Breaking News
dark_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » FALSAFAH KIE RAHA DAN KARAKTER MERDEKA

FALSAFAH KIE RAHA DAN KARAKTER MERDEKA

  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 26
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Pendidikan sering kali terjebak dalam jebakan mekanistik, mereduksi manusia menjadi sekadar angka-angka statistik, rapor kuantitatif, dan pencetak tenaga kerja siap pakai demi roda industri global. Padahal, jauh sebelum istilah “Merdeka Belajar” bergema di ruang-ruang birokrasi modern, nusantara kita telah memiliki ekosistem nilai yang mandiri dan berdaulat. Di bumi Maluku Utara, warisan luhur Kie Raha (Empat Gunung/Kesultanan: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) bukan sekadar catatan sejarah tentang kejayaan rempah dan geopolitik masa silam. Ia adalah kompas moral, sebuah cetak biru peradaban yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan kekuasaan.

Hari ini, ketika arus globalisasi dan homogenisasi budaya mengikis identitas lokal anak-anak muda kita, pertanyaannya bagaimana kita merawat jiwa keindonesiaan tanpa kehilangan akar kepulauan? Jawabannya terletak pada upaya radikal untuk mengawinkan kembali ruh falsafah Kie Raha dengan semangat Kurikulum Merdeka.

Membaca Ulang Kie Raha dalam Lanskap Pedagogi Modern

Secara historis, konfederasi Kie Raha merepresentasikan tatanan sosial yang dibangun di atas fondasi keseimbangan, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia (saling menghargai). Alam Maluku Utara yang kaya baik rempah, laut, maupun gugusan gunung yang tidak dipandang sebagai objek eksploitasi semata, melainkan bagian dari entitas kebudayaan yang mendidik.

Berdasarkan konteks pedagogi kritis, merdeka belajar sejatinya adalah proses memerdekakan akal budi (liberating minds). Ketika kurikulum lokal di Maluku Utara hanya diisi oleh pengetahuan generik yang bersumber dari pusat, peserta didik kita sedang mengalami keterasingan kognitif. Mereka mengenal teori ekologi global, tetapi abadi dalam ketidaktahuan mengenai filosofi Fagogoru (sikap hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetiaan, dan solidaritas) yang hidup di tanah kelahiran mereka.

Maka, menanamkan akar kebudayaan melalui Kie Raha ke dalam ruang-ruang kelas bukanlah bentuk chauvinisme daerah. Ini adalah strategi kebudayaan untuk melahirkan subjek didik yang memiliki local rootedness, global outlook yang berakar kuat pada kearifan lokal, namun siap berdiri tegak menghadapi kompleksitas zaman.

Tiga Pilar Transformasi Kurikulum Berbasis Kie Raha

Agar integrasi ini tidak berhenti sebagai slogan seremonial di atas kertas, transformasi kurikulum lokal harus diterjemahkan secara taktis ke dalam tiga pilar utama:

1. Transformasi Muatan Lokal 

Selama ini muatan lokal kerap direduksi menjadi pelajaran tambahan yang sekadar hafalan seni tari atau bahasa daerah. Ke depan, nilai-nilai Kie Raha harus diintegrasikan sebagai core values dalam pendekatan lintas mata pelajaran. Konsep kepemimpinan dan kebijaksanaan Kesultanan masa lampau dapat diadaptasi dalam proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Nilai gotong royong dalam tradisi maritim lokal diintegrasikan ke dalam sains lingkungan dan sosiologi.

2. Kontekstualisasi Ruang Belajar

Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui ceramah di dalam kelas. Wilayah Maluku Utara dengan bentang alam kepulauan dan sejarah rempahnya adalah laboratorium hidup yang paling otentik. Sekolah-sekolah di Ternate, Tidore, Halmahera, hingga pulau-pulau terluar harus mampu menjadikan situs-situs sejarah kesultanan dan ekosistem pesisir sebagai living classroom. Siswa diajak untuk tidak hanya memahami sejarah secara tekstual, tetapi merawat situs budaya, memahami kearifan nelayan lokal dalam membaca musim, dan merajut kembali memori kolektif tentang jalur rempah.

3. Rekonstruksi Peran Guru 

Guru di Maluku Utara tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai penyampai materi kurikulum nasional. Mereka harus mengambil peran kultural layaknya para tetua adat yang menuliskannya dalam laku hidup sehari-hari. Pelatihan guru berbasis kearifan lokal mendesak untuk dilakukan, agar para pendidik memiliki kapasitas menerjemahkan filosofi leluhur ke dalam bahasa pedagogi yang relevan dengan generasi digital (Gen Z dan Alpha).

Menyongsong Kedaulatan Manusia Maluku Utara

Hilirisasi industri nikel dan eksploitasi sumber daya alam yang masif saat ini sedang mengubah wajah Maluku Utara secara drastis. Jika dunia pendidikan kita gagal menanamkan fondasi karakter yang kokoh, kita tidak hanya akan menjadi penonton di atas tanah sendiri, tetapi juga melahirkan generasi yang mengalami amnesia kultural yang asing di rumahnya sendiri, gagap di dunia luar.

Falsafah Kie Raha menawarkan penawar yang mujarab. Ia mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus berjalan seiring dengan keluhuran budi pekerti. Dengan mengawinkan kearifan lokal ini ke dalam Kurikulum Merdeka, kita sedang membangun benteng pertahanan mental yang tangguh.

  • Penulis: Irfandi R. Hi Mustafa Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara Wakil Sekretaris GP Ansor Maluku Utara
  • Editor: Redaktur Balengko Creative Media
  • Sumber: Mursid Puko

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suasana interaktif saat personel Densus 88 AT Polri berdialog dengan pelajar di Ternate terkait kreativitas digital. Fokus utama kegiatan adalah menekan angka anak terpapar radikalisme yang pada tahun 2025 mencapai 112 anak di Indonesia. (Source: Istimewa)

    Waspada Digital Grooming, Satgaswil Maluku Utara Densus 88 AT Polri Edukasi Siswa SMA Islam Ternate Terkait Bahaya Radikalisme Online

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Mursid Puko
    • visibility 295
    • 0Komentar

    TERNATE (BALENGKO) – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Maluku Utara Densus 88 Anti Teror (AT) Polri terus memperkuat benteng pertahanan generasi muda terhadap ancaman radikalisme. Kali ini, Tim Pencegahan Satgaswil Malut menggelar sosialisasi dan edukasi intensif bagi siswa-siswi SMA Islam Kota Ternate guna mengantisipasi penyebaran paham radikal melalui media daring, Selasa (10/2). Dalam kegiatan tersebut, Anggota […]

  • Wagub Malut & Menkes Budi Gunadi Sadikin Letakkan Batu Pertama RSUD Sanana

    Wagub Malut & Menkes Budi Gunadi Sadikin Letakkan Batu Pertama RSUD Sanana

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 682
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Sanana, Kamis, 17 Juli 2025 Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan peningkatan kualitas RSUD Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Kamis (17/7/2025). Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, beserta jajaran, Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Sula, Ketua dan Anggota DPRD, Forkopimda, serta tenaga medis […]

  • GP Ansor Maluku Utara Bersilaturrahim dengan Sultan Ternate: Kolaborasi untuk Mengembangkan Pariwisata Religius dan Menghidupkan Budaya Islam di Kota Ternate

    GP Ansor Maluku Utara Bersilaturrahim dengan Sultan Ternate: Kolaborasi untuk Mengembangkan Pariwisata Religius dan Menghidupkan Budaya Islam di Kota Ternate

    • calendar_month Jumat, 11 Apr 2025
    • account_circle Muzstakim
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Ternate, (11/4/25) – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Maluku Utara mengawali masa kepengurusannya dengan melakukan silaturrahim bersama Yang Mulia Sultan Ternate, sebagai langkah awal untuk memperkuat sinergi dengan Kesultanan Ternate, khususnya dalam mengembangkan potensi pariwisata religius di Kota Ternate. Dalam pertemuan penuh kehangatan tersebut, Sultan Ternate menyampaikan pentingnya menghidupkan kembali budaya-budaya Islam yang pernah mengakar […]

  • Pendampingan Hukum Dipersoalkan, LBH Ansor Sampaikan Keberatan ke Kejari Sanana

    Pendampingan Hukum Dipersoalkan, LBH Ansor Sampaikan Keberatan ke Kejari Sanana

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Balengko Space
    • visibility 1.209
    • 0Komentar

    BalengkoSpace.com, Sanana, 19 Juli 2025 — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Wilayah Maluku, Maluku Utara, Bali, dan Nusa Tenggara menyampaikan keberatan atas tindakan Kejaksaan Negeri Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, yang dinilai membatasi hak pendampingan hukum terhadap seorang warga dalam proses pemeriksaan. Koordinator Wilayah LBH Ansor, Dr. (cand) Al Walid Muhammad, S.H., M.H.Li, menyebutkan bahwa pihaknya […]

  • Arti jahil murakkab

    Sindrom Pahlawan Kesiangan: Ketika Kekuasaan Melahirkan Kebijakan Berbasis Selera

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Oleh: Hamdy M. Zen Dosen PBA IAIN Ternate
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Secara bahasa, kata jahil berasal dari bahasa Arab al-jahl yang berarti: tidak mengetahui, kebodohan, lawan dari ilmu. Orang yang jahil adalah orang yang tidak memiliki pengetahuan atau bertindak tanpa dasar ilmu. Sementara itu, beberapa ulama menjelaskan makna jahil sebagai berikut: Imam Al-Raghib Al-Ashfahani menjelaskan bahwa jahil adalah kosongnya jiwa dari ilmu dan pengetahuan yang benar. […]

  • Mobil Tergelincir ke dalam Sawah di Bantul, Diduga Karena Jalan Sempit dan Licin

    Mobil Tergelincir ke dalam Sawah di Bantul, Diduga Karena Jalan Sempit dan Licin

    • calendar_month Kamis, 8 Mei 2025
    • account_circle Arafik Ramli
    • visibility 736
    • 0Komentar

    Yogyakarta (balengkospace.com) – Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis sore (8/5/2025) membuat kondisi jalan menjadi licin dan rawan kecelakaan. Akibatnya, sebuah mobil yang mengangkut suku cadang motor terperosok ke dalam sawah di Jalan Karangjati, Jetis, Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB. […]

expand_less