Seni Mengajarkan Kesederhanaan pada anak di Dunia yang Serba Pamer
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 71
- comment 0 komentar

Iswadi M. Ahmad Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara. Source : Istimewa
Ekonomi seringkali dipersepsikan sebagai ilmu yang rumit, penuh angka, grafik, dan istilah teknis yang hanya layak dipelajari di bangku sekolah menengah atau perguruan tinggi. Padahal, tanpa disadari, aktivitas ekonomi justru paling awal dan paling sering dijalani manusia sejak usia kanak-kanak. Saat seorang anak memilih jajanan di sekolah, menabung menggunakan celengan, atau meminta orang tuanya membelikan, pada saat itulah ia sedang berhadapan dengan permasalahan ekonomi paling mendasar yakni keterbatasan sumber daya dan keharusan membuat pilihan.
Meskipun aktivitas ekonomi sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari anak, namun pengenalan konsep ekonomi secara sadar dan terarah seringkali terabaikan dalam pendidikan dasar. Banyak anak-anak menjalani melakukan aktivitas ekonomi hanya sebagai rutinitas, tanpa pemahaman tentang makna, nilai, dan konsekuensi dari setiap kegiatan ekonomi yang mereka buat. Di tengah arus konsumerisme, pemasaran digital, dan kemudahan transaksi berbasis teknologi, kondisi ini harus menjadi menjadi perhatian serius orang tua dan guru. Pendidikan ekonomi untuk anak tidak lagi bisa ditunda, apalagi dianggap sebagai pengetahuan pelengkap. Anak harus dikenalkan sejak dini, khususnya pada jenjang sekolah dasar.
Sekolah dasar merupakan fase penting dalam pembentukan pola pikir, sikap, dan perilaku ekonomi anak. Pada usia ini, anak berada pada tahap perkembangan kognitif yang memungkinkan mereka memahami konsep konkret yang dekat dengan pengalaman hidupnya. Dengan demikian, mengenalkan konsep ekonomi pada anak SD bukanlah upaya mengajarkan teori ekonomi yang abstrak, melainkan menanamkan cara berpikir rasional, bijak, dan bertanggung jawab dalam menghadapi pilihan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan ekonomi untuk anak SD bukan tentang bagaimana menghafal istilah seperti produksi, distribusi, dan konsumsi, tetapi tentang membangun literasi ekonomi. Literasi ini mencakup kemampuan memahami keterbatasan sumber daya, menyusun skala prioritas, mengelola uang secara sederhana, serta menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Anak yang memiliki literasi ekonomi sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun warga negara.
- Penulis: Iswadi M. Ahmad Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar