Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » RADAR KAMPUS » Belajar Nasionalisme dari Etnis Tionghoa

Belajar Nasionalisme dari Etnis Tionghoa

  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • visibility 222
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Komunitas Tionghoa sangat menarik untuk dicatat karena terdapat beberapa literatur menegaskan perihal asal-muasal etnis Tionghoa di Indonesia. Etnis ini berawal dari para migran yang masuk ke nusantara ratusan tahun yang lalu. Mereka datang dengan latar belakang sejarah Tiongkok yang tua dan besar-empat ribu tahun yang lalu. Implikasinya, etnis Tionghoa yang tersebar di seluruh Asia Tenggara-bahkan dunia-masih mempunyai ikatan batin dengan negeri leluhurnya yang besar dan berpengaruh di Indonesia. Maka jangan “main-main” dengan etnis Tionghoa karena mereka telah banyak memberikan konstribusi yang luar biasa untuk kebangsaan saya, anda, dan kita semua.

Pada rezim Presiden Soeharto-masa Orde Baru, kita menyaksikan kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia yang “memusat” dan “mengecil” tidak pernah menjadi besar. Apalagi aktivitas mereka sangat “dibatasi” oleh rezim Orde Baru hanya pada bidang-bidang tertentu saja. Mereka sangat sedikit yang bergerak di bidang pertanian, kelautan, guru, dosen, pengacara, maupun politisi. Etnis Tionghoa sebagian besar terkonsentrasi kehidupannya di bidang usaha dan jasa, baik perdagangan maupun industri. Pembatasan ini memaksa etnis Tionghoa setiap hari hanya berpikir “untung dan rugi” saja-Hayya Oei Lugi. Oleh karena itu, pada masa Orde Baru paham kebangsaan dalam perspektif masyarakat etnis Tionghoa seringkali hanya diukur dengan “untung-rugi”. Kita pun kesulitan menemukan dan mengetahui sosok Tionghoa seperti Oei Tiang Tjoei, kecuali di dunia olahraga-terutama pada cabang olahraga bulutangkis pasti kita hafal orang Tionghoa yang memiliki andil besar dan mendominasi sejarah prestasi bulutangkis di Indonesia. Seperti Tan Joe huck, Rudi Hartono, Liem Swie King, dan Susi Susanti, hingga Hendra Setiawan dan Jonatan Chistie. Mereka ini adalah keturunan etnis Tionghoa yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia, membawa mental juara dan menjadikan olahraga bulutangkis sebagai cabang olahraga-cabor unggulan Indonesia di kancah internasional. Dalam kenyataan nasionalisme kebangsaan etnis Tionghoa inilah yang membuat Gus Dur ketika menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4 secara resmi mengakui Konghucu sebagai salah satu agama yang sah dan mencabut pelarangan adat istiadat etnis Tionghoa di Indonesia. Gus Dur telah mengakhiri diskriminasi yang diderita oleh etnis Tionghoa selama puluhan tahun serta memulihkan hak sipil dan kebebasan beribadah bagi umat Konghucu di Indonesia.

Pada masa reformasi ini kita perlu menegaskan kembali bahwa paham kebangsaan dan nasionalisme kita tidak lagi berlandaskan kepada perbedaan etnis, asal-muasal, bahasa bahkan agama sekalipun. Karena tidak zamannya lagi kawan. Kita juga perlu merekonstruksi bahwa paham kebangsaan dan nasionalisme dalam konteks kekinian bukan lagi mewujud dalam pengorbanan fisik menghadapi bangsa penjajah, melainkan harus diukur pada komitmen kepemimpinan kita untuk menyelesaikan peroblem kebangsaan yang telah berdampak kepada kemiskinan, dekadensi moral, kebhinnekaan, pluralisme, dan yang lainnya. Persoalannya kemudian adalah bagaimana upaya kepemimpinan kita agar menumbuhkan paham kebangsaan dan spirit nasionalisme tersebut di tengah keragaman etnis, termasuk sikap kebangsaan kita pada etnis Tionghoa di Indonesia. Maka, salah satu upaya kita untuk menumbuhkan paham kebangsaan dan nasionalisme dalam konteks masyarakat Indonesia yang penuh dengan keragaman ini dapat dilakukan dengan pendekatan nasionalisme religius etnis Tionghoa sebagai berikut.

Pertama, menanamkan prinsip pluralitas, yaitu semangat untuk hidup kompetitif di tengah keragaman bangsa dalam sebuah ikatan ukhuwwah wathaniyyah-persaudaraan sekewarganegaraan. Karena tidak satu pun agama di dunia ini yang bersikap anti pluralis. Dan konsekuensinya, masyarakat beragama yang cenderung hidup eksklusif karena alasan etnis, bahasa, agama, budaya, dan lainnya, secara otomatis orang itu telah mengingkari ajaran agamanya sendiri-pelanggaran atas Sunnatullah-kebiasaan Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa yang berlaku secara tetap dan pasti di bumi ini. Dalam kitab agama Konghucu bernama Ya Ying-Kitab Perubahan ditegaskan bahwa Tuhan sebagai Khalik Yang Maha Sempurna-Gwan menjadikan sebagai makhluk dan manusia yang mempunyai kekerabatan, ayah-Khian, ibu-Khun, anak laki-laki pertama-Cien, kedua-Kham, dan ketiga-Kien, anak perempuan pertama-Sun, anak perempuan kedua-Li dan anak perempuan ketiga-Twi. Dari delapan rangkaian-Pat Kwa itu, diciptakan enam puluh empat rangkaian lagi-Lakcap Si Kwa yang masing-masing mengandung enam unsur. Maka, dalam konteks etnis Tionghoa di Indonesia, prinsip pluralitas pernah dikuatkan dalam bentuk “Statement 10 Tokoh keturunan Tionghoa” pada tanggal 24 Maret 1960. Saat itu Mr. Auwjong Peng Koen-P.K. Ojong tahun 1920-1980, dialah yang mendirikan media Harian Kompas, mengatakan, bahwa “masalah minoritas di Indonesia hanya dapat diselesaikan dengan jalan asimiliasi sukarela dalam segala lapangan secara bebas dan aktif”.  

Kedua, menanamkan prinsip religiusitas, yakni membangun keasadaran manusia untuk memahami substansi ajaran agamanya, sehingga tercipta visi kedamaian, cinta kasih dan pemihakan atas kebenaran yang sesungguhnya. Dalam kitab Su Si-Kitab keempat agama Konghucu jilid IV Li Jien-cinta kasih ayat 10 ditegaskan, bahwa “Nabi bersabda: seorang Kuncu terhadap persoalan dunia tidak mengiyakan atau menolak mentah-mentah. Hanya kebenaranlah yang ia terima”.

Ketiga, etnis Tionghoa selalu menanamkan prinsip humanitas di Indonesia, yaitu penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan-al-insaniyyah kita dalam sebuah komunitas bangsa. Prinsip ini senantiasa mendorong kepada setiap manusia-warga bangsa untuk mengakui keragaman budaya dan tradisi di Indonesia sehingga mempunyai keterikatan untuk melestarikannya sebagai sebuah identitas individu dan karakter sebuah bangsa yang penuh dengan keragaman ini.

Dengan demikian, menurut nasionalisme religius Tionghoa bahwa ketiga prinsip di atas merupakan doktrin keagamaan yang substansinya adalah kekuatan nilai-nilai spritualitas dan moralitas yang berpotensi mampu dalam membangun rasa kebangsaan kita di tengah realitas masyarakat Indonesia yang pluralis, khususnya etnis Tionghoa yang secara riil sudah memberikan konstribusi besar untuk kebangsaan kita. Karena budaya dan tradisi etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari budaya lokal yang dapat memperkaya sekaligus memperkuat karakter budaya bangsa Indonesia. Apabila prinsip-prinsip nasionalise religius tersebut telah terpenuhi, maka secara internal bangunan bangsa ini telah kokoh. Itu berarti secara eksternal bangsa Indonesia mampu mempertahankan identitas dan eksistensinya dalam percaturan dunia global yang semakin kompetitif. Selamat memperingati hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-100 tahun-31 Januari 1926-31 Januari 2026. Satu abad NU mengabdi untuk umat, menjaga tradisi, dan merawat persatuan bangsa. Wallahu ‘alam bishshawab.

  • Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Malut
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Bajo Institut Malut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Darurat Abrasi di Koloray: Jarak Rumah ke Pantai Tinggal 4 Meter

    Darurat Abrasi di Koloray: Jarak Rumah ke Pantai Tinggal 4 Meter

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Jainudin Naba
    • visibility 432
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Desa Koloray di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, menghadapi ancaman serius akibat abrasi pantai yang terus menggerus daratan. Kondisi ini tidak hanya mengancam infrastruktur pemukiman, tetapi juga berpotensi menghilangkan sumber air bersih bagi sekitar 600 jiwa penduduk setempat. Berdasarkan pantauan, bangunan penahan ombak (breakwater) yang sebelumnya dibangun melalui Program Nasional […]

  • bendera-one-piece

    Tanggapan Nakama Ternate soal Bendera One Piece

    • calendar_month Minggu, 3 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.289
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE – Polemik terkait pengibaran bendera Bajak Laut Mugiwara dari serial anime One Piece tengah menjadi sorotan di berbagai platform media sosial. Sejumlah pihak menilai tindakan tersebut tidak pantas, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai ekspresi kultural anak muda. Menanggapi hal itu, redaksi mewawancarai ketua Komunitas Nakama Ternate, Ariyo Dermawan atau akrab disapa Are. […]

  • Menteri Koperasi Ferry Juliantono saat menerima kunjungan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) di Jakarta (21/1). Kemenkop kini tengah melakukan transformasi besar-besaran, mulai dari digitalisasi data hingga perubahan strategi komunikasi agar koperasi lebih diminati anak muda sebagai badan usaha yang profitabel dan kekinian. Sumber Foto: JMSI

    Bikin Koperasi Jadi “Cool”, Menteri Ferry Juliantono Rangkul Milenial dan Gen Z Masuk Ekosistem Koperasi Merah Putih

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 269
    • 0Komentar

    JAKARTA (BALENGKO), 22 Januari 2026 – Citra koperasi yang selama ini dianggap “jadul” kini sedang dirombak total. Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan komitmennya untuk mengubah strategi komunikasi kementerian agar lebih relevan dengan gaya hidup anak muda, khususnya kelompok Milenial dan Gen Z. Hal ini disampaikan Menkop Ferry saat menerima kunjungan Jaringan Media Siber Indonesia […]

  • Nelayan dan Petani di Tengah Gempuran Industri: Menakar Keadilan Sosial di Maluku Utara

    Nelayan dan Petani di Tengah Gempuran Industri: Menakar Keadilan Sosial di Maluku Utara

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Muhammad Asmar Joma
    • visibility 989
    • 0Komentar

    Maluku Utara negeri di pingran bibir pasifik diberkahi laut dan tanah yang subur, namun ironis terbesar hari ini di depan mata bukanlah kemiskinan, kelaparan, melainkan penghiyanatan terhadap sumber daya penghidupan kita. Atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi, kebijakan publik telah mengadaikan hak-hak nelayan dan petani kepada korporasi tambang yang rakus dan acuh terhadap keadilan ekologi.  […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe memimpin upacara penurunan bendera HUT RI ke-80 di Sofifi

    Suasana Penuh Nasionalisme, Wagub Maluku Utara Pimpin Penurunan Bendera di Sofifi

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 581
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – SOFIFI, Minggu (17/8/2025) – Wakil Gubernur Maluku Utara KH. Sarbin Sehe memimpin langsung upacara penurunan bendera dalam rangka peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Prosesi berlangsung di halaman Kantor Gubernur Sofifi pukul 17.30 WIT dengan suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Forkopimda dan Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara hadir mendampingi jalannya upacara.  Kehadiran […]

  • Mobil terbakar dalam aksi solidaritas Yogyakarta menuntut keadilan untuk Affan Kurniawan.

    Yogyakarta Membara: Ribuan Massa Tuntut Keadilan untuk Affan Kurniawan

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 633
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA — Massa menggelar aksi solidaritas di Yogyakarta pada Jumat (29/8/2025) untuk merespons meninggalnya Affan Kurniawan. Dari amatan redaksi Balengko Space di lapangan sekitar Pkl. 18.00 WIB , terlihat satu unit mobil yang diduga milik kepolisian terbakar di depan Markas Polda DIY. Aksi yang dilakukan hari ini sebagai bentuk protes atas tewasnya Affan, […]

expand_less