Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Kekuasaan Profetik (Etika, Batas, dan Tanggung Jawab Kekuasaan)

Kekuasaan Profetik (Etika, Batas, dan Tanggung Jawab Kekuasaan)

  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 72
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

David Bentham dalam buku The Legitimation of Power, menawarkan pemahaman mengenai legitimasi kekuasaan tidak cukup ditentukan melalui hukum, tapi juga mengenai kesesuaian menjalankan kekuasaan dengan hukum serta pembenaran yang diberikan berdasarkan nilai yang relevan dalam masyarakat.

Melalui Weber dan Bentham, bisa dipahami legitimasi kekuasaan memiliki dimensi yang lebih luas dari legaltias formal karena menyangkut hubungan antar aturan, pembenaran normatif, dan penerimaan sosial. Dengan begitu, legalitas merupakan fondasi penting kekuasaan, tapi tidak menjawab mengenai kepatutan moral dan tujuan penggunaan kekuasaan.

Empat Dimensi Kekuasaan

Pertanyaannya, apa yang dimaksud kekuasaan? Bagaimana seharusnya memahami kekuasaan? Membaca pertanyaan ini, dalam benak Anda pasti mulai menyimpulkan kesimpulan. Saran saya jangan buru-buru menyusun jawaban. Berikut saya akan menyajikan empat dimensi kekuasaan, baca dulu, setelah itu silahkan Anda sajikan jawabannya.

Pertama dimensi Legal Power – pada bagian ini diskusi kekuasaan seputar pertanyaan apakah kekuasaan diperoleh dan dijalankan berdasarkan hukum. H.L.A. Hart dalam the Concept of Law menjelaskan validitas hukum berkaitan dengan aturan yang menentukan bagaimana hukum dikenali, dibentuk, dan diterapkan. Sementara itu, Lon L. Fuller melalui The Morality of Law memberikan penekanan pada kualitas internal hukum yaitu kejelasan, konsistensi, dan kesesuaian antara norma yang tertulis dengan penerapannya. Melalui Hart dan Fuller, dapat dipahami legalitas merupakan fondasi bagi penyelenggara kekuasaan. Namun, kekuasaan tidak cukup menyatakan dirinya sah secara hukum, tapi harus sah pula cara mendapatkan, cara penggunaan dan pertanggungjawaban dari kewenangan. Karena itu, keabsahan kekuasaan menurut hukum tidak langsung menjawab kekuasaan tersebut etis, atau diarahkan pada tujuan yang benar.

Kedua dimensi Constitutional Power – pada bagian ini diskusi kekuasaan seputar pertanyaan apakah kekuasaan dibentuk, dibatasi dan dijalankan sesuai dengan konstitusi. A.V. Dicey melalui Introduction to the Study of the Law of the Constitution menawarkan konsep rule of law yang mengutamakan supremasi hukum dan menolak praktik abuse of power. Sementara itu, Bruce Ackerman melalui We the People memberikan cara memahami hubungan antara legitimasi demokrasi, pembentukan konstitusi, dan struktur kewenangan. Meminjam Dicey dan Ackerman, kekuasaan dapat dipahami melalui perspektif pembatasan kewenangan, pengawasan, perlindungan hak, serta keseimbangan antara lembaga negara, yang semua dibangun dengan dasar norma konstitusi.

Ketiga dimensi Ethical Power – pada bagian ini diskusi kekuasaan seputar apakah kekuasaan yang sah dan konstitusional dijalankan secara patut, berintegritas dan dapat dipertanggungjawaban. Hukum berada pada ruang apa yang diperbolehkan, sedangkan etika publik menilai bagaimana kewenangan seharusnya digunakan serta apa tanggungjawab pemegang kekuasaan. Max Weber membedakan etika dalam dua bentuk ethic of responsibility dan ethic of conviction, melalui pembedaan ini Weber menujukkan pentingnya mempertimbangkan konsekuensi tindakan pemegang kekuasaan. Lebih lanjut Dennis F. Thompson melalui Political Ethics and Public Office memberikan tesa mengenai persoalan tanggungjawab moral pejabat, konflik kepentingan, serta hubungan antara etika individu dan institusi politik. Keduanya, Weber dan Thompson, bisa dipahami bagi penyelenggara negara kekuasaan, tanggungjawab tidak berhenti pada keyakinan mengenai tindakan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur, tapi juga telah mempertimbangkan dampak keputusan dan konsekuensi dari tindakan yang diambil.

  • Penulis: HENDRA KASIM, Mahasiswa Program Doktor FH UII
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muhammad Muzijad Mandea

    Sastra dan Politik: Apakah Sastra Berhubungan Dengan Politik?

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea. Pengurus Komisariat Unkhair Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII),
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Menurut Aprinus Salam, Mengungkapkan bahwa karya sastra diletakkan dalam satu kerangka representasi-representasi tentangan dalam kehidupan. Teori ini memiliki dan memberikan kepekaan yang tinggi terhadap masalah-masalah stagnasi, tradisi, konflik dalam masyarakat, dan bagaimana praktik kekuasaan (politik) dioperasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Teori ini juga memberikan perhatian bagaimana “membongkar” karya sastra sebagai bagian dan satu hegemoni […]

  • Anggota DPD RI Hasbi Yusuf mendesak penyelesaian proporsional konflik lahan TNI AU di Morotai guna menyeimbangkan kedaulatan negara dan hak-hak masyarakat.

    Hasbi Yusuf Desak Penyelesaian Proporsional Konflik Lahan TNI AU di Morotai

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 358
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Anggota Komite III DPD RI, Hasbi Yusuf, mengeluarkan pernyataan tegas terkait sengketa lahan menahun antara TNI Angkatan Udara (AU) dan masyarakat di Pulau Morotai. Ia mendesak agar penyelesaian konflik tersebut dilakukan secara proporsional dengan mengedepankan prinsip keadilan bagi semua pihak. Pernyataan ini disampaikan Hasbi usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) ke-II MD […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe memimpin rapat realisasi program Biro Kesra di kediaman Wagub.

    Wagub Malut Pastikan Distribusi Sapi Kurban dan Hibah Keagamaan 2026 Merata

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 357
    • 0Komentar

    TERNATE, BALENGKO SPACE – Wakil Gubernur Maluku Utara, Hi. Sarbin Sehe, S.Ag., M.Pdi, memimpin rapat koordinasi terkait realisasi program kerja bersama Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Maluku Utara. Pertemuan yang berlangsung di kediaman Wagub, eks Chrysant, pada Jumat (10/04/2026) tersebut fokus membahas dua agenda besar bidang keagamaan tahun 2026. Rapat ini dihadiri langsung oleh […]

  • Jangan Sepelekan! Ini 8 Manfaat Luar Biasa Jalan Kaki Setiap Hari

    Jangan Sepelekan! Ini 8 Manfaat Luar Biasa Jalan Kaki Setiap Hari

    • calendar_month Minggu, 6 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 706
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Jalan kaki sering dianggap sebagai aktivitas sederhana, tetapi tahukah Anda bahwa kebiasaan ini menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan fisik dan mental? Tidak perlu waktu lama, cukup 20-30 menit setiap hari, Anda sudah bisa merasakan dampak positifnya. Yuk, simak urutan manfaat jalan kaki berikut ini! 1. Meningkatkan Suasana Hati Stres dan mood buruk bisa diatasi […]

  • Sherly Tjoanda

    Menasehati Gubernur

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis Wakil Dekan II FUAD IAIN Ternate & Ketua Forum Keberagaman Nusantara Malut
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Menasehati Gubernur  Ali bin Abi Thalib berkata: “hai saudara Malik sang Gubernur Mesir” saya telah mengirimkan engkau ke satu daerah yang telah memiliki pemerintahan sebelumnya. Gubernur sebelumnya ada yang adil dan banyak juga yang zalim terhadap rakyatnya. Rakyat akan memperhatikan tindakanmu sebagaimana mereka telah memperhatikan tindakan para Gubernur sebelum kamu. Kritikan rakyat atas kamu tidak […]

  • Episentrum Rempah Dunia Ternate

    Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Amril Hi. Ade (Mahasiswa Kota Ternate yang menempuh pendidikan di Yogyakarta)
    • visibility 440
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Ternate kembali menyiapkan panggung. Tema “Episentrum Rempah Dunia” diangkat dalam Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026. Agenda pun disusun rapi: festival, simposium, hingga parade budaya. Sekilas, semuanya tampak meyakinkan, seolah dengan kemasan yang tepat, Ternate bisa kembali menjadi pusat perhatian dunia. Namun di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah yang […]

expand_less