Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Menggali Api Islam Cak Nur

Menggali Api Islam Cak Nur

  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 723
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Dikisahkan dalam novel Merdeka Sejak Hati karya Ahmad Faudi, suatu ketika Mintaredja, seorang politisi dan pejabat pemerintahan pada masa Orde Baru, mengajukan pertanyaan kepada Lafran Pane: mengapa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus bersikap independen?

“Kami independen tidak bergabung dan menjadi bagian dari partai politik untuk membuktikan kesungguhan kami mempersatukan semua bagian umat tidak peduli partai dan golongan”. Ucap Lafran Pane.

Tanpa mengurangi maksud, pengalaman ini mengingatkan saya kembali pada buku karya Ahmad Gaus berjudul Api Islam Nurcholish Madjid. Buku setebal 334 halaman ini ditulis dengan diksi yang sederhana namun mendalam, sehingga memudahkan pembaca untuk memahaminya. Pada awal bulan Juni yang lalu, saya secara khusus meluangkan waktu sekitar dua minggu untuk menuntaskan pembacaan buku tersebut.

Dalam karyanya, Ahmad Gaus menggali secara lebih mendalam kehidupan sosok manusia dengan berjuta konsep dan gagasan besar untuk Islam dan Indonesia. Mulai dari pengalaman kelahiran, cita-cita masa kecil, perjalanan menjadi mahasiswa dan bergabung dalam HMI, hingga memimpin HMI selama dua periode berturut-turut, yakni 1966–1969 dan 1969–1971, serta keterlibatannya dalam pendirian Universitas Paramadina.

Hal yang menjadi poin penting bagi saya adalah jejak-jejak keradikalan pemikirannya pada era 1968 dan 1970 yang terekam melalui makalah-makalah yang menghiasi jagat media kala itu. Salah satu makalah yang dipresentasikan di Taman Ismail Marzuki (TIM) berjudul Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat. Di dalamnya terdapat satu kalimat yang, menurut saya, perlu kembali diperbincangkan, yaitu slogan “Islam Yes, Partai Islam No”. Pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana melihat relevansi gagasan tersebut dalam konstelasi politik Tanah Air pada masa kini.

Pada era 1950-an, partai-partai Islam diposisikan secara sangat sakral di Indonesia. Warga negara yang beragama Islam seolah-olah diwajibkan memilih partai Islam, karena suara umat dipandang memiliki kaitan langsung dengan urusan akhirat (surga). Cara pandang semacam ini secara implisit menempatkan Islam seakan-akan identik dengan partai politik. Padahal, Islam bukanlah partai politik; yang ada adalah partai-partai politik yang didirikan oleh orang-orang Islam.

Oleh karena itu, apa pun bentuk partainya, setiap insan berakal seharusnya mampu membedakan secara jernih mana urusan dunia (politik) dan mana urusan agama (akhirat). Dalam kerangka inilah Nurcholish Madjid, atau yang akrab disapa Cak Nur, mengemukakan slogan “Islam Yes, Partai Islam No” yang ia jelaskan melalui konsep sekularisasi suatu konsep yang sayangnya kerap disalahpahami di Indonesia.

Konsep sekularisasi yang dimaksud adalah proses pembebasan manusia dari pola pikir religius-mistik yang cenderung mensakralkan hal-hal yang sebenarnya bersifat profan, serta pembebasan manusia dari legitimasi sakral yang tidak pada tempatnya (desakralisasi).

Dalam pengertian sederhananya, hal-hal yang tidak bersifat sakral, seperti partai politik berbasis Islam, tidak seharusnya diperlakukan seolah-olah sakral. Konsep ini bukan berarti upaya memisahkan secara total antara politik (negara) dan agama (akhirat), melainkan menegaskan perlunya pembedaan yang jelas antara ranah urusan politik dan ranah urusan akhirat. Dengan kata lain, membedakan bukan berarti memisahkan.

Fenomena umum yang ditemukan Cak Nur pada masa itu menunjukkan bahwa para pemimpin partai Islam yang ada tidak lagi berfungsi sebagai penyalur aspirasi umat Islam secara autentik, tetapi lebih banyak berjuang untuk kepentingan kelompok tertentu.

Pertanyaan kritis yang kemudian muncul adalah: bagaimana kondisi tersebut jika dibandingkan dengan situasi sekarang, dengan berbagai dinamika politik nasional yang berkembang? Di atas tubuh bangsa ini, seolah tumbuh semacam absurditas.

Berbagai peristiwa sosial, politik, hukum, agama, ekonomi, dan pendidikan dewasa ini menunjukkan bahwa bangsa kita seakan terkurung dalam sebuah panggung teater, di mana publik disuguhi beragam pertunjukan dan kebijakan yang bernuansa absurditas.

Kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil tidak selalu berpijak pada akal sehat publik dan cita-cita luhur berbangsa, tetapi kerap kali lebih dekat dengan logika panggung dan dramatika kekuasaan.

“Agama sering dijadikan jubah moral bagi kepentingan kebijakan yang busuk” tulis Richard Tawney.

Mungkinkah ada politisasi agama? Demi kepentingan individu dan kelompok tertentu, ya mungkin saja ada. Banyak yang hadir dengan topeng politik berwajah ganda agar dapat menarik simpatisan, hadir bagikan juru selamat, bernarasi dengan kata-kata santun lemah lembut, sekali-kali ayat dikeluarkan.

Dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tradisi intelektual tidak seharusnya pernah mati hanya karena gelar dan jabatan. Di lingkungan himpunan inilah lahir dan tumbuh sejumlah tokoh pembaharu pemikiran Islam sekaligus tokoh bangsa.

Salah satu figur penting yang dapat disebut adalah Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ia berpijak pada pesan-pesan suci kenabian dan meletakkan gagasan dasar mengenai hubungan keislaman dan keindonesiaan dalam kerangka emansipasi dan pemenuhan hajat hidup orang banyak.

Cak Nur akan terus “hidup” melalui karya-karya tulisnya, dan menjadi semakin menghidupkan bagi mereka yang senantiasa mentransformasikan dan mengaktualisasikan pikiran-pikiran besarnya dalam konteks kekinian.

Al-fatihah kepada Nurcholish Madjid. Semoga Tuhan selalu merahmati kuburnya dengan cahaya sepanjang zaman.

Demikian Tulisannya semoga bermanfaat
Waungllahualawisawab

Bandung 26 November 2025

  • Penulis: Arsrhum
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Izin Jalan Morofest 2026 Terbit, Lalu Lintas Dialihkan

    Izin Jalan Morofest 2026 Terbit, Lalu Lintas Dialihkan

    • calendar_month 23 jam yang lalu
    • account_circle Muh. Muzijad Mandea
    • visibility 39
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI — Kepolisian Polres Pulau Morotai, Maluku Utara, mengonfirmasi bahwa izin penggunaan jalan untuk gelaran Morotai Festival (Morofest) 2026 telah resmi diterbitkan. Guna memastikan kelancaran aktivitas warga, arus lalu lintas di sekitar area acara dialihkan ke jalur alternatif yang telah ditentukan. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kasatlantas Polres Pulau Morotai, IPDA Hi. Muh. […]

  • Pak Sarbin Sehe Jenguk Korban Selamat Laka Laut Meledaknya Speed RIB 04 BASARNAS di RSUD Chasan Boesoirie

    Pak Sarbin Sehe Jenguk Korban Selamat Laka Laut Meledaknya Speed RIB 04 BASARNAS di RSUD Chasan Boesoirie

    • calendar_month Senin, 3 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 973
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Istimewa Ternate, (3/2/25) – Sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan, Pak Sarbin Sehe langsung menjenguk korban selamat insiden meledaknya speed RIB 04 milik BASARNAS di perairan Gita, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Informasi mengenai kecelakaan tragis ini pertama kali diketahui Pak Sarbin melalui pemberitaan di media sosial, yang kemudian membawanya ke IGD RSUD Chasan […]

  • MTs Negeri 1 Pulau Morotai Sabet Juara 2 Lomba Gerak Jalan Indah Pemkab, Putra dan Putri Sama-Sama Bersinar

    MTs Negeri 1 Pulau Morotai Sabet Juara 2 Lomba Gerak Jalan Indah Pemkab, Putra dan Putri Sama-Sama Bersinar

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 173
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Negeri 1 Pulau Morotai. Dalam ajang Lomba Gerak Jalan Indah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sekolah tersebut berhasil menyabet posisi runner-up atau juara 2, baik untuk kategori putra maupun putri. Lomba […]

  • Kondisi banjir setinggi atap rumah yang merendam permukiman warga di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, Rabu (7/1/2026). (Istimewa)

    Banjir Setinggi Atap Rumah Rendam Kecamatan Ibu Halmahera Barat, Warga Selamatkan Diri ke Atap

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 545
    • 0Komentar

    Halmahera Barat (BALENGKO) – Banjir dengan ketinggian dilaporkan mencapai atap rumah melanda Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Rabu (7/1/2026). Peristiwa tersebut terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang sejak dini hari. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari keterangan warga setempat, banjir merendam sejumlah wilayah permukiman, di […]

  • Ketua Dekranasda Maluku Utara Ny Rusni Sarbin Hadiri Jogja Fashion Week 2026

    Hadir di Jogja Fashion Week 2026, Ketua Dekranasda Malut Rusni Sarbin Bidik Potensi UMKM Daerah

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Mustakim
    • visibility 311
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Ajang perhelatan mode bergengsi tahunan, Jogja Fashion Week (JFW) 2026 bertajuk “Roots to Resonance”, resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X, di Gedung Jogja Expo Center (JEC), Kamis (13/08/2026). Acara tidak hanya dihadiri oleh pejabat dan pelaku industri mode dari […]

  • Inspirasi di Balik “Dreams”: Wawancara Eksklusif dengan Mister Nobody

    Inspirasi di Balik “Dreams”: Wawancara Eksklusif dengan Mister Nobody

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 611
    • 0Komentar

    Sumber Foto : Instagram misternobody.zip Mimpi yang Tak Sekadar Bunga Tidur Single terbaru Mister Nobody, Dreams, menyimpan cerita menarik di balik proses kreatifnya. Meski lagu ini sebenarnya sudah dirilis sebelumnya, music video-nya baru saja diluncurkan. Apa yang melatarbelakangi keputusan ini? “Music video ini terealisasi waktu gue balik ke Maluku Utara, tepatnya di Ternate. Gue ketemu […]

expand_less