Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Menggali Api Islam Cak Nur

Menggali Api Islam Cak Nur

  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 511
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Dikisahkan dalam novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Faudi, suatu ketika Mintaredja, seorang politisi dan pejabat pemerintahan pada masa Orde Baru, mengajukan pertanyaan kepada Lafran Pane: mengapa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus bersikap independen?

“Kami independen tidak bergabung dan menjadi bagian dari partai politik untuk membuktikan kesungguhan kami mempersatukan semua bagian umat tidak peduli partai dan golongan”. Ucap Lafran Pane.

Tanpa mengurangi maksud, pengalaman ini mengingatkan saya kembali pada buku karya Ahmad Gaus berjudul Api Islam Nurcholish Madjid. Buku setebal 334 halaman ini ditulis dengan diksi yang sederhana namun mendalam, sehingga memudahkan pembaca untuk memahaminya. Pada awal bulan Juni yang lalu, saya secara khusus meluangkan waktu sekitar dua minggu untuk menuntaskan pembacaan buku tersebut.

Dalam karyanya, Ahmad Gaus menggali secara lebih mendalam kehidupan sosok manusia dengan berjuta konsep dan gagasan besar untuk Islam dan Indonesia. Mulai dari pengalaman kelahiran, cita-cita masa kecil, perjalanan menjadi mahasiswa dan bergabung dalam HMI, hingga memimpin HMI selama dua periode berturut-turut, yakni 1966–1969 dan 1969–1971, serta keterlibatannya dalam pendirian Universitas Paramadina.

Hal yang menjadi poin penting bagi saya adalah jejak-jejak keradikalan pemikirannya pada era 1968 dan 1970 yang terekam melalui makalah-makalah yang menghiasi jagat media kala itu. Salah satu makalah yang dipresentasikan di Taman Ismail Marzuki (TIM) berjudul Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat. Di dalamnya terdapat satu kalimat yang, menurut saya, perlu kembali diperbincangkan, yaitu slogan “Islam Yes, Partai Islam No”. Pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana melihat relevansi gagasan tersebut dalam konstelasi politik Tanah Air pada masa kini.

Pada era 1950-an, partai-partai Islam diposisikan secara sangat sakral di Indonesia. Warga negara yang beragama Islam seolah-olah diwajibkan memilih partai Islam, karena suara umat dipandang memiliki kaitan langsung dengan urusan akhirat (surga). Cara pandang semacam ini secara implisit menempatkan Islam seakan-akan identik dengan partai politik. Padahal, Islam bukanlah partai politik; yang ada adalah partai-partai politik yang didirikan oleh orang-orang Islam.

Oleh karena itu, apa pun bentuk partainya, setiap insan berakal seharusnya mampu membedakan secara jernih mana urusan dunia (politik) dan mana urusan agama (akhirat). Dalam kerangka inilah Nurcholish Madjid, atau yang akrab disapa Cak Nur, mengemukakan slogan “Islam Yes, Partai Islam No” yang ia jelaskan melalui konsep sekularisasi suatu konsep yang sayangnya kerap disalahpahami di Indonesia.

Konsep sekularisasi yang dimaksud adalah proses pembebasan manusia dari pola pikir religius-mistik yang cenderung mensakralkan hal-hal yang sebenarnya bersifat profan, serta pembebasan manusia dari legitimasi sakral yang tidak pada tempatnya (desakralisasi).

Dalam pengertian sederhananya, hal-hal yang tidak bersifat sakral, seperti partai politik berbasis Islam, tidak seharusnya diperlakukan seolah-olah sakral. Konsep ini bukan berarti upaya memisahkan secara total antara politik (negara) dan agama (akhirat), melainkan menegaskan perlunya pembedaan yang jelas antara ranah urusan politik dan ranah urusan akhirat. Dengan kata lain, membedakan bukan berarti memisahkan.

Fenomena umum yang ditemukan Cak Nur pada masa itu menunjukkan bahwa para pemimpin partai Islam yang ada tidak lagi berfungsi sebagai penyalur aspirasi umat Islam secara autentik, tetapi lebih banyak berjuang untuk kepentingan kelompok tertentu.

Pertanyaan kritis yang kemudian muncul adalah: bagaimana kondisi tersebut jika dibandingkan dengan situasi sekarang, dengan berbagai dinamika politik nasional yang berkembang? Di atas tubuh bangsa ini, seolah tumbuh semacam absurditas.

Berbagai peristiwa sosial, politik, hukum, agama, ekonomi, dan pendidikan dewasa ini menunjukkan bahwa bangsa kita seakan terkurung dalam sebuah panggung teater, di mana publik disuguhi beragam pertunjukan dan kebijakan yang bernuansa absurditas.

Kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil tidak selalu berpijak pada akal sehat publik dan cita-cita luhur berbangsa, tetapi kerap kali lebih dekat dengan logika panggung dan dramatika kekuasaan.

“Agama sering dijadikan jubah moral bagi kepentingan kebijakan yang busuk” tulis Richard Tawney.

Mungkinkah ada politisasi agama? Demi kepentingan individu dan kelompok tertentu, ya mungkin saja ada. Banyak yang hadir dengan topeng politik berwajah ganda agar dapat menarik simpatisan, hadir bagikan juru selamat, bernarasi dengan kata-kata santun lemah lembut, sekali-kali ayat dikeluarkan.

Dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tradisi intelektual tidak seharusnya pernah mati hanya karena gelar dan jabatan. Di lingkungan himpunan inilah lahir dan tumbuh sejumlah tokoh pembaharu pemikiran Islam sekaligus tokoh bangsa.

Salah satu figur penting yang dapat disebut adalah Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ia berpijak pada pesan-pesan suci kenabian dan meletakkan gagasan dasar mengenai hubungan keislaman dan keindonesiaan dalam kerangka emansipasi dan pemenuhan hajat hidup orang banyak.

Cak Nur akan terus “hidup” melalui karya-karya tulisnya, dan menjadi semakin menghidupkan bagi mereka yang senantiasa mentransformasikan dan mengaktualisasikan pikiran-pikiran besarnya dalam konteks kekinian.

Al-fatihah kepada Nurcholish Madjid. Semoga Tuhan selalu merahmati kuburnya dengan cahaya sepanjang zaman.

Demikian Tulisannya semoga bermanfaat
Waungllahualawisawab

Bandung 26 November 2025

  • Penulis: Arsrhum
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolaborasi Inspiratif: PATCOIFA dan Anak Falabisahaya Ajak Pemuda Tingkatkan Literasi dan Iman di Ramadhan

    Kolaborasi Inspiratif: PATCOIFA dan Anak Falabisahaya Ajak Pemuda Tingkatkan Literasi dan Iman di Ramadhan

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 363
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Sula, (16/3/25) – Komunitas Literasi PATCOIFA Sula bersama Komunitas Anak Falabisahaya (KAF) telah resmi membuka kegiatan Kontes Literasi Ramadhan dengan tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Keislaman di Bulan Suci Ramadhan”. Acara yang dilaksanakan di Desa Falabisahaya ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat Islam selama bulan Ramadhan. Kontes Literasi Ramadhan ini akan […]

  • Source : Istimewa

    IAIN Ternate Sosialisasi PMB 2026 di Morotai: Kenalkan Jalur PTKIN dan Target UIN

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 131
    • 0Komentar

    MOROTAI (BALENGKO) — Tim sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) IAIN Ternate menyambangi Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Nurul Yaqin, Kabupaten Pulau Morotai, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini bertujuan memotivasi siswa kelas XII untuk melanjutkan studi sekaligus memperkenalkan program unggulan tahun akademik 2026/2027. Jalur Masuk dan Beasiswa Dalam sosialisasi tersebut, tim memaparkan tiga jalur utama pendaftaran bagi calon […]

  • Camat Taman membuka Jalan Sehat Alma Ata HUT ke-80 RI

    Jalan Sehat Alma Ata dan Kecamatan Taman Pemalang Meriahkan HUT ke-80 RI

    • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 181
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Pemalang , Universitas Alma Ata bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Taman, Pemalang, menggelar Jalan Sehat pada Kamis (21/8/2025). Acara ini menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dan menarik ribuan peserta dari berbagai desa di Kecamatan Taman. Sebanyak 110 mahasiswa Universitas Alma Ata ikut turun tangan. Mereka membantu panitia, mengatur […]

  • Ketua Panitia Konfercab NU ke II Kota Tidore Kepulauan, Jafar Noh Idrus (tengah), bersama Ketua Wilayah NU Kiai Amar Manaf (kanan) saat pembukaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) ke II di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025).

    Konfercab NU Ke II Tidore Kepulauan Resmi Digelar, Teguhkan Peran NU Bangun Peradaban Dunia

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 348
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) ke II Kota Tidore Kepulauan resmi digelar di Aula SMK Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Meneguhkan Eksistensi NU Dalam Membangun Peradaban Dunia”. Konfercab menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama dalam memilih kepemimpinan baru sekaligus membentuk kepengurusan yang solid untuk […]

  • Kesehatan sebagai Pondasi Kebangkitan Bangsa  Dari Boedi Oetomo ke Tantangan Abad 21

    Kesehatan sebagai Pondasi Kebangkitan Bangsa Dari Boedi Oetomo ke Tantangan Abad 21

    • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
    • account_circle Ariyo Dermawan
    • visibility 985
    • 0Komentar

    Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebuah tonggak penting dalam sejarah perjuangan kita menuju kemerdekaan. Tanggal ini merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, organisasi modern pertama yang menjadi simbol awal tumbuhnya kesadaran nasional di kalangan anak bangsa. Namun, tahukah kita bahwa Boedi Oetomo lahir dari rahim dunia kesehatan? […]

  • Gunung Gamkonora

    Keunikan Gunung Gamkonora dan Rute Pendakian yang harus kalian ketahui

    • calendar_month Rabu, 8 Jan 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 2.466
    • 1Komentar

    Gunung Gamkonora adalah gunung berapi aktif yang terletak di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Dengan ketinggian sekitar 1.635 meter di atas permukaan laut (Mdpl), gunung ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa indah. Keindahannya berhasil menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menjelajahi pesonanya. Berikut adalah beberapa keunikan Gunung Gamkonora yang […]

expand_less