Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Topeng Diplomasi, Wajah Agresi: Catatan Kelam dari Langit Teheran

Topeng Diplomasi, Wajah Agresi: Catatan Kelam dari Langit Teheran

  • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
  • visibility 332
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Sabtu 28 Februari 2026, asap membubung di atas Teheran. Kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, nyaris menjadi sasaran. Amerika Serikat dan Israel secara resmi melancarkan serangan terhadap Iran, sebuah “hal yang dikhawatirkan sejak lama” akhirnya menjadi kenyataan .

Namun, apa yang sesungguhnya terjadi di kawasan Teluk bukanlah sekadar eskalasi milistik biasa. Ini adalah sebuah sandiwara geopolitik yang rumit, di mana diplomasi dipinang hanya untuk segera ditinggalkan, dan perang dikemas sebagai operasi “pencegahan” yang sah. Penulis mengajak dan analisis tajam, kita perlu membedah tabir ini. Siapa sesungguhnya aktor di balik perang, apa kepentingan tersembunyi di dalamnya, dan bagaimana dampaknya bagi tatanan dunia?

Perang sambil Negosiasi di Meja Bundar

Mari kita lihat kronologinya. Kamis, 26 Februari 2026, delegasi AS dan Iran bertemu di Jenewa (Swiss) untuk putaran ketiga perundingan nuklir. Mediator Oman bahkan optimis, menyebut “kesepakatan damai berada dalam jangkauan kita jika kita memberi diplomasi ruang” . Namun, tak sampai 48 jam kemudian, jet tempur F-35 dan F-22 AS yang memadati pangkalan di Timur Tengah bergerak, dan Israel mengebom Teheran.

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, dengan sinis menyebut apa yang terjadi selanjutnya: “Si pendorong perdamaian sekali lagi menunjukkan tabiat aslinya. Semua perundingan dengan Iran hanyalah operasi pengecohan” . Kegeraman Moskow mungkin mengandung bias, tetapi di sinilah letak ironi terbesar abad ini. Perundingan yang digelar di Jenewa dan Wina (Arab Saudi) ternyata hanya menjadi “topeng” untuk menutupi persiapan perang yang sudah digerakkan berbulan-bulan sebelumnya.

Sejak awal Januari 2026, AS telah mengerahkan dua kapal induk terbesarnya, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford ke kawasan . Enam pesawat tanker KC-46 mendarat di Israel pada akhir Februari , dan staf non-esensial kedutaan AS diperintahkan angkat kaki . Semua ini adalah indikator militer klasik yang “telah blinkat rött” atau “berkedip merah,” seperti diingatkan pakar Timur Tengah Anders Persson . Lantas, untuk apa perundingan digelar jika semua perlengkapan perang sudah dipasang? Jawabannya hanya satu: untuk menciptakan narasi bahwa “diplomasi telah gagal,” sehingga agresi menjadi sah di mata domestik dan internasional.

Teka-teki Israel

Fakta menarik lainnya terungkap dari dinamika internal sekutu. Laporan Politico yang dikutip media Kompas menyebutkan bahwa Gedung Putih menginginkan Israel yang mengambil serangan pertama . Mengapa? Karena Presiden Donald Trump ingin meyakinkan warganya bahwa “bukan AS yang memulai, tapi bisa menyelesaikan konflik itu” . Ini adalah manuver politik kelas kakap: menggunakan sekutu sebagai “peluru” pertama, lalu masuk sebagai “pahlawan” penyelamat.

Namun, Israel di bawah Benjamin Netanyahu ternyata tidak serta-merta menurut. Netanyahu menginginkan operasi akbar, bukan sekadar serangan terbatas. Tujuannya jelas untuk menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei . Bagi Tel Aviv, Iran adalah ancangan eksistensial yang harus dihabisi, bukan sekadar dilumpuhkan. Rob Geist Pinfold, pakar keamanan internasional dari King’s College London, menyebut Israel ingin AS untuk bertarung habis-habisan hingga Iran lumpuh total .

  • Penulis: Irfandi R. Hi Mustafa Akademisi Unutara
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Massa PMII DIY membakar ban di depan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah.

    “Jaga Nyala!” PMII DIY Gelar Aksi Solidaritas

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 806
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE , Yogyakarta – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang DIY menggelar aksi di depan UIN Sunan Kalijaga pada Selasa (2/9/2025). Massa memulai aksi sejak pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Mereka menyalakan api dan membakar ban untuk memprotes kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Ketua Umum PMII Cabang DIY, Ilyas, menegaskan bahwa aksi […]

  • Rektor UNUTARA Dr. M. Nasir Tamalene (kanan) bersama Dubes RI di Uzbekistan, Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin (tengah) . Kunjungan ini bertujuan membuka peluang bagi lulusan PTNU untuk berkarir sebagai tenaga pendidik sains di sekolah internasional Uzbekistan. (Foto: Istimewa)

    LPTNU Jajaki Kerja Sama Pendidikan di Uzbekistan, Siapkan Lulusan Berwawasan Global

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 629
    • 0Komentar

    TASHKENT (BALENGKO) — Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Indonesia melakukan kunjungan strategis ke Uzbekistan untuk menjajaki kolaborasi pendidikan internasional. Langkah ini bertujuan memperkuat posisi perguruan tinggi NU di kancah global serta membuka peluang karier bagi lulusannya di kawasan Asia Tengah. Pertemuan Strategis di Kedutaan Besar Delegasi yang terdiri dari sejumlah rektor perguruan tinggi NU […]

  • Percakapan dalam Bahasa Ternate, yang harus kalian ketahui.

    Percakapan dalam Bahasa Ternate, yang harus kalian ketahui.

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 2.406
    • 0Komentar
  • Kiri Islam, Oksidentalisme, dan Kritik Hasan Hanafi

    Kiri Islam, Oksidentalisme, dan Kritik Hasan Hanafi

    • calendar_month Rabu, 2 Apr 2025
    • account_circle Muhammad Asmar Joma
    • visibility 937
    • 0Komentar

    Secara fundamental ajaran Islam sejak dari Nabi Adam hinggah Nabi Muhammad SAW dapat kita pahami sebagai sebuah paradigma”Kiri” yang berorientasi kepada keadilan social. Konteks “Kiri” yaag di maksudkan tentu merujuk kepada prinsip teologi yang kritis terhadap sturuktus social diskriminatif dan berkomitmen untuk membongkar sistim penindasan sebagai problem structural dan personal. Teologi  Islam melalui perspektif ini […]

  • HMI Cabang Morotai Tolak Morofest: Pemda Dinilai Lebih Pilih Seremonial daripada Tangani Karhutla

    HMI Cabang Morotai Tolak Morofest: Pemda Dinilai Lebih Pilih Seremonial daripada Tangani Karhutla

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Jainudin Naba
    • visibility 119
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Morotai menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Pemerintahan Terpadu, Jalan Muhajirin Baru, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Kamis (15/10/2026). Massa aksi secara tegas menolak pelaksanaan Festival Morotai (Morofest) dan menyoroti berbagai permasalahan mendasar yang dinilai diabaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Koordinator Lapangan, Hasanudin Saba, […]

  • Ketua LBH Ansor Maluku Utara (kiri) dan Dasco (kanan) dalam dua momen berbeda

    Don Dasco: Pembisik Keadilan yang Mengoreksi Ketimpangan Hukum di Indonesia

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku Utara menilai langkah rehabilitasi terhadap Ira Puspadewi, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), serta abolisi terhadap Thomas Trikasih Lembong, bukan sekadar keputusan politik biasa. Keduanya adalah contoh paling baru bagaimana negara kembali mengoreksi proses hukum yang dianggap tidak selaras dengan nilai keadilan. Dan dalam dua peristiwa ini, ada […]

expand_less