Episentrum Rempah Dunia atau Sekadar Citra? Catatan Kritis untuk Ternate
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi : Istimewa
Pemerintah Kota Ternate kembali menyiapkan panggung. Tema “Episentrum Rempah Dunia” diangkat dalam Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026. Agenda pun disusun rapi: festival, simposium, hingga parade budaya. Sekilas, semuanya tampak meyakinkan, seolah dengan kemasan yang tepat, Ternate bisa kembali menjadi pusat perhatian dunia.
Namun di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah yang dibangun adalah substansi, atau sekadar citra?
Ternate sejatinya tidak membutuhkan legitimasi buatan. Sejarah telah lebih dulu menempatkannya dalam peta dunia. Pada 1858, Alfred Russel Wallace menulis surat penting dari Ternate kepada Charles Darwin, sebuah momen yang kemudian mengubah arah ilmu pengetahuan modern. Tanpa festival. Tanpa panggung besar.
Ternate pernah menjadi ruang lahirnya gagasan besar.
Ironisnya, jejak sejarah itu hari ini terasa semakin jauh dari kehidupan kota. Wallace lebih sering hadir sebagai narasi yang diulang, bukan ingatan yang dirawat. Sementara itu, upaya branding terus digencarkan, rapi secara konsep, menarik secara visual, namun kerap terasa asing bagi warganya sendiri.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal sejarah, melainkan cara Ternate memaknai dirinya.
Jika ditinjau melalui Model Komunikasi Lasswell, pola yang terlihat cukup jelas: pemerintah sebagai komunikator, pesan dikemas dalam bentuk branding, media menjadi saluran, dan dunia luar sebagai target. Efek yang diharapkan adalah citra, Ternate sebagai episentrum rempah dunia. Namun seperti banyak strategi komunikasi satu arah, ada elemen yang kerap terabaikan: masyarakat itu sendiri.
Kondisi ini juga tercermin dari minimnya pelibatan pemuda, khususnya mahasiswa. Pengalaman mahasiswa Ternate di Yogyakarta dalam agenda JKPI sebelumnya menjadi contoh nyata. Mereka hadir, berpartisipasi, bahkan membawa nama daerah ke ruang nasional. Namun keterlibatan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan ruang dialog yang setara.
Alih-alih menjadi agent of change dan agent of social control, peran mahasiswa justru berisiko tereduksi menjadi pelengkap kegiatan. Ini menunjukkan masih terbatasnya ruang partisipasi substantif dalam proses pembangunan narasi kota.
Persoalan ini bukan sekadar teknis penyelenggaraan acara, melainkan soal paradigma. Komunikasi masih cenderung bersifat top-down, di mana masyarakat ditempatkan sebagai objek pendukung, bukan subjek yang ikut menentukan arah dan makna.
Padahal, dalam perspektif pemasaran kota, sebagaimana diingatkan Philip Kotler, city branding tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari keterlibatan, dari rasa memiliki, dan dari warga yang merasa menjadi bagian dari cerita besar itu sendiri.
Tanpa fondasi tersebut, “Episentrum Rempah Dunia” berisiko menjadi sekadar narasi simbolik, terlihat kuat dari kejauhan, tetapi rapuh saat didekati.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap miskomunikasi dalam pelaksanaan agenda justru menunjukkan adanya celah yang belum terjawab: komunikasi internal dengan masyarakat. Ternate mungkin terdengar lantang saat berbicara ke dunia, tetapi masih perlu belajar untuk mendengar warganya sendiri.
Jika belajar dari Wallace, pelajarannya sederhana: Ternate bukan sekadar lokasi, melainkan ruang dialog. Tempat pengalaman, pengamatan, dan pemikiran bertemu secara alami.
Ambisi menjadikan Ternate sebagai episentrum rempah dunia tentu sah dan layak didukung. Namun tanpa keberanian membuka ruang dialog yang inklusif, ambisi tersebut berisiko berhenti pada permukaan, hidup di baliho, panggung acara, dan laporan resmi.
Sementara itu, suara-suara yang seharusnya menjadi fondasi,termasuk generasi muda, tetap berada di pinggiran.
Dan bisa jadi, justru dari pinggiran itulah kita melihat dengan lebih jernih: bahwa yang sedang dibangun hari ini bukan sepenuhnya episentrum, melainkan citra tentang episentrum.
- Penulis: Amril Hi. Ade (Mahasiswa Kota Ternate yang menempuh pendidikan di Yogyakarta)
- Editor: Redaktur Balengko Creative Media

Saat ini belum ada komentar