Kemiskinan yang Tak Kunjung Usai di Lombok Timur: Pembangunan untuk Siapa?
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 121
- comment 0 komentar

Source : Istimewa
Lebih jauh, kemiskinan di Lombok Timur juga berkaitan erat dengan persoalan kualitas kesehatan dan gizi. Tingginya kasus stunting di NTB menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga tentang kualitas hidup. Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi gizi buruk akan menghadapi hambatan perkembangan jangka panjang, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas dan daya saing daerah itu sendiri.
Pertanyaan mendasarnya kemudian adalah: pembangunan yang selama ini dijalankan sebenarnya untuk siapa? Jika pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir kelompok, sementara sebagian besar masyarakat tetap bertahan hidup dari hari ke hari, maka ada yang keliru dalam arah kebijakan. Kemiskinan tidak bisa diselesaikan hanya dengan target angka dan laporan administratif. Ia membutuhkan keberpihakan yang nyata.
Sudah saatnya pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan di NTB, khususnya Lombok Timur, menggeser paradigma pembangunan dari sekadar pertumbuhan menuju pemerataan dan pemberdayaan. Investasi pada pendidikan, penguatan sektor pertanian dan UMKM lokal, serta penciptaan lapangan kerja yang layak harus menjadi prioritas utama. Tanpa itu semua, kemiskinan akan terus menjadi cerita lama yang diulang setiap tahun, sementara harapan masyarakat tetap tertunda.
Kemiskinan yang masih merajalela di Lombok Timur bukan sekadar kegagalan ekonomi, tetapi juga kegagalan moral pembangunan. Ketika masyarakat miskin terus diminta bersabar, sementara kebijakan belum sungguh-sungguh berpihak, maka kemiskinan bukan lagi masalah teknis, melainkan cermin ketidakadilan sosial yang dibiarkan berlangsung terlalu lama.
- Penulis: Muhammad Azka Irfani
- Editor: Asmar Joma

Saat ini belum ada komentar