Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dilema Guru Masa Kini: Tegas Disalahkan, Diam Dipertanyakan

Dilema Guru Masa Kini: Tegas Disalahkan, Diam Dipertanyakan

  • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
  • visibility 235
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Memperingati Hari Guru tahun ini, bangsa Indonesia kembali diajak untuk menoleh sejenak pada realitas yang dihadapi para pendidik di seluruh pelosok negeri. Di balik peran mulia mereka dalam mencetak generasi masa depan, terdapat beban dan tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan beberapa dekade lalu. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga dituntut memahami dinamika sosial, tekanan digital, perilaku remaja yang semakin kompleks, serta ekspektasi publik yang terus meningkat.

Ironisnya, dalam situasi yang menuntut profesionalisme tinggi itu, guru kerap menjadi pihak yang paling mudah disalahkan. Ketika seorang guru mengambil tindakan untuk menjaga disiplin kelas, menegakkan aturan, atau melindungi ketertiban belajar, risiko tuduhan dan salah tafsir hampir selalu mengintai. Satu potongan video yang direkam tanpa konteks, satu laporan sepihak, atau satu unggahan media sosial yang viral dapat langsung mengubah posisi guru dari pilar pendidikan menjadi pihak yang dicurigai, bahkan sebelum kebenaran dites melalui proses yang objektif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa guru saat ini hidup di tengah era kerentanan sosial, di mana tindakan yang dimaksudkan untuk mendidik dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai tindakan yang melukai. Kondisi ini bukan hanya menciptakan tekanan psikologis, tetapi juga membangun atmosfer ketakutan yang dapat menghambat kreativitas dan keberanian guru dalam menjalankan tugasnya.

Banyak guru mengaku kini harus berhati-hati dalam setiap gerakan dan keputusan, bukan karena tidak ingin mendidik dengan tegas, tetapi karena khawatir dipersepsikan secara keliru. Padahal, pendidikan yang bermakna tidak tumbuh dari ketakutan, melainkan dari kepercayaan. Kepercayaan bahwa guru mampu menilai situasi di kelasnya. Kepercayaan bahwa guru memahami karakter murid-muridnya. Kepercayaan bahwa guru bertindak atas dasar tanggung jawab, bukan emosi.

Di tengah tekanan tersebut, semangat sebagian besar guru tetap tidak padam. Mereka tetap hadir lebih awal daripada murid-muridnya, tetap menyusun RPP meski hari telah larut, tetap melayani pertanyaan siswa meski di luar jam mengajar, dan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Ada kekuatan diam yang hanya dimiliki guru—kekuatan untuk terus memberikan yang terbaik meski sering kali tidak terlihat dan tidak diberi apresiasi.

Hari Guru tahun ini menjadi momen penting untuk meneguhkan kembali kehormatan profesi guru. Bangsa ini perlu menyadari bahwa guru adalah penjaga masa depan. Jika ruang gerak mereka terus dibatasi oleh stigma dan kecurigaan, maka yang terancam bukan hanya profesi mereka, melainkan masa depan pendidikan itu sendiri. Sudah saatnya masyarakat, orang tua, dan institusi pendidikan membuka ruang dialog yang sehat. Alih-alih saling menyalahkan, perlu dibangun pemahaman bersama bahwa pendidikan adalah proses kolaboratif. Peran guru tidak boleh dikecilkan, apalagi dilemahkan oleh persepsi publik yang terburu-buru.

Kita harus kembali menghormati guru bukan hanya dalam seremoni Hari Guru, tetapi dalam kehidupan sehari-hari: menghargai keputusan profesional mereka, melindungi mereka dari tuduhan yang tidak berdasar, dan memastikan mereka memiliki ruang aman untuk mendidik dengan hati dan integritas. Pada akhirnya, di balik semua tantangan yang mereka hadapi, guru tetap memilih untuk berdiri di depan kelas, menuntun, membimbing, dan mencerdaskan.

Mereka adalah sosok-sosok yang mungkin sering disalahpahami, tetapi justru paling berjasa dalam membentuk karakter bangsa. Selamat Hari Guru 2025. Semoga seluruh guru Indonesia terus diberi kekuatan, perlindungan, dan penghormatan yang layak atas pengabdian yang tidak ternilai.

  • Penulis: Mujais Apling, S.Pd.,M,.Pd (Dekan Fakultas Inovasi Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara)
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Make Munir Live Again Tugu Jogja GEMPUR Maluku Utara Isu Tambang

    Make Munir Live Again Tugu Jogja: Aliansi GEMPUR Bawa Isu Kerusakan Lingkungan dan Industri Ekstraktif Maluku Utara

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 228
    • 0Komentar

    BALENGKOSPACE.COM, YOGYAKARTA – Tugu Yogyakarta kembali menjadi ruang perlawanan untuk merawat ingatan atas luka-luka sejarah yang sengaja dibiarkan menganga. Pada Kamis (24/09/2026), puluhan massa aksi dari berbagai elemen gerakan sipil memadati ikon Kota Pelajar tersebut dengan membawa satu nama yang menolak mati: Munir Said Thalib. Mengusung tema utama “Make Munir Live Again”, Aksi Kamisan edisi […]

  • Gunawan Fiantara, Koordinator Wilayah Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) DIY, menyampaikan pandangan dalam Dialog Kebangsaan bertema “Menyambut Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran” di Canggir Bumi Coffee, Yogyakarta, Senin (27/10/2025).

    Aliansi Mahasiswa Nusantara Gelar Dialog Kebangsaan: Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran dan Suara Kritis Kaum Muda

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 361
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO) — Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) menggelar Deklarasi dan Dialog Kebangsaan bertema “Menyambut Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran: Kebijakan, Harapan, dan Dukungan Kaum Muda” pada Senin, 27 Oktober 2025, di Canggir Bumi Coffee, Yogyakarta.Kegiatan ini menjadi ruang refleksi terbuka bagi generasi muda untuk menilai arah kebijakan nasional sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai aktor strategis dalam […]

  • Tambang atau Pariwisata? Menentukan Masa Depan, Menjaga Kawasan SBB

    Tambang atau Pariwisata? Menentukan Masa Depan, Menjaga Kawasan SBB

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Fahrul Syukur (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Wilayah Seram Bagian Barat memiliki kekayaan alam yang melimpah. Hutan masih luas, pesisir yang indah dan budaya masih terikat dengan kehidupan masyarakat. Kawasan ini menyimpan banyak potensi besar misalnya, sumber daya mineral untuk pertambangan dan daya tarik alam untuk pariwisata. Di sinilah akan muncul pertanyaan paling penting bagi masa depan daerah: Apakah pendapatan daerah akan tumbuh pada eksploitasi tambang, atau pada penguatan pariwisata berkelanjutan?

  • Supriyadi Baharudin,S.H

    Problematika Distribusi Tanah Berbasis Hak Pakai: Meninjau ulang putusan Menko-PM tentang Inpres TORA Nomor 8 Tahun 2025

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle Supriyadi Baharudin,S.H
    • visibility 338
    • 0Komentar

    “In Agrarian society, freedom meant the right to land-the land they had nurtured” Dalam masyarakat agraris, kebebasan berarti hak atas tanah- tanah yang telah mereka rawat (Vincent Harding, 1981) Reforma agraria pada dasarnya merupakan kebijakan yang diarahkan untuk melakukan penataan kembali struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah secara lebih berkeadilan. Reforma Agraria tidak semata-mata […]

  • Sunaidin Ode Mulae, Dosen Antropologi Pariwisata Universitas Khairun sekaligus Pengurus KONI Maluku Utara periode 2025–2029, menyampaikan pandangannya tentang peran KONI dalam mendorong sport tourism untuk meningkatkan ekonomi daerah.

    ”KONI” BERDAMPAK MENDORONG PARIWISATA OLAHRAGA (SPORT TOURSM) UNTUK PERGERAKAN EKONOMI MALUKU UTARA

    • calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
    • account_circle Sunaidin Ode Mulae Dosen Antropologi Pariwisata Unkhair Pengurus KONI Maluku Utara 2025-2029
    • visibility 680
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada tanggal 8 Oktober 1938 KONI dibentuk dengan nama Ikatan Sport Indonesia (ISI) oleh Sutardjo Kartohadikusumo sebagai ketua ISI melalui musyawarah beberapa organisasi keolahragaan seperti PSSI, Pelti, dan PBKSI (sekarang Perbasi). Pada 15 Oktober 1934 ISI menggelar Pekan Olahraga di Surakarta, sekaligus menjadi hari berdirinya Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). ISI dibentuk oleh beberapa […]

  • Halal Bi Halal KAHMI Halmahera Utara, Perkuat Silaturahmi dan Konsolidasi Umat

    Halal Bi Halal KAHMI Halmahera Utara, Pererat Silaturahmi dan Komitmen Kebangsaan

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Halmahera Utara (BALENGKO) – Halal Bi Halal KAHMI Halmahera Utara digelar sebagai ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi organisasi oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Halmahera Utara, Minggu (5/4/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung di Cafe Teras Kahino, Desa Popilo, Kecamatan Tobelo Utara itu dimulai pukul 20.30 WIT dan dihadiri oleh alumni HMI lintas generasi, tokoh […]

expand_less