POST POWER SYNDROME ‘RACUN GALAFEA’
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 181
- comment 0 komentar

source : Istimewa
Namun, post power syndrome-pps juga memiliki kandungan hikmah kebaikan-menjadi kesempatan bagi seseorang untuk introspeksi diri-muhasabah linafsihi agar menemukan hakikat jati diri yang sebenarnya. Hakikat jati diri yang dimaksud oleh penulis adalah siapakah saya? saya adalah mahkluk Allah, saya adalah khalifah Allah, dan saya adalah hamba Allah. Jika hakikat jati diri ini selalu ditempatkan dimuka ketika berkuasa, maka orang itu akan ikhlas ketika kehilangan jabatan-kekuasaan, karena jabatan-kekuasaan itu adalah amanah dan mutlak milik Allah Swt, dan pasti menjaga hubungan yang baik dengan sesamanya pada saat masih menjabat-tidak ada yang tersakiti perasaaannya.
Sehingga jabatan-kekuasaan yang tadinya menjadi ‘racun galafea’ karena orang itu tidak ikhlas untuk mengakui dan menerima kehilangan jabatan, maka yang bersangkutan tidak dapat melepaskan dirinya dari cengkeraman post power syndrome dan sangat sulit untuk mengakui kenyataan yang sebenarnya. Inilah yang dimaksud dengan jabatan-kekuasaan dapat menjadi ‘racun galafea’ yang mematikan secara perlahan. Karena ketika seseorang memiliki jabatan-kekuasaan, orang itu cenderung merasa kuat, penting, dan ingin dihormati.
Namun, ketika jabatan-kekuasaan itu hilang dari genggamannya, orang itu mengalami shock serius-mengalami kirisis identitas, depresi, dan orang itu mengalami sesak napas bahkan kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupannya karena tidak lagi menjadi pejabat dilingkungannya. Bahkan dipastikan yang bersangkutan akan meminta jabatan apa saja dengan alasan asalkan orang itu masih menduduki jabatan biar dianya jangan stres. Coba itu kawan! Demikian tulisan ini semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishshawab.
- Penulis: Fahrul Abd Muid Penulis adalah Dosen IAIN Ternate & Wakil Ketua GP. Ansor Malut
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar