Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » FALSAFAH KIE RAHA DAN KARAKTER MERDEKA

FALSAFAH KIE RAHA DAN KARAKTER MERDEKA

  • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
  • visibility 164
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pendidikan sering kali terjebak dalam jebakan mekanistik, mereduksi manusia menjadi sekadar angka-angka statistik, rapor kuantitatif, dan pencetak tenaga kerja siap pakai demi roda industri global. Padahal, jauh sebelum istilah “Merdeka Belajar” bergema di ruang-ruang birokrasi modern, nusantara kita telah memiliki ekosistem nilai yang mandiri dan berdaulat. Di bumi Maluku Utara, warisan luhur Kie Raha (Empat Gunung/Kesultanan: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) bukan sekadar catatan sejarah tentang kejayaan rempah dan geopolitik masa silam. Ia adalah kompas moral, sebuah cetak biru peradaban yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan kekuasaan.

Hari ini, ketika arus globalisasi dan homogenisasi budaya mengikis identitas lokal anak-anak muda kita, pertanyaannya bagaimana kita merawat jiwa keindonesiaan tanpa kehilangan akar kepulauan? Jawabannya terletak pada upaya radikal untuk mengawinkan kembali ruh falsafah Kie Raha dengan semangat Kurikulum Merdeka.

Membaca Ulang Kie Raha dalam Lanskap Pedagogi Modern

Secara historis, konfederasi Kie Raha merepresentasikan tatanan sosial yang dibangun di atas fondasi keseimbangan, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia (saling menghargai). Alam Maluku Utara yang kaya baik rempah, laut, maupun gugusan gunung yang tidak dipandang sebagai objek eksploitasi semata, melainkan bagian dari entitas kebudayaan yang mendidik.

Berdasarkan konteks pedagogi kritis, merdeka belajar sejatinya adalah proses memerdekakan akal budi (liberating minds). Ketika kurikulum lokal di Maluku Utara hanya diisi oleh pengetahuan generik yang bersumber dari pusat, peserta didik kita sedang mengalami keterasingan kognitif. Mereka mengenal teori ekologi global, tetapi abadi dalam ketidaktahuan mengenai filosofi Fagogoru (sikap hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetiaan, dan solidaritas) yang hidup di tanah kelahiran mereka.

Maka, menanamkan akar kebudayaan melalui Kie Raha ke dalam ruang-ruang kelas bukanlah bentuk chauvinisme daerah. Ini adalah strategi kebudayaan untuk melahirkan subjek didik yang memiliki local rootedness, global outlook yang berakar kuat pada kearifan lokal, namun siap berdiri tegak menghadapi kompleksitas zaman.

Tiga Pilar Transformasi Kurikulum Berbasis Kie Raha

Agar integrasi ini tidak berhenti sebagai slogan seremonial di atas kertas, transformasi kurikulum lokal harus diterjemahkan secara taktis ke dalam tiga pilar utama:

1. Transformasi Muatan Lokal 

Selama ini muatan lokal kerap direduksi menjadi pelajaran tambahan yang sekadar hafalan seni tari atau bahasa daerah. Ke depan, nilai-nilai Kie Raha harus diintegrasikan sebagai core values dalam pendekatan lintas mata pelajaran. Konsep kepemimpinan dan kebijaksanaan Kesultanan masa lampau dapat diadaptasi dalam proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Nilai gotong royong dalam tradisi maritim lokal diintegrasikan ke dalam sains lingkungan dan sosiologi.

2. Kontekstualisasi Ruang Belajar

Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui ceramah di dalam kelas. Wilayah Maluku Utara dengan bentang alam kepulauan dan sejarah rempahnya adalah laboratorium hidup yang paling otentik. Sekolah-sekolah di Ternate, Tidore, Halmahera, hingga pulau-pulau terluar harus mampu menjadikan situs-situs sejarah kesultanan dan ekosistem pesisir sebagai living classroom. Siswa diajak untuk tidak hanya memahami sejarah secara tekstual, tetapi merawat situs budaya, memahami kearifan nelayan lokal dalam membaca musim, dan merajut kembali memori kolektif tentang jalur rempah.

3. Rekonstruksi Peran Guru 

Guru di Maluku Utara tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai penyampai materi kurikulum nasional. Mereka harus mengambil peran kultural layaknya para tetua adat yang menuliskannya dalam laku hidup sehari-hari. Pelatihan guru berbasis kearifan lokal mendesak untuk dilakukan, agar para pendidik memiliki kapasitas menerjemahkan filosofi leluhur ke dalam bahasa pedagogi yang relevan dengan generasi digital (Gen Z dan Alpha).

Menyongsong Kedaulatan Manusia Maluku Utara

Hilirisasi industri nikel dan eksploitasi sumber daya alam yang masif saat ini sedang mengubah wajah Maluku Utara secara drastis. Jika dunia pendidikan kita gagal menanamkan fondasi karakter yang kokoh, kita tidak hanya akan menjadi penonton di atas tanah sendiri, tetapi juga melahirkan generasi yang mengalami amnesia kultural yang asing di rumahnya sendiri, gagap di dunia luar.

Falsafah Kie Raha menawarkan penawar yang mujarab. Ia mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus berjalan seiring dengan keluhuran budi pekerti. Dengan mengawinkan kearifan lokal ini ke dalam Kurikulum Merdeka, kita sedang membangun benteng pertahanan mental yang tangguh.

  • Penulis: Irfandi R. Hi Mustafa Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara Wakil Sekretaris GP Ansor Maluku Utara
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Mursid Puko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Camat Taman membuka Jalan Sehat Alma Ata HUT ke-80 RI

    Jalan Sehat Alma Ata dan Kecamatan Taman Pemalang Meriahkan HUT ke-80 RI

    • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 312
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE – Pemalang , Universitas Alma Ata bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Taman, Pemalang, menggelar Jalan Sehat pada Kamis (21/8/2025). Acara ini menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dan menarik ribuan peserta dari berbagai desa di Kecamatan Taman. Sebanyak 110 mahasiswa Universitas Alma Ata ikut turun tangan. Mereka membantu panitia, mengatur […]

  • Soroti Unggahan di Medsos, KONI Morotai Buka Suara dan Hormati Proses Hukum.

    Soroti Unggahan di Medsos, KONI Morotai Buka Suara dan Hormati Proses Hukum.

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 517
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pulau Morotai memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar di media sosial Facebook 7 Juni kemarin mengenai keberangkatan kontingen pada salah satu ajang olahraga daerah. KONI Pulau Morotai menilai informasi yang dipublikasikan melalui akun pribadi seorang oknum wartawan tersebut bergulir tanpa konfirmasi, sehingga memicu perbedaan persepsi […]

  • BEM UNIPAS Morotai Desak Polres Usut Dugaan Pelanggaran Lingkungan PT Intimkara

    BEM UNIPAS Morotai Desak Polres Usut Dugaan Pelanggaran Lingkungan PT Intimkara

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Mujizad Mandea
    • visibility 214
    • 0Komentar

    BALENGKO SPACE, MOROTAI – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pasifik (UNIPAS) Morotai secara resmi mendesak Kepolisian Resor (Polres) Pulau Morotai untuk segera mengambil tindakan hukum terkait dugaan pelanggaran tata ruang dan lingkungan oleh PT Intimkara. Desakan ini muncul menyusul adanya pengakuan dari pihak perusahaan serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pulau Morotai bahwa aktivitas pembukaan […]

  • Kondisi banjir setinggi atap rumah yang merendam permukiman warga di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, Rabu (7/1/2026). (Istimewa)

    Banjir Setinggi Atap Rumah Rendam Kecamatan Ibu Halmahera Barat, Warga Selamatkan Diri ke Atap

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 541
    • 0Komentar

    Halmahera Barat (BALENGKO) – Banjir dengan ketinggian dilaporkan mencapai atap rumah melanda Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Rabu (7/1/2026). Peristiwa tersebut terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang sejak dini hari. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari keterangan warga setempat, banjir merendam sejumlah wilayah permukiman, di […]

  • Ketua Panitia Konfercab NU Kota Tidore Kepulauan, Jafar Noh Idrus, menyampaikan keterangan terkait kesiapan pelaksanaan Konfercab yang telah mencapai 100 persen, Senin (15/12/2025).

    Persiapan Konfercab NU Kota Tidore Kepulauan Rampung 100 Persen

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 443
    • 0Komentar

    Tidore Kepulauan (BALENGKO) – Panitia Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tidore Kepulauan memastikan seluruh persiapan kegiatan telah rampung 100 persen. Hal tersebut disampaikan Ketua Panitia, Jafar Noh Idrus, pada Senin, 15 Desember 2025. “Untuk persiapan, progresnya sudah 100 persen. Tinggal beberapa hal administratif yang nantinya akan kami selesaikan,” ungkap Jafar. Ia menambahkan, sejauh […]

  • DOB Kabupaten Kepulauan Obi: Masyarakat Joronga Desak Integrasi Demi Pembangunan

    DOB Kabupaten Kepulauan Obi: Masyarakat Joronga Desak Integrasi Demi Pembangunan

    • calendar_month Minggu, 27 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 572
    • 0Komentar

    Ternate, 27 April 2025 – Fahrul Abd Muid (Direktur Bajo Institut Maluku Utara) dan Rahim Yasim (Mantan Staf Khusus Bupati Halmahera Selatan) mendesak pemerintah memasukkan Kecamatan Kepulauan Joronga ke dalam Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Kepulauan Obi. Mereka menilai, integrasi ini akan mempercepat pembangunan dan mempermudah pelayanan publik bagi warga Joronga. Fahrul menegaskan, jarak geografis Joronga lebih dekat ke Obi daripada ke pusat […]

expand_less