Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate

Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate

  • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
  • visibility 459
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pemerintah Kota Ternate kembali menyiapkan panggung. Tema “Episentrum Rempah Dunia” diangkat dalam Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026. Agenda pun disusun rapi: festival, simposium, hingga parade budaya. Sekilas, semuanya tampak meyakinkan, seolah dengan kemasan yang tepat, Ternate bisa kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Namun di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah yang dibangun adalah substansi, atau sekadar citra?

Ternate sejatinya tidak membutuhkan legitimasi buatan. Sejarah telah lebih dulu menempatkannya dalam peta dunia. Pada 1858, Alfred Russel Wallace menulis surat penting dari Ternate kepada Charles Darwin, sebuah momen yang kemudian mengubah arah ilmu pengetahuan modern. Tanpa festival. Tanpa panggung besar.

Ternate pernah menjadi ruang lahirnya gagasan besar.

Ironisnya, jejak sejarah itu hari ini terasa semakin jauh dari kehidupan kota. Wallace lebih sering hadir sebagai narasi yang diulang, bukan ingatan yang dirawat. Sementara itu, upaya branding terus digencarkan, rapi secara konsep, menarik secara visual, namun kerap terasa asing bagi warganya sendiri.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal sejarah, melainkan cara Ternate memaknai dirinya.

Jika ditinjau melalui Model Komunikasi Lasswell, pola yang terlihat cukup jelas: pemerintah sebagai komunikator, pesan dikemas dalam bentuk branding, media menjadi saluran, dan dunia luar sebagai target. Efek yang diharapkan adalah citra, Ternate sebagai episentrum rempah dunia. Namun seperti banyak strategi komunikasi satu arah, ada elemen yang kerap terabaikan: masyarakat itu sendiri.

Kondisi ini juga tercermin dari minimnya pelibatan pemuda, khususnya mahasiswa. Pengalaman mahasiswa Ternate di Yogyakarta dalam agenda JKPI sebelumnya menjadi contoh nyata. Mereka hadir, berpartisipasi, bahkan membawa nama daerah ke ruang nasional. Namun keterlibatan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan ruang dialog yang setara.

Alih-alih menjadi agent of change dan agent of social control, peran mahasiswa justru berisiko tereduksi menjadi pelengkap kegiatan. Ini menunjukkan masih terbatasnya ruang partisipasi substantif dalam proses pembangunan narasi kota.

Persoalan ini bukan sekadar teknis penyelenggaraan acara, melainkan soal paradigma. Komunikasi masih cenderung bersifat top-down, di mana masyarakat ditempatkan sebagai objek pendukung, bukan subjek yang ikut menentukan arah dan makna.

Padahal, dalam perspektif pemasaran kota, sebagaimana diingatkan Philip Kotler, city branding tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keterlibatan, dari rasa memiliki, dan dari warga yang merasa menjadi bagian dari cerita besar itu sendiri.

Tanpa fondasi tersebut, “Episentrum Rempah Dunia” berisiko menjadi sekadar narasi simbolik, terlihat kuat dari kejauhan, tetapi rapuh saat didekati.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap miskomunikasi dalam pelaksanaan agenda justru menunjukkan adanya celah yang belum terjawab: komunikasi internal dengan masyarakat. Ternate mungkin terdengar lantang saat berbicara ke dunia, tetapi masih perlu belajar untuk mendengar warganya sendiri.

Jika belajar dari Wallace, pelajarannya sederhana: Ternate bukan sekadar lokasi, melainkan ruang dialog. Tempat pengalaman, pengamatan, dan pemikiran bertemu secara alami.

Ambisi menjadikan Ternate sebagai episentrum rempah dunia tentu sah dan layak didukung. Namun tanpa keberanian membuka ruang dialog yang inklusif, ambisi tersebut berisiko berhenti pada permukaan, hidup di baliho, panggung acara, dan laporan resmi.

Sementara itu, suara-suara yang seharusnya menjadi fondasi,termasuk generasi muda, tetap berada di pinggiran.

Dan bisa jadi, justru dari pinggiran itulah kita melihat dengan lebih jernih: bahwa yang sedang dibangun hari ini bukan sepenuhnya episentrum, melainkan citra tentang episentrum.

  • Penulis: Amril Hi. Ade (Mahasiswa Kota Ternate yang menempuh pendidikan di Yogyakarta)
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arti jahil murakkab

    Sindrom Pahlawan Kesiangan: Ketika Kekuasaan Melahirkan Kebijakan Berbasis Selera

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Oleh: Hamdy M. Zen Dosen PBA IAIN Ternate
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Secara bahasa, kata jahil berasal dari bahasa Arab al-jahl yang berarti: tidak mengetahui, kebodohan, lawan dari ilmu. Orang yang jahil adalah orang yang tidak memiliki pengetahuan atau bertindak tanpa dasar ilmu. Sementara itu, beberapa ulama menjelaskan makna jahil sebagai berikut: Imam Al-Raghib Al-Ashfahani menjelaskan bahwa jahil adalah kosongnya jiwa dari ilmu dan pengetahuan yang benar. […]

  • LBH GP Ansor Maluku Utara Lapor Polda terkait penghinaan.

    Terancam UU ITE: LBH GP Ansor Lapor Polda Malut Usai Akun Facebook Hina Ansor Malut

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 745
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Pemuda Ansor Maluku Utara mengambil langkah tegas dengan menempuh jalur hukum terkait dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik di media sosial. Laporan resmi tersebut dilayangkan kepada Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku Utara. Persoalan ini bermula dari komentar negatif pada unggahan berita di grup Facebook […]

  • Wagub Maluku Utara Ajak ASN Proaktif Ikuti Pemeriksaan Kesehatan Play Button

    Wagub Maluku Utara Ajak ASN Proaktif Ikuti Pemeriksaan Kesehatan

    • calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 1.189
    • 0Komentar

    Sofifi, Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, mengimbau seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk aktif mengikuti program pemeriksaan kesehatan. Imbauan ini disampaikan saat apel perdana pasca libur lebaran yang berlangsung di halaman Kantor Gubernur Maluku Utara, Sofifi, Selasa (8/4/25). Dalam arahannya, Wagub Sarbin menekankan pentingnya keterlibatan aktif ASN […]

  • Sejumlah massa saat menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Pemerintah Kota Tangerang, Rabu (28/1/2026). Mereka mendesak Satpol PP segera menutup aktivitas produksi Himalaya Es Kristal yang diduga melanggar izin alih fungsi bangunan dan dokumen lingkungan. (Foto: Dok. Istimewa/Pusat-Berita)

    Diduga Langgar Izin dan Alih Fungsi Bangunan, Produksi Es Kristal di Tangerang Didemo Warga

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Agung Gumelar
    • visibility 214
    • 0Komentar

    TANGERANG (BALENGKO) – Sejumlah elemen masyarakat menggeruduk kantor Pemerintah Kota Tangerang, menuntut penutupan aktivitas produksi Himalaya Es Kristal yang diduga kuat melanggar perizinan dan aturan tata ruang. Massa mendesak Satpol PP segera menyegel lokasi tersebut karena dinilai telah menyalahgunakan fungsi bangunan. Koordinator aksi, Agung, menegaskan bahwa operasional perusahaan tersebut terindikasi melakukan alih fungsi bangunan dari […]

  • Dr. Fahrul Abd. Muid Calon Ketua IKA PMII Maluku Utara 2025

    Visi-Misi Dr. Fahrul Abd. Muid untuk Kemajuan IKA PMII Maluku Utara

    • calendar_month Senin, 4 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.167
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, IKA PMII Maluku Utara akan segera mengadakan pemilihan ketua. Salah satu calon kandidat yang diunggulkan adalah Dr. Fahrul Abd. Muid, S.Th.I, MA, seorang akademisi IAIN Ternate dan UNUTARA. Beliau digadang-gadang akan maju dalam pertarungan pemilihan sebagai Calon Ketua Umum PW IKA PMII Maluku Utara untuk masa khidmat 2025–2030. Dengan latar belakang sebagai kader PMII tulen, Dr. Fahrul […]

  • Road to Toadore Fest Vol. II: Gema Budaya Tidore Mengalun di Yogyakarta

    Road to Toadore Fest Vol. II: Gema Budaya Tidore Mengalun di Yogyakarta

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 614
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Yogyakarta | 22 Juli 2025, Semangat pelestarian budaya lokal kembali menggema di Yogyakarta melalui gelaran Road To Toadore Fest Vol. II yang mengusung tema “Budaya Tidore di Bumi Mataram: Jejak, Rasa, dan Nada.” Acara yang digelar pada Senin, 21 Juli 2025 di Ketok Studio, SaRanG Building Block 1, Kalipakis, Bantul, ini menjadi bagian dari […]

expand_less