Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Tambang atau Pariwisata? Menentukan Masa Depan, Menjaga Kawasan SBB

Tambang atau Pariwisata? Menentukan Masa Depan, Menjaga Kawasan SBB

  • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
  • visibility 243
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Wilayah Seram Bagian Barat memiliki kekayaan alam yang melimpah. Hutan masih luas, pesisir yang indah dan budaya masih terikat dengan kehidupan masyarakat. Kawasan ini menyimpan banyak potensi besar misalnya, sumber daya mineral untuk pertambangan dan daya tarik alam untuk pariwisata. Di sinilah akan muncul pertanyaan paling penting bagi masa depan daerah: Apakah pendapatan daerah akan tumbuh pada eksploitasi tambang, atau pada penguatan pariwisata berkelanjutan?

Pada era modern keberadaan tambang seringkali dipandang menjadi salah satu jalan cepat untuk meningkatkan pendapatan daerah. Maka ini menjadi peluang untuk membuka lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, dan pemutaran ekonomi dalam waktu cepat. Namun, di wilayah lain menjadi gambaran bahwa sektor ekstraktif akan membawa risiko besar yang mengakibatkan kerusakan hutan, pencemaran sungai, konflik lahan, hingga hilangnya budaya masyarakat lokal.

Di wilayah masyarakat adat ekosistem sensitif untuk kerusakan lingkungan bukan hanya masalah hari ini, tetapi untuk generasi akan datang. Masyarakat adat tidak menikmati hasil alam secara langsung, tetapi masyarakat menikmati resiko pada penggundulan lingkungan secara besar-besaran, yang dapat mengakibatkan banjir, longsor dan hilangnya jati diri masyarakat adat secara langsung.

pada saat yang sama pariwisata memberikan peluang pembangunan yang lebih bertahap untuk berkelanjutan. Keindahan alam, kekayaan tradisi lokal dan wisata bahari dapat menjadi fondasi ekonomi untuk melibatkan masyarakat secara langsung dalam mendorong pertumbuhan ekonomi diantaranya, penginapan warga, usaha kuliner lokal, transportasi lokal dan kerajinan masyarakat.

Oleh karena itu, pariwisata yang dikelola dengan sebaik-baik mungkin akan memberikan hasil pendapatan daerah dan mendorong pelestarian lingkungan alam memiliki aset utama yang harus dijaga.

Pariwisata menjadi salah satu sumber pendapatan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung pembangunan jangka panjang. Karena itu, wisatawan kerap memilih berlibur untuk melepaskan penat dari rutinitas pekerjaan, terutama dengan berkunjung ke destinasi yang tidak membosankan, memiliki pemandangan indah, serta menawarkan pengalaman yang berkesan.

Kondisi ini menjadi potensi bagi berbagai daerah, khususnya Kabupaten Seram Bagian Barat. Daerah ini memiliki kekayaan kearifan lokal dan sejarah yang beragam, yang dapat dinikmati wisatawan dan meninggalkan kesan sehingga tetap dikenang dalam perjalanan mereka.

Hal ini bukan semata-mata persoalan peningkatan pendapatan atau keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, pelestarian budaya lokal dan lingkungan di daerah tersebut harus tetap menjadi prioritas agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga mereka tetap dapat menikmati kekayaan alam secara utuh.

A. Tambang

Eksploitasi tambang kerap dipromosikan sebagai jalan menuju kesejahteraan masyarakat. Namun, transformasi yang ditimbulkannya menunjukkan dua sisi dampak: positif dan negatif. Di satu sisi, aktivitas pertambangan menyimpan risiko besar bagi masyarakat dan lingkungan, mulai dari potensi banjir dan longsor hingga ancaman hilangnya kearifan lokal masyarakat adat.

Di sisi lain, dampak positif yang sering dikemukakan adalah meningkatnya pendapatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pertumbuhan ekonomi yang dinilai signifikan. Namun, manfaat tersebut kerap hanya dirasakan dalam waktu terbatas, sementara masyarakat lokal tidak selalu memperoleh keuntungan yang sebanding. Ironisnya, ketika bencana seperti banjir dan longsor terjadi, kelompok yang paling terdampak dan menanggung risiko justru masyarakat setempat.

Aktivitas pertambangan tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga mengguncang tatanan ekologis, sosial, dan budaya masyarakat adat. Lingkungan menjadi korban pertama, disusul menyempitnya ruang hidup masyarakat adat serta terkikisnya kearifan lokal yang selama ini menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.

Di balik narasi pembangunan, tersimpan kenyataan bahwa janji kesejahteraan bagi masyarakat lokal sering kali bersifat sementara. Ketika tambang berhenti beroperasi, yang tersisa bukan kemakmuran, melainkan jejak kerusakan berupa lubang-lubang tambang dan dampak lingkungan yang berkepanjangan—warisan yang harus ditanggung generasi berikutnya. Karena itu, eksploitasi tambang tidak selalu dapat dipandang sebagai solusi pembangunan, melainkan berpotensi menjadi bentuk ketidakadilan yang dilegitimasi atas nama kepentingan kesejahteraan.

B. Pariwisata

Di wilayah kepulauan Maluku, khususnya Kabupaten Seram Bagian Barat, sektor pariwisata dinilai memiliki potensi lebih menjanjikan dibanding pertambangan. Meski tidak selalu menghasilkan pemasukan besar dalam waktu singkat, pariwisata dari perspektif keberlanjutan menawarkan keuntungan yang lebih stabil dan berjangka panjang, sekaligus berpeluang menjaga kearifan lokal masyarakat adat.

Sektor pariwisata dapat menjadi salah satu pilihan unggulan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal secara bertahap. Namun, potensi tersebut kerap diabaikan karena pendapatan dari pariwisata dinilai tidak sebesar pemasukan yang diperoleh dari perusahaan pertambangan.

Dari sisi keberlanjutan, pariwisata memiliki peluang untuk dikembangkan secara ramah lingkungan dan dikelola secara berkelanjutan. Keindahan alam, ekosistem pesisir, serta kekayaan budaya merupakan aset utama yang perlu dijaga agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara terus-menerus. Selain itu, pariwisata juga berperan dalam memperkuat identitas sosial dan budaya masyarakat.

Tradisi adat dan pengetahuan lokal dapat dipertahankan serta diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab. Meski tidak selalu unggul dalam perhitungan ekonomi jangka pendek, pariwisata dinilai lebih berpeluang menciptakan pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

  • Penulis: Fahrul Syukur (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  • Editor: Redaktur Balengko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sunaidin Ode Mulae, Dosen Antropologi Pariwisata Universitas Khairun sekaligus Pengurus KONI Maluku Utara periode 2025–2029, menyampaikan pandangannya tentang peran KONI dalam mendorong sport tourism untuk meningkatkan ekonomi daerah.

    ”KONI” BERDAMPAK MENDORONG PARIWISATA OLAHRAGA (SPORT TOURSM) UNTUK PERGERAKAN EKONOMI MALUKU UTARA

    • calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
    • account_circle Sunaidin Ode Mulae Dosen Antropologi Pariwisata Unkhair Pengurus KONI Maluku Utara 2025-2029
    • visibility 681
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada tanggal 8 Oktober 1938 KONI dibentuk dengan nama Ikatan Sport Indonesia (ISI) oleh Sutardjo Kartohadikusumo sebagai ketua ISI melalui musyawarah beberapa organisasi keolahragaan seperti PSSI, Pelti, dan PBKSI (sekarang Perbasi). Pada 15 Oktober 1934 ISI menggelar Pekan Olahraga di Surakarta, sekaligus menjadi hari berdirinya Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). ISI dibentuk oleh beberapa […]

  • Ilustrasi

    Terisolasi dan Gelap, Fasilitas Gedung Baru FTIK IAIN Ternate Bikin Sekjen Kemenag Geleng Kepala

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 507
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Alih-alih menjadi simbol kemajuan akademik, peresmian gedung baru Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Ternate di kawasan Gambesi pada Minggu (15/2/2026) justru berujung polemik. Kehadiran Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin, yang diharapkan membawa suasana sukacita, justru diwarnai raut kekecewaan mendalam saat meninjau langsung kondisi bangunan. Berdasarkan pantauan di […]

  • Debat Hukum USHP Janabadra 2026 sukses digelar. UMY raih juara 1 dalam kompetisi bertema kedaulatan masyarakat adat vs korporasi. Simak selengkapnya!

    Debat Hukum USHP Janabadra 2026: Mengupas Kedaulatan Masyarakat Adat di Tengah Arus Investasi

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Takdir (Hakim Ketua Unit Study Hukum Perdata FH JANABDRA)
    • visibility 294
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA, BALENGKO SPACE – Unit Studi Hukum Perdata (USHP) Universitas Janabadra (UJB) sukses menyelenggarakan Civil Law Debate Competition (CLDC) atau Debat Hukum USHP Janabadra 2026. Kegiatan bergengsi ini mengusung tema kritis: “Negara, Korporasi, dan Kedaulatan Masyarakat Adat dalam Pusaran Kepentingan.” Bertempat di Yogyakarta pada Rabu (29/4/2026), kompetisi ini diikuti oleh berbagai universitas ternama di wilayah […]

  • Fenomena Olahraga lari, Antara Kesadaran Kesehatan dan Tren Sosial

    Fenomena Olahraga lari, Antara Kesadaran Kesehatan dan Tren Sosial

    • calendar_month Jumat, 3 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 665
    • 0Komentar

    Balengko Space – Belakangan ini, olahraga lari menjadi fenomena yang menyita perhatian. Media sosial diramaikan dengan berbagai flyer event lomba lari yang bertebaran di Instagram, TikTok, hingga grup WhatsApp. Para influencer dan konten kreator turut mempopulerkan aktivitas ini, mengundang antusiasme masyarakat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, apakah fenomena ini benar-benar […]

  • Dua Hari Lebih Listrik Padam Total, Warga Pulau Muari Kayoa Barat Menjelis dan Tuntut Respons Cepat PLN

    Dua Hari Lebih Listrik Padam Total, Warga Pulau Muari Kayoa Barat Menjelis dan Tuntut Respons Cepat PLN

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 117
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, KAYOA BARAT – Jeritan masyarakat kawasan pesisir dan kepulauan terkait pelayanan dasar kembali mencuat. Warga di Pulau Muari, khususnya yang bermukim di Desa Bokimiake, Kecamatan Kayoa Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, mengeluhkan pemadaman listrik total yang berlangsung sejak 27 hingga 29 Juli 2026. Pemadaman listrik berhari-hari yang kerap berulang dalam beberapa waktu terakhir ini […]

  • Pemerintah Provinsi Maluku Utara Tunjukkan Komitmen Nyata Dampingi Jamaah Haji 2025

    Pemerintah Provinsi Maluku Utara Tunjukkan Komitmen Nyata Dampingi Jamaah Haji 2025

    • calendar_month Sabtu, 10 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.124
    • 1Komentar

    Makassar, 10 Mei 2025 (balengkospace.com) – Pemerintah Provinsi Maluku Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam mendampingi jamaah haji. Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, secara resmi melepas keberangkatan Kloter 13 yang terdiri dari calon jamaah haji asal Kota Ternate, Kepulauan Sula, Halmahera Barat, dan Halmahera Utara, Jumat malam, 9 Mei 2025. Prosesi pelepasan berlangsung khidmat […]

expand_less