Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » RADAR KAMPUS » Belajar Nasionalisme dari Etnis Tionghoa

Belajar Nasionalisme dari Etnis Tionghoa

  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • visibility 147
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Komunitas Tionghoa sangat menarik untuk dicatat karena terdapat beberapa literatur menegaskan perihal asal-muasal etnis Tionghoa di Indonesia. Etnis ini berawal dari para migran yang masuk ke nusantara ratusan tahun yang lalu. Mereka datang dengan latar belakang sejarah Tiongkok yang tua dan besar-empat ribu tahun yang lalu. Implikasinya, etnis Tionghoa yang tersebar di seluruh Asia Tenggara-bahkan dunia-masih mempunyai ikatan batin dengan negeri leluhurnya yang besar dan berpengaruh di Indonesia. Maka jangan “main-main” dengan etnis Tionghoa karena mereka telah banyak memberikan konstribusi yang luar biasa untuk kebangsaan saya, anda, dan kita semua.

Pada rezim Presiden Soeharto-masa Orde Baru, kita menyaksikan kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia yang “memusat” dan “mengecil” tidak pernah menjadi besar. Apalagi aktivitas mereka sangat “dibatasi” oleh rezim Orde Baru hanya pada bidang-bidang tertentu saja. Mereka sangat sedikit yang bergerak di bidang pertanian, kelautan, guru, dosen, pengacara, maupun politisi. Etnis Tionghoa sebagian besar terkonsentrasi kehidupannya di bidang usaha dan jasa, baik perdagangan maupun industri. Pembatasan ini memaksa etnis Tionghoa setiap hari hanya berpikir “untung dan rugi” saja-Hayya Oei Lugi. Oleh karena itu, pada masa Orde Baru paham kebangsaan dalam perspektif masyarakat etnis Tionghoa seringkali hanya diukur dengan “untung-rugi”. Kita pun kesulitan menemukan dan mengetahui sosok Tionghoa seperti Oei Tiang Tjoei, kecuali di dunia olahraga-terutama pada cabang olahraga bulutangkis pasti kita hafal orang Tionghoa yang memiliki andil besar dan mendominasi sejarah prestasi bulutangkis di Indonesia. Seperti Tan Joe huck, Rudi Hartono, Liem Swie King, dan Susi Susanti, hingga Hendra Setiawan dan Jonatan Chistie. Mereka ini adalah keturunan etnis Tionghoa yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia, membawa mental juara dan menjadikan olahraga bulutangkis sebagai cabang olahraga-cabor unggulan Indonesia di kancah internasional. Dalam kenyataan nasionalisme kebangsaan etnis Tionghoa inilah yang membuat Gus Dur ketika menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4 secara resmi mengakui Konghucu sebagai salah satu agama yang sah dan mencabut pelarangan adat istiadat etnis Tionghoa di Indonesia. Gus Dur telah mengakhiri diskriminasi yang diderita oleh etnis Tionghoa selama puluhan tahun serta memulihkan hak sipil dan kebebasan beribadah bagi umat Konghucu di Indonesia.

Pada masa reformasi ini kita perlu menegaskan kembali bahwa paham kebangsaan dan nasionalisme kita tidak lagi berlandaskan kepada perbedaan etnis, asal-muasal, bahasa bahkan agama sekalipun. Karena tidak zamannya lagi kawan. Kita juga perlu merekonstruksi bahwa paham kebangsaan dan nasionalisme dalam konteks kekinian bukan lagi mewujud dalam pengorbanan fisik menghadapi bangsa penjajah, melainkan harus diukur pada komitmen kepemimpinan kita untuk menyelesaikan peroblem kebangsaan yang telah berdampak kepada kemiskinan, dekadensi moral, kebhinnekaan, pluralisme, dan yang lainnya. Persoalannya kemudian adalah bagaimana upaya kepemimpinan kita agar menumbuhkan paham kebangsaan dan spirit nasionalisme tersebut di tengah keragaman etnis, termasuk sikap kebangsaan kita pada etnis Tionghoa di Indonesia. Maka, salah satu upaya kita untuk menumbuhkan paham kebangsaan dan nasionalisme dalam konteks masyarakat Indonesia yang penuh dengan keragaman ini dapat dilakukan dengan pendekatan nasionalisme religius etnis Tionghoa sebagai berikut.

Pertama, menanamkan prinsip pluralitas, yaitu semangat untuk hidup kompetitif di tengah keragaman bangsa dalam sebuah ikatan ukhuwwah wathaniyyah-persaudaraan sekewarganegaraan. Karena tidak satu pun agama di dunia ini yang bersikap anti pluralis. Dan konsekuensinya, masyarakat beragama yang cenderung hidup eksklusif karena alasan etnis, bahasa, agama, budaya, dan lainnya, secara otomatis orang itu telah mengingkari ajaran agamanya sendiri-pelanggaran atas Sunnatullah-kebiasaan Allah Swt Tuhan Yang Maha Kuasa yang berlaku secara tetap dan pasti di bumi ini. Dalam kitab agama Konghucu bernama Ya Ying-Kitab Perubahan ditegaskan bahwa Tuhan sebagai Khalik Yang Maha Sempurna-Gwan menjadikan sebagai makhluk dan manusia yang mempunyai kekerabatan, ayah-Khian, ibu-Khun, anak laki-laki pertama-Cien, kedua-Kham, dan ketiga-Kien, anak perempuan pertama-Sun, anak perempuan kedua-Li dan anak perempuan ketiga-Twi. Dari delapan rangkaian-Pat Kwa itu, diciptakan enam puluh empat rangkaian lagi-Lakcap Si Kwa yang masing-masing mengandung enam unsur. Maka, dalam konteks etnis Tionghoa di Indonesia, prinsip pluralitas pernah dikuatkan dalam bentuk “Statement 10 Tokoh keturunan Tionghoa” pada tanggal 24 Maret 1960. Saat itu Mr. Auwjong Peng Koen-P.K. Ojong tahun 1920-1980, dialah yang mendirikan media Harian Kompas, mengatakan, bahwa “masalah minoritas di Indonesia hanya dapat diselesaikan dengan jalan asimiliasi sukarela dalam segala lapangan secara bebas dan aktif”.  

Kedua, menanamkan prinsip religiusitas, yakni membangun keasadaran manusia untuk memahami substansi ajaran agamanya, sehingga tercipta visi kedamaian, cinta kasih dan pemihakan atas kebenaran yang sesungguhnya. Dalam kitab Su Si-Kitab keempat agama Konghucu jilid IV Li Jien-cinta kasih ayat 10 ditegaskan, bahwa “Nabi bersabda: seorang Kuncu terhadap persoalan dunia tidak mengiyakan atau menolak mentah-mentah. Hanya kebenaranlah yang ia terima”.

Ketiga, etnis Tionghoa selalu menanamkan prinsip humanitas di Indonesia, yaitu penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan-al-insaniyyah kita dalam sebuah komunitas bangsa. Prinsip ini senantiasa mendorong kepada setiap manusia-warga bangsa untuk mengakui keragaman budaya dan tradisi di Indonesia sehingga mempunyai keterikatan untuk melestarikannya sebagai sebuah identitas individu dan karakter sebuah bangsa yang penuh dengan keragaman ini.

Dengan demikian, menurut nasionalisme religius Tionghoa bahwa ketiga prinsip di atas merupakan doktrin keagamaan yang substansinya adalah kekuatan nilai-nilai spritualitas dan moralitas yang berpotensi mampu dalam membangun rasa kebangsaan kita di tengah realitas masyarakat Indonesia yang pluralis, khususnya etnis Tionghoa yang secara riil sudah memberikan konstribusi besar untuk kebangsaan kita. Karena budaya dan tradisi etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari budaya lokal yang dapat memperkaya sekaligus memperkuat karakter budaya bangsa Indonesia. Apabila prinsip-prinsip nasionalise religius tersebut telah terpenuhi, maka secara internal bangunan bangsa ini telah kokoh. Itu berarti secara eksternal bangsa Indonesia mampu mempertahankan identitas dan eksistensinya dalam percaturan dunia global yang semakin kompetitif. Selamat memperingati hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-100 tahun-31 Januari 1926-31 Januari 2026. Satu abad NU mengabdi untuk umat, menjaga tradisi, dan merawat persatuan bangsa. Wallahu ‘alam bishshawab.

  • Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Direktur Bajo Institut Malut
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Bajo Institut Malut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Zulfikran Bailussy, Ketua LBH Ansor Ternate, membantah larangan pejabat publik memimpin HIPMI

    Ketua LBH Ansor Ternate: Tidak Ada Larangan Pejabat Publik Jadi Ketua HIPMI

    • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 825
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) – Praktisi hukum sekaligus Ketua LBH Ansor Kota Ternate, Zulfikran Bailussy, SH, membantah pernyataan yang menyebut Wakil Bupati Pulau Morotai, Rio C. Pawane, harus mundur dari jabatannya jika ingin maju sebagai Ketua Umum HIPMI Maluku Utara. Menurut Zulfikran, penafsiran yang menyebut pejabat publik dilarang memimpin HIPMI adalah keliru. Berdasarkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga […]

  • Expo Fishum Uniera 2026: Langkah Awal Menuju Produk Lokal Berdaya Saing

    Expo Fishum Uniera 2026: Langkah Awal Menuju Produk Lokal Berdaya Saing

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Muzijad Mandea
    • visibility 340
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum), Universitas Halmahera (Uniera) sukses menyelenggarakan malam pembukaan Festival Fishum Expo 2026. Acara tersebut berlangsung meriah di BUMDES desa Gotalamo Morotai Selatan, pada Jumat, (1/5/2026) malam. Mengusung tema “Dari Kampus untuk Masyarakat, Motivasi, Inovasi, dan Inspirasi”, rangkain kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pentingnya menciptakan produk loka yang […]

  • Akreditasi Prodi PWK UNUTARA oleh BAN-PT di Fakultas Sains dan Teknologi

    UNUTARA Laksanakan Akreditasi Prodi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota oleh BAN-PT

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Mursid
    • visibility 1.488
    • 0Komentar

    Ternate (Balengko Space) – Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) melaksanakan Akreditasi Program Studi (Prodi) S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) pada 29–30 September 2025 di Ruang Rapat Fakultas Sains dan Teknologi UNUTARA. Kegiatan ini dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Turut hadir dalam agenda akreditasi, Wakil Rektor I UNUTARA, Sunaidin Ode Mulae, […]

  • Source : Istimewa

    MOROTAI: PULAU YANG TERLUPAKAN MENJADI PUSAT GEOPOLITIK ASIA PASIFIK

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Fahri Sibua Magister Akuntansi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Pulau Morotai, yang terletak di Kepulauan Maluku Utara, Indonesia, dulunya hanya dikenal dalam konteks sejarah Perang Dunia II sebagai tempat bertempur bagi pasukan Sekutu dan Jepang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Morotai mulai menarik perhatian dunia. Dari pulau yang terlupakan, kini ia bertransformasi menjadi pusat geopolitik yang semakin relevan, terutama di kawasan Asia Pasifik. Dengan […]

  • Pertemuan antara Ketua PW GP Ansor Maluku Utara Syarif Abdullah dan Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Waris Agono di ruang kerja Kapolda, membahas penguatan sinergi dan kolaborasi dalam menjaga keamanan dan semangat kebangsaan di Maluku Utara.

    Silaturahmi Penuh Keakraban, GP Ansor Maluku Utara Mantapkan Kolaborasi dengan Kapolda

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Sofifi (BALENGKO) — Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Maluku Utara melakukan silaturahmi dengan Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si., di ruang kerja Kapolda, Kamis (13/11/2025). Ketua PW GP Ansor Maluku Utara, Syarif Abdullah, hadir bersama sejumlah pengurus wilayah. Rombongan disambut langsung oleh Kapolda Maluku Utara dalam suasana penuh keakraban dan […]

  • Santri Dafater Sabet Banyak Juara di STQH Kota Ternate 2025, Bukti Konsistensi dan Ketekunan

    Santri Dafater Sabet Banyak Juara di STQH Kota Ternate 2025, Bukti Konsistensi dan Ketekunan

    • calendar_month Selasa, 22 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Ternate – Santri Pondok Pesantren Darul Falah Ternate (Dafater) kembali membuktikan kualitas mereka dalam ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) XVIII tingkat Kota Ternate yang berlangsung pada 17–21 April 2025. Mereka tampil gemilang di cabang Hifdzul Hadits, baik kategori 500 hadits maupun 100 hadits dengan sanad. Di cabang 500 hadits, M. Nasrullah Kadir berhasil […]

expand_less