Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate

Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate

  • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
  • visibility 397
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pemerintah Kota Ternate kembali menyiapkan panggung. Tema “Episentrum Rempah Dunia” diangkat dalam Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026. Agenda pun disusun rapi: festival, simposium, hingga parade budaya. Sekilas, semuanya tampak meyakinkan, seolah dengan kemasan yang tepat, Ternate bisa kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Namun di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah yang dibangun adalah substansi, atau sekadar citra?

Ternate sejatinya tidak membutuhkan legitimasi buatan. Sejarah telah lebih dulu menempatkannya dalam peta dunia. Pada 1858, Alfred Russel Wallace menulis surat penting dari Ternate kepada Charles Darwin, sebuah momen yang kemudian mengubah arah ilmu pengetahuan modern. Tanpa festival. Tanpa panggung besar.

Ternate pernah menjadi ruang lahirnya gagasan besar.

Ironisnya, jejak sejarah itu hari ini terasa semakin jauh dari kehidupan kota. Wallace lebih sering hadir sebagai narasi yang diulang, bukan ingatan yang dirawat. Sementara itu, upaya branding terus digencarkan, rapi secara konsep, menarik secara visual, namun kerap terasa asing bagi warganya sendiri.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal sejarah, melainkan cara Ternate memaknai dirinya.

Jika ditinjau melalui Model Komunikasi Lasswell, pola yang terlihat cukup jelas: pemerintah sebagai komunikator, pesan dikemas dalam bentuk branding, media menjadi saluran, dan dunia luar sebagai target. Efek yang diharapkan adalah citra, Ternate sebagai episentrum rempah dunia. Namun seperti banyak strategi komunikasi satu arah, ada elemen yang kerap terabaikan: masyarakat itu sendiri.

Kondisi ini juga tercermin dari minimnya pelibatan pemuda, khususnya mahasiswa. Pengalaman mahasiswa Ternate di Yogyakarta dalam agenda JKPI sebelumnya menjadi contoh nyata. Mereka hadir, berpartisipasi, bahkan membawa nama daerah ke ruang nasional. Namun keterlibatan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan ruang dialog yang setara.

Alih-alih menjadi agent of change dan agent of social control, peran mahasiswa justru berisiko tereduksi menjadi pelengkap kegiatan. Ini menunjukkan masih terbatasnya ruang partisipasi substantif dalam proses pembangunan narasi kota.

Persoalan ini bukan sekadar teknis penyelenggaraan acara, melainkan soal paradigma. Komunikasi masih cenderung bersifat top-down, di mana masyarakat ditempatkan sebagai objek pendukung, bukan subjek yang ikut menentukan arah dan makna.

Padahal, dalam perspektif pemasaran kota, sebagaimana diingatkan Philip Kotler, city branding tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keterlibatan, dari rasa memiliki, dan dari warga yang merasa menjadi bagian dari cerita besar itu sendiri.

Tanpa fondasi tersebut, “Episentrum Rempah Dunia” berisiko menjadi sekadar narasi simbolik, terlihat kuat dari kejauhan, tetapi rapuh saat didekati.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap miskomunikasi dalam pelaksanaan agenda justru menunjukkan adanya celah yang belum terjawab: komunikasi internal dengan masyarakat. Ternate mungkin terdengar lantang saat berbicara ke dunia, tetapi masih perlu belajar untuk mendengar warganya sendiri.

Jika belajar dari Wallace, pelajarannya sederhana: Ternate bukan sekadar lokasi, melainkan ruang dialog. Tempat pengalaman, pengamatan, dan pemikiran bertemu secara alami.

Ambisi menjadikan Ternate sebagai episentrum rempah dunia tentu sah dan layak didukung. Namun tanpa keberanian membuka ruang dialog yang inklusif, ambisi tersebut berisiko berhenti pada permukaan, hidup di baliho, panggung acara, dan laporan resmi.

Sementara itu, suara-suara yang seharusnya menjadi fondasi,termasuk generasi muda, tetap berada di pinggiran.

Dan bisa jadi, justru dari pinggiran itulah kita melihat dengan lebih jernih: bahwa yang sedang dibangun hari ini bukan sepenuhnya episentrum, melainkan citra tentang episentrum.

  • Penulis: Amril Hi. Ade (Mahasiswa Kota Ternate yang menempuh pendidikan di Yogyakarta)
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BELANDA, RIWAYATMU DULU

    BELANDA, RIWAYATMU DULU

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • account_circle Fahrul Abd. Muid
    • visibility 1.181
    • 0Komentar

    Ketika saya merasa penasaran dengan Universitas Leiden di Belanda, maka saya memutuskan harus menyempatkan diri saya untuk berkunjung ke sana. Saya berangkat dari Kota Amsterdam menggunakan kereta-Listrik dan kemudian saya harus turun di stasiun kereta Listrik di Kota Leiden. Dari stasiun itu, kemudian saya berjalan kaki yang jaraknya lumayan jauh untuk sampai ke Universitas Leiden. […]

  • Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) semester satu melaksanakan praktik lapangan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Masjid Raya Ternate, 20 November 2025. Kegiatan dipandu oleh dosen pengampu, Bapak Firman Amir, M.Pd.I, sebagai upaya memperkuat pemahaman aqidah dan pengamalan ibadah sesuai ajaran Ahlussunnah Waljamaah.

    Kegiatan Praktik Lapangan Pendidikan Agama Islam Mahasiswa UNUTARA di Masjid Raya Ternate

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Ternate (BALENGKO) – Dalam rangka mewujudkan visi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) untuk “menciptakan insan toleran berdasarkan Ahlussunnah Waljamaah (ASWAJA)”, mahasiswa semester satu melaksanakan kegiatan praktik lapangan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Masjid Raya Ternate, pada tanggal 20 November 2025. Kegiatan ini dipandu langsung oleh dosen pengampu mata kuliah PAI, Bapak Firman […]

  • Mahasiswa Halmahera Tengah menampilkan tarian tradisional di Festival Budaya Yogyakarta.

    Yogyakarta Terpukau! Festival Budaya Halmahera Tengah Pertama Sukses Digelar

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 387
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Yogyakarta, 29 Agustus 2025 — Ikatan Mahasiswa Halmahera Tengah (Ikemap Halteng) sukses menggelar Festival Budaya Halmahera Tengah bertajuk “Bakudapa Budaya: Dari Halteng untuk Nusantara” di Gedung Militaire Societeit, Yogyakarta Kamis Sore (28/8) . Acara ini menjadi festival budaya pertama yang memperkenalkan kekayaan tradisi dan nilai-nilai lokal ke panggung nasional. Festival ini menampilkan berbagai […]

  • ​Naswin Rowo Ajak Lulusan Unipas Mengabdi, Atasi Krisis Operator Dapodik di Morotai

    ​Naswin Rowo Ajak Lulusan Unipas Mengabdi, Atasi Krisis Operator Dapodik di Morotai

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 372
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI-Guna memutus rantai kendala klasik pendataan sekolah, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Pulau Morotai, Naswin Rowo, meluncurkan gagasan strategis dengan mengajak para sarjana komputer lokal turun tangan. Ketua DPC PKB Pulau Morotai periode 2026–2031 tersebut mengimbau para lulusan Universitas Pasifik (Unipas) Morotai, khususnya dari program studi Teknik Informatika yang belum memiliki kesibukan, untuk […]

  • Gerakan Pangan Murah (Gapura) Sambut Bulan Ramadhan di Kota Ternate

    Gerakan Pangan Murah (Gapura) Sambut Bulan Ramadhan di Kota Ternate

    • calendar_month Kamis, 27 Feb 2025
    • account_circle balengko space
    • visibility 895
    • 0Komentar

    Dok. Balengko Space Ternate, (27/2/25) – Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara menggelar Gerakan Pangan Murah (Gapura) di Lapangan Ngaralamo (Salero), Kota Ternate, pada pukul 09.00 WIT. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat dan sejumlah instansi terkait. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menjaga kestabilan harga bahan pangan menjelang bulan suci Ramadhan. Sosialisasi Bank Indonesia untuk Masyarakat […]

  • Source : Istimewa

    Aksi Protes Nelayan Pulau Morotai di HUT ke-17

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Muzijad Mandea
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Morotai (BALENGKO)– Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 Kabupaten Pulau Morotai diwarnai aksi protes dari Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Morotai (Hippmamoro), Senin (30/3/2026) Aksi yang digelar di depan Gedung DPRD Pulau Morotai itu berlangsung sekitar pukul 12.00 WIT. Massa aksi menyuarakan tuntutan terkait keadilan dan kesejahteraan nelayan lokal yang dinilai […]

expand_less