifi (BALENGKO) — Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Maluku Utara melakukan silaturahmi dengan Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si., di ruang kerja Kapolda, Kamis (13/11/2025). Ketua PW GP Ansor Maluku Utara, Syarif Abdullah, hadir bersama sejumlah pengurus wilayah. Rombongan disambut langsung oleh Kapolda Maluku Utara dalam suasana penuh keakraban dan […]

  • Kesehatan sebagai Pondasi Kebangkitan Bangsa  Dari Boedi Oetomo ke Tantangan Abad 21

    Kesehatan sebagai Pondasi Kebangkitan Bangsa Dari Boedi Oetomo ke Tantangan Abad 21

    • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
    • account_circle Ariyo Dermawan
    • visibility 1.235
    • 0Komentar

    Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebuah tonggak penting dalam sejarah perjuangan kita menuju kemerdekaan. Tanggal ini merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, organisasi modern pertama yang menjadi simbol awal tumbuhnya kesadaran nasional di kalangan anak bangsa. Namun, tahukah kita bahwa Boedi Oetomo lahir dari rahim dunia kesehatan? […]

  • Source : Istimewa

    Peringati IWD 2026, FPUD Malut Demo di Kantor Wali Kota Ternate: Soroti Penindasan Perempuan dan Isu Lingkungan

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 337
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Front Perjuangan untuk Demokrasi Maluku Utara (FPUD-Malut) menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Wali Kota Ternate pada Minggu (8/3/2026). Aksi yang bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional (IWD) ini menyoroti ketimpangan struktur sosial, kebijakan ekonomi-politik, hingga tuntutan perlindungan hukum bagi pekerja perempuan. Koordinator Lapangan FPUD-Malut, Amex, dalam orasinya menegaskan bahwa IWD bukan sekadar […]

  • SEKOLAH TANPA BEBAN, BELAJAR DENGAN TENANG

    SEKOLAH TANPA BEBAN, BELAJAR DENGAN TENANG

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 1.075
    • 0Komentar

    Saya merasa takjub dengan kata-kata bijak yang dimunculkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, yakni: “Sekolah tanpa Beban, Belajar dengan Tenang”. Jika kata-kata bijak ini dialih-bahasakan kedalam bahasa Arab menjadi “madrasatun biduuni a‘baain diraasiyyatin bihuduu’in”. Saya serius memikirkan makna yang terkandung dibalik kata-kata bijak ini. Menurut ijtihad saya, ini sebuah kalam (ungkapan) yang […]

  • Oleh: Dr. Fahrul Abd Muid, S.Th.I., MA Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut

    ANALISIS KRITIS—DISKURSIF IAIN TERNATE

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Dr. Fahrul Abd Muid, S.Th.I., MA
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Dewasa ini muncul sikap jadaliyyin—kontroversial terhadap amaaman—posisi dan wujuudun—keberadaan Institut Agama Islam Negeri Ternate sebagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan negeri ilmiah. Padahal masyarakat Maluku Utara memiliki ekspektasi—harapan yang tidak main-main bagi kehadiran IAIN Ternate, karena institusi ini dianggap memiliki kelompok akademis—religius ilmiah yang berperan sebagai ‘jagoan’ keagamaan ditengah masyarakat Maluku Utara yang berbasis pada empat […]

  • Telaga Rano di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang masuk dalam wilayah rencana proyek geothermal WKP Telaga Ranu. (Dok. Ardian)

    SEMAINDO Tolak Proyek Geothermal Telaga Rano, Desak Pemerintah Cabut Penetapan WKP

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Jakarta (BALENGKO), 23 Januari 2026 — Sentrum Mahasiswa Indonesia Halmahera Barat DKI Jakarta (SEMAINDO) menyatakan penolakan keras terhadap proyek geothermal Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Rano di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. SEMAINDO menilai penetapan proyek oleh Kementerian ESDM RI berpotensi mengancam sekitar 16.650 hektare kawasan hutan, daerah tangkapan air, serta ruang hidup masyarakat […]

expand_less