Seni Mengajarkan Kesederhanaan pada anak di Dunia yang Serba Pamer
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 76
- comment 0 komentar

Iswadi M. Ahmad Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara. Source : Istimewa
Peran Keluarga dan Sekolah
Pendidikan ekonomi untuk anak tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Keluarga justru menjadi menjadi tempat yang pertama dan utama pendidikan ekonomi untuk anak. Orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku ekonomi orang tua dalam menjalankan aktivitas ekonomi seperti mengelolah uang, mengelolah usaha, membelajarkan pendapatan akan ditiru oleh anak. Nasehat ekonomi tanpa contoh perilaku ekonomi yang baik seringkali tidak efektif. Anak belajar ekonomi lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengarkan.
Di sekolah, guru dapat mengajarkan konsep ekonomi ke dalam pembelajaran tematik. Ilmu ekonomi tidak harus berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri, akan tetapi dapat diintegrasikan dalam pelajaran bahasa, ilmu pengetahuan alam, matematika, atau pendidikan pancasila. Sayangnya, hingga saat ini pendidikan ekonomi di tingkat SD masih belum memperoleh perhatian serius. Literasi ekonomi sering dianggap tidak penting dari capaian akademik lainya. Padahal, literasi ekonomi justru menjadi kebutuhan mendasar di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat.
Investasi Jangka Panjang Bangsa
Pendidikan ekonomi anak merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat terlihat. Investasi ini tidak dapat diukur melalui ujian sekolah atau ujian nasional. Namu dalam jangka panjang, pendidikan ekonomi akan turut menentukan kualitas dan kesejahteraan warga negara.
Anak yang belajar ekonomi sejak diri akan tumbuh menjadi individu yang rasional dalam mengambil keputusan ekonomi. Mereka akan menjadi pelaku ekonomi yang rasional, jujur, kerja keras, dan bertanggung jawab dalam melakukan aktivitas ekonomi. Mereka akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi, tidak muda terjebak dalam perilaku konsumtif, terjebak pada investasi bodong, lebih produktif, dan peduli terhadap kesejahteraan bersama.
Di tengah budaya konsumsi yang semakin masif, pendidikan ekonomi anak sejak SD bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama. Jika bangsa ini ingin membangun landasan ekonomi yang kuat menuju kemandirian ekonomi, maka pendidikan ekonomi harus dimulai sejak dini. Ekonomi tidak bermula dari kebijakan ekonomi dan pasar modal. Ia bermula dari pembelajaran ekonomi menggunakan celengan kecil di kamar anak. Dari sana masa depan ekonomi bangsa dibangun.
- Penulis: Iswadi M. Ahmad Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar