Telaga Ranu di Pusaran Kritik: Isu Geotermal Warnai Aksi Forum BEM D.I Yogyakarta
- account_circle Redaksi Balengko Space
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum BEM DIY melakukan long march dan aksi damai di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (25/2/2026), menyoroti berbagai isu nasional dengan salah satu fokus pada polemik proyek geotermal Telaga Ranu Halmahera Barat, Maluku Utara. Source : Instagram Forum BEM DIY
Yogyakarta (BALENGKO)— Sejumlah massa yang tergabung dalam Forum BEM DIY menggelar unjuk rasa pada Rabu petang (25/2) dengan menyoroti berbagai persoalan nasional, termasuk isu proyek geotermal yang dinilai berkaitan dengan kepentingan asing dan berdampak pada masyarakat.
Aksi dimulai dari kawasan eks Parkir Abu Bakar Ali, melintasi Jalan Malioboro, berorasi di depan DPRD DIY, dan berakhir di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Kegiatan berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian dan berjalan kondusif hingga massa membubarkan diri.
Koordinator Umum Forum BEM DIY, Faturahman Djaguna, mengatakan aksi dilatarbelakangi keresahan publik atas berbagai persoalan, termasuk kasus kekerasan yang melibatkan aparat. Ia menilai peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait akuntabilitas serta menunjukkan adanya persoalan struktural yang berulang.
Selain reformasi kepolisian, massa aksi menyoroti keberadaan proyek panas bumi milik PT Ormat Geothermal yang disebut berkaitan dengan kepentingan asing. Mereka mendesak pencabutan izin proyek tersebut serta percepatan pengesahan Undang-Undang Masyarakat Hukum Adat sebagai bentuk perlindungan terhadap komunitas lokal.
Forum BEM DIY juga menyampaikan sejumlah tuntutan lain, antara lain penolakan program MBG yang dinilai tidak tepat sasaran, transparansi dan audit terbuka Koperasi Merah Putih, penolakan keterlibatan TNI dalam urusan sipil, hingga tuntutan pendidikan dan kesehatan gratis serta merata. Selain itu, mereka menolak wacana Undang-Undang Disinformasi atau propaganda asing karena dinilai berpotensi membatasi kebebasan berekspresi.
Dalam pernyataan sikapnya, Forum BEM DIY turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Aryanto Tawakal yang disebut meninggal dalam peristiwa kekerasan yang melibatkan aparat. Mereka menilai relasi kuasa yang timpang, lemahnya akuntabilitas, dan mandeknya reformasi kelembagaan menjadi akar berbagai persoalan yang disoroti.
Forum BEM DIY menegaskan aksi tersebut merupakan bagian dari mandat konstitusional mahasiswa sebagai kontrol sosial untuk memastikan kebijakan publik berjalan transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar