Putra Daerah Halut di Jakarta Kecam DLH: Jangan Jadi Penonton Saat Hutan Ngidiho Dibabat!
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 26
- comment 0 komentar

Source : Istimewa
Sebagai putra daerah Halmahera Utara, Wempy mengingatkan bahwa kepentingan ekonomi sesaat tidak boleh mengorbankan keberlanjutan hidup masyarakat. Ia menguraikan lima dampak fatal yang mengintai jika pembabatan hutan untuk aktivitas tambang ini tidak segera dihentikan:
- Gangguan Lanskap Ekologis: Pembukaan lahan di HPT merusak sistem hidrologi, struktur tanah, dan kemampuan penyerapan karbon yang saling terhubung.
- Krisis Air dan Risiko Banjir: Hilangnya vegetasi menurunkan daya serap air (infiltrasi) dan meningkatkan limpasan permukaan, yang memicu banjir saat hujan serta kekeringan saat kemarau.
- Degradasi Tanah Permanen: Aktivitas penggalian menghilangkan lapisan topsoil yang kaya nutrisi. Rehabilitasi lahan pascatambang membutuhkan waktu sangat lama dan sulit mengembalikan fungsi ekologis semula.
- Ancaman Biodiversitas: Hutan Halmahera memiliki tingkat endemisitas tinggi. Fragmentasi hutan akan mempersempit ruang jelajah satwa lokal dan merusak habitat mereka.
- Pelepasan Emisi Karbon: Di tengah krisis iklim global, pembukaan hutan berarti melepas karbon yang tersimpan di biomassa ke atmosfer, memperburuk kondisi lingkungan jangka panjang.
“Hutan Halmahera bukan sekadar ruang produksi, tapi sistem kehidupan. Kami tidak akan tinggal diam melihat eksploitasi jangka pendek yang mengorbankan masa depan generasi mendatang,” tambah Wempy.
Atas dasar temuan tersebut, SMIT Se-Jabodetabek menyatakan akan segera melaporkan persoalan ini ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk dilakukan evaluasi teknis menyeluruh. Selain itu, mereka juga akan membawa kasus ini ke Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) guna memastikan tidak ada pelanggaran fungsi kawasan.
“Kami mendesak adanya audit lingkungan independen dan evaluasi total terhadap kinerja DLH Halmahera Utara. Aktivitas yang merusak harus dihentikan sementara sampai ada kepastian bahwa daya dukung ekologis wilayah tersebut tidak terlampaui,” pungkasnya.
- Penulis: Redaksi Balengko Space
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media
- Sumber: Agung Gumelar

Saat ini belum ada komentar