PENA DAN BUKU JADI PENYEBAB KEMATIAN ANAK
- calendar_month Rab, 4 Feb 2026
- visibility 453
- comment 0 komentar

Source : Istimewa
Anomie menurut Durkheim adalah keadaan ketika aturan, nilai, dan batasan sosial menjadi kabur atau tidak lagi berfungsi secara efektif. Kondisi ini sering muncul saat terjadi perubahan sosial atau ekonomi yang cepat, seperti krisis ekonomi, kemiskinan mendadak, atau ketimpangan yang semakin tajam. Dalam situasi seperti ini, individu kehilangan pegangan tentang apa yang wajar untuk diharapkan dan dicapai dalam hidup, sehingga dampaknya bisa muncul dari perasaan frustrasi dan putus asa.
Dalam konteks bunuh diri anomik, masalah utamanya bukan sekadar kemiskinan itu sendiri, melainkan ketiadaan regulasi sosial yang melindungi individu saat menghadapi tekanan ekonomi. Ketika masyarakat gagal menyediakan sistem dukungan yang memadai baik melalui keluarga, sekolah, maupun negara individu dibiarkan menghadapi tekanan tersebut sendirian. Hal inilah yang, menurut Durkheim, menciptakan kondisi rawan bunuh diri.
Kasus seorang anak sekolah yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dapat dibaca melalui lensa bunuh diri anomik. Anak tersebut berada dalam sistem pendidikan yang menuntut pemenuhan standar tertentu (membeli buku, mengikuti pelajaran), namun tidak disertai mekanisme perlindungan bagi mereka yang secara ekonomi tidak mampu. Di sini terlihat adanya ketidakseimbangan antara tuntutan sosial dan kemampuan nyata individu.
Masalah ekonomi keluarga dalam kasus ini tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan kegagalan regulasi sosial. Sekolah, sebagai institusi sosial, seharusnya berfungsi bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang aman yang peka terhadap kondisi sosial-ekonomi muridnya. Ketika sekolah tetap menuntut tanpa memberi alternatif atau bantuan, anak tersebut terjebak dalam tekanan struktural yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Dari sudut pandang Durkheim, anak tersebut mengalami anomie karena diperhadapkan pada harapan sosial (menjadi murid yang baik dan patuh) tanpa adanya aturan dan dukungan yang realistis bagi kondisi hidupnya. Perasaan gagal, malu, dan terasing bukan muncul karena kelemahan pribadi, tetapi karena sistem sosial yang tidak mampu mengatur dan melindungi individu yang rentan.
Namun, secara kritis, teori Durkheim juga memiliki keterbatasan. Ia kurang memberi ruang pada pengalaman emosional individu dan faktor psikologis personal. Meski demikian, dalam kasus ini, teori bunuh diri anomik tetap relevan karena membantu kita melihat bahwa tragedi tersebut bukan hanya masalah anak tersebut, melainkan cerminan dari ketimpangan ekonomi, lemahnya empati institusional, dan kegagalan masyarakat dalam menyediakan regulasi sosial yang adil dan manusiawi.
- Penulis: Oleh: N.J Gaston Mahasiswa Yogyakarta
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar