Usulkan ‘Car Free Day’ di Kawasan CBD, Naswin Rowo: Dongkrak Ekonomi Pedagang Pasar Tanpa Bebani APBD
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 91
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota DPRD Morotai, Naswin Rowo, mengusulkan penerapan Car Free Day setiap Minggu di kawasan Pasar CBD untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi setempat. (Source: Istimewa)
BALENGKO SPACE, MOROTAI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Morotai, Naswin Rowo, mengajukan gagasan strategis guna menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di Pasar Central Business District (CBD). Gagasan tersebut berupa penerapan kegiatan serupa Car Free Day (CFD) atau hari bebas kendaraan bermotor setiap hari Minggu di kawasan pusat kota.
Usulan ini lahir sebagai respons terhadap menurunnya daya beli masyarakat di Pasar CBD. Kondisi ini dipicu oleh menjamurnya penjual sembako liar di sepanjang Jalan Raya, yang menyebabkan minimnya pengunjung yang membeli kebutuhan pokok seperti beras, cabai, tomat, dan sayuran di dalam pasar resmi.
Naswin menyarankan agar Pemerintah Daerah (Pemda) Morotai menutup akses kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, di area depan Masjid Raya hingga pertokoan Mr. D.I.Y pada setiap hari Minggu pukul 06.00 hingga 10.00 WIT. Area tersebut nantinya hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pesepeda untuk berolahraga.
Model ini diadaptasi dari keberhasilan kegiatan serupa di Taman Nukila, Kota Ternate, yang dinilai efektif menciptakan ruang publik yang ramah dan aktif.
“Animositas masyarakat Morotai untuk berolahraga saat ini sudah sangat meningkat. Kita sering melihat banyak warga yang berjalan kaki atau lari pagi di waktu libur,” ujar Naswin Rowo, kepada media, Senin (3/82026).
Politisi asal Daeo itu meyakini bahwa kehadiran warga untuk berolahraga akan berdampak positif bagi pedagang pasar. Ia memperkirakan para pelaku olahraga akan membelanjakan uang saku mereka setelah selesai beraktivitas fisik.
“Saya yakin ini bisa membantu para penjual di Pasar CBD. Minimal di hari Minggu, jualan mereka laku karena orang-orang yang datang berolahraga pasti membawa uang, setidaknya Rp10.000 hingga Rp20.000 untuk berbelanja setelah selesai berolahraga. Sehingga, hari Minggu bisa kita sebut sebagai ‘Hari Pasar’,” tambahnya
Gagasan ini juga mendapat respons positif dari masyarakat. Naswin mengaku telah berdiskusi dengan sejumlah warga yang rutin berolahraga, dan mereka sepakat bahwa Morotai membutuhkan agenda rutin semacam ini untuk menciptakan suasana kota yang lebih ramai dan hidup.
Dari sisi anggaran, Naswin menekankan bahwa implementasi kegiatan ini tidak membebani keuangan daerah. Pemda cukup menerbitkan surat edaran atau peraturan bupati yang mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di sekitar Ibu Kota Morotai Selatan untuk berpartisipasi.
“Pemda tidak perlu mengeluarkan sepeser pun. Justru sebaliknya, Pemda berpotensi mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan adanya aktivitas ini, lapak-lapak di CBD akan disewa oleh pelaku UMKM untuk berjualan kopi dan kuliner lainnya,” jelasnya.
Selain itu, sarana panggung permanen yang tersedia di kawasan tersebut juga dapat dimanfaatkan secara optimal, misalnya untuk kegiatan senam zumba bagi ibu-ibu rumah tangga setiap minggu pagi.
Dengan konsep zero budget namun bernilai ekonomi tinggi, usulan Naswin Rowo diharapkan dapat menjadi solusi win-win solution bagi revitalisasi Pasar CBD dan peningkatan kesehatan masyarakat Morotai.
- Penulis: Mujizad Mandea

Saat ini belum ada komentar