Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

Ketika Adzan Bersahut di Negeri Konflik: Makna Ramadhan Bagi Dunia Islam Yang Terbelah

  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 136
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Bayangkan sebuah kota yang setiap senjanya dipenuhi gema adzan, tetapi di saat yang sama langitnya diterangi bukan oleh cahaya magrib, melainkan kilatan ledakan. Analogi ini bukan sekadar retorika puitis, melainkan realitas yang masih terjadi di sejumlah wilayah dunia Islam. 

Ketika suara adzan berkumandang memanggil umat menuju ketenangan spiritual, sebagian saudara seiman justru menyambutnya dengan kecemasan, kehilangan, dan ketidakpastian. Di titik inilah makna Ramadhan diuji: apakah ia sekadar ritual tahunan, atau energi moral yang mampu menjawab krisis kemanusiaan dan perpecahan global umat?

Secara teologis, Ramadhan adalah bulan tazkiyatun nafs – proses penyucian diri. Namun dalam konteks sosial-politik abad ke-21, Ramadan juga menjadi cermin retak wajah dunia Islam. Data dari berbagai laporan kemanusiaan internasional menunjukkan bahwa sebagian konflik bersenjata global dalam dua dekade terakhir terjadi di kawasan mayoritas Muslim. 

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Afrika Utara, hingga sebagian Asia Selatan bukan hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga fragmentasi sosial dan krisis identitas kolektif.

Menurut laporan UNHCR (2023), lebih dari 40% populasi pengungsi dunia berasal dari negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah potret luka struktural.

Dalam perspektif sosiologi agama, Ramadan memiliki dimensi kolektif yang kuat. Émile Durkheim menyebut ritual keagamaan sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial. Dalam Islam, puasa tidak hanya membangun relasi vertikal (hablum minallah), tetapi juga relasi horizontal (hablum minannas). 

Ironisnya, di saat umat menahan lapar dan haus sebagai simbol empati terhadap kaum miskin, ketimpangan ekonomi di banyak negara Muslim justru semakin melebar. World Inequality Report (2022) mencatat bahwa kesenjangan pendapatan di sejumlah negara Timur Tengah termasuk yang tertinggi secara global. Ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah spirit Ramadhan telah tereduksi menjadi simbol individual, tanpa transformasi struktural?

Pemikir Iran, Ali Shariati, pernah menegaskan bahwa Islam bukan agama pelarian spiritual, melainkan ideologi pembebasan. 

Dalam karyanya Religion versus Religion, ia mengkritik bentuk keberagamaan yang pasif dan tidak berpihak pada kaum tertindas. Jika merujuk pada Shariati, maka Ramadan seharusnya menjadi momentum revolusi kesadaran—bukan revolusi bersenjata, melainkan revolusi moral dan sosial. 

Puasa melatih kontrol diri, tetapi juga menuntut keberpihakan pada keadilan. Dalam konteks negeri konflik, pesan ini menjadi sangat relevan: ibadah tanpa advokasi kemanusiaan berisiko menjadi formalitas kosong.

Senada dengan itu, Hasan Hanafi melalui proyek Kiri Islam (al-Yasar al-Islami) mendorong reinterpretasi teks agama agar berpihak pada realitas sosial. Ia menekankan pentingnya pembacaan kontekstual terhadap wahyu, sehingga agama tidak terjebak pada romantisme masa lalu. 

Ramadan, dalam kacamata Hanafi, bukan sekadar peringatan turunnya Al-Qur’an, tetapi ajakan untuk membaca ulang realitas dengan semangat keadilan. Ketika dunia Islam terbelah oleh konflik politik dan sektarian, tafsir progresif terhadap nilai persaudaraan (ukhuwah) menjadi mendesak.

Sementara itu, Murtadha Mutahhari menekankan dimensi rasionalitas dalam Islam. Dalam berbagai ceramahnya, ia menjelaskan bahwa ibadah harus melahirkan kesadaran etis dan intelektual. 

Puasa bukan hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga mendidik akal untuk membedakan antara kepentingan egoistik dan maslahat kolektif. Dalam masyarakat yang terfragmentasi oleh konflik ideologi dan politik, pendekatan rasional dan etis Mutahhari menawarkan jembatan dialog.

Namun realitas menunjukkan bahwa perpecahan umat sering kali dipicu oleh politik identitas, perebutan kekuasaan, dan intervensi geopolitik global. Studi dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah menjadi salah satu wilayah dengan belanja militer tertinggi per kapita di dunia. Ketika anggaran pertahanan meningkat, anggaran pendidikan dan kesejahteraan di beberapa negara justru stagnan. Kontras ini memperlihatkan paradoks: Ramadan mengajarkan kesederhanaan, tetapi sistem global sering mendorong kompetisi kekuatan.

Dalam konteks globalisasi digital, Ramadan juga mengalami transformasi. Media sosial memperlihatkan dua wajah: solidaritas dan polarisasi. Di satu sisi, kampanye donasi daring selama Ramadan meningkat signifikan. 

Platform crowdfunding melaporkan lonjakan donasi hingga 30-50% selama bulan suci. Di sisi lain, algoritma media sosial sering memperkuat narasi kebencian dan sektarianisme. Ini menjadi tantangan baru: bagaimana menjadikan ruang digital sebagai sarana memperkuat ukhuwah, bukan memperdalam jurang perpecahan?

Secara demografis, Pew Research Center (2017) memproyeksikan bahwa populasi Muslim dunia akan mencapai hampir 30% populasi global pada 2050. Potensi demografis ini seharusnya menjadi kekuatan moral dan intelektual. Namun tanpa persatuan visi dan tata kelola yang baik, potensi tersebut dapat berubah menjadi beban konflik internal. Ramadan seharusnya menjadi titik temu—bulan ketika perbedaan mazhab, etnis, dan nasionalitas melebur dalam satu pengalaman spiritual kolektif.

Dalam bahasa yang lebih santai, bisa dikatakan bahwa Ramadhan adalah “charging station” spiritual umat. Tetapi baterai yang terisi penuh tidak ada gunanya jika tidak digunakan untuk menerangi ruang gelap ketidakadilan. Ketika adzan bersahut di negeri konflik, ia bukan hanya panggilan salat, melainkan alarm moral. Ia mengingatkan bahwa iman tanpa aksi sosial adalah setengah jalan.

Dari perspektif ekonomi-politik, penguatan solidaritas intra-umat dapat dimulai dari optimalisasi zakat dan wakaf produktif. Laporan Islamic Development Bank menunjukkan bahwa potensi zakat global mencapai ratusan miliar dolar per tahun, namun realisasi dan distribusinya masih jauh dari optimal. Jika dikelola secara transparan dan profesional, instrumen ini dapat menjadi solusi konkret mengurangi kemiskinan dan dampak konflik.

Akhirnya, makna Ramadhan bagi dunia Islam yang terbelah terletak pada kemampuannya mentransformasi kesalehan individu menjadi kesadaran kolektif. Mengutip Shariati, “Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala,” yang secara simbolik berarti bahwa perjuangan melawan ketidakadilan selalu relevan. 

Dalam konteks Ramadan, setiap adzan di negeri konflik adalah pengingat bahwa spiritualitas sejati menuntut keberanian moral.

Dengan demikian, Ramadan bukan sekadar bulan ritual, tetapi momentum refleksi geopolitik dan etika global. Dunia Islam mungkin terbelah oleh batas negara, ideologi, dan kepentingan politik, tetapi ia tetap disatukan oleh satu kalender lunar yang sama. 

Ketika adzan bersahut, ia melampaui batas geografis. Ia menghubungkan umat dalam satu irama waktu. Pertanyaannya bukan lagi apakah Ramadan relevan, tetapi apakah umat siap menjadikannya fondasi rekonsiliasi, keadilan, dan kebangkitan peradaban.

  • Penulis: Subhan Samsudin
  • Editor: Redaktur Balengco

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LBH Ansor Ternate menyerukan penyelesaian konflik agraria di Maluku Utara

    Konflik Agraria Maluku Utara: Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan RI

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Ketua LBH Ansor Kota Ternate
    • visibility 1.024
    • 0Komentar

    Delapan puluh tahun Indonesia merdeka. Dalam usia bangsa yang tidak lagi muda ini, kita kembali mendengar gema kalimat sakral dalam Pembukaan UUD 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.” Sebuah kalimat yang seharusnya menjadi roh dalam setiap kebijakan negara. Namun pertanyaan mendasar perlu kita ajukan: apakah kemerdekaan itu benar-benar hadir dalam kehidupan rakyat […]

  • Toko Jayms Bersama Mahasiswa Ternate Wujudkan Kebaikan Ramadhan Lewat Pembagian Sendal Gratis

    Toko Jayms Bersama Mahasiswa Ternate Wujudkan Kebaikan Ramadhan Lewat Pembagian Sendal Gratis

    • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
    • account_circle Muzsta
    • visibility 486
    • 0Komentar

    Ternate, Sabtu, (29/3/25), Sebagai bagian dari kepedulian sosial dan semangat berbagi di bulan suci Ramadhan, mahasiswa asal Kota Ternate yang sedang melanjutkan studi di berbagai daerah di Pulau Jawa dan Sulawesi menggelar kegiatan sosial bertajuk “Berbagi Kebaikan” berupa pembagian sendal gratis kepada masyarakat Ternate. Kegiatan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Toko Jayms, sebuah toko yang […]

  • North Moluccan Boys dan The Salawaku Bentangkan Spanduk Dukung Palestina: “Show Israel the Red Card!”

    North Moluccan Boys dan The Salawaku Bentangkan Spanduk Dukung Palestina: “Show Israel the Red Card!”

    • calendar_month Sabtu, 19 Apr 2025
    • account_circle Balengko Space
    • visibility 365
    • 0Komentar

    Ternate – Laga seru antara Malut United dan PSBS Biak berlangsung sengit di Stadion Gelora Kie Raha, Jumat malam, 18 April 2025. Kedua tim bermain imbang 1-1 dan harus puas berbagi poin. Hasil ini menjaga posisi Malut United di lima besar klasemen sementara BRI Liga 1. Tim asuhan Imran Nahumarury juga sukses mempertahankan rekor tak […]

  • Sarbin Sehe Memulai Tugas sebagai Wakil Gubernur Maluku Utara dengan Apel Perdana di Gosale Puncak

    Sarbin Sehe Memulai Tugas sebagai Wakil Gubernur Maluku Utara dengan Apel Perdana di Gosale Puncak

    • calendar_month Senin, 24 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 668
    • 0Komentar

    Foto : Istimewa Sofifi, Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pelantikan Kepala Daerah di Jakarta, pada Minggu, 23 Februari 2025, Sarbin Sehe tiba di Ternate. Pagi ini, Senin, 24 Februari 2025, hari pertama Sarbin Sehe sebagai Wakil Gubernur Maluku Utara dimulai dengan memimpin apel perdana yang diadakan di Gosale Puncak, tepatnya di halaman kantor Gubernur Provinsi Maluku […]

  • Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua saat menerima audiensi PW IKA PMII Maluku Utara di ruang kerjanya, Kamis (4/12/2025).

    Bupati Halmahera Utara Terima Audiensi PW IKA PMII Malut

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 148
    • 0Komentar

    HALUT (BALENGKO) – Bupati Kabupaten Halmahera Utara, Piet Hein Babua, menerima audiensi jajaran Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Provinsi Maluku Utara pada Kamis (4/12/2025).Kedatangan rombongan turut didampingi Ketua PC IKA PMII Halmahera Utara, Fahmi Musa, beserta jajaran, serta Ketua GP Ansor Halut, Rifki Kasibit. Audiensi ini digelar dalam rangka […]

  • Sumber foto : Istimewa

    PENA DAN BUKU JADI PENYEBAB KEMATIAN ANAK

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Oleh: N.J Gaston Mahasiswa Yogyakarta
    • visibility 779
    • 0Komentar

    Dalam kehidupan sosial, setiap orang selalu terikat dengan nilai dan jaringan sosial lainnya untuk menjalankan fungsi sosial nya. Sialnya, terkadang faktor-faktor eksternal selalu menjadi pembatas yang menyebabkan Individu berperilaku menyimpang (deviance) makin tumbuh karena persoalan integritas dan regulasi yang tidak seimbang. Dikabarkan dari pelosok timur Indonesia, tepat di kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang […]

expand_less