Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Ketika Gaza Berpuasa di Tengah Reruntuhan

Ketika Gaza Berpuasa di Tengah Reruntuhan

  • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
  • visibility 577
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tragedi kemanusiaan di Palestina merupakan konflik berkepanjangan yang telah berlangsung sejak akhir abad ke-19 hingga abad ke-21. Konflik ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di dunia yang telah menelan ribuan korban jiwa. Di antara korban tersebut, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan dan paling banyak terdampak.

Genosida yang dilakukan oleh Zionis Israel tidak hanya menyebabkan kematian, tetapi juga kelaparan dan penderitaan berkepanjangan bagi warga Palestina. Situasi ini menjadi bukti nyata pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) serta pelanggaran terhadap aturan perang yang telah diatur oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tindakan kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina seharusnya mendapat respons tegas dari komunitas internasional. PBB sebagai organisasi dunia yang diharapkan mampu menjaga perdamaian global seharusnya memainkan peran lebih aktif dalam menghentikan konflik yang tak kunjung berakhir ini.

Saat ini, masyarakat Palestina hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Di saat umat Islam di seluruh dunia menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh kebahagiaan, kondisi yang berbeda justru dialami oleh warga Palestina. Mereka menjalankan ibadah puasa di tengah agresi militer Israel yang terus berlangsung dan telah menelan banyak korban, mulai dari anak-anak, perempuan, hingga warga sipil lainnya.

Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan dan pembebasan spiritual bagi umat Islam, justru berubah menjadi waktu yang penuh kecemasan bagi warga Palestina. Di Jalur Gaza, masyarakat menyambut bulan suci ini di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh. Luka mendalam akibat perang Israel-Hamas serta kesulitan hidup sehari-hari membuat suasana Ramadhan yang biasanya meriah menjadi terasa suram.

Darah dan air mata terus mengalir di tanah Palestina. Serangan militer Israel berulang kali menghantam berbagai infrastruktur dan menambah jumlah korban jiwa. Pada tahun 2026 saja, sedikitnya 31 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan tersebut. Serangan yang menyasar warga sipil merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan melanggar prinsip-prinsip hukum perang internasional.

Serangan Israel bahkan terjadi saat kesepakatan gencatan senjata sedang berlangsung. Pada bulan suci Ramadhan, serangan terbaru dilaporkan menewaskan lima warga Palestina. Kekerasan ini menjadi insiden terbaru dalam konflik yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Israel dan Hamas.

Dilansir oleh AFP pada Jumat (27/2/2026), badan pertahanan sipil Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas melaporkan bahwa serangan udara pada dini hari menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai satu orang lainnya di wilayah Gaza tengah. Selain itu, serangan drone di wilayah selatan Jalur Gaza yang terjadi tidak lama setelah tengah malam dilaporkan menewaskan tiga orang serta melukai beberapa warga lainnya.

Agresi yang terus berlangsung ini juga menghancurkan masa depan anak-anak Palestina. Banyak sekolah, rumah sakit, serta fasilitas vital lainnya yang hancur akibat serangan. Kerusakan tersebut berdampak langsung pada terbatasnya akses pendidikan bagi generasi muda Palestina.

Berdasarkan laporan yang dilansir oleh Republika.co.id, citra satelit menunjukkan sekitar 85,8 persen sekolah di Jalur Gaza mengalami kerusakan sejak 7 Oktober 2023. Bahkan hampir 29 persen di antaranya merupakan sekolah yang dikelola oleh PBB. Kondisi ini membuat banyak anak Palestina kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Dalam situasi yang penuh penderitaan tersebut, muncul gambaran yang sangat menyentuh mengenai harapan anak-anak Palestina. Dalam sebuah survei yang disampaikan oleh Ustaz Abdul Somad dan dikutip dari HaiBandung.com, anak-anak Palestina diminta menuliskan cita-cita mereka. Banyak dari mereka menjawab dengan satu keinginan yang mengejutkan: menjadi syahid. Jawaban yang sederhana namun sarat makna ini membuat banyak orang di seluruh dunia terharu dan merenungkan kembali besarnya penderitaan yang mereka alami.

Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah: akankah perang ini benar-benar berakhir? Pertanyaan tersebut bukan hanya muncul dari pengamat internasional, tetapi juga dari masyarakat Palestina sendiri yang telah lama hidup dalam konflik berkepanjangan.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berbagai upaya diplomatik telah dilakukan oleh negara-negara di dunia. Salah satu langkah yang terus diperjuangkan adalah pengakuan Palestina sebagai anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Harapannya, pengakuan tersebut dapat membuka jalan bagi terciptanya perdamaian dan keadilan bagi rakyat Palestina.

Dilansir oleh CNBC Indonesia, Majelis Umum PBB menyatakan bahwa Palestina memenuhi syarat untuk menjadi anggota penuh PBB. Keputusan tersebut kemudian diteruskan sebagai rekomendasi kepada Dewan Keamanan PBB. Dalam pemungutan suara yang berlangsung di New York pada 10 Mei 2024, sebanyak 143 negara menyatakan dukungan terhadap keanggotaan Palestina, sebagaimana dilaporkan oleh Al-Jazeera.

Namun demikian, dukungan tersebut belum sepenuhnya menjawab harapan rakyat Palestina. Hingga saat ini, ancaman rudal dan serangan militer Israel masih terus menghantui kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.

Keanggotaan Palestina di PBB memang merupakan langkah penting, tetapi hal itu tidak secara otomatis menjamin keamanan bagi rakyat Palestina. Penyelesaian konflik ini membutuhkan komitmen bersama dari negara-negara di dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Upaya dehumanisasi yang dilakukan terhadap rakyat Palestina menunjukkan adanya keinginan untuk menghapus identitas dan keberadaan mereka. Oleh karena itu, solidaritas global menjadi faktor penting dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak hidup rakyat Palestina.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Iran, dunia sering kali teralihkan dari penderitaan yang terus dialami oleh rakyat Palestina. Padahal, hingga saat ini mereka masih hidup dalam bayang-bayang ketakutan akibat serangan yang tidak kunjung berhenti.

Seruan solidaritas dan aksi kemanusiaan terhadap Palestina terus disuarakan di berbagai belahan dunia. Isu ini bukan semata persoalan agama, melainkan persoalan kemanusiaan yang menyangkut hak hidup, keadilan, dan martabat manusia.

Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang secara konsisten mengecam tindakan agresi Israel terhadap Palestina. Berbagai aksi solidaritas, baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum, terus dilakukan sebagai bentuk dukungan moral bagi perjuangan rakyat Palestina.

Melalui tulisan ini, penulis berharap masyarakat dunia dapat lebih memahami penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina. Ribuan korban jiwa, anak-anak yang kehilangan akses pendidikan, keluarga yang kehilangan orang tercinta, serta ancaman kelaparan yang terus membayangi, menjadi gambaran nyata dari tragedi kemanusiaan yang belum berakhir.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bahwa penderitaan di Palestina masih berlangsung hingga hari ini. Oleh karena itu, mari kita terus memberikan dukungan, doa, dan solidaritas bagi saudara-saudara kita di Palestina.

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Soekarno:

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.”

  • Penulis: Oleh: Muhammad Muzijad Mandea, S.Pd Ketua Literasi Pasifik Morotai
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Darurat Abrasi di Koloray: Jarak Rumah ke Pantai Tinggal 4 Meter

    Darurat Abrasi di Koloray: Jarak Rumah ke Pantai Tinggal 4 Meter

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Jainudin Naba
    • visibility 337
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Desa Koloray di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, menghadapi ancaman serius akibat abrasi pantai yang terus menggerus daratan. Kondisi ini tidak hanya mengancam infrastruktur pemukiman, tetapi juga berpotensi menghilangkan sumber air bersih bagi sekitar 600 jiwa penduduk setempat. Berdasarkan pantauan, bangunan penahan ombak (breakwater) yang sebelumnya dibangun melalui Program Nasional […]

  • Source : Istimewa

    Bisa Ganggu Proses Hukum, GP Ansor Morotai Soroti Tekanan Opini Kasus Tunjangan DPRD

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 237
    • 0Komentar

    MOROTAI (BALENGKO) – Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Pulau Morotai, Safrudin Boy, memberikan pernyataan tegas terkait perkembangan dugaan persoalan tunjangan di DPRD Provinsi Maluku Utara periode 2019–2024. Ia menekankan bahwa penanganan perkara yang kini tengah diproses oleh Kejaksaan Tinggi Maluku Utara harus tetap berada dalam koridor negara hukum yang murni. Dalam keterangannya di Pulau Morotai […]

  • Revolusi Sunyi di Sekolah-Sekolah Maluku Utara

    Revolusi Sunyi di Sekolah-Sekolah Maluku Utara

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Subhan Samsudin
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Berbicara tentang perubahan pendidikan, kita sering membayangkan gebrakan besar, kebijakan baru, program raksasa, atau masuknya teknologi canggih ke ruang kelas. Namun, tidak semua transformasi datang dengan sorotan dan tepuk tangan. Di banyak tempat, perubahan bergerak perlahan dan hampir tanpa suara, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Fenomena inilah yang dapat disebut sebagai “revol jauh dari pusat […]

  • Ain Dadong_Bidang PTKP HMI Cabang Yogyakarta

    Ketika Reformasi Telah Menjadi Reformati, Revolusi Total Adalah Panggilan Hidup

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Ain Dadong_Bidang PTKP HMI Cabang Yogyakarta
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Republik ini didirikan di atas darah, air mata, dan janji emansipasi yang radikal. Namun, di antara deretan bapak bangsa, ada satu narasi yang kerap dipinggirkan dalam kurikulum pendidikan formal kita yaitu gagasan Tan Malaka. Sebagai arsitek Republik yang bergerak di bawah tanah, Tan Malaka menolak kompromi. Ia mendambakan “Merdeka 100 Persen”, sebuah kemerdekaan yang tidak […]

  • Peserta UNUTARA mengikuti ujian sertifikasi Auditor Mutu Internal di hari terakhir pelatihan. | Sumber foto : Istimewa

    UNUTARA Gelar Pelatihan dan Sertifikasi Auditor Mutu Internal untuk Tingkatkan Kompetensi Dosen dan Tendik

    • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 369
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO), 10 November 2025 — Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) melalui Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) menyelenggarakan Pelatihan dan Sertifikasi Auditor Mutu Internal selama tiga hari, mulai 10–12 November 2025, bertempat di Aula Mina Asrama Haji Kota Ternate. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan dari berbagai fakultas di lingkungan UNUTARA, dengan tujuan […]

  • Tumpukan sampah rumah tangga di Kelurahan Makassar Timur, Kota Ternate, yang sudah berhari-hari belum diangkut petugas DLH.

    Tumpukan Sampah di Makassar Timur Tak Kunjung Diangkut, Warga Geram

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle Agung R. Selang,S.Kom
    • visibility 651
    • 0Komentar

    Ternate, 3 November 2025 — Warga Kelurahan Makassar Timur dibuat geram akibat tumpukan sampah yang sudah berhari-hari tidak diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate. Kondisi ini menimbulkan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan warga. “Ini sudah lewat dari tiga hari, sampah tidak diangkut. Kalau hujan, airnya bercampur dengan bau sampah, bikin mual!” ujar salah […]

expand_less