Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dari Sajdah ke Kesadaran: Ramadan dan Tanggung Jawab Menjaga Bumi

Dari Sajdah ke Kesadaran: Ramadan dan Tanggung Jawab Menjaga Bumi

  • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
  • visibility 343
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Di awal bulan Ramadan ini, mari kita berhenti sejenak. Sebab di tengah ibadah yang kita jalani, ada ketertindasan yang terus berlangsung di hadapan mata dan batin kita.
Ramadan bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan nafsu. Ia seharusnya menjadi latihan empati—agar kita tidak lagi memandang penderitaan sebagai sesuatu yang biasa. Lebih dari itu, puasa adalah momentum kesetaraan. Di hadapan lapar dan dahaga, jabatan runtuh, kekayaan tak lagi berjarak. Pemegang saham, pemimpin negara, orang kaya, dan mereka yang terpinggirkan berdiri pada titik yang sama—rapuh, terbatas, dan sama-sama membutuhkan Tuhan.

Tuhan Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui membentangkan ampunan tanpa batas. Tetapi kita sering kali hanya mendekat ketika Ramadan tiba. Setelah ia pergi, kita kembali membangun jarak—antara kaya dan miskin, antara kuasa dan yang tak bersuara—seakan langit dan bumi memang ditakdirkan untuk tak pernah saling menopang.

Pada momen ini, Ramadan seharusnya menjadi cermin. Sebab selama sebelas bulan kita kerap mengaminkan kemewahan, sementara ketertindasan dan keterbelakangan berjalan tanpa gangguan.

Kita tahu itu. Kita melihatnya. Namun kita memilih terbiasa. Seakan semua terjadi tanpa sebab, padahal sebab itu tumbuh dari cara pandang kita sendiri—cara pandang yang membiarkan jarak antara kaya dan miskin semakin lebar.

Dari bulan suci ini pula kita seharusnya belajar bahwa rasa lapar yang kita rasakan sejak terbit matahari hingga terbenamnya bukanlah pengalaman musiman. Bagi sebagian orang, lapar adalah kenyataan setiap hari. Bukan hanya di bulan Ramadan.

Ada mereka yang kesulitan mendapatkan sesuap nasi dan sekeping uang. Ada pula yang kehilangan tanahnya—diambil, digusur, atau terpaksa dijual karena kerasnya kehidupan.

Maka pertanyaannya: apakah Ramadan hanya akan menjadi ritual tahunan, atau sungguh menjadi kesadaran yang mengubah cara kita memandang mereka yang hidup dalam lapar tak berkesudahan?

Memang, Ramadan sering kita pahami sebagai ritual yang menjanjikan pengampunan Tuhan. Namun jika maknanya berhenti pada urusan dosa pribadi, itu terlalu sempit.

Penghapusan dosa bukan sekadar janji langit, melainkan panggilan untuk mengubah cara kita memperlakukan bumi—dan manusia di dalamnya. 

Di titik ini, Ramadan seharusnya melahirkan kesadaran kolektif. Bukan hanya tentang kesetaraan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan kita dengan alam.

Sebab, selama ini kita memperlakukan bumi seolah ia terpisah dari diri kita. Padahal kita tumbuh darinya, hidup darinya, dan akan kembali kepadanya.

Maka penyucian tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Ia harus menjalar pada cara kita menjaga tanah, air, dan hutan—agar Ramadan tidak hanya membersihkan jiwa, tetapi juga memulihkan bumi.

Cara pandang ini tidak hanya hidup di satu wilayah. Ia menjalar di banyak pulau yang tanahnya kaya, tetapi manusianya kerap terabaikan. Dan saya tidak perlu pergi jauh untuk melihatnya.

Saya melihatnya di Halmahera—tanah yang membesarkan saya. Di sana, relasi kuasa berdiri lebih tinggi dari suara rakyat. Ketidakadilan tidak lagi mengejutkan; ia telah menjadi kebiasaan.

Ramadan akan benar-benar terasa jika pertobatan kita meluas—bukan hanya dari dosa pribadi, tetapi juga dari luka yang kita sebabkan pada bumi. Larut dalam sujud untuk memohon ampun, lalu bangkit dengan kesadaran menjadi khalifah: penjaga, bukan perusak.

  • Penulis: Gilang Hi Adam
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hied : Dari Dinding Kosong Karawang ke Karya Penuh Makna

    Hied : Dari Dinding Kosong Karawang ke Karya Penuh Makna

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 593
    • 0Komentar

    Foto : Hied Ketika seni jalanan bertemu dengan kreativitas tanpa batas, nama Hied hadir sebagai salah satu seniman graffiti yang mencuri perhatian. Dengan gaya unik dan energi khas anak muda, Hied berbagi cerita tentang perjalanan, inspirasi, tantangan, dan harapannya untuk dunia graffiti di Indonesia. Perjalanan Awal: Dari Coretan Iseng ke Seni Bermakna “Aku mulai suka […]

  • Saint Yowza: Menjaga Semangat HipHop di Kota Ruteng Lewat “Keep The Flame”

    Saint Yowza: Menjaga Semangat HipHop di Kota Ruteng Lewat “Keep The Flame”

    • calendar_month Sabtu, 18 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 734
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Instagram St.Yowza Musik HipHop semakin mendapat tempat di hati para pecinta musik Indonesia, bahkan di kota lain seperti Ruteng, Flores, NTT. Salah satu rapper yang terus menjaga semangat ini adalah Saint Yowza, yang baru saja merilis single terbarunya berjudul “Keep The Flame”. Dalam wawancara ini, Saint Yowza berbagi cerita tentang inspirasi, proses […]

  • Source : Istimewa

    Kurikulum Aswaja Tak Diterapkan, Kader NU Sula Desak Evaluasi Kepala MA Maarif NU Wailau

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 378
    • 0Komentar

    SANANA (BALENGKO), 3 Februari 2026 – Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) Kepulauan Sula menyoroti kinerja Kepala Madrasah Aliyah (MA) Maarif NU Wailau terkait pengabaian kurikulum organisasi. Lembaga pendidikan yang berdiri sejak 2020 tersebut dinilai tidak menjalankan proses pembelajaran sesuai ketentuan dan aturan Nahdlatul Ulama. Kader Muda NU Kepulauan Sula, Ahmad Sapsuha, S.Hi., menyatakan bahwa pengelolaan […]

  • Dokumentasi Panen Jagung SMKN 4 Tidore oleh Wakil Gubernur Maluku Utara di Tayawe. Play Button

    Sinergi Vokasi: Wagub Sarbin Sehe dan Kadikbud Malut Panen 2 Ton Jagung di SMKN 4 Tikep

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 366
    • 0Komentar

    TIDORE, BALENGKO SPACE – Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus memperkuat ketahanan pangan daerah dengan mengintegrasikan sektor pendidikan vokasi. Langkah ini selaras dengan visi kemandirian bangsa yang diperkuat melalui tiga regulasi terbaru Presiden Prabowo Subianto, yakni Perpres Nomor 14 Tahun 2026, Inpres Nomor 2 Tahun 2026, serta Inpres Nomor 3 Tahun 2026. Sebagai aksi nyata di […]

  • HMTPWK UNUTARA Gelar Kegiatan SPASIAL V Pembukaan di Aula Kampus

    HMTPWK UNUTARA Gelar Kegiatan SPASIAL V di Pulo Tareba

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 210
    • 0Komentar

    BALENGKOSPACE.COM, TERNATE – Himpunan Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (HMTPWK UNUTARA) resmi menyelenggarakan kegiatan Studi Pengenalan Akademik dan Survei Pemetaan Lapangan (SPASIAL V). Pembukaan kegiatan berlangsung di Aula Lantai Tiga Kampus UNUTARA, Selasa (22/09/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai wadah pengembangan wawasan akademik dan peningkatan keterampilan praktis mahasiswa di bidang […]

  • Semarak HUT RI ke-81: MTs Negeri 1 Pulau Morotai Gelar Panggung Ekspresi dan Lomba Tradisional

    Semarak HUT RI ke-81: MTs Negeri 1 Pulau Morotai Gelar Panggung Ekspresi dan Lomba Tradisional

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Redaksi BS
    • visibility 124
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, PULAU MOROTAI – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, MTs Negeri 1 Pulau Morotai menggelar serangkaian kegiatan bertajuk “Semarak HUT RI Ke-81”. Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan MTs Negeri 1 Pulau Morotai ini berlangsung meriah pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026. Mengusung tema “Semangat Kemerdekaan, Berkarya dan Berprestasi, […]

expand_less