Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » RADAR KAMPUS » GEMPUR Yogyakarta Desak Kapolri Copot Kapolda Malut dan Kapolres Halteng

GEMPUR Yogyakarta Desak Kapolri Copot Kapolda Malut dan Kapolres Halteng

  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 42
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

BALENGKOSPACE.COM, YOGYAKARTA – Gelombang perlawanan atas lambannya penegakan hukum dan dugaan represivitas aparat di Maluku Utara menggema hingga ke Kota Pelajar. Aliansi Generasi Muda Kepulauan Rempah (GEMPUR) D.I. Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolda DIY, Selasa (29/09/2026).

Massa yang terdiri dari mahasiswa, pemuda asal Maluku Utara, unsur Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPM), serta jaringan gerakan Mahasiswa di Yogyakarta mendesak Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo untuk segera mencopot Kapolda Maluku Utara, Kapolres Halmahera Tengah (Halteng), dan Kapolsek Patani dari jabatannya.

Aksi sempat diwarnai pembakaran ban dan ketegangan dengan aparat kepolisian saat massa menuntut pihak Polda DIY menemui mereka secara langsung untuk menerima dokumen tuntutan resmi.

Kematian Ali Daud dan Dugaan Kambing Hitam

Aksi GEMPUR Yogyakarta ini dipicu oleh ketidakjelasan penanganan kasus kematian tragis Alm. Ali Daud, mantan Kepala Desa sekaligus Imam Desa Banemo, Kecamatan Patani Barat Halteng, yang ditemukan tewas dengan luka senjata tajam di kawasan hutan Desa Bobane Jaya pada 2 April 2026 lalu.

Setelah kurang lebih enam bulan berjalan, Konferensi Pers Polda Malut pada Kamis (24/09/2026) justru mengumumkan belum berhasil mengungkap identitas pelaku. Kondisi ini dinilai memperlihatkan lambannya kinerja kepolisian di daerah.

“Enam bulan rakyat menunggu, yang datang hanya konferensi pers. Kami menghormati asas praduga tak bersalah, tetapi Polda tidak boleh terburu-buru mempersempit ruang terduga pelaku dan menjadikan komunitas tertentu sebagai kambing hitam,” tegas Koordinator Aksi GEMPUR D.I. Yogyakarta, Faturahman Djaguna, dalam orasinya.

Massa aksi GEMPUR D.I. Yogyakarta membakar ban di depan Mapolda DIY mendesak pencopotan Kapolda Malut dan Kapolres Halteng, Selasa (29/9/2026). (Foto: Dok. Istimewa/Balengkospace.com)

Kecam Penangkapan Subuh dan Represivitas di Desa Banemo

GEMPUR menilai pembiaran dan lambannya penanganan hukum kasus tersebut menjadi pemicu konflik horizontal antara warga Desa Banemo dan Sibenpopo yang memakan korban jiwa serta perusakan rumah. Padahal, kedua pihak telah sepakat berdamai secara kekeluargaan sembari menghormati proses hukum.

Namun, perdamaian tersebut dicoreng oleh aksi penangkapan paksa oleh aparat sekitar pada pukul 03.00 WIT dini hari di Desa Banemo. Tindakan ini memicu kericuhan yang mengakibatkan kurang lebih empat warga terluka, serta paparan gas air mata di pemukiman yang membuat bayi dan lansia mengalami sesak napas.

“Penangkapan subuh saat warga tidur adalah bentuk arogansi institusi dan penanganan massa yang jauh dari pendekatan kemanusiaan. Ini berpotensi melanggar hak asasi manusia,” tambah Fatur.

Selain itu, GEMPUR menyoroti maraknya kasus pembunuhan di kawasan hutan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur yang berkelindan erat dengan masifnya ekspansi industri pertambangan di dua wilayah tersebut.

Enam Tuntutan Sikap GEMPUR D.I. Yogyakarta

Dalam penyataan sikapnya, GEMPUR Yogyakarta menyampaikan enam tuntutan utama kepada Kapolri:

  1. Mencopot Kapolda Maluku Utara.
  2. Memecat Kapolres Halmahera Tengah.
  3. Memecat Kapolsek Patani.
  4. Negara bertanggung jawab mewujudkan keamanan dan kenyamanan di kawasan hutan Halmahera.
  5. Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, dan DPRD Halmahera Tengah bertanggung jawab atas peristiwa berdarah di Halmahera Tengah.
  6. Kapolda D.I. Yogyakarta menerima dan meneruskan dokumen tuntutan ke Mabes Polri, serta melaporkan tindak lanjutnya kepada Koordinator Umum dalam waktu 5×24 jam.

GEMPUR menegaskan akan kembali mendatangi Polda D.I. Yogyakarta dengan eskalasi massa yang lebih besar jika tuntutan tersebut diabaikan.

“Kami tidak sedang mencari kambing hitam, kami mencari kebenaran. Kebenaran tidak boleh mati di hutan, dan keadilan tidak boleh tidur di meja kekuasaan,” pukas Faturahman Djaguna.

(BS/Red)

  • Penulis: Redaksi Balengko Space
  • Editor: Redaksi Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BELANDA, RIWAYATMU DULU

    BELANDA, RIWAYATMU DULU

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 1.351
    • 0Komentar

    Ketika saya merasa penasaran dengan Universitas Leiden di Belanda, maka saya memutuskan harus menyempatkan diri saya untuk berkunjung ke sana. Saya berangkat dari Kota Amsterdam menggunakan kereta-Listrik dan kemudian saya harus turun di stasiun kereta Listrik di Kota Leiden. Dari stasiun itu, kemudian saya berjalan kaki yang jaraknya lumayan jauh untuk sampai ke Universitas Leiden. […]

  • Ketua PW IKA PMII Maluku Utara, Muhajirin Bailussy, bersama jajaran pengurus saat melakukan audiensi dengan Bupati Halmahera Selatan.

    Bupati Halsel Terima Audiensi PW IKA PMII Maluku Utara, Bahas Peran Strategis Alumni dalam Pembangunan Daerah

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 566
    • 0Komentar

    Labuha (BALENGKO) — Bupati Kabupaten Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, secara resmi menerima audiensi Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Provinsi Maluku Utara di ruang kerja Bupati, Rabu (3/12/2025). Rombongan PW IKA PMII Malut dipimpin oleh Ketua Wilayah Muhajirin Bailussy, didampingi Sekretaris Wilayah Rahdi Anwar, Ketua PC IKA PMII […]

  • palestina

    Ketika Gaza Berpuasa di Tengah Reruntuhan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Oleh: Muhammad Muzijad Mandea, S.Pd Ketua Literasi Pasifik Morotai
    • visibility 593
    • 0Komentar

    Tragedi kemanusiaan di Palestina merupakan konflik berkepanjangan yang telah berlangsung sejak akhir abad ke-19 hingga abad ke-21. Konflik ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di dunia yang telah menelan ribuan korban jiwa. Di antara korban tersebut, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan dan paling banyak terdampak. Genosida yang dilakukan oleh Zionis Israel tidak hanya […]

  • Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair: Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma

    Dari Krisis Global Menuju Modernitas Cair: Membaca Zygmunt Bauman di Era Perang dan Algoritma

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Subhan Samsudin
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Dua dekade pertama abad ke-21 memperlihatkan dunia yang bergerak dalam ketidakpastian yang nyaris konstan. Perang tidak lagi menjadi peristiwa yang jarang terjadi, melainkan hadir sebagai latar belakang berita harian.

  • DOB Kabupaten Kepulauan Obi: Masyarakat Joronga Desak Integrasi Demi Pembangunan

    DOB Kabupaten Kepulauan Obi: Masyarakat Joronga Desak Integrasi Demi Pembangunan

    • calendar_month Minggu, 27 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 557
    • 0Komentar

    Ternate, 27 April 2025 – Fahrul Abd Muid (Direktur Bajo Institut Maluku Utara) dan Rahim Yasim (Mantan Staf Khusus Bupati Halmahera Selatan) mendesak pemerintah memasukkan Kecamatan Kepulauan Joronga ke dalam Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Kepulauan Obi. Mereka menilai, integrasi ini akan mempercepat pembangunan dan mempermudah pelayanan publik bagi warga Joronga. Fahrul menegaskan, jarak geografis Joronga lebih dekat ke Obi daripada ke pusat […]

  • Rempah Legendaris dari Timur: Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Kenal Buah Pala

    Rempah Legendaris dari Timur: Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Kenal Buah Pala

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.208
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE- Buah pala, tanaman endemik asli Indonesia Timur, buah dengan nama latin Myristica fragrans tumbuh subur di wilayah seperti Ternate, Banda, Sulawesi, hingga Papua. Sejak abad ke-6, rempah ini telah dikenal hingga Byzantium, berjarak 12.000 kilometer dari Banda. Pada tahun 1000 M, Ibnu Sina, seorang dokter Persia, menulis tentang “jansi ban” atau “kacang dari […]

expand_less