JEJAK KAKI MORO: Antara Mitos, Konstruksi Historis, dan Dekonstruksi Stigma
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 67
- comment 0 komentar
- print Cetak

Muhammad Muzijad Mandea - Ketua Literasi Pasifik Morotai. (Source Istimewa)
Indonesia dipenuhi keragaman etnis yang tak jarang menyisakan ruang-ruang gaib dan misteri dalam memori kolektif masyarakatnya. Di Maluku Utara, khususnya Pulau Morotai dan Halmahera Utara, nama “Suku Moro” menduduki posisi yang unik sekaligus ambivalen. Bagi sebagian warga tempatan, Orang Moro dipercayai sebagai kelompok manusia gaib yang menghuni dimensi berlainan bertempat tinggal di ceruk batu besar, bertindak sebagai penunggu kawasan, serta memiliki karakter dualis: ada yang dermawan, ada pula yang dipercayai jahat.
Namun, jika diskursus ini ditarik keluar dari batas-batas narasi mistik tempatan, muncul pertanyaan fundamental: Apakah ketidaktampakan Orang Moro merupakan fenomena metafisika mutlak, ataukah sejatinya bentuk “penggaiban sosial” akibat trauma sejarah dan dinamika geopolitik masa lalu yang kompleks?
Pengalaman tutur masyarakat tempatan mengenai Moro senantiasa diwarnai pengalaman numinosum atau keajaiban lokal. Warga sering mengisahkan insiden hilangnya seseorang ke “alam lain” (seperti narasi Nenek Tun di Morotai) hingga terdengarnya gema azan misterius dari batu-batu besar di pedalaman kebun. Begitu pula mitos bahwa aset peninggalan Perang Dunia II seperti amfibi tempur Sekutu tidak dapat dipindahkan atau direnovasi tanpa “komunikasi dan kesepakatan” bersama penghuni Moro.
Secara kognitif dan fenomologis, suara azan atau bunyi-bunyi di tengah hutan pedalaman kerap terjadi akibat pemantulan gelombang suara oleh dinamika angin dan pemandangan akustik alam. Namun, mengapa masyarakat menghubungkannya dengan Moro?
Menggunakan pendekatan Sosiologi Memori Kolektif (Maurice Halbwachs), mitos dan keajaiban semacam ini sejatinya merupakan cara masyarakat lokal merawat kenangan traumatik masa lalu yang tersimpan dalam ruang ekologis (spatial memory). Fenomena keajaiban Moro dan penolakan pergeseran artefak sejarah memperlihatkan hubungan spiritual-ekologis: masyarakat tempatan memproyeksikan negosiasi kultural dan perlindungan terhadap ruang hidup serta peninggalan sejarah mereka melalui figur “Moro” yang keramat.
Secara historis, “Moro” bukanlah identitas gaib sejak awal berdiri. Berdasarkan penelitian sejarawan M. Adnan Amal dalam Halmahera dan Raja Ampat (2007), cikal bakal keberadaan kelompok Moro di Halmahera dan sekitarnya bermula dari gelombang eksodus penduduk yang menghindari pusaran konflik geopolitik dan dinamika pemerintahan di wilayah Halmahera Barat pada rentang 1250–1534. Para migran ini menyebar ke berbagai wilayah pesisir dan pedalaman, termasuk kawasan Mamuya.
Dalam perkembangannya, terbentuklah komunitas yang dikenal sebagai Kerajaan Moro yang menguasai wilayah pesisir timur Halmahera Utara dan kepulauan sekitarnya. Pembagian wilayahnya secara kultural dan geografis terbagi menjadi dua: pertama Morotia: Wilayah daratan utama (mainland) Halmahera, yang ke dua Morotai: Wilayah kepulauan/pesisir laut.
Kerajaan Moro pada abad ke-15 hingga ke-16 dikenal sebagai salah satu lumbung pangan dan komoditas penting di Maluku Utara. Penduduk Moro dikenal mahir mengolah hasil bumi seperti sagu, padi, ubi, serta menjadi nelayan dan pemburu yang tangguh.
Puncak krisis eksistensial Orang Moro terjadi ketika Maluku Utara menjadi episentrum kontestasi global memperebutkan rempah-rempah pada abad ke-16. Sebagai wilayah yang kaya sumber daya, keberadaan komunitas Moro kerap terimbas oleh pergeseran peta kekuasaan regional dan kewajiban kontribusi pangan dalam sistem feodalisme zaman itu.
Situasi semakin rumit ketika imperium Barat khususnya bangsa Portugis dan Spanyol masuk dengan strategi divide et impera (adu domba). Misionaris Portugis seperti Fransiskus Xaverius memanfaatkan kerentanan sosial-politik ini dengan melakukan pembaptisan massal warga Moro di Mamuya dan Sugala. Langkah Portugis ini bukan sekadar misi keagamaan, melainkan kalkulasi geopolitik untuk menanamkan pengaruh dan memecah tatanan integritas wilayah di Maluku Utara.
Akibat dari manipulasi dan persaingan sengit antara kekuatan asing dengan kerajaan-kerajaan lokal saat itu, komunitas Moro berada dalam posisi yang sangat rentan dan terjepit di tengah pusaran perang saudara dan imperialis.
Menggunakan pendekatan Orientalisme dan Konstruksi Identitas Edward Said, sebutan Moro sendiri mengandung beban stereotip Barat. Istilah ini diturunkan dari kata Moor yang digunakan Bangsa Spanyol dan Portugis untuk merujuk kelompok populasi asing atau berseberangan dengan mereka sebagai “orang-orang liar atau berbahaya”.
Terdesak oleh eskalasi konflik berdarah dan intervensi asing yang mengancam keselamatan jiwa, sebagian besar warga Moro mengambil strategi bertahan hidup yang ekstrem: melarikan diri dan mengisolasi diri sepenuhnya ke dalam rimba pedalaman, gua-gua, dan benteng batu. Berjalannya waktu dan keterasingan yang panjang inilah yang perlahan mengaburkan keberadaan fisik mereka dari dunia luar.
Dari penelusuran di atas, dapat disimpulkan bahwa “gaibnya” Suku Moro bukan semata-mata fenomena mistis belaka. Dalam perspektif antropologi politik, hilangnya jejak fisik Suku Moro merupakan sebuah proses “penggaiban sosial”: bentuk perlindungan diri dari suatu komunitas akibat tekanan konflik geopolitik dan penetrasi destruktif kolonialisme Barat di masa lalu.
Narasi-narasi lokal seperti gema azan dari ceruk batu, pergeseran artefak peninggalan perang yang tertahan, hingga batas alam gaib adalah perisai budaya sekaligus benteng memori traumatik yang diwariskan antar-generasi.
Sebagai wacana esai yang terbuka, keberadaan Suku Moro memanggil para peneliti, akademisi, dan generasi muda untuk melakukan kajian arkeologis serta historiografis yang lebih komprehensif, objektif, dan berimbang. Memahami Moro dengan jernih berarti menghargai kembali kompleksitas sejarah Maluku Utara yang kaya tanpa harus terbelenggu oleh stigma kolonial maupun prasangka masa lalu.
- Penulis: Muh. Muzijad Mandea - Ketua Literasi Pasifik Morotai.
- Editor: Redaksi BS

Saat ini belum ada komentar