Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 281
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Bayangkan sebuah kota yang setiap senjanya dipenuhi gema adzan, tetapi di saat yang sama langitnya diterangi bukan oleh cahaya magrib, melainkan kilatan ledakan. Analogi ini bukan sekadar retorika puitis, melainkan realitas yang masih terjadi di sejumlah wilayah dunia Islam. 

Ketika suara adzan berkumandang memanggil umat menuju ketenangan spiritual, sebagian saudara seiman justru menyambutnya dengan kecemasan, kehilangan, dan ketidakpastian. Di titik inilah makna Ramadhan diuji: apakah ia sekadar ritual tahunan, atau energi moral yang mampu menjawab krisis kemanusiaan dan perpecahan global umat?

Secara teologis, Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs – proses penyucian diri. Namun dalam konteks sosial-politik abad ke-21, Ramadan juga menjadi cermin retak wajah dunia Islam. Data dari berbagai laporan kemanusiaan internasional menunjukkan bahwa sebagian konflik bersenjata global dalam dua dekade terakhir terjadi di kawasan mayoritas Muslim. 

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Afrika Utara, hingga sebagian Asia Selatan bukan hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga fragmentasi sosial dan krisis identitas kolektif.

Menurut laporan UNHCR (2023), lebih dari 40% populasi pengungsi dunia berasal dari negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah potret luka struktural.

Dalam perspektif sosiologi agama, Ramadan memiliki dimensi kolektif yang kuat. Émile Durkheim menyebut ritual keagamaan sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial. Dalam Islam, puasa tidak hanya membangun relasi vertikal (hablum minallah), tetapi juga relasi horizontal (hablum minannas). 

Ironisnya, di saat umat menahan lapar dan haus sebagai simbol empati terhadap kaum miskin, ketimpangan ekonomi di banyak negara Muslim justru semakin melebar. World Inequality Report (2022) mencatat bahwa kesenjangan pendapatan di sejumlah negara Timur Tengah termasuk yang tertinggi secara global. Ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah spirit Ramadhan telah tereduksi menjadi simbol individual, tanpa transformasi struktural?

Pemikir Iran, Ali Shariati, pernah menegaskan bahwa Islam bukan agama pelarian spiritual, melainkan ideologi pembebasan. 

Dalam karyanya Religion versus Religion, ia mengkritik bentuk keberagamaan yang pasif dan tidak berpihak pada kaum tertindas. Jika merujuk pada Shariati, maka Ramadan seharusnya menjadi momentum revolusi kesadaran—bukan revolusi bersenjata, melainkan revolusi moral dan sosial. 

Puasa melatih kontrol diri, tetapi juga menuntut keberpihakan pada keadilan. Dalam konteks negeri konflik, pesan ini menjadi sangat relevan: ibadah tanpa advokasi kemanusiaan berisiko menjadi formalitas kosong.

Senada dengan itu, Hasan Hanafi melalui proyek Kiri Islam (al-Yasar al-Islami) mendorong reinterpretasi teks agama agar berpihak pada realitas sosial. Ia menekankan pentingnya pembacaan kontekstual terhadap wahyu, sehingga agama tidak terjebak pada romantisme masa lalu. 

Ramadan, dalam kacamata Hanafi, bukan sekadar peringatan turunnya Al-Qur’an, tetapi ajakan untuk membaca ulang realitas dengan semangat keadilan. Ketika dunia Islam terbelah oleh konflik politik dan sektarian, tafsir progresif terhadap nilai persaudaraan (ukhuwah) menjadi mendesak.

Sementara itu, Murtadha Mutahhari menekankan dimensi rasionalitas dalam Islam. Dalam berbagai ceramahnya, ia menjelaskan bahwa ibadah harus melahirkan kesadaran etis dan intelektual. 

Puasa bukan hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga mendidik akal untuk membedakan antara kepentingan egoistik dan maslahat kolektif. Dalam masyarakat yang terfragmentasi oleh konflik ideologi dan politik, pendekatan rasional dan etis Mutahhari menawarkan jembatan dialog.

Namun realitas menunjukkan bahwa perpecahan umat sering kali dipicu oleh politik identitas, perebutan kekuasaan, dan intervensi geopolitik global. Studi dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah menjadi salah satu wilayah dengan belanja militer tertinggi per kapita di dunia. Ketika anggaran pertahanan meningkat, anggaran pendidikan dan kesejahteraan di beberapa negara justru stagnan. Kontras ini memperlihatkan paradoks: Ramadan mengajarkan kesederhanaan, tetapi sistem global sering mendorong kompetisi kekuatan.

Dalam konteks globalisasi digital, Ramadan juga mengalami transformasi. Media sosial memperlihatkan dua wajah: solidaritas dan polarisasi. Di satu sisi, kampanye donasi daring selama Ramadan meningkat signifikan. 

Platform crowdfunding melaporkan lonjakan donasi hingga 30-50% selama bulan suci. Di sisi lain, algoritma media sosial sering memperkuat narasi kebencian dan sektarianisme. Ini menjadi tantangan baru: bagaimana menjadikan ruang digital sebagai sarana memperkuat ukhuwah, bukan memperdalam jurang perpecahan?

Secara demografis, Pew Research Center (2017) memproyeksikan bahwa populasi Muslim dunia akan mencapai hampir 30% populasi global pada 2050. Potensi demografis ini seharusnya menjadi kekuatan moral dan intelektual. Namun tanpa persatuan visi dan tata kelola yang baik, potensi tersebut dapat berubah menjadi beban konflik internal. Ramadan seharusnya menjadi titik temu—bulan ketika perbedaan mazhab, etnis, dan nasionalitas melebur dalam satu pengalaman spiritual kolektif.

Dalam bahasa yang lebih santai, bisa dikatakan bahwa Ramadhan adalah “charging station” spiritual umat. Tetapi baterai yang terisi penuh tidak ada gunanya jika tidak digunakan untuk menerangi ruang gelap ketidakadilan. Ketika adzan bersahut di negeri konflik, ia bukan hanya panggilan salat, melainkan alarm moral. Ia mengingatkan bahwa iman tanpa aksi sosial adalah setengah jalan.

Dari perspektif ekonomi-politik, penguatan solidaritas intra-umat dapat dimulai dari optimalisasi zakat dan wakaf produktif. Laporan Islamic Development Bank menunjukkan bahwa potensi zakat global mencapai ratusan miliar dolar per tahun, namun realisasi dan distribusinya masih jauh dari optimal. Jika dikelola secara transparan dan profesional, instrumen ini dapat menjadi solusi konkret mengurangi kemiskinan dan dampak konflik.

Akhirnya, makna Ramadhan bagi dunia Islam yang terbelah terletak pada kemampuannya mentransformasi kesalehan individu menjadi kesadaran kolektif. Mengutip Shariati, “Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala,” yang secara simbolik berarti bahwa perjuangan melawan ketidakadilan selalu relevan. 

Dalam konteks Ramadan, setiap adzan di negeri konflik adalah pengingat bahwa spiritualitas sejati menuntut keberanian moral.

Dengan demikian, Ramadan bukan sekadar bulan ritual, tetapi momentum refleksi geopolitik dan etika global. Dunia Islam mungkin terbelah oleh batas negara, ideologi, dan kepentingan politik, tetapi ia tetap disatukan oleh satu kalender lunar yang sama. 

Ketika adzan bersahut, ia melampaui batas geografis. Ia menghubungkan umat dalam satu irama waktu. Pertanyaannya bukan lagi apakah Ramadan relevan, tetapi apakah umat siap menjadikannya fondasi rekonsiliasi, keadilan, dan kebangkitan peradaban.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balengco

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota DPD RI Hasbi Yusuf mendesak penyelesaian proporsional konflik lahan TNI AU di Morotai guna menyeimbangkan kedaulatan negara dan hak-hak masyarakat.

    Hasbi Yusuf Desak Penyelesaian Proporsional Konflik Lahan TNI AU di Morotai

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 361
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Anggota Komite III DPD RI, Hasbi Yusuf, mengeluarkan pernyataan tegas terkait sengketa lahan menahun antara TNI Angkatan Udara (AU) dan masyarakat di Pulau Morotai. Ia mendesak agar penyelesaian konflik tersebut dilakukan secara proporsional dengan mengedepankan prinsip keadilan bagi semua pihak. Pernyataan ini disampaikan Hasbi usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) ke-II MD […]

  • Vozinha Selangkah Lagi Gabung Colo Colo Usai Tampil Gemilang di Piala Dunia

    Usai Jadi Sorotan Dunia, Vozinha Kini Bersiap Memulai Petualangan Baru di Colo Colo

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 115
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Kiper berusia 40 tahun asal Tanjung Verde itu dikabarkan akan terbang ke Cile akhir pekan ini untuk menjalani tes medis sebelum merampungkan kepindahannya ke Colo Colo. Sebelumnya, negosiasi sempat berjalan alot karena pihak Vozinha menolak tawaran awal. Namun, setelah mengajukan proposal balasan, kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan. Nama Vozinha melambung setelah […]

  • Pernyataan sikap AJI Yogyakarta dan Persma se DIY terkait pernyataan londo ireng Prabowo

    Sebut Jurnalis ‘Londo Ireng’, Presiden Prabowo Dikecam Koalisi AJI Yogyakarta dan Persma se-D.I.Yogyakarta

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 176
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Gelombang protes keras melayang kepada Presiden Prabowo Subianto pascapidatonya dalam peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Kamis (23/07/2026). Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta bersama Koalisi Pers Mahasiswa (Persma) se-DIY mengecam penggunaan istilah “londo ireng” yang dialamatkan kepada wartawan, jurnalis, pengamat, serta organisasi masyarakat sipil. Melalui pernyataan resmi pada […]

  • Simon Tahamata: Darah Maluku yang Bersinar di Eropa, Kini Pimpin Pencarian Bakat Timnas Indonesia

    Simon Tahamata: Darah Maluku yang Bersinar di Eropa, Kini Pimpin Pencarian Bakat Timnas Indonesia

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 438
    • 0Komentar

    Indonesia Timur telah lama dikenal sebagai lumbung talenta sepak bola. Bakat-bakat besar seperti Boaz Solossa, Yance dan Yakob Sayuri, hingga Ilham Udin Armayin mewarnai era 2000-an dan seterusnya. Namun, jauh sebelum itu bahkan sebelum sepak bola Indonesia diramaikan oleh nama-nama muda dari Timur telah lahir seorang legenda yang bersinar terang di panggung Eropa: Simon Melkianus […]

  • Sambut Bulan Bahasa 2026: Himabin FKIP Unkhair Siapkan Rangkaian Lomba hingga Malam Refleksi

    Sambut Bulan Bahasa 2026: Himabin FKIP Unkhair Siapkan Rangkaian Lomba hingga Malam Refleksi

    • calendar_month 6 jam yang lalu
    • account_circle Muh. Muzijad Mandea
    • visibility 124
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, TERNATE — Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Himabin) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun (Unkhair) kembali bersiap menyemarakkan peringatan Bulan Bahasa 2026. Mengusung tema besar “Menakar Eksistensi Bahasa dan Sastra di Era Kontemporer: Membaca Zaman, Merawat Identitas, dan Menghidupkan Literasi”, rangkaian kegiatan ini dijadwalkan berlangsung meriah mulai tanggal 21 hingga […]

  • Wagub Maluku Utara Sarbin Sehe melepas kontingen Pramuka Maluku Utara menuju Kemah Pramuka Berkebutuhan Khusus Nasional 2025 di Cibubur

    Wagub Maluku Utara Lepas Kontingen Pramuka Berkebutuhan Khusus ke Kemah Nasional 2025

    • calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 552
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Wakil Gubernur Maluku Utara, KH. Sarbin Sehe, melepas secara resmi 19 kontingen Pramuka Maluku Utara untuk mengikuti Kemah Pramuka Berkebutuhan Khusus (KPBK) Nasional 2025 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur, pada 13–19 Agustus 2025. Acara pelepasan berlangsung di Syamatira Caffe, Selasa (12/8/25) Dalam sambutannya, Sarbin menegaskan bahwa gerakan pramuka […]

expand_less