Kemiskinan Guru Besar di IAIN Ternate: Alarm Serius Dunia Akademik Maluku Utara
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 128
- comment 0 komentar

Source : Istimewa
Berdasarkan fakta ini maka IAIN Ternate akan mengalami kesulitan yang amat serius untuk bisa meningkatkan peringkatnya, baik di tingkat lokal, nasional dan boro-boro tingkat internasional. Jika IAIN Ternate tidak memiliki Guru Besar yang berkualitas. Seyogyanya kepemimpinan IAIN Ternate sepanjang empat tahun sebelumnya selayaknya telah lahir empat orang dosen kita yang menjadi Guru Besar. Tapi justru yang terjadi adalah saling menjegal untuk menggagalkan seorang dosen menjadi Guru Besar di institusi ini. Ada semacam misi terselubung adanya unsur kesengajaan untuk mempersulit dosen senior yang on proses menuju Guru Besar agar dijegal dengan cara-cara yang tidak beradab di rapat senat untuk tidak mendapatkan rekomendasi pengusulan sebagai calon Guru Besar dari institusi. Praktek persekongkolan jahat ini dianggap sebagai tindakan mal-administrasi yang merupakan perilaku atau perbuatan melawan hukum, melampaui wewenang, kelalaian, atau pengabaian kewajiban hukum oleh penyelanggara pelayanan publik yang nyata-nyata merugikan masyarakat akademik, baik materiil maupun immaterial yang berpotensi dapat dilaporkan tindakan pejabat institusi IAIN Ternate kepada Ombudsman Republik Indonesia perwakilan Maluku Utara. Jika sekiranya ada seorang dosen yang menemukan pelayanan publik yang tidak sesuai aturan, maka laporkan saja mereka itu kawan!
Oleh karena itu, pemimpin baru IAIN Ternate perlu melakukan ‘political will’ untuk mengambil langkah-langkah konkret agar memperjuangkan secara ikhlas para dosen IAIN Ternate menjadi Guru Besar dengan jumlah yang sangat signifikan. Sediakan pendanaannya melalui Dipa institusi yang benar-benar dipergunakan untuk itu. Jangan kemudian dana percepatan Guru Besar dirampok lagi kawan! Karena sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad Saw dalam hadis shahih, “yassiruu wa laa tu’assiruu” artinya permudahkanlah urusan mereka, dan janganlah kalian-para pimpinan mempersulit urusan mereka-dosen untuk menjadi Guru Besar. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya pemimpin institusi ini berkata, kalau urusan dosen itu bisa dipersulit kenapa harus dipermudah. Maka banyaklah para dosen IAIN Ternate yang menjadi korban mal-administrasi. Na’uzdu billahi min dzalik.
Yang lebih manis lagi bahwa pemimpin baru IAIN Ternate harus mengambil kebijakan terbaik agar menyediakan alokasi dana untuk pengembangan dosen, memberikan kesempatan kepada dosen muda yang masih S2 untuk melanjutkan studi S3, sekaligus memberikan dukungan dana studi agar mereka tidak mengalami penderitaan selama proses studinya karena mereka itu dosen IAIN Ternate. Mereka juga jangan dihalang-halangi untuk melanjutkan studi S3-nya karena perbuatan menghalangi dosen menuntut ilmu-thalabul ‘ilmi hukumnya haram kawan! Sekian dan terima kasih semoga bermanfaat tulisan ini. Wallahu ‘alam bishsh
- Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar