Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ramadhan dan Luka Demokrasi: Ketika Suara Kritis Dianggap Ancaman

Ramadhan dan Luka Demokrasi: Ketika Suara Kritis Dianggap Ancaman

  • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
  • visibility 365
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, semoga segala dosa—yang kita sadari maupun yang luput dari kesadaran kita—mendapat ampunan dari kasih sayang Allah SWT. Dari suasana perenungan inilah saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan yang lahir dari kegelisahan atas ketertindasan umat dan manusia di bangsa Indonesia.

Pertanyaan ini menyentuh akar hingga pucuk dari bunga-bunga kebangsaan yang selama ini kita banggakan. Ia membawa kita pada persoalan yang lebih dalam: hubungan antara negara, kekuasaan, dan masyarakat sipil.

Lalu muncul satu pertanyaan yang tak bisa kita hindari: mengapa di pucuk kekuasaan bangsa Indonesia sering tampak kegelisahan ketika rakyatnya menjadi aktivis? Mengapa suara kritis yang lahir dari kepedulian terhadap bangsa justru kerap dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi?

Peristiwa seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Sejak zaman kolonial hingga ketika kolonialisme itu berganti wajah menjadi negara modern, media pers dan diskusi-diskusi kritis kerap diperlakukan sebagai ancaman. Padahal seharusnya di sanalah ruang bagi bangsa ini untuk menempuh kesadaran bersama—ruang untuk menguji kekuasaan, memperbaiki kesalahan, dan menjaga agar negara tidak menjauh dari rakyatnya.

Dalam tumpukan sejarah yang begitu luas, kita dapat melihat bagaimana kejahatan kekuasaan berulang dari zaman ke zaman. Polanya sering kali sama: aturan dibuat untuk mengendalikan, sementara suara kritis berusaha dibungkam. Misalnya dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, khususnya novel Rumah Kaca. Di sana digambarkan seorang aparat kepolisian kolonial bernama Pangemanann, yang ditugaskan untuk mengawasi dan menekan gerakan serta tulisan-tulisan Minke. Tulisan dan gagasan dianggap lebih berbahaya daripada senjata, karena mampu membangunkan kesadaran rakyat.

Dan kini, peristiwa serupa seolah kembali terjadi. Saudaraku Andrie Yunus disiram air keras seusai melakukan perekaman siniar (podcast) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di Jakarta. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan pada 11 April 2017, ketika ia masih menjabat sebagai penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dari dua peristiwa ini, kita kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: mengapa suara yang berusaha membela keadilan justru sering kali berhadapan dengan kekerasan? Apakah kritik terhadap kekuasaan masih dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari usaha bersama untuk menjaga keadilan dan kemanusiaan di negeri ini?

Sungguh, dari kejadian-kejadian ini kita dapat menilai bahwa pucuk kekuasaan sering kali tumbuh kaku dalam menjalankan demokrasi. Di saat bangsa ini berada dalam bulan Ramadhan—bulan yang seharusnya dipenuhi keberkahan, kasih sayang, dan persaudaraan—arah kehidupan bernegara justru kadang bergerak menuju penindasan terhadap kemanusiaan.

Cobalah kita pikirkan kembali: barangkali akar itu sengaja dipotong, agar bunga demokrasi yang tumbuh dari tanah pengetahuan yang kritis tak sempat mekar di negeri ini. Pada titik inilah kita patut bertanya dengan jujur: jangan-jangan kekuasaan telah gagal merawat bunga demokrasi yang harum—bunga yang seharusnya tumbuh dari kesadaran rakyatnya sendiri.

  • Penulis: Gilang Moenawar
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota Komisi II DPRD Kota Ternate Sartini Hanafi saat menghadiri kegiatan Satpol PP Ternate di Kantor Wali Kota.

    Sartini Hanafi Apresiasi Inovasi Satpol PP Ternate dalam Cegah Dini Gangguan Kamtibmas

    • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO), 16 Oktober 2025 – Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ternate, Sartini Hanafi, mengapresiasi langkah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Ternate dalam melakukan pencegahan dan deteksi dini terhadap gangguan ketentraman dan ketertiban umum di wilayah Kota Ternate yang berlangsung di lantai III Kantor Walikota Ternate, Rabu (15/10). Pernyataan tersebut […]

  • Tangkapan layar video warga Maba Sangaji saat menyampaikan aspirasi terkait kasus hukum Maba Sangaji.

    LBH Ansor Ternate Soroti Dakwaan JPU terhadap Warga Maba Sangaji

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.340
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE, 8 Agustus 2025 — Kasus hukum Maba Sangaji kembali menjadi sorotan publik. LBH Ansor Ternate menilai dakwaan Jaksa Penuntut Umum terhadap beberapa warga sebagai bentuk kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang memperjuangkan hak-hak tanah leluhur mereka. Sidang yang seharusnya digelar di Pengadilan Negeri Soasio ini di pindahkan ke dalam Rutan Soa Sio, Tidore […]

  • Upacara HUT RI ke-80 di Lapas Jambula, Ternate

    Bukan Sekadar Upacara! Sambutan Wakil Gubernur Malut di HUT RI ke-80: Soroti Capaian Presiden

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 725
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – TERNATE – Sambutan Wakil Gubernur Malut pada peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Lapas Jambula, Ternate, Minggu (17/8/2025), menjadi sorotan utama. Ia menyampaikan amanat Presiden RI yang menekankan capaian strategis pemerintah di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Pemerintah mencatat kinerja positif di sektor ekonomi. Indonesia tumbuh 5,12% pada kuartal II 2025. Realisasi […]

  • Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Polres Pulau Morotai Gelar Doa Lintas Agama untuk Perkuat Persatuan dan Toleransi

    Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Polres Pulau Morotai Gelar Doa Lintas Agama untuk Perkuat Persatuan dan Toleransi

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 103
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, PULAU MOROTAI – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Kepolisian Resor (Polres) Pulau Morotai menggelar kegiatan Doa Lintas Agama. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat semangat persatuan, toleransi, dan sinergitas antarumat beragama di wilayah Kabupaten Pulau Morotai. Kegiatan yang mengusung tema “Polri Untuk Masyarakat” tersebut berlangsung khidmat di Aula Polres Pulau Morotai, Desa Darame, […]

  • Sumber foto ilustrasi : Istimewa

    LBH Ansor Minta Kejati Malut Telusuri Dugaan Jual Beli Proyek yang Seret Nama Dewas PDAM Ternate

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 279
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO)— Dugaan praktik lancung dalam tata kelola proyek di lingkungan Pemerintah Kota Ternate kini tengah menjadi sorotan tajam. Hal ini menyusul beredarnya rekaman percakapan telepon yang diduga melibatkan oknum Dewan Pengawas (Dewas) Perumda Air Minum Ake Gaale berinisial HM, yang disinyalir membicarakan pengondisian paket pekerjaan. Praktisi Hukum sekaligus Sekretaris LBH Ansor Maluku Utara, Ramadhan […]

  • Forum BEM DIY Sampaikan Sepuluh Tuntutan Dalam Aksi Rebut Daulat Rakyat di Yogyakarta

    Gugat Sentralistik Kekuasaan, Forum BEM DIY Sampaikan Sepuluh Tuntutan Rebut Daulat Rakyat

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 104
    • 0Komentar

    BALENGKOSPACE.COM, YOGYAKARTA – Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (Forum BEM DIY) menyampaikan pernyataan sikap tegas dalam aksi bertajuk “Dijajah Sentralistik, Bangun Persatuan dan Rebut Daulat Rakyat” dengan seruan utama “Menagih Negara, Mengembalikan Kedaulatan Rakyat” di Yogyakarta, Kamis (27/08/2026). Gerakan ini lahir dari akumulasi evaluasi terhadap tata kelola bernegara, sentralisasi kewenangan, ketimpangan fiskal, hingga […]

expand_less