Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » KABAR NUSANTARA » Hied : Dari Dinding Kosong Karawang ke Karya Penuh Makna

Hied : Dari Dinding Kosong Karawang ke Karya Penuh Makna

  • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
  • visibility 546
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Foto : Hied

Ketika seni jalanan bertemu dengan kreativitas tanpa batas, nama Hied hadir sebagai salah satu seniman graffiti yang mencuri perhatian. Dengan gaya unik dan energi khas anak muda, Hied berbagi cerita tentang perjalanan, inspirasi, tantangan, dan harapannya untuk dunia graffiti di Indonesia.

Perjalanan Awal: Dari Coretan Iseng ke Seni Bermakna

“Aku mulai suka graffiti sejak SMA,” ujar Hied mengawali ceritanya. Bagi Hied, graffiti adalah kebebasan berekspresi yang langsung terpancar dari dinding-dinding kosong menjadi karya yang penuh makna. “Kekuatan visualnya itu yang bikin aku jatuh cinta.” Dengan semangat dan kerja keras, Hied terus mengasah keterampilannya hingga dikenal sebagai salah satu seniman graffiti berbakat dari Karawang.

Inspirasi dan Gaya: Dari Kehidupan ke Dinding

Karya-karya Hied punya ciri khas yang sulit dilupakan: font graffiti yang unik dan ekspresif. Inspirasi datang dari berbagai hal, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga seniman graffiti yang ia kagumi, seperti MR.BAKERONER, SEMOR, dan KAISY. “Mereka punya energi keren yang ngasih aku ide-ide baru,” kata Hied. Dengan gaya yang terus berkembang, Hied berusaha menciptakan identitas seni yang personal namun tetap bisa diterima banyak orang.

Tantangan: Antara Cuaca, Stigma, dan Aturan

Di balik keindahan karya Hied, ada tantangan besar yang harus ia hadapi. Cuaca sering kali jadi kendala teknis, belum lagi stigma negatif masyarakat yang masih menganggap graffiti sebagai aksi vandalisme. “Selain itu, harus pintar-pintar juga menghindari konflik sama pihak berwenang,” tambahnya sambil tersenyum. Meski begitu, tantangan ini justru memacu Hied untuk terus berkarya dan membuktikan bahwa graffiti adalah seni yang layak dihargai.

Sentuhan Lokal: Karawang dalam Warna

Sebagai anak Karawang, Hied merasa budaya dan lingkungan sekitar punya pengaruh besar dalam karyanya. “Lingkungan di sini tuh ngasih banyak energi kreatif. Ada semacam hubungan emosional sama tempat ini,” jelasnya. Hal inilah yang membuat karya-karyanya punya elemen lokal yang membumi namun tetap relevan secara universal.

Pesan di Balik Coretan

Setiap karya Hied punya cerita dan pesan yang ingin disampaikan. “Aku pengen karya aku nyampein kebanggaan, kritik sosial, dan inspirasi buat berpikir kreatif,” ujar Hied. Baginya, graffiti bukan hanya soal estetika, tapi juga media untuk menyuarakan ide-ide yang mungkin sulit disampaikan lewat kata-kata.

Harapan dan Rencana: Graffiti untuk Semua

Ke depan, Hied berharap seni graffiti bisa lebih dikenal dan dihargai di Indonesia, khususnya di Karawang. “Aku pengen graffiti jadi wadah ekspresi yang positif dan inspiratif buat semua orang,” katanya penuh harap. Saat ini, Hied juga tengah merencanakan karya-karya baru dan kolaborasi dengan seniman lain untuk mengembangkan koneksi sekaligus memperkaya dunia graffiti lokal.

Dengan semangat dan visinya, Hied membuktikan bahwa seni graffiti bukan sekadar coretan, melainkan media yang penuh makna. Dari Karawang untuk dunia, Hied membawa pesan bahwa dinding-dinding kosong adalah kanvas yang menunggu untuk dihidupkan.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

    Titelfikasi dan Mimikri: Lahirnya Sarjana di Era AI

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Amril N Hi Ade, Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Orang-orang hidup dengan meniru. Cara berpakaian dipelajari dari sekitar, cara menulis diserap dari yang sering dibaca, cara beretorika ditiru dari yang dianggap meyakinkan. Tanpa sadar, tumbuh, kembang manusia bergerak dalam pola pengulangan. Aristoteles menyebut manusia itu homo mimesis (makhluk peniru). Artinya, makhluk yang belajar dengan cara menyalin dunia di sekitarnya. Apa yang awalnya ditiru, lama-lama […]

  • Proses Pembebasan Lahan AMP PT Eltis Anugrah Sejati di Morotai Dipertanyakan, Camat: Hanya Beri Rekomendasi

    Proses Pembebasan Lahan AMP PT Eltis Anugrah Sejati di Morotai Dipertanyakan, Camat: Hanya Beri Rekomendasi

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 102
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Proses pembebasan lahan untuk pembangunan Asphalt Mixing Plant (AMP) milik PT Eltis Anugrah Sejati di Desa Joubela, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menuai sorotan. Selain ukuran dan mekanisme pembebasan lahan yang dipertanyakan, kejelasan status perizinan usaha serta dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau UKL-UPL juga belum transparan. […]

  • Anggota DPD RI Hasbi Yusuf mendesak penyelesaian proporsional konflik lahan TNI AU di Morotai guna menyeimbangkan kedaulatan negara dan hak-hak masyarakat.

    Hasbi Yusuf Desak Penyelesaian Proporsional Konflik Lahan TNI AU di Morotai

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 343
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Anggota Komite III DPD RI, Hasbi Yusuf, mengeluarkan pernyataan tegas terkait sengketa lahan menahun antara TNI Angkatan Udara (AU) dan masyarakat di Pulau Morotai. Ia mendesak agar penyelesaian konflik tersebut dilakukan secara proporsional dengan mengedepankan prinsip keadilan bagi semua pihak. Pernyataan ini disampaikan Hasbi usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) ke-II MD […]

  • Pernyataan sikap tertulis Forum BEM DIY terkait isu nasional

    Suarakan Delapan Tuntutan Rakyat, Forum BEM DIY Tegaskan Perlawanan Terhadap Kebijakan Otoriter

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 180
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, YOGYAKARTA – Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (Forum BEM DIY) dan beberapa aliansi mahasiswa merilis pernyataan sikap bersama terkait arah kebijakan nasional yang dinilai kian menjauh dari prinsip keadilan sosial. Mengusung jargon gerakan “Bangun Persatuan Rakyat, Rebut Daulat Rakyat Dan Lawan Republik Otoriter”, aliansi mahasiswa ini menyoroti jajaran regulasi dan program […]

  • Aktivitas pembukaan lahan seluas lebih dari satu hektare di Desa Cucumare, Kabupaten Pulau Morotai, untuk pembangunan mess serta lokasi penampungan material Asphalt Mixing Plant (AMP) milik PT Intimkara diduga telah berlangsung sejak dua pekan terakhir tanpa keterbukaan informasi dan kejelasan persyaratan administrasi.

    Aktivitas Pembukaan Lahan AMP PT Intimkara di Cucumare Disorot, Izin Lingkungan Dipertanyakan

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 237
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI — Aktivitas pembukaan lahan seluas lebih dari satu hektare di Desa Cucumare, Kabupaten Pulau Morotai, untuk pembangunan mess serta lokasi penampungan material Asphalt Mixing Plant (AMP) milik PT Intimkara diduga telah berlangsung sejak dua pekan terakhir tanpa keterbukaan informasi dan kejelasan persyaratan administrasi. Kegiatan tersebut bahkan belum diketahui memiliki dokumen lingkungan yang […]

  • Aksi damai Forum BEM Se-DIY memperingati Hari Jadi Yogyakarta ke-269 dengan tema Maklumat Jogja: Demokrasi Tanpa Kekerasan dan Budaya sebagai Penopang.

    Forum BEM Se-DIY Gelar Aksi Damai: Maklumat Jogja, Demokrasi Tanpa Kekerasan dan Budaya sebagai Penopang

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 362
    • 0Komentar

    Yogyakarta (BALENGKO), 8 Oktober 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Yogyakarta ke-269, Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Se–Daerah Istimewa Yogyakarta (Forum BEM Se-DIY) menggelar aksi damai bertajuk “Menggugah Maklumat Jogja: Demokrasi Tanpa Kekerasan, Budaya sebagai Penopang.” Aksi ini bukan sekadar seremonial peringatan, melainkan refleksi moral dan politik terhadap kondisi demokrasi di Indonesia yang dinilai semakin […]

expand_less