Seni Mengajarkan Kesederhanaan pada anak di Dunia yang Serba Pamer
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 75
- comment 0 komentar

Iswadi M. Ahmad Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara. Source : Istimewa
Dalam konteks anak SD, pendidikan ekonomi memiliki manfaat jangka panjang yang sangat penting. Anak-anak pada dasarnya sudah bisa membuat pilihan. Namun, pilihan tersebut seringkali bersifat emosional. Melalui pendidikan ekonomi, anak diajak memahami alasan di balik sebuah pilihan. Mengapa tidak semua keinginan harus dipenuhi? Mengapa menabung itu penting? Mengapa harus berbagi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini menjadi pintu masuk untuk membentuk karakter ekonomi anak yang rasional, hemat, dan bertanggung jawab.
Tidak Sulit Mengajarkan Ekonomi
Pendidikan ekonomi untuk anak sekolah dasar dibutuhkan pendekatan pembelajaran inovatif. Anak usia 7–12 tahun memiliki kebiasaan belajar yang khas. Anak biasanya cepat bosan, menyukai aktivitas konkret, dan belajar paling efektif melalui pengalaman langsung. Oleh karena itu, pembelajaran ekonomi yang disampaikan secara teoritis dan satu arah hampir pasti gagal menarik minat anak.
Setidaknya ada empat cara sederhana yang bisa dilakukan orang tua dan guru di Maluku Utara untuk mengenalkan konsep ekonomi kepada anak. Pertama, melalui buku cerita yang dekat dengan realitas anak Maluku Utara. Cerita tentang anak yang rajin menabung uang jajannya untuk membeli perlengkapan sekolah, membantu orang tua berjualan di kios kecil, atau ikut ayahnya melaut, akan lebih mudah dipahami karena sesuai dengan kehidupan mereka. Dari cerita-cerita seperti ini, anak belajar nilai ekonomi sekaligus nilai kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab tanpa merasa digurui.
Kedua, belajar ekonomi lewat pengalaman langsung di lingkungan sekitar. Di banyak wilayah Maluku Utara, anak-anak tumbuh dekat dengan kebun, laut, dan dapur rumah tangga. Kegiatan berkebun pala, cengkeh, atau sayuran di halaman sekolah mengajarkan anak bahwa hasil tidak datang seketika, tetapi melalui proses dan perawatan. Di daerah pesisir, memancing atau ikut orang tua ke pantai menjadi pelajaran tentang usaha, kesabaran, dan menghargai hasil laut. Sementara itu, membantu ibu memasak di rumah mengajarkan anak bahwa bahan makanan terbatas dan harus digunakan dengan bijak. Dari kegiatan sederhana ini, anak belajar mengelola kebutuhan tanpa sadar sedang belajar ekonomi.
Ketiga, pembelajaran melalui wirausaha kecil-kecilan yang sesuai dengan potensi lokal. Anak dapat diajak membuat jajanan sederhana, olahan hasil kebun, atau kerajinan khas daerah untuk dijual di lingkungan sekolah atau sekitar rumah. Ketika anak belajar menghitung modal, menentukan harga, dan membagi hasil, mereka mulai memahami konsep biaya, keuntungan, dan tanggung jawab. Pengalaman ini penting untuk menumbuhkan jiwa mandiri dan kewirausahaan sejak dini, terutama di daerah kepulauan yang kaya potensi alam.
Keempat, memanfaatkan media video dan multimedia interaktif secara bijak. Anak-anak Maluku Utara kini juga akrab dengan gawai dan media digital. Video animasi tentang menabung, mengatur uang jajan, atau memilih kebutuhan dapat membantu anak memahami konsep ekonomi secara visual. Jika dikemas dengan cerita yang dekat dengan kehidupan pesisir dan keluarga nelayan, pesan tentang hidup hemat dan perencanaan keuangan akan lebih mudah diterima. Media digital, jika dimanfaatkan dengan tepat, justru bisa menjadi alat untuk membentengi anak dari budaya konsumtif yang semakin kuat.
- Penulis: Iswadi M. Ahmad Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar