Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

Dunia Tanpa Rem: Geopolitik Sebagai Arena Kekuasaan

  • calendar_month 14 jam yang lalu
  • visibility 26
  • comment 0 komentar

Tatanan dunia bekerja seperti mesin besar yang kehilangan tuas pengaman. Roda-roda ekonomi, teknologi, dan militer berputar semakin cepat, sementara sistem pengendali justru haus oleh kepentingan sempit. Ketika rem institusional melemah, geopolitik berubah dari mekanisme stabilisasi menjadi arena uji nyali para pemegang kuasa.

Pada awal 2026, dunia tidak sekadar menghadapi krisis, tetapi memasuki fase baru: krisis sebagai modus operandi politik global. Perang, tarif, sanksi, teknologi, dan iklim tidak lagi berdiri sebagai isu terpisah, melainkan saling menguatkan dalam satu ekosistem ketidakpastian. Dunia tampak bergerak, tetapi tanpa rem institusional yang memadai. Dalam lanskap ini, geopolitik tidak lagi sekadar alat diplomasi, melainkan telah berubah menjadi arena uji coba kekuasaan.

Laporan Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum (WEF) menempatkan geoeconomic confrontation sebagai risiko paling besar yang dapat memicu krisis global dalam jangka pendek, dipilih oleh 18 persen responden ahli. Risiko ini mengungguli konflik bersenjata antarnegara dan cuaca ekstrem. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa dunia sedang bergerak menuju “multipolar or fragmented order” di mana kerja sama multilateral melemah dan logika persaingan mendominasi tata kelola global.

Perang di Ukraina yang berlarut, konflik di Sudan, dan rapuhnya gencatan senjata di Gaza menunjukkan bahwa konflik bersenjata telah menjadi bagian dari “keseharian geopolitik”. Dalam konteks ini, geopolitik tidak lagi berfungsi sebagai instrumen stabilisasi, melainkan sebagai mekanisme demonstrasi kekuasaan.

WEF mencatat bahwa 68 persen pakar global memprediksi tatanan dunia yang semakin terfragmentasi dalam satu dekade ke depan. Fragmentasi ini bukan sekadar perbedaan ideologi, tetapi menyentuh rantai pasok, teknologi, energi, dan sistem keuangan. Dunia tidak hanya terbelah, tetapi terpecah dalam blok-blok kepentingan yang saling mencurigai.

Seperti dikatakan dalam ringkasan WEF, “Multilateralism is in retreat.” Penurunan kepercayaan, meningkatnya proteksionisme, dan politisasi perdagangan telah membuat konflik ekonomi menjadi bentuk baru dari konflik geopolitik.

Ekonomi kini bukan lagi ruang netral pertumbuhan, melainkan medan tempur baru. World Bank memperkirakan pertumbuhan global hanya sekitar 2,6 persen pada 2026, menjadikan dekade 2020-an sebagai dekade pertumbuhan terlemah sejak 1960-an. Sekitar satu dari empat negara berkembang masih lebih miskin dibandingkan sebelum pandemi 2019.

Kepala Ekonom World Bank, Indermit Gill, sebelumnya memperingatkan bahwa “outside of Asia, the developing world is becoming a development-free zone.” Pernyataan ini bukan sekadar alarm ekonomi, melainkan sinyal politik: ketimpangan pembangunan akan memperbesar potensi instabilitas dan konflik di masa depan.

Proteksionisme, tarif, dan sanksi tidak lagi dipandang sebagai kebijakan sementara, tetapi sebagai strategi permanen. Dalam konteks ini, ekonomi berfungsi sebagai alat koersif, bukan sekadar instrumen kesejahteraan. Negara tidak hanya bersaing, tetapi berusaha melemahkan satu sama lain melalui pembatasan perdagangan, kontrol teknologi, dan tekanan finansial.

Teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), mempercepat pergeseran ini. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa investasi AI menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan global, terutama di Amerika Serikat. Namun, IMF juga memperingatkan bahwa optimisme berlebihan terhadap AI dapat menciptakan risiko sistemik baru.

Lebih jauh, riset akademik menunjukkan bahwa AI telah menjadi faktor geopolitik. Studi “Generative AI as a Geopolitical Factor in Industry 5.0” menegaskan bahwa AI kini berfungsi sebagai aset strategis negara, setara dengan energi dan militer. Penulis menyatakan bahwa “countries compete for AI supremacy, reshaping global power hierarchies and accelerating fragmentation of the digital economy.”

Dalam konteks ini, dominasi AI bukan hanya soal efisiensi, tetapi soal kontrol. Siapa yang menguasai komputasi, data, dan chip semikonduktor, menguasai arah ekonomi dan keamanan masa depan. Geopolitik tidak lagi hanya soal wilayah, tetapi juga soal algoritma.

WEF dan berbagai lembaga internasional juga menempatkan disinformasi berbasis AI sebagai ancaman serius terhadap stabilitas sosial dan demokrasi. Disinformasi tidak lagi bersifat sporadis, tetapi sistematis dan terindustrialisasi. Ia menjadi bagian dari strategi geopolitik untuk melemahkan kepercayaan publik, mendeligitimasi pemilu, dan memecah masyarakat.

Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, perang tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang informasi. Kekuasaan tidak lagi hanya diukur dari tank dan misil, tetapi dari kemampuan membentuk persepsi.

Ironisnya, di tengah eskalasi konflik dan kompetisi, krisis iklim justru tergeser dari prioritas jangka pendek. WEF mencatat bahwa hanya 8 persen responden yang menempatkan cuaca ekstrem sebagai risiko utama pemicu krisis pada 2026, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dalam horizon jangka panjang, risiko lingkungan tetap mendominasi.

Artinya, dunia sedang mengorbankan masa depan demi stabilitas jangka pendek yang semu. Ketika negara sibuk mengelola konflik geopolitik, krisis iklim berjalan tanpa negosiasi. Banjir, badai, dan gagal panen tidak menunggu kesepakatan diplomatik.

Jika disusun secara deduktif, kita melihat satu pola besar:

  1. Multilateralisme melemah.
  2. Ekonomi dan teknologi dipersenjatai
  3. Konflik menjadi kronis, bukan insidental.
  4. Krisis iklim tersisih oleh logika kekuasaan.

Secara induktif, dari kasus Ukraina, Gaza, perang dagang, perang chip, hingga politisasi AI, muncul satu kesimpulan: geopolitik global bergerak tanpa rem normatif yang efektif. Hukum internasional, lembaga multilateral, dan etika global tertinggal di belakang kecepatan konflik dan teknologi.

Dunia 2026 bukan hanya dunia yang bergejolak, tetapi dunia yang mulai menormalisasi gejolak. Ketika geopolitik berubah menjadi arena uji coba kekuasaan, risiko terbesar bukan hanya perang atau krisis ekonomi, tetapi hilangnya batas moral dan institusional yang selama ini menjadi rem peradaban.

Tanpa revitalisasi multilateralisme, penguatan tata kelola AI, dan komitmen serius pada krisis iklim, dunia berisiko memasuki era di mana kekuasaan menjadi satu-satunya bahasa. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas bukan lagi tujuan bersama, melainkan sekadar efek samping dari siapa yang paling kuat.

Dan dalam dunia tanpa rem, yang melaju bukan hanya negara-negara besar, tetapi juga risiko global yang suatu saat akan menabrak semua pihak, tanpa memandang blok, ideologi, atau kekuatan.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balangeko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sahur On The Road Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta – Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar

    Sahur On The Road Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta – Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar

    • calendar_month Sel, 11 Mar 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Yogyakarta, 9 Maret 2025 – Himpunan Mahasiswa Lampung Universitas Alma Ata Yogyakarta menggelar kegiatan Sahur On The Road pada Minggu, 9 Maret 2025. Acara ini berlangsung dari pukul 02.00 WIB hingga 05.00 WIB, dengan tema “Kilometer Kebaikan: Langkah Kecil Arti Besar”. Acara ini bertujuan membagikan sahur kepada masyarakat Yogyakarta, khususnya kaum […]

  • PMII DAN FIQIH SOSIAL PERJUDIAN DI INDONESIA

    PMII DAN FIQIH SOSIAL PERJUDIAN DI INDONESIA

    • calendar_month Ming, 20 Apr 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 565
    • 0Komentar

    Perjudian online dan offline kini menjadi salah satu bidikan utama pemerintah Republik Indonesia belakangan ini. Dan tampaknya gerakan anti perjudian online dan offline berhubungan erat dengan gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebenarnya, rezim pemerintah saat ini hendak menunjukkan komitmennya yang goodwill (memiliki nilai tambah) untuk mempercepat good government atau untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan […]

  • Sumber foto : Istimewa

    Jasri Usman Kembali Pimpin PKB Malut: Melanjutkan Tradisi Kemenangan di Bumi Moloku Kieraha

    • calendar_month Ming, 25 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 317
    • 0Komentar

    MOROTAI (BALENGKO), 25 JANUARI 2026 – Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Pulau Morotai secara resmi menyatakan dukungan penuh atas ditetapkannya kembali Jasri Usman sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Provinsi Maluku Utara untuk periode 2026-2031. Keputusan ini disampaikan menyusul penetapan struktur baru Dewan Syura dan Dewan Tanfidz DPW PKB Maluku […]

  • Bela 11 Masyarakat Adat Maba Sangaji, LBH Ansor Susun Nota Keberatan dan Siap Ajukan Amicus Curiae

    Bela 11 Masyarakat Adat Maba Sangaji, LBH Ansor Susun Nota Keberatan dan Siap Ajukan Amicus Curiae

    • calendar_month Sel, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 417
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE, 29 Juli 2025 — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Ternate menyampaikan sikap solidaritas dan keprihatinan atas proses hukum yang menimpa 11 warga adat Maba Sangaji, Kabupaten Halmahera Timur, serta seorang aktivis Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Kota Ternate. Mereka saat ini tengah diproses secara hukum terkait aksi penolakan […]

  • PESAWAT LION AIR GAGAL MENDARAT DI YOGYAKARTA AKIBAT CUACA BURUK, DIALIHKAN KE SURABAYA

    PESAWAT LION AIR GAGAL MENDARAT DI YOGYAKARTA AKIBAT CUACA BURUK, DIALIHKAN KE SURABAYA

    • calendar_month Ming, 13 Apr 2025
    • account_circle Balengko Space
    • visibility 552
    • 0Komentar

    Yogyakarta, Minggu (13/4/2025) – Sebuah pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 634 rute Makassar–Yogyakarta yang terbang pada Sabtu, 12 April 2025, gagal mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) akibat cuaca buruk. Pesawat sempat berputar-putar selama beberapa menit di atas wilayah Yogyakarta sembari menunggu cuaca membaik. Namun, kondisi cuaca yang tak kunjung stabil membuat pilot […]

  • Sumber foto : Istimewa

    Tiga Kampus Besar di Maluku Utara Gelar Sparing Debat Hukum, Bahas 21 Isu Strategis Nasional

    • calendar_month Sab, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 194
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Tiga lembaga debat hukum dari universitas terkemuka di Provinsi Maluku Utara sukses menggelar kolaborasi akbar bertajuk “Sparing Debat Hukum 2026”. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, 15–19 Januari 2026 ini, bertujuan untuk mencetak generasi muda yang kritis dan peka terhadap dinamika ketatanegaraan nasional. Kolaborasi ini melibatkan tiga organisasi kemahasiswaan, yakni Centre for […]

expand_less