Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Spiritual Anak Rantau; Menjemput Ramadhan

Spiritual Anak Rantau; Menjemput Ramadhan

  • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
  • visibility 329
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Ramadhan adalah rangkaian aktivitas yang penuh dengan berbagai bentuk ibadah, baik pada ranah teologis, psikologis, maupun sosial. Secara teologis, Ramadhan menegaskan ketaatan manusia dalam menjalankan perintah agama.

Secara psikologis, Ramadhan melatih jiwa agar lebih tertib dan tenang. Secara sosial, Ramadhan menguatkan silaturahmi dan menumbuhkan kepekaan terhadap sesama.

Secara teologis, puasa telah ditegaskan dalam firman Allah SWT. Terjemahnya “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” QS Al-Baqarah ayat 183.

Ayat tersebut memerintahkan kaum muslim untuk menjalankan puasa pada waktu yang telah ditentukan. Lebih dari sekadar kewajiban, puasa menjadi jalan untuk membentuk ketakwaan, yakni kesadaran yang menuntun manusia pada sikap yang benar dalam hidupnya.

Dari sisi psikologis, puasa pada bulan Ramadhan bukan hanya menahan haus dan lapar. Ada pendidikan batin yang lebih dalam, yakni melatih jiwa agar mampu mengendalikan diri, menahan emosi, serta menata hati.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap mudah berburuk sangka, merasa paling benar, dan menganggap dirinya sebagai pusat kebenaran. Puasa mengajari manusia untuk menundukkan ego, merapikan niat, dan kembali pada ukuran ketakwaan sebagai arah hidup.

Setiap orang boleh memiliki cara berpikir dan keyakinan atas sesuatu, tetapi puasa mendidik agar manusia tidak terjebak pada pembenaran diri tanpa batas. Pada akhirnya, Ramadhan mengajak kita belajar tunduk, bukan kepada opini kita sendiri, melainkan kepada tuntunan Allah SWT.

Ramadhan juga menghadirkan hikmah sosial yang besar. Bulan ini membuka mata bahwa di luar sana, selama bertahun-tahun, ada orang yang benar-benar kelaparan, menahan haus dan lapar bukan karena ibadah, melainkan karena keadaan. Bahkan ada yang hidupnya berada dekat dengan batas antara bertahan dan jatuh.

Ramadhan mengubah rasa kenyang menjadi pelajaran, dan mengubah rutinitas menjadi kesadaran. Hati yang keras dilatih menjadi lembut, kesalahan dibuka jalannya untuk dimaafkan, dan hubungan sosial diperbaiki melalui silaturahmi.

Jika kamu merasakan sakit, kau masih hidup. Tapi, jika kamu merasakan sakit orang lain, kamu manusia. Tolstoy

Di bulan Ramadhan, suasana rezeki sering terasa lebih lapang. Ada kebahagiaan yang menjemput, terutama bagi anak rantau yang pulang dengan rindu yang lama disimpan. Ramadhan tidak hanya dirayakan oleh kaum muslim, tetapi juga kerap dirasakan sebagai momen kebersamaan yang bisa dihargai oleh siapa saja, termasuk non-Muslim. Pada bulan ini, orang lebih mudah berbagi, lebih mudah menahan diri, dan lebih mudah berkumpul dalam suasana yang hangat.

Setiap perjalanan anak rantau, baik yang menuntut ilmu maupun yang mencari nafkah demi keluarga, menyimpan spiritualitasnya sendiri. Mereka berjalan membawa tanggung jawab dan harapan. Yang menuntut ilmu ditempa agar kuat dan tegar, sementara yang bekerja ditempa agar sabar dan tahan uji.

Dalam proses itu, Ramadhan menjadi kesempatan penting untuk memperbarui arah batin, memperbaiki niat, dan menguatkan hubungan dengan Allah.

Proses bersama Allah membutuhkan penyucian diri. Kedekatan kepada Tuhan tidak tumbuh dari ucapan semata, tetapi dari disiplin batin yang terus dilatih. Ia dimulai dengan mengenal, lalu mendekat, lalu membiasakan diri untuk selalu menghadirkan Allah dalam langkah hidup.

Dalam bahasa sederhana, seseorang mencari pengetahuan tentang-Nya, kemudian mendekatkan diri dengan ibadah, lalu membangun kebiasaan yang membuat hati terasa ditemani, sampai akhirnya tumbuh rasa cinta dan ketundukan yang menggerakkan tindakan.

Ramadhan dikenal sebagai bulan tarbiyah, bulan pendidikan. Tadarus di masjid-masjid menjadi salah satu wajah pendidikan itu, karena Ramadhan menghidupkan kembali kebiasaan membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an.

Terjemahnya:Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. QS Al-Alaq ayat 1 sampai 5.

Karena itu, lakukan semampu yang kita bisa dalam menjalankan perintah agama. Ramadhan tidak menuntut kesempurnaan yang instan, tetapi menuntut kesungguhan dan konsistensi untuk menjadi lebih baik.

Seperti ungkapan yang dinisbatkan kepada Tolstoy, jangan ceritakan tentang agamamu kepadaku, izinkan aku melihat agamamu dalam tindakanmu. Maknanya jelas, agama harus tampak dalam perbuatan, dengan mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang.

  • Penulis: Kasman j. Momole
  • Editor: Asmar Joma Redaktur Balengko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Workshop OBE Prodi Kimia Unutara bersama pakar dari UHW Perbanas

    Prodi Kimia Unutara Gelar Workshop OBE untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • account_circle Mursid
    • visibility 927
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO), 13 Oktober 2025 – Program Studi (Prodi) Kimia Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (Unutara) menggelar workshop bertajuk “Penguatan Implementasi Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE) dan Pengembangan Sistem Evaluasi Perangkat Pembelajaran”. Kegiatan ini berlangsung di kampus Unutara selama tiga hari, 13–15 Oktober 2025, dengan tujuan memperkuat penerapan kurikulum berorientasi hasil serta meningkatkan kualitas […]

  • Keluarga bahagia bermain bersama di taman sebagai cara menjaga kesehatan mental

    Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Hidup Sehari-hari

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 496
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Kesehatan mental adalah bagian penting dari kesejahteraan hidup seseorang. Namun, di tengah tekanan pekerjaan, akitivtas kuliah, sekloah, masalah keluarga, dan tuntutan sosial yang semakin kompleks, menjaga kesehatan mental seringkali terabaikan. Padahal, mental yang sehat adalah pondasi dari produktivitas, kebahagiaan, dan hubungan sosial yang baik. Mengapa Kesehatan Mental Itu Penting? Kesehatan mental memengaruhi […]

  • Mahasiswa KKN Universitas Trilogi Kelompok 21 berfoto bersama warga dan panitia saat pembukaan perayaan HUT RI ke-80 di RW 09 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jumat (8/8/2025)

    Mahasiswa KKN Trilogi Meriahkan Pembukaan HUT RI ke-80 di RW 09 Srengseng Sawah

    • calendar_month Minggu, 10 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 740
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Srengseng Sawah, Jagakarsa — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, RW 09 Kelurahan Srengseng Sawah menggelar pembukaan perayaan dengan penuh semangat kebersamaan, Jumat malam (8/8/2025). Acara ini dihadiri warga, tokoh masyarakat, panitia, serta Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Trilogi Kelompok 21 yang sedang bertugas di wilayah tersebut. Rangkaian […]

  • MAKNA BUDAYA DAN IDENTITAS TARIAN CAKALELE: JANGAN DIMODIFIKASI MENJADI KONTEN HIBURAN SEMATA

    MAKNA BUDAYA DAN IDENTITAS TARIAN CAKALELE: JANGAN DIMODIFIKASI MENJADI KONTEN HIBURAN SEMATA

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Jidan M. Jein | Mahasiswa Magister Jurusan PBSI Universitas Lambung Mangkurat
    • visibility 464
    • 0Komentar

    P erkembangan media sosial saat ini telah membuka ruang ekspresi budaya yang luas, memungkinkan tradisi lokal dilihat, dibagikan, dan dinikmati oleh khalayak global. Di satu sisi, hal ini menjadi peluang emas bagi pelestarian budaya, termasuk tarian Cakalele dari Maluku Utara. Namun, di sisi lain, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: tarian Cakalele sering kali dipertontonkan sekadar sebagai […]

  • Integrasi Teori Sastra dalam Pendidikan: Mengasah Cipta, Rasa, dan Nilai Moral untuk Kehidupan Sehari-hari

    Integrasi Teori Sastra dalam Pendidikan: Mengasah Cipta, Rasa, dan Nilai Moral untuk Kehidupan Sehari-hari

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea Guru MTs Negeri 1 Pulau Morotai
    • visibility 174
    • 0Komentar

    pendidikan sering kali disalahartikan sebagai proses transfer pengetahuan semata, di mana keberhasilan diukur dari kemampuan kognitif siswa dalam menyerap fakta dan data. Namun, esensi pendidikan yang sejati terletak pada pembentukan manusia yang utuh individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan moral. Dalam konteks inilah, pembelajaran sastra memegang peranan […]

  • FEDERALISME FISKAL MALUT: Menyelamatkan Malut dari Kubangan Kemiskinan.

    FEDERALISME FISKAL MALUT: Menyelamatkan Malut dari Kubangan Kemiskinan.

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Hasrul Hi Kahar Mahasiswa Sosiologi Yogyakarta
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Paradoks yang Paradoksal Maluku Utara hari ini merupakan studi kasus paling telanjang tentang bagaimanapertumbuhan ekonomi bisa berjalan sepenuhnya lepas dari kesejahteraan rakyat. Provinsi inimencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Indonesia sebesar 34% sepanjang tahun 2025 dansempat menyentuh 39,10% pada kuartal III tahun 2025 yang nyaris seluruhnya ditopanghilirisasi nikel di dua kawasan, yakni, Halmahera Tengah dan Timur. Pada […]

expand_less