Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DAN SUMPAH PEMUDA

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DAN SUMPAH PEMUDA

  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia wajib hukumnya memperingati hari Sumpah Pemuda—sebuah tonggak sejarah yang menegaskan tekad untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar yang lahir pada 1928 itu bukan sekadar kenangan masa lalu [romantisme]. Ia merupakan pesan kebangsaan yang tetap relevan di tengah masyarakat yang majemuk [kebhinekaan], termasuk ketika kita membicarakan peran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

Aswaja dikenal sebagai cara keberagamaan [manhaj al-diniyyah] yang menekankan keseimbangan, moderasi, toleransi, dan penghormatan terhadap tradisi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Dalam tradisi pemikiran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, nilai tawassuth [moderat], tawazun [seimbang], tasamuh [toleran], dan i‘tidal [adil] kerap dijadikan pedoman. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bekal etis untuk merawat persatuan Indonesia, tanpa menghapus perbedaan identitas, budaya, maupun pandangan keagamaan.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan bukan berarti menyeragamkan semua orang. Para pemuda dari beragam daerah dan latar belakang memilih untuk mengikatkan diri [‘aqdunnafsi] pada cita-cita kebangsaan bersama. Mereka tidak menunggu perbedaan bahasa, suku, dan asal-usul lenyap terlebih dahulu. Sebaliknya, mereka menjadikan keberagaman sebagai kenyataan yang harus dikelola dengan kedewasaan. Semangat ini sejalan dengan sikap tasamuh dan tawazun—menghormati perbedaan, menjaga keseimbangan, serta mengutamakan kemaslahatan bersama [mashlahah ‘ammah].

Dalam konteks Indonesia hari ini, persatuan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Polarisasi politik, ujaran kebencian, penyebaran hoaks, fanatisme sempit, dan sikap saling meniadakan dapat merusak kepercayaan sosial. Agama terkadang dipakai untuk membangun sekat, padahal agama juga memiliki sumber daya moral yang kuat untuk menegakkan keadilan dan kasih sayang [rahmatan lil’alamin]. Karena itu, semangat Aswaja perlu diwujudkan dalam tindakan nyata— berdialog dengan santun, memeriksa kebenaran informasi, menolak kekerasan atas nama perbedaan, serta membela martabat setiap warga negara.

Namun, moderasi tidak boleh dimaknai sebagai sikap pasif terhadap ketidakadilan. Tawassuth bukan berarti berdiri di tengah tanpa prinsip, dan tasamuh bukan berarti membenarkan segala tindakan. Persatuan yang sehat harus berdiri di atas keadilan, penghormatan terhadap hak-hak warga, dan tanggung jawab bersama. Ketika ada diskriminasi, korupsi, atau kekerasan, semangat kebangsaan justru menuntut keberanian untuk mengoreksi keadaan dengan cara yang bermartabat dan sesuai hukum yang menjadi panglima.

Bagi generasi muda, hubungan antara Aswaja dan Sumpah Pemuda harus tampak dalam praktik, bukan berhenti sebagai slogan dalam upacara. Mahasiswa dan organisasi kepemudaan dapat menjadi ruang belajar untuk membangun nalar kritis, kepemimpinan yang berintegritas, dan kepedulian sosial. Mereka perlu akrab dengan sejarah bangsa sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman. Di ruang digital, pemuda juga dituntut menjadi warga yang bertanggung jawab—tidak mudah terpancing provokasi, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Di wilayah yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi seperti Maluku Utara, pesan ini memiliki arti khusus. Kehidupan bersama membutuhkan penghormatan terhadap adat, agama, bahasa, dan pengalaman sosial masyarakat yang beragam. Nilai-nilai lokal tentang persaudaraan [ukhuwwah] dan kerja sama dapat menjadi jembatan untuk memperkuat persatuan, selama dijalankan dengan adil dan terbuka. Semangat Aswaja dapat berdialog dengan kearifan lokal [al’adatul muhakkamh] untuk membangun kehidupan yang damai, tanpa menempatkan satu kelompok sebagai lebih berhak daripada kelompok lainnya.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda adalah janji lintas generasi. Janji itu hanya akan hidup apabila diterjemahkan menjadi kerja nyata—merawat persaudaraan, memperjuangkan pendidikan yang bermutu, menjaga lingkungan, melawan kemiskinan, dan membuka ruang partisipasi bagi semua warga. Aswaja, dengan penekanan pada moderasi, keseimbangan, toleransi, dan keadilan, dapat memberi landasan moral bagi ikhtiar tersebut. Keduanya bertemu pada satu pesan penting— perbedaan bukan alasan untuk berpecah, melainkan kenyataan yang harus dirawat dengan kebijaksanaan.

Maka, memperingati Sumpah Pemuda semestinya bukan hanya mengulang ikrar 1928, tetapi juga memperbarui komitmen untuk menjadikan Indonesia rumah bersama [baitul jama’ah]. Keberagamaan yang matang melahirkan kepedulian, bukan kebencian; kecintaan kepada tanah air melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ketika nilai-nilai Aswaja diwujudkan dalam perilaku yang adil dan menghormati sesama, semangat Sumpah Pemuda akan terus menemukan maknanya dalam kehidupan bangsa. Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. Wallahu ‘alam Bishshawab.

  • Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Ketua Forum Keberagaman Nusantara Maluku Utara
  • Editor: Tim Redaksi Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Supriyadi Baharudin,S.H

    Problematika Distribusi Tanah Berbasis Hak Pakai: Meninjau ulang putusan Menko-PM tentang Inpres TORA Nomor 8 Tahun 2025

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle Supriyadi Baharudin,S.H
    • visibility 339
    • 0Komentar

    “In Agrarian society, freedom meant the right to land-the land they had nurtured” Dalam masyarakat agraris, kebebasan berarti hak atas tanah- tanah yang telah mereka rawat (Vincent Harding, 1981) Reforma agraria pada dasarnya merupakan kebijakan yang diarahkan untuk melakukan penataan kembali struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah secara lebih berkeadilan. Reforma Agraria tidak semata-mata […]

  • IKA PMII Maluku Utara  berencana Sambut KH. Sarbin Sehe dengan Sholawat Yalal Wathon dan Mars PMII di Bandara Sultan Babullah

    IKA PMII Maluku Utara berencana Sambut KH. Sarbin Sehe dengan Sholawat Yalal Wathon dan Mars PMII di Bandara Sultan Babullah

    • calendar_month Minggu, 16 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 1.099
    • 0Komentar

    Dok. Balengko Space Ternate, (16/2/24) IKA PMII Maluku Utara mengadakan Musyawarah Ketiga pada 16 Februari 2025 dengan tema “Merawat Kemanusiaan, Menata Masa Depan”. Acara ini dihadiri oleh pengurus IKA PMII, Banom NU, dan berbagai organisasi kemahasiswaan lainnya. Dr. Abubakar Abdullah, M.Si, Pembina Pengurus Wilayah IKA PMII Maluku Utara, membuka acara ini dengan penuh semangat. Beliau […]

  • Penyebaran virus flu burung H5N1 pada satwa liar di Australia

    Flu Burung H5N1 Infeksi Burung Laut Lokal Pertama di Australia

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 217
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, SYDNEY – Pemerintah Australia secara resmi mengonfirmasi temuan kasus pertama virus flu burung H5N1 yang mematikan pada spesies burung laut lokal. Di saat yang sama, otoritas kesehatan hewan setempat juga tengah melakukan pengujian laboratorium terhadap seekor anjing laut yang mati, memicu kekhawatiran bahwa patogen ini mulai menyebar lebih luas ke satwa endemik sejak […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe mendampingi Gubernur Sherly Tjoanda Laos dalam panen raya di Desa Sumber Makmur, Gane Timur.

    Wagub Maluku Utara Sarbin Sehe Dampingi Gubernur Panen Raya di Gane Timur

    • calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 416
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Kamis, 11 September 2025 – Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe mendampingi Gubernur Sherly Tjoanda Laos dalam panen raya di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Gane Timur, Halmahera Selatan, pada Rabu (10/9). Sarbin tampil kompak bersama Sherly dan menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi menjadikan pangan sebagai pilar utama pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya langkah konkret […]

  • Hied : Dari Dinding Kosong Karawang ke Karya Penuh Makna

    Hied : Dari Dinding Kosong Karawang ke Karya Penuh Makna

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 599
    • 0Komentar

    Foto : Hied Ketika seni jalanan bertemu dengan kreativitas tanpa batas, nama Hied hadir sebagai salah satu seniman graffiti yang mencuri perhatian. Dengan gaya unik dan energi khas anak muda, Hied berbagi cerita tentang perjalanan, inspirasi, tantangan, dan harapannya untuk dunia graffiti di Indonesia. Perjalanan Awal: Dari Coretan Iseng ke Seni Bermakna “Aku mulai suka […]

  • Pererat Tali Silaturahmi, IKA PMII Malut, Ansor, dan NU Morotai Berkumpul di Pantai Army Dock

    Pererat Tali Silaturahmi, IKA PMII Malut, Ansor, dan NU Morotai Berkumpul di Pantai Army Dock

    • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 69
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Suasana keakraban dan kekeluargaan menyelimuti kawasan Pantai Army Dock, Pulau Morotai, pada Jumat (23/10/2026). Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Maluku Utara, Muhajirin Bailussy, menggelar silaturahmi hangat bersama jajaran pimpinan organisasi pergerakan dan keagamaan di wilayah tersebut. Pertemuan santai namun sarat makna ini dihadiri langsung […]

expand_less