Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » RADAR KAMPUS » Belajar Nasionalisme dari Etnis Tionghoa

Belajar Nasionalisme dari Etnis Tionghoa

  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • visibility 177
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Komunitas Tionghoa sangat menarik untuk dicatat karena terdapat beberapa literatur menegaskan perihal asal-muasal etnis Tionghoa di Indonesia. Etnis ini berawal dari para migran yang masuk ke nusantara ratusan tahun yang lalu. Mereka datang dengan latar belakang sejarah Tiongkok yang tua dan besar-empat ribu tahun yang lalu. Implikasinya, etnis Tionghoa yang tersebar di seluruh Asia Tenggara-bahkan dunia-masih mempunyai ikatan batin dengan negeri leluhurnya yang besar dan berpengaruh di Indonesia. Maka jangan “main-main” dengan etnis Tionghoa karena mereka telah banyak memberikan konstribusi yang luar biasa untuk kebangsaan saya, anda, dan kita semua.

Pada rezim Presiden Soeharto-masa Orde Baru, kita menyaksikan kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia yang “memusat” dan “mengecil” tidak pernah menjadi besar. Apalagi aktivitas mereka sangat “dibatasi” oleh rezim Orde Baru hanya pada bidang-bidang tertentu saja. Mereka sangat sedikit yang bergerak di bidang pertanian, kelautan, guru, dosen, pengacara, maupun politisi. Etnis Tionghoa sebagian besar terkonsentrasi kehidupannya di bidang usaha dan jasa, baik perdagangan maupun industri. Pembatasan ini memaksa etnis Tionghoa setiap hari hanya berpikir “untung dan rugi” saja-Hayya Oei Lugi. Oleh karena itu, pada masa Orde Baru paham kebangsaan dalam perspektif masyarakat etnis Tionghoa seringkali hanya diukur dengan “untung-rugi”. Kita pun kesulitan menemukan dan mengetahui sosok Tionghoa seperti Oei Tiang Tjoei, kecuali di dunia olahraga-terutama pada cabang olahraga bulutangkis pasti kita hafal orang Tionghoa yang memiliki andil besar dan mendominasi sejarah prestasi bulutangkis di Indonesia. Seperti Tan Joe huck, Rudi Hartono, Liem Swie King, dan Susi Susanti, hingga Hendra Setiawan dan Jonatan Chistie. Mereka ini adalah keturunan etnis Tionghoa yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia, membawa mental juara dan menjadikan olahraga bulutangkis sebagai cabang olahraga-cabor unggulan Indonesia di kancah internasional. Dalam kenyataan nasionalisme kebangsaan etnis Tionghoa inilah yang membuat Gus Dur ketika menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4 secara resmi mengakui Konghucu sebagai salah satu agama yang sah dan mencabut pelarangan adat istiadat etnis Tionghoa di Indonesia. Gus Dur telah mengakhiri diskriminasi yang diderita oleh etnis Tionghoa selama puluhan tahun serta memulihkan hak sipil dan kebebasan beribadah bagi umat Konghucu di Indonesia.

Pada masa reformasi ini kita perlu menegaskan kembali bahwa paham kebangsaan dan nasionalisme kita tidak lagi berlandaskan kepada perbedaan etnis, asal-muasal, bahasa bahkan agama sekalipun. Karena tidak zamannya lagi kawan. Kita juga perlu merekonstruksi bahwa paham kebangsaan dan nasionalisme dalam konteks kekinian bukan lagi mewujud dalam pengorbanan fisik menghadapi bangsa penjajah, melainkan harus diukur pada komitmen kepemimpinan kita untuk menyelesaikan peroblem kebangsaan yang telah berdampak kepada kemiskinan, dekadensi moral, kebhinnekaan, pluralisme, dan yang lainnya. Persoalannya kemudian adalah bagaimana upaya kepemimpinan kita agar menumbuhkan paham kebangsaan dan spirit nasionalisme tersebut di tengah keragaman etnis, termasuk sikap kebangsaan kita pada etnis Tionghoa di Indonesia. Maka, salah satu upaya kita untuk menumbuhkan paham kebangsaan dan nasionalisme dalam konteks masyarakat Indonesia yang penuh dengan keragaman ini dapat dilakukan dengan pendekatan nasionalisme religius etnis Tionghoa sebagai berikut.

Pertama, menanamkan prinsip pluralitas, yaitu semangat untuk hidup kompetitif di tengah keragaman bangsa dalam sebuah ikatan ukhuwwah wathaniyyah-persaudaraan sekewarganegaraan. Karena tidak satu pun agama di dunia ini yang bersikap anti pluralis. Dan konsekuensinya, masyarakat beragama yang cenderung hidup eksklusif karena alasan etnis, bahasa, agama, budaya, dan lainnya, secara otomatis orang itu telah mengingkari ajaran agamanya sendiri-pelanggaran atas Sunnatullah-kebiasaan Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa yang berlaku secara tetap dan pasti di bumi ini. Dalam kitab agama Konghucu bernama Ya Ying-Kitab Perubahan ditegaskan bahwa Tuhan sebagai Khalik Yang Maha Sempurna-Gwan menjadikan sebagai makhluk dan manusia yang mempunyai kekerabatan, ayah-Khian, ibu-Khun, anak laki-laki pertama-Cien, kedua-Kham, dan ketiga-Kien, anak perempuan pertama-Sun, anak perempuan kedua-Li dan anak perempuan ketiga-Twi. Dari delapan rangkaian-Pat Kwa itu, diciptakan enam puluh empat rangkaian lagi-Lakcap Si Kwa yang masing-masing mengandung enam unsur. Maka, dalam konteks etnis Tionghoa di Indonesia, prinsip pluralitas pernah dikuatkan dalam bentuk “Statement 10 Tokoh keturunan Tionghoa” pada tanggal 24 Maret 1960. Saat itu Mr. Auwjong Peng Koen-P.K. Ojong tahun 1920-1980, dialah yang mendirikan media Harian Kompas, mengatakan, bahwa “masalah minoritas di Indonesia hanya dapat diselesaikan dengan jalan asimiliasi sukarela dalam segala lapangan secara bebas dan aktif”.  

Kedua, menanamkan prinsip religiusitas, yakni membangun keasadaran manusia untuk memahami substansi ajaran agamanya, sehingga tercipta visi kedamaian, cinta kasih dan pemihakan atas kebenaran yang sesungguhnya. Dalam kitab Su Si-Kitab keempat agama Konghucu jilid IV Li Jien-cinta kasih ayat 10 ditegaskan, bahwa “Nabi bersabda: seorang Kuncu terhadap persoalan dunia tidak mengiyakan atau menolak mentah-mentah. Hanya kebenaranlah yang ia terima”.

Ketiga, etnis Tionghoa selalu menanamkan prinsip humanitas di Indonesia, yaitu penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan-al-insaniyyah kita dalam sebuah komunitas bangsa. Prinsip ini senantiasa mendorong kepada setiap manusia-warga bangsa untuk mengakui keragaman budaya dan tradisi di Indonesia sehingga mempunyai keterikatan untuk melestarikannya sebagai sebuah identitas individu dan karakter sebuah bangsa yang penuh dengan keragaman ini.

Dengan demikian, menurut nasionalisme religius Tionghoa bahwa ketiga prinsip di atas merupakan doktrin keagamaan yang substansinya adalah kekuatan nilai-nilai spritualitas dan moralitas yang berpotensi mampu dalam membangun rasa kebangsaan kita di tengah realitas masyarakat Indonesia yang pluralis, khususnya etnis Tionghoa yang secara riil sudah memberikan konstribusi besar untuk kebangsaan kita. Karena budaya dan tradisi etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari budaya lokal yang dapat memperkaya sekaligus memperkuat karakter budaya bangsa Indonesia. Apabila prinsip-prinsip nasionalise religius tersebut telah terpenuhi, maka secara internal bangunan bangsa ini telah kokoh. Itu berarti secara eksternal bangsa Indonesia mampu mempertahankan identitas dan eksistensinya dalam percaturan dunia global yang semakin kompetitif. Selamat memperingati hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-100 tahun-31 Januari 1926-31 Januari 2026. Satu abad NU mengabdi untuk umat, menjaga tradisi, dan merawat persatuan bangsa. Wallahu ‘alam bishshawab.

  • Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Malut
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Bajo Institut Malut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua LBH Ansor Maluku Utara (kiri) dan Dasco (kanan) dalam dua momen berbeda

    Don Dasco: Pembisik Keadilan yang Mengoreksi Ketimpangan Hukum di Indonesia

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Maluku Utara menilai langkah rehabilitasi terhadap Ira Puspadewi, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), serta abolisi terhadap Thomas Trikasih Lembong, bukan sekadar keputusan politik biasa. Keduanya adalah contoh paling baru bagaimana negara kembali mengoreksi proses hukum yang dianggap tidak selaras dengan nilai keadilan. Dan dalam dua peristiwa ini, ada […]

  • Penulis opini, source : Istimewa

    Membangun Pendidikan Berkualitas: Antara Pemenuhan Gizi dan Penguatan Fondasi Sekolah

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Diyan Dewana Jaya (Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Pendidikan sejak lama dipahami sebagai salah satu jalan utama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperkuat kemajuan bangsa. Dalam kerangka negara modern, pendidikan tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan peradaban yang maju. Namun dalam dinamika kebijakan pendidikan saat ini, muncul sejumlah pertanyaan yang […]

  • Upacara HUT RI ke-80 di Lapas Jambula, Ternate

    Bukan Sekadar Upacara! Sambutan Wakil Gubernur Malut di HUT RI ke-80: Soroti Capaian Presiden

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 657
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – TERNATE – Sambutan Wakil Gubernur Malut pada peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Lapas Jambula, Ternate, Minggu (17/8/2025), menjadi sorotan utama. Ia menyampaikan amanat Presiden RI yang menekankan capaian strategis pemerintah di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Pemerintah mencatat kinerja positif di sektor ekonomi. Indonesia tumbuh 5,12% pada kuartal II 2025. Realisasi […]

  • Anggota DPD RI Hasbi Yusuf mendesak penyelesaian proporsional konflik lahan TNI AU di Morotai guna menyeimbangkan kedaulatan negara dan hak-hak masyarakat.

    Hasbi Yusuf Desak Penyelesaian Proporsional Konflik Lahan TNI AU di Morotai

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 296
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Anggota Komite III DPD RI, Hasbi Yusuf, mengeluarkan pernyataan tegas terkait sengketa lahan menahun antara TNI Angkatan Udara (AU) dan masyarakat di Pulau Morotai. Ia mendesak agar penyelesaian konflik tersebut dilakukan secara proporsional dengan mengedepankan prinsip keadilan bagi semua pihak. Pernyataan ini disampaikan Hasbi usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) ke-II MD […]

  • Source : Istimewa

    GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah Malut Dukung Transformasi Digital Gubernur Sherly Tjoanda

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 178
    • 0Komentar

    SOFIFI (BALENGKO) – Komitmen Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda dalam mendorong transformasi digital mendapat respons positif dari organisasi kepemudaan. Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor dan PW Pemuda Muhammadiyah Maluku Utara secara resmi memberikan apresiasi atas langkah penguatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ketua […]

  • Sumber foto : Istimewa

    Tingkatkan Kompetensi Guru di Era Digital, MAN 1 Ternate Gelar MGMP Bertajuk Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 151
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Dalam upaya mewujudkan tenaga pendidik yang adaptif dan profesional, MAN 1 Ternate menggelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat Madrasah Aliyah (MA) se-Kota Ternate. Kegiatan yang mengusung tema “Implementasi Modul Ajar KBC dan Deep Learning, Mewujudkan Guru Profesional di Era Digital” ini resmi dibuka di Aula MTsN Ternate, Jumat (30/01). Acara ini […]

expand_less