Diterjang Ombak Besar, Tanggul Penahan Abrasi di Desa Awanggoa Rusak Parah, Rumah Warga Terancam Ambruk
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 97
- comment 0 komentar
- print Cetak

Struktur tanggul penahan abrasi di pesisir Desa Awanggoa, Kecamatan Bacan, Halmahera Selatan, yang ambruk total usai diterjang gelombang pasang berjam-jam. (Foto: Dok. Istimewa)
BALENGKO SPACE, BACAN – Infrastruktur pelindung pesisir di Kabupaten Halmahera Selatan kembali lumpuh akibat anomali cuaca. Tanggul (swering) penahan abrasi yang membentang di sepanjang bibir pantai Desa Awanggoa, Kecamatan Bacan, dilaporkan mengalami kerusakan struktural yang sangat parah usai diterjang gelombang laut ekstrem pada Senin (06/07/2026) lalu.
Hantaman ombak yang berlangsung maraton sejak pukul 04.00 hingga 12.00 WIT tersebut membuat sebagian besar konstruksi beton tanggul hancur dan runtuh. Akibatnya, benteng pemecah ombak tersebut kini kehilangan fungsinya untuk menahan laju abrasi yang terus menggerus garis pantai desa.
Situasi ini memicu kecemasan mendalam di kalangan masyarakat setempat. Pasalnya, pasca-runtuhnya tanggul, rembetan gelombang laut kini merangsek naik kian dekat ke arah kawasan pemukiman padat. Sejumlah unit rumah warga yang berdiri di perimeter terdepan pantai dilaporkan sudah dalam kondisi kritis dan terancam ambruk tergerus ombak.
Pemerintah Desa Terkendala Anggaran, Hanya Mampu Bertahan 4 Hari
Sebagai langkah mitigasi kedaruratan, Pemerintah Desa Awanggoa bersama puluhan warga setempat bergotong royong membangun barikade darurat. Menggunakan material seadanya seperti pasak kayu yang ditanam manual di sepanjang pesisir serta tumpukan karung berisi pasir, mereka berusaha meredam daya rusak hantaman ombak.
Namun, langkah tersebut dinilai sangat tidak memadai dan hanya bersifat temporal. Kepala Desa Awanggoa, Ahmad Taher, mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) menjadi tembok penghalang utama bagi pihak desa untuk melakukan restorasi tanggul secara permanen.
“Anggaran desa tidak mencukupi untuk membangun kembali tanggul yang rusak. Saat ini kami hanya mampu melakukan penanganan sementara menggunakan kayu dan karung berisi pasir. Namun, upaya itu hanya mampu bertahan sekitar empat hari. Kami sangat khawatir apabila kondisi ini tidak segera ditangani, gelombang laut akan menghancurkan rumah-rumah warga yang berada di sepanjang pesisir,” keluh Ahmad Taher.
Ahmad menambahkan, perwakilan anggota DPRD Halmahera Selatan sebenarnya sudah turun ke lapangan untuk meninjau langsung skala kerusakan visual di lokasi. Pihak desa pun menaruh harapan besar agar potret kedaruratan ini segera direspons kolektif oleh otoritas yang lebih tinggi.
Jalan Utama Mulai Terkikis, Pemuda Desak Respon Cepat
Desakan penanganan instan juga disuarakan oleh elemen kepemudaan Desa Awanggoa. Sandi Abuang, salah seorang tokoh pemuda setempat, memaparkan bahwa dampak kerusakan di lapangan sudah memasuki fase mengkhawatirkan. Selain menyasar area hunian, terjangan air laut mulai mengikis struktur badan jalan utama yang posisinya tepat berada di depan pemukiman warga.
“Kami berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul ini sebelum kerusakannya semakin parah. Jangan menunggu sampai lebih banyak rumah warga dan jalan rusak akibat abrasi. Minimal ada penanganan darurat terlebih dahulu, seperti pemasangan tumpukan batu pelindung (batu gajah) atau penahan ombak lainnya agar hantaman gelombang dapat dikurangi sambil menunggu pembangunan tanggul permanen,” tegas Sandi.
Warga Awanggoa kini mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan serta Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk segera mengucurkan dana darurat guna membangun kembali sistem penahan abrasi yang representatif demi menyelamatkan infrastruktur ruang hidup di wilayah pesisir Bacan.
(BS/Red)
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Sandi Abuang

Saat ini belum ada komentar