Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate

Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 19
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pemerintah Kota Ternate kembali menyiapkan panggung. Tema “Episentrum Rempah Dunia” diangkat dalam Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026. Agenda pun disusun rapi: festival, simposium, hingga parade budaya. Sekilas, semuanya tampak meyakinkan, seolah dengan kemasan yang tepat, Ternate bisa kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Namun di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah yang dibangun adalah substansi, atau sekadar citra?

Ternate sejatinya tidak membutuhkan legitimasi buatan. Sejarah telah lebih dulu menempatkannya dalam peta dunia. Pada 1858, Alfred Russel Wallace menulis surat penting dari Ternate kepada Charles Darwin, sebuah momen yang kemudian mengubah arah ilmu pengetahuan modern. Tanpa festival. Tanpa panggung besar.

Ternate pernah menjadi ruang lahirnya gagasan besar.

Ironisnya, jejak sejarah itu hari ini terasa semakin jauh dari kehidupan kota. Wallace lebih sering hadir sebagai narasi yang diulang, bukan ingatan yang dirawat. Sementara itu, upaya branding terus digencarkan, rapi secara konsep, menarik secara visual, namun kerap terasa asing bagi warganya sendiri.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal sejarah, melainkan cara Ternate memaknai dirinya.

Jika ditinjau melalui Model Komunikasi Lasswell, pola yang terlihat cukup jelas: pemerintah sebagai komunikator, pesan dikemas dalam bentuk branding, media menjadi saluran, dan dunia luar sebagai target. Efek yang diharapkan adalah citra, Ternate sebagai episentrum rempah dunia. Namun seperti banyak strategi komunikasi satu arah, ada elemen yang kerap terabaikan: masyarakat itu sendiri.

Kondisi ini juga tercermin dari minimnya pelibatan pemuda, khususnya mahasiswa. Pengalaman mahasiswa Ternate di Yogyakarta dalam agenda JKPI sebelumnya menjadi contoh nyata. Mereka hadir, berpartisipasi, bahkan membawa nama daerah ke ruang nasional. Namun keterlibatan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan ruang dialog yang setara.

Alih-alih menjadi agent of change dan agent of social control, peran mahasiswa justru berisiko tereduksi menjadi pelengkap kegiatan. Ini menunjukkan masih terbatasnya ruang partisipasi substantif dalam proses pembangunan narasi kota.

Persoalan ini bukan sekadar teknis penyelenggaraan acara, melainkan soal paradigma. Komunikasi masih cenderung bersifat top-down, di mana masyarakat ditempatkan sebagai objek pendukung, bukan subjek yang ikut menentukan arah dan makna.

Padahal, dalam perspektif pemasaran kota, sebagaimana diingatkan Philip Kotler, city branding tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keterlibatan, dari rasa memiliki, dan dari warga yang merasa menjadi bagian dari cerita besar itu sendiri.

Tanpa fondasi tersebut, “Episentrum Rempah Dunia” berisiko menjadi sekadar narasi simbolik, terlihat kuat dari kejauhan, tetapi rapuh saat didekati.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap miskomunikasi dalam pelaksanaan agenda justru menunjukkan adanya celah yang belum terjawab: komunikasi internal dengan masyarakat. Ternate mungkin terdengar lantang saat berbicara ke dunia, tetapi masih perlu belajar untuk mendengar warganya sendiri.

Jika belajar dari Wallace, pelajarannya sederhana: Ternate bukan sekadar lokasi, melainkan ruang dialog. Tempat pengalaman, pengamatan, dan pemikiran bertemu secara alami.

Ambisi menjadikan Ternate sebagai episentrum rempah dunia tentu sah dan layak didukung. Namun tanpa keberanian membuka ruang dialog yang inklusif, ambisi tersebut berisiko berhenti pada permukaan, hidup di baliho, panggung acara, dan laporan resmi.

Sementara itu, suara-suara yang seharusnya menjadi fondasi,termasuk generasi muda, tetap berada di pinggiran.

Dan bisa jadi, justru dari pinggiran itulah kita melihat dengan lebih jernih: bahwa yang sedang dibangun hari ini bukan sepenuhnya episentrum, melainkan citra tentang episentrum.

  • Penulis: Amril Hi. Ade (Mahasiswa Kota Ternate yang menempuh pendidikan di Yogyakarta)
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/43207/gor-nambo-jaya-sport-center-gelanggang-terbesar-di-kota-tangerang

    Sambut HUT Kota Tangerang ke-33, PEKATAN Gelar Turnamen Futsal SMA se-Tangerang Raya untuk Jaring Bibit Muda

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 82
    • 0Komentar

    TANGERANG, 16 Februari 2026 (BALENGKO) – Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Tangerang, organisasi Pemuda Kota Tangerang (PEKATAN) resmi menggelar turnamen futsal tingkat SMA/SMK sederajat bertajuk “PEKATAN Futsal Cup”. Perhelatan ini berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (16-17 Februari 2026), bertempat di GOR Nambo, Kota Tangerang. Turnamen skala regional ini diikuti oleh 32 […]

  • Aisun Salim HMI Maluku Utara mengalami tindakan represif polisi saat demo mahasiswa di DPRD Halmahera Selatan, Selasa 2 September 2025.

    Aisun Salim HMI Maluku Utara Jadi Korban Represif Polisi di Halsel

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 290
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Halmahera Selatan – Aisun Salim Kabid Pemberdayaan Perempuan Badko HMI Maluku Utara menjadi korban tindakan represif polisi saat demo mahasiswa di Kantor DPRD Kabupaten Halmahera Selatan, Selasa 2 September 2025. Aksi mahasiswa berlangsung ricuh setelah aparat kepolisian memukul peserta aksi. Dihimpun dari berbagai sumber Salah satu korban kekerasan, Aisun Salim, Kabid Pemberdayaan Perempuan […]

  • Tim PMR MAN Insan Cendekia Halbar menerima penghargaan Juara 1 Gebyar PMR & KSR se-Maluku Utara.

    Kerja Keras Berbuah Manis, PMR MAN IC Halbar Tampil sebagai Juara 1 Terbaik

    • calendar_month Senin, 22 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) – Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Halmahera Barat kembali menorehkan prestasi membanggakan. Tim Palang Merah Remaja (PMR) mereka meraih Juara 1 Terbaik dalam ajang Gebyar PMR & KSR se-Provinsi Maluku Utara yang berlangsung pada 18–21 September 2025. Perlombaan ini digelar oleh PMI Provinsi Maluku Utara untuk memperingati HUT PMI ke-80. Sebanyak […]

  • Foto ilustrasi kawasan karst di Weda Utara

    Penolakan Tambang PT Gamping Mining Indonesia Weda Utara oleh Mahasiswa Halteng di Yogyakarta

    • calendar_month Kamis, 14 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 633
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Yogyakarta, 14 Agustus 2025 — Aliansi Mahasiswa Sagea/Kiya dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Pelajar Halmahera Tengah (Ikemap Halteng) di Yogyakarta menolak aktivitas tambang PT Gamping Mining Indonesia di Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Mereka menilai kegiatan tambang itu berisiko merusak lingkungan, mengancam sumber air, merusak kawasan karst, serta menghilangkan ruang hidup dan […]

  • Masri Anwar saat diwawancarai di Yogyakarta tentang buku Kerusakan Ekologi Sebuah Antologi

    Masri Anwar dan Buku “Kerusakan Ekologi Sebuah Antologi”: Suara dari Halmahera Tengah yang Terkikis Tambang

    • calendar_month Rabu, 17 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 839
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Yogyakarta – 17 September 2025. Maluku Utara dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah: dari pertanian, perikanan, hingga pertambangan. Namun, di balik derasnya arus investasi tambang, kerusakan lingkungan semakin terasa, terutama bagi masyarakat yang hidup di sekitar wilayah tambang. Keresahan itulah yang mendorong Masri Anwar, aktivis lingkungan sekaligus akademisi asal Maluku Utara, untuk menulis […]

  • Fenomena Olahraga lari, Antara Kesadaran Kesehatan dan Tren Sosial

    Fenomena Olahraga lari, Antara Kesadaran Kesehatan dan Tren Sosial

    • calendar_month Jumat, 3 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Balengko Space – Belakangan ini, olahraga lari menjadi fenomena yang menyita perhatian. Media sosial diramaikan dengan berbagai flyer event lomba lari yang bertebaran di Instagram, TikTok, hingga grup WhatsApp. Para influencer dan konten kreator turut mempopulerkan aktivitas ini, mengundang antusiasme masyarakat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, apakah fenomena ini benar-benar […]

expand_less