Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dari Iman ke Revolusi: Palestina sebagai Simbol Perlawanan Global

Dari Iman ke Revolusi: Palestina sebagai Simbol Perlawanan Global

  • calendar_month Senin, 14 Apr 2025
  • visibility 1.436
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Di tengah gempuran Israel dan dukungan sekutunya, Palestina berdiri di tanah yang diduduki sebagai simbol yang pantang menyerah. Sebuah cerminan dari perjuangan yang dilakukan oleh Palestina sebagai gerakan perlawanan melawan penindasan dan ketidakadilan, ini bukan hanya konflik politik dan teritorial tetapi simbol yang melampaui semua itu. Semangat revolusioner merembes ke dalam jiwa dalam setiap gerakan perjuangan melawan penindasan dan hegemoni global. Jika dilihat secara radikal, Palestina tidak hanya memicu perlawanan fisik tetapi juga menginspirasi nilai-nilai Islam sebagai kompas moral yang membimbing iman, yang bukan sekadar dogma tetapi ajaran agama yang tetap teguh bahkan dalam kesulitan.

Palestina bukan hanya wilayah yang dijajah, juga bukan hanya tanah yang telah direbut, sebaliknya, itu adalah luka yang terus melekat di hati setiap individu yang memahami arti perjuangan. Palestina telah menjadi pusat revolusi di permukaan dunia, sebuah keyakinan yang bukan hanya masalah spiritualitas tetapi telah menjadi bahan bakar untuk revolusi yang tak kenal lelah. Iman bukan hanya keyakinan pribadi yang menghubungkan dunia spiritual dan dunia nyata tetapi lebih dari itu. Iman adalah kekuatan pendorong yang secara kolektif memotivasi jutaan orang Palestina untuk berjuang, bertahan, dan berjuang melawan ketidakadilan yang berkepanjangan.

Hasan Hanafi, dalam “Akidah ke Revolusi” memberikan peringatan keras bahwa agama dan iman tidak boleh menjadi alat tunduk pada tirani sebaliknya, agama dan iman harus menjadi kekuatan revolusioner dalam membebaskan berhala yang merebut jiwa. Sistem kepercayaan harus berubah menjadi kekuatan politik yang mendorong perubahan sosial yang nyata.

Sebagai simbol perlawanan global, Palestina menunjukkan bahwa keyakinan dan yang mendalam pada prinsip-prinsip moral yang tinggi dapat menjadi kekuatan yang luar biasa dalam menggulingkan penindasan dan memperjuangkan kebebasan dan keadilan di dunia. Untuk memahami revolusi perlawanan Palestina dari nilai-nilai Islam yang telah menjadi ideologi perlawanan yang berakar pada agama (Aqidah) hingga perjuangan revolusioner yang lebih luas, perlu diperiksa bagaimana unsur agama dan politik berinteraksi dalam konteks konflik yang sedang berlangsung di Palestina. Kompleksitas identitas Palestina, dikombinasikan dengan ketidakadilan historis yang dialami selama beberapa dekade, sangat penting untuk mengkonseptualisasikan Palestina sebagai simbol perlawanan global terhadap penindasan, terutama dalam perjuangannya melawan kolonialisme dan militerisasi Israil dan sekutunya Amerika Serikat.

Perlawanan selalu teradi di Palestina dengan narasi agama yang sebagian besar didasarkan pada pandangan Islam. Relevansi agama dari situs-situs seperti Al-Quds (Yerusalem) telah menjadi penentu utama identitas dan perlawanan Palestina. Perjuangan untuk melestarikan tempat-tempat suci ini tidak hanya bersifat budaya tetapi juga terletak dalam kerangka teologis yang lebih besar di mana pelestarian tradisi agama seseorang dianggap sebagai kewajiban ilahi (Nasie and Bar‐Tal 2012; Rock‐Singer 2024). Seperti yang ditekankan dalam literatur yang menghubungkan keyakinan agama dengan sentimen nasional di kalangan pemuda dan komunitas Palestina, kerangka Iman ini yang pada dasarnya merupakan aspek kunci dari ajaran agama telah menjadi penting dalam memotivasi tindakan kelompok.

Selain itu, cara media menyajikan subjek agama ini telah berubah drastis. Analisis komparatif sumber media Palestina oleh (Awais 2024), mengungkapkan betapa berbedanya mereka meliput perlawanan. Menekankan konsep kewajiban agama, televisi Palestina mempromosikan pentingnya melestarikan tempat-tempat suci dan bangsa itu sendiri. Ini bukan hanya pernyataan afiliasi tetapi juga seruan untuk mobilisasi politik yang lebih luas, sehingga menunjukkan bahwa konsep agama terkait erat dengan perjuangan nasional.

Beberapa kegiatan kelompok-kelompok Palestina membantu menunjukkan pergeseran dari perspektif perlawanan yang dibentuk oleh agama ke sikap revolusioner yang lebih berfokus pada politik. Faktor lokal dan global jelas mempengaruhi strategi yang digunakan oleh kelompok-kelompok seperti Hamas, yang awalnya menggabungkan retorika agama dengan aksi militan, menjadi semakin canggih secara politik (Alsoos 2021). Gerakan ini mewakili kesadaran akan perlunya beradaptasi dalam lingkungan sosial-politik yang sangat kompleks di mana sentimen lokal dan internasional secara signifikan memengaruhi perilaku. Penekanan dari narasi perlawanan ini adalah konsekuensi sosio-psikologis dari peperangan berkepanjangan, yang telah mengakibatkan perubahan signifikan dalam identitas masyarakat dan mekanisme penanggulangan.

Pada akhirnya perjalanan dari Akidah menuju cita-cita revolusioner mencerminkan permadani keyakinan, ingatan kolektif, dan strategi adaptif yang kompleks yang terjalin melalui perjuangan selama beberapa dekade. Interaksi yang kompleks ini menyoroti semangat tangguh rakyat Palestina, yang terus mencari keadilan, pengakuan, dan kedaulatan di dunia yang seringkali acuh tak acuh terhadap penderitaan mereka. Dengan demikian, Palestina tetap menjadi simbol perlawanan global yang kuat, mewujudkan perjuangan yang lebih besar untuk martabat dan hak-hak melawan kekuatan zionis  dan penindasan.

Identitas kolektif dan agensi politik perempuan Palestina menggambarkan lapisan lain dalam perjuangan ini, di mana suara perempuan secara signifikan berkontribusi pada narasi perlawanan. Saat mereka terlibat secara mendalam dalam aktivisme lokal dan wacana internasional, perempuan menantang peran tradisional sambil mendefinisikan ulang perlawanan melalui lensa feminis (Thakore 2022).

Secara radikal ingin saya katakan perlawanan Palestina bukan hanya tentang pembebasan tanah dan hak atas negara mereka tetapi pembebasan jiwa yang secara fundamamental bertentangan dengan penjajahan yang menghancurkan martabat manusia. Saya kira ini alasan mengapa perjuangan Palestina tidak hanya  dipahami sebagai tuntutan politik. Perlawann Palestina adalah eksperesi keinginan untuk hidup dalam kebenaran yang sesuai dengan ajaran agama, yaitu keadilan, kebebasan dan kesetaraan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, nilai-nilai inilah yang saat ini rampas oleh kekuatan global yang berkuasa.

Secara keseluruhan akidah berfungsi sebagai kekuatan revolusioner yang menggerakkan perjuangan Palestina. Perjuangan yang didorong oleh akidah bukan hanya sekadar upaya merebut kembali tanah, tetapi lebih jauh lagi bahwa sebuah perjuangan untuk membebaskan umat manusia dari penjajahan yang lebih mendalam penjajahan terhadap martabat manusia. Akidah adalah dasar dari revolusi sosial yang melawan ketidakadilan.

*Doa Tangisan dan Perlawanan*

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Panitia Konfercab II NU Kota Tidore Kepulauan, Jafar Noh Idrus, saat memimpin rapat persiapan jelang pelaksanaan Konfercab NU, Jumat (19/12/2025).

    Jelang Konfercab NU II, Jafar Serukan Penghijauan dan Konsolidasi NU di Kota Tidore

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) — H-1 menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) ke-II Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tidore Kepulauan, Ketua Panitia, Jafar Noh Idrus, menyerukan kepada seluruh Badan Otonom (Banom) NU agar wajib hadir dan berpartisipasi aktif dalam agenda lima tahunan tersebut. Hal itu disampaikan Jafar saat ditemui awak media di sela-sela rapat persiapan panitia, Jumat (19/12/2025). Menurut […]

  • BIROKRASI ALA SHERLY TJOANDA LAOS

    BIROKRASI ALA SHERLY TJOANDA LAOS

    • calendar_month Kamis, 13 Mar 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 986
    • 1Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Oleh: Fahrul Abd. MuidPenulis adalah Dosen IAIN Ternate dan Peneliti Media Gerbong Nusantara Dentuman reformasi birokrasi ala Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos menjadi “tahiyyat awal” untuk memulai akan membereskan manajemen tata kelola pemerintahan Provinsi Maluku Utara hari ini yang wajib hukumnya berdasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, aksesibilitas, efektif dan efisien […]

  • Ketua Panitia Konfercab NU ke II Kota Tidore Kepulauan, Jafar Noh Idrus (tengah), bersama Ketua Wilayah NU Kiai Amar Manaf (kanan) saat pembukaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) ke II di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025).

    Konfercab NU Ke II Tidore Kepulauan Resmi Digelar, Teguhkan Peran NU Bangun Peradaban Dunia

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 472
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) ke II Kota Tidore Kepulauan resmi digelar di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Meneguhkan Eksistensi NU Dalam Membangun Peradaban Dunia”. Konfercab menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama dalam memilih kepemimpinan baru sekaligus membentuk kepengurusan yang solid untuk […]

  • Oleh: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut

    Menggugat “Rektornya Rektor”: Menanti Fajar Baru Kepemimpinan Visioner.

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Ada fenomena aneh tapi nyata kawan pada rezim kepemimpinan Rektorat di IAIN Ternate saat ini. Memang ada Rektor, Wakil Rektor satu, dua, dan tiga. Namun, ada jabatan yang lebih tinggi dari seorang Rektor dan sangat besar pengaruhnya dalam mengambil sebuah kebijakan strategis tapi sangat menyebalkan. Jabatan itu diistilah dengan “Rektornya Rektor” di IAIN Ternate yang […]

  • PKB Pulau Taliabu Apresiasi Terpilihnya Muhajrin Bailusy sebagai Ketua PW IKA PMII Maluku Utara, Sosok Visioner dan Perekat Alumni

    PKB Pulau Taliabu Apresiasi Terpilihnya Muhajrin Bailusy sebagai Ketua PW IKA PMII Maluku Utara, Sosok Visioner dan Perekat Alumni

    • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
    • account_circle Mursid
    • visibility 496
    • 0Komentar

    Pulau Taliabu (BALENGKO), — Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Pulau Taliabu menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Ketua DPC PKB Kota Ternate, Sahabat Muhajrin Bailusy, yang secara resmi terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Provinsi Maluku Utara periode 2025–2030. Ucapan ini disampaikan langsung […]

  • Silaturahmi Geninusa Maluku Utara bersama Wakil Gubernur KH. Sarbin Sehe membahas dukungan wirausaha santri di Ternate

    Geninusa Maluku Utara Gandeng Wakil Gubernur untuk Perkuat Ekonomi Santri

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 998
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE, 11 Agustus 2025 — Pengurus Wilayah Gerakan Santripreneur Nusantara (Geninusa) Maluku Utara mengunjungi Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, di kediamannya. Dalam pertemuan tersebut, mereka resmi meminta KH. Sarbin Sehe menjadi pembina Geninusa Maluku Utara. KH. Sarbin Sehe menerima kedatangan pengurus di kediaman wagub. Ia menegaskan bahwa wirausaha dapat menjadi motor […]

expand_less