Peringati Hardiknas 2026, PW GP Ansor Maluku Utara Luncurkan Buku Pendidikan Inklusif
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

PW GP Ansor Maluku Utara memperingati Hardiknas 2026 dengan meluncurkan buku Pendidikan Inklusif. Langkah strategis perkuat literasi dan gagasan kader di Maluku Utara. | Dok. Cido/Balengko
TERNATE, BALENGKO SPACE – Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Maluku Utara menunjukkan komitmen nyatanya dalam dunia literasi. Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, organisasi kepemudaan ini resmi meluncurkan buku bertema pendidikan inklusif yang ditulis oleh Irfandi Mustafa, Bahtiar Malawan, dan Ikhlashul Ihsan.
Kegiatan peluncuran yang berlangsung khidmat tersebut dipusatkan di Rotasi Kaffe, Kelurahan Kayu Merah, pada Rabu (06/05/2026). Acara ini menjadi magnet bagi berbagai kalangan, mulai dari akademisi, organisasi kepemudaan (OKP), hingga unsur pemerintah daerah yang antusias mendiskusikan masa depan pendidikan di Bumi Moloku Kie Raha.
Ansor Kuat dalam Gagasan
Ketua PW GP Ansor Maluku Utara, Syarif Abdullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran buku ini adalah bukti bahwa kader Ansor memiliki kedalaman berpikir yang luar biasa. Melalui buku bertajuk pendidikan inklusif ini, Ansor ingin mengirimkan pesan bahwa gerakan pemuda harus berbasis pada data dan literasi yang kuat.
“Ini merupakan kontribusi kader Ansor lewat literasi dan pendidikan nyata. Ansor bukan hanya kuat di lapangan, melainkan juga kuat pada aspek gagasan,” tegas Syarif Abdullah. Ia menambahkan bahwa gagasan yang tertuang dalam buku ini diharapkan mampu menjadi pemantik perubahan di sektor pendidikan daerah.
Sekolah Sebagai Agen Perubahan
Diskusi peluncuran buku semakin dinamis dengan hadirnya para pembedah ahli, seperti Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, Prof. Gufran Ali Ibrahim, Dr. Ismail, M.Pd, serta Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara. Mereka membedah implementasi praktis dari pendidikan yang tidak membeda-bedakan latar belakang sosial.
Irfandi Mustafa, salah satu penulis buku, menekankan bahwa pendidikan inklusif tidak boleh sekadar menjadi jargon politik atau akademis semata. “Sekolah seharusnya menjadi agen perubahan yang menanamkan nilai toleransi, membentuk pola pikir antistigma, dan menghapus diskriminasi sejak dini,” ujarnya. Menurut Irfandi, jika pendidikan abai terhadap realitas kultur, maka inklusivitas tidak akan pernah tercapai secara nyata.
Melalui buku ini, PW GP Ansor Maluku Utara berharap dapat memberikan referensi penting bagi pengambil kebijakan. Pendidikan harus berdiri tegak sebagai alat pembebasan dan solusi atas ketimpangan sosial, demi mewujudkan akses belajar yang adil dan merata bagi seluruh anak bangsa di Maluku Utara. (BS)
- Penulis: Mursid Puko
- Editor: Mustakim

Saat ini belum ada komentar