Dari Sarung ke Pasar: Saatnya Santri Maluku Utara Jadi Penggerak Ekonomi Umat
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh : Santrany Sehe, SE (Ketua DPW GENINUSA Maluku Utara)
Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober kerap diwarnai pemakaian sarung dan peci, pelaksanaan upacara bendera, serta peneladanan sejarah Resolusi Jihad. Namun, begitu seremoni usai, pertanyaan mendasar yang sepatutnya mengendap adalah: setelah perjuangan fisik era kemerdekaan, apa bentuk jihad santri hari ini?
Di Provinsi Maluku Utara, jawabannya kian benderang: Jihad Ekonomi.
Maluku Utara merupakan provinsi kepulauan dengan luas wilayah laut mencapai 70 persen. Daerah ini dianugerahi kekayaan cengkeh, pala, hasil perikanan, hingga potensi wisata sejarah Kesultanan yang luar biasa. Namun, di tengah limpahan sumber daya ini, pondok pesantren kerap dipandang sebatas lembaga yang mengurus persoalan akhirat belaka, bukannya motor penggerak ekonomi umat.
Padahal, sejarah Ternate menunjukkan hal sebaliknya. Kesultanan Ternate berdiri kokoh bukan hanya karena peran para ulama, melainkan karena mereka juga bertindak sebagai saudagar. Kala itu, fungsi masjid dan pasar saling berkelindan secara harmonis.
Tiga PR Besar Santri Maluku Utara
Untuk mengembalikan kejayaan tersebut, terdapat tiga agenda besar yang perlu digarap oleh para santri Maluku Utara:
1. Bertransformasi dari Konsumen Menjadi Produsen
Saat ini terdapat sekitar 46 pesantren yang tersebar di wilayah Maluku Utara. Potensi ekonomi yang tercipta akan sangat masif jika setiap pesantren mengelola unit usaha secara profesional. Koperasi pesantren tidak boleh lagi sebatas menjual sarung atau kopiah, melainkan berkembang lebih jauh:
- Pesantren Pesisir Halmahera: Menjadi pusat pengolahan hasil laut dan budidaya rumput laut.
- Pesantren Tidore & Ternate: Menjadi produsen komoditas cengkeh dan pala olahan bernilai tambah, bukan lagi menjual bahan mentah ke tengkulak.
- Pesantren Morotai: Mengembangkan dan mengelola paket wisata religi serta sejarah secara mandiri.
Inilah wujud nyata dari ekonomi umat sebuah ekosistem di mana perputaran modal terjadi di lingkaran masyarakat itu sendiri.
2. Mengubah Mindset: Menciptakan Lapangan Kerja Melalui Santripreneur
Arah masa depan santri tidak lagi sebatas memburu posisi PNS atau karyawan semata. Maluku Utara membutuhkan lahirnya para santripreneur.
Pondok pesantren perlu berani mengintegrasikan kurikulum digital marketing, manajemen keuangan syariah, dan tata cara ekspor. Para santri yang mendalami kitab Alfiyah hendaknya juga dibekali keterampilan mengoperasikan lokapasar (marketplace) serta merancang kemasan produk agar mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Para santri pada dasarnya telah memiliki aset paling berharga yang jarang dimiliki pengusaha umum, yakni kepercayaan publik. Nilai kejujuran dan kehalalan menjadi garansi utama dalam setiap lini bisnis yang mereka jalankan.
3. Sinergi Negara dan Kesultanan
Perjuangan kemandirian ini tidak bisa dibebankan kepada santri seorang diri. Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, serta lembaga pemangku adat di Maluku Utara perlu mengambil peran aktif melalui:
- Penyediaan Akses Permodalan Syariah: Memberikan skema pendanaan khusus bagi BUM Pesantren.
- Pembukaan Akses Pasar: Menjadikan produk-produk hasil olahan pesantren sebagai suvenir resmi pada acara kedinasan.
- Pendampingan Berkelanjutan: Menghubungkan pesantren dengan perguruan tinggi dan perbankan syariah lokal untuk pembinaan manajemen.
Menyongsong Masa Depan Maritim dan Rempah
Masa depan Maluku Utara terletak pada pengelolaan sektor maritim dan rempah-rempah. Pemahaman fiqih muamalah mencegah santri menzalimi para nelayan lokal, kedalaman spiritual menuntun mereka menjaga kelestarian laut dari pengerusakan, dan kesadaran akan kemandirian mencegah penjualan aset tanah secara tidak terukur kepada investor luar.
Peringatan Hari Santri harus menjadi momentum perubahan. Dari Ternate kota para Sultan dan Ulama saatnya membuktikan bahwa santri Maluku Utara tidak hanya fasih mengaji, tetapi juga andal dalam menyejahterakan masyarakat. Umat yang berdaya secara ekonomi tidak akan mudah diadu domba, dan kemandirian finansial akan memperkokoh ketahanan agama bangsa.
Selamat Hari Santri 2026: Berdaya, Berkarya, dan Berjaya dari Maluku Utara untuk Indonesia.
- Penulis: Santrany Sehe, SE (Ketua DPW GENINUSA Maluku Utara)
- Editor: Mustakim

Saat ini belum ada komentar