Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » FALSAFAH KIE RAHA DAN KARAKTER MERDEKA

FALSAFAH KIE RAHA DAN KARAKTER MERDEKA

  • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
  • visibility 165
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pendidikan sering kali terjebak dalam jebakan mekanistik, mereduksi manusia menjadi sekadar angka-angka statistik, rapor kuantitatif, dan pencetak tenaga kerja siap pakai demi roda industri global. Padahal, jauh sebelum istilah “Merdeka Belajar” bergema di ruang-ruang birokrasi modern, nusantara kita telah memiliki ekosistem nilai yang mandiri dan berdaulat. Di bumi Maluku Utara, warisan luhur Kie Raha (Empat Gunung/Kesultanan: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) bukan sekadar catatan sejarah tentang kejayaan rempah dan geopolitik masa silam. Ia adalah kompas moral, sebuah cetak biru peradaban yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan kekuasaan.

Hari ini, ketika arus globalisasi dan homogenisasi budaya mengikis identitas lokal anak-anak muda kita, pertanyaannya bagaimana kita merawat jiwa keindonesiaan tanpa kehilangan akar kepulauan? Jawabannya terletak pada upaya radikal untuk mengawinkan kembali ruh falsafah Kie Raha dengan semangat Kurikulum Merdeka.

Membaca Ulang Kie Raha dalam Lanskap Pedagogi Modern

Secara historis, konfederasi Kie Raha merepresentasikan tatanan sosial yang dibangun di atas fondasi keseimbangan, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia (saling menghargai). Alam Maluku Utara yang kaya baik rempah, laut, maupun gugusan gunung yang tidak dipandang sebagai objek eksploitasi semata, melainkan bagian dari entitas kebudayaan yang mendidik.

Berdasarkan konteks pedagogi kritis, merdeka belajar sejatinya adalah proses memerdekakan akal budi (liberating minds). Ketika kurikulum lokal di Maluku Utara hanya diisi oleh pengetahuan generik yang bersumber dari pusat, peserta didik kita sedang mengalami keterasingan kognitif. Mereka mengenal teori ekologi global, tetapi abadi dalam ketidaktahuan mengenai filosofi Fagogoru (sikap hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetiaan, dan solidaritas) yang hidup di tanah kelahiran mereka.

Maka, menanamkan akar kebudayaan melalui Kie Raha ke dalam ruang-ruang kelas bukanlah bentuk chauvinisme daerah. Ini adalah strategi kebudayaan untuk melahirkan subjek didik yang memiliki local rootedness, global outlook yang berakar kuat pada kearifan lokal, namun siap berdiri tegak menghadapi kompleksitas zaman.

Tiga Pilar Transformasi Kurikulum Berbasis Kie Raha

Agar integrasi ini tidak berhenti sebagai slogan seremonial di atas kertas, transformasi kurikulum lokal harus diterjemahkan secara taktis ke dalam tiga pilar utama:

1. Transformasi Muatan Lokal 

Selama ini muatan lokal kerap direduksi menjadi pelajaran tambahan yang sekadar hafalan seni tari atau bahasa daerah. Ke depan, nilai-nilai Kie Raha harus diintegrasikan sebagai core values dalam pendekatan lintas mata pelajaran. Konsep kepemimpinan dan kebijaksanaan Kesultanan masa lampau dapat diadaptasi dalam proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Nilai gotong royong dalam tradisi maritim lokal diintegrasikan ke dalam sains lingkungan dan sosiologi.

2. Kontekstualisasi Ruang Belajar

Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui ceramah di dalam kelas. Wilayah Maluku Utara dengan bentang alam kepulauan dan sejarah rempahnya adalah laboratorium hidup yang paling otentik. Sekolah-sekolah di Ternate, Tidore, Halmahera, hingga pulau-pulau terluar harus mampu menjadikan situs-situs sejarah kesultanan dan ekosistem pesisir sebagai living classroom. Siswa diajak untuk tidak hanya memahami sejarah secara tekstual, tetapi merawat situs budaya, memahami kearifan nelayan lokal dalam membaca musim, dan merajut kembali memori kolektif tentang jalur rempah.

3. Rekonstruksi Peran Guru 

Guru di Maluku Utara tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai penyampai materi kurikulum nasional. Mereka harus mengambil peran kultural layaknya para tetua adat yang menuliskannya dalam laku hidup sehari-hari. Pelatihan guru berbasis kearifan lokal mendesak untuk dilakukan, agar para pendidik memiliki kapasitas menerjemahkan filosofi leluhur ke dalam bahasa pedagogi yang relevan dengan generasi digital (Gen Z dan Alpha).

Menyongsong Kedaulatan Manusia Maluku Utara

Hilirisasi industri nikel dan eksploitasi sumber daya alam yang masif saat ini sedang mengubah wajah Maluku Utara secara drastis. Jika dunia pendidikan kita gagal menanamkan fondasi karakter yang kokoh, kita tidak hanya akan menjadi penonton di atas tanah sendiri, tetapi juga melahirkan generasi yang mengalami amnesia kultural yang asing di rumahnya sendiri, gagap di dunia luar.

Falsafah Kie Raha menawarkan penawar yang mujarab. Ia mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus berjalan seiring dengan keluhuran budi pekerti. Dengan mengawinkan kearifan lokal ini ke dalam Kurikulum Merdeka, kita sedang membangun benteng pertahanan mental yang tangguh.

  • Penulis: Irfandi R. Hi Mustafa Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara Wakil Sekretaris GP Ansor Maluku Utara
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Mursid Puko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemeriahan turnamen futsal mahasiswa dalam acara Living Law USHP Sport di Yogyakarta.

    Living Law USHP Sport Sukses Digelar, Pererat Kebersamaan Mahasiswa Lewat Olahraga

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 271
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA, BALENGKO SPACE – Perhelatan Living Law USHP Sport yang berlangsung pada 18–19 April 2026 sukses dilaksanakan dengan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan yang berpusat pada turnamen futsal ini diikuti oleh tim-tim dari berbagai kampus di Yogyakarta, menjadikannya ajang strategis untuk menumbuhkan sportivitas di kalangan mahasiswa. Seluruh rangkaian acara, mulai dari pembukaan hingga penutupan, berjalan dengan […]

  • Petani transmigran mengolah lahan pertanian di kawasan permukiman baru program transmigrasi.

    Pemecahan Urusan Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Solusi atau Tantangan Baru?

    • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
    • account_circle Imran Tahir
    • visibility 505
    • 0Komentar

    Dahulu, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi—hingga ke tingkat pemerintah daerah melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi—dibentuk dengan tujuan menyinergikan kebijakan dan program terkait ketenagakerjaan serta transmigrasi. Harapannya, kebijakan tersebut mampu menciptakan keterkaitan yang erat antara penyediaan lapangan kerja dan penempatan tenaga kerja, termasuk bagi transmigran, serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan sumber daya manusia, pembangunan, […]

  • LBH Ansor Ternate Soroti Pemasangan Plang Polda Malut di Ubo-Ubo, Minta Proses Dialog Dikedepankan

    LBH Ansor Ternate Soroti Pemasangan Plang Polda Malut di Ubo-Ubo, Minta Proses Dialog Dikedepankan

    • calendar_month Kamis, 24 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.106
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, Ternate | 24 Juli 2025 — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kota Ternate menyampaikan keprihatinan atas langkah Polda Maluku Utara dalam perkara pertanahan di Kelurahan Ubo-Ubo, Kecamatan Ternate Selatan, terutama terkait pemasangan plang peringatan hukum yang ditujukan kepada warga. Plang tersebut mencantumkan pasal-pasal pidana seperti Pasal 385 KUHP tentang penyerobotan tanah, Pasal 167 […]

  • Faturahman Djaguna Terpilih sebagai Koordinator Umum BEM FBD-DIY 2025–2026: Gerakan Mahasiswa DIY Siap Bangkit dari Krisis Demokrasi

    Faturahman Djaguna Terpilih sebagai Koordinator Umum BEM FBD-DIY 2025–2026: Gerakan Mahasiswa DIY Siap Bangkit dari Krisis Demokrasi

    • calendar_month Senin, 21 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.908
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Yogyakarta | 21 Juli 2025 — Forum Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (BEM FBD-DIY) resmi menetapkan Faturahman Djaguna sebagai Koordinator Umum periode 2025–2026, dalam Musyawarah Besar FBD DIY yang berlangsung pada Sabtu, 19 Juli 2025 di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Faturahman, yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, terpilih secara […]

  • Wakil Gubernur Maluku Utara KH Sarbin Sehe didampingi Direktur RSUD Maba dr. Callice Jackline, Bupati Halmahera Timur, serta unsur Forkopimda saat meninjau fasilitas dan ruangan pelayanan di RSUD Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Sabtu (27/12/25).

    Wagub KH Sarbin Sehe Tinjau RSUD Maba Halmahera Timur

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 324
    • 0Komentar

    Halmahera Timur (BALENGKO) – Wakil Gubernur Maluku Utara, KH Sarbin Sehe, meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Maba, Kabupaten Halmahera Timur, pada Sabtu (27/12/25). Kunjungan tersebut bertujuan memastikan kesiapan sarana dan prasarana rumah sakit dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam peninjauan itu, Wagub didampingi Direktur RSUD Maba, dr. Callice Jackline. Kegiatan ini juga dihadiri Bupati […]

  • Membumikan Janji Politik: Membangun Maluku Utara Lewat RPJMD yang Terarah

    Membumikan Janji Politik: Membangun Maluku Utara Lewat RPJMD yang Terarah

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Oleh : Mursid Puko
    • visibility 1.688
    • 0Komentar

    Beberapa hari terakhir, publik Maluku Utara ramai membicarakan isu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) melalui berbagai kanal media sosial. Pada tahun 2024, masyarakat telah menentukan pilihannya dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang akan memimpin selama lima tahun ke depan. Secara teoritis, pelaksanaan […]

expand_less