Sepenggal kisah pulang seorang kakak untuk adik-adiknya di Rote Ndao
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kelas Inspirasi Rote Mengajar 2026 (Sumber: Dokumentasi Rote Mengajar oleh Josephina Manurung).
Tiga puluh tahun lalu, tahun 1996, adalah terakhir kalinya saya menetap di Pulau Rote. Saat itu saya hanyalah anak desa yang berangkat merantau untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas, membawa cita-cita yang bahkan saya sendiri belum berani ukur besarnya. Sejak hari itu, jalan hidup membawa saya jauh dari Nusa Fua Funi tercinta ini: kuliah, lalu bekerja di berbagai organisasi nasional dan internasional, berpindah dari satu pulau ke pulau lain, mengunjungi satu negara ke negara lain, dari satu program pembangunan ke program lainnya.
Dua puluh dua tahun saya dedikasikan untuk isu perlindungan anak dan perempuan, energi terbarukan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, tata kelola lingkungan, adaptasi perubahan iklim, kesetaraan gender dan inklusi sosial, hingga pemberdayaan masyarakat di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Namun ada satu hal yang selama itu tak pernah terjadi: belum sekali pun saya hadir secara langsung menyentuh program pembangunan di tanah kelahiran saya sendiri, Pulau Rote.

Maka ketika Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menggagas Rote Mengajar 2026, sebuah gerakan yang ‘memanggil’ pulang para diaspora dan pemerhati pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia untuk berbagi inspirasi kepada anak-anak Rote Ndao, saya justru merasa yang lebih dulu terinspirasi adalah saya sendiri. Bukan saya yang datang untuk menginspirasi, tetapi jiwa saya yang dipanggil untuk pulang.
Panggilan ini sederhana. Saya rindu pada suara riang, senyum polos, rasa penasaran, dan sukacita adik-adik di kampung halaman, khususnya di Sekolah Dasar Inpres Tolanama. Saya pulang bukan untuk berceramah tentang keberhasilan, melainkan untuk duduk dekat mereka, bercerita, dan merasakan kembali kehangatan yang selama ini hanya hidup dalam ingatan.
Saya ingin bercerita kepada mereka bahwa dahulu saya juga adalah anak seperti mereka: anak desa dengan segala keterbatasan, yang tumbuh di tengah kesederhanaan, namun menyimpan cita-cita besar seperti yang mungkin kini bersemayam di dada mereka. Yang membedakan bukan bakat atau keberuntungan semata, melainkan ketekunan dan komitmen yang dijaga dari waktu ke waktu, disertai dukungan doa dan kasih dari orang tua, keluarga, serta lingkungan sekitar. Di atas semua itu, saya percaya perjalanan ini terjadi karena penyertaan Tuhan yang tak pernah putus.
Dari titik berangkat yang sederhana itu, saya kemudian diberi kesempatan menikmati sisi dunia yang lain: bekerja bersama lembaga-lembaga internasional, menempuh pendidikan magister di luar negeri (Australia), dan terlibat dalam program-program pembangunan lintas pulau dan lintas negara. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menjadi bukti hidup bagi adik-adik saya di Rote Ndao: bahwa jarak antara sebuah desa kecil di ujung selatan Indonesia dengan dunia yang luas itu bukan tidak bisa ditempuh.
Rote Mengajar, bagi saya, adalah ruang untuk menutup jarak itu. Bukan dengan panggung besar atau seremoni, tetapi dengan kehadiran yang tulus. Saya ingin anak-anak Tolanama dan Rote Ndao pada umumnya tahu bahwa cita-cita mereka sah untuk besar, sebesar apa pun keterbatasan yang mengelilingi mereka hari ini. Bahwa dari ruang kelas sederhana dengan lantai semen dan bangku kayu, seorang anak tetap bisa tumbuh menjadi apa saja yang ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Kembali ke Rote setelah tiga puluh tahun bukan sekadar napak tilas. Ia adalah cara saya membayar rindu sekaligus membayar utang batin kepada tanah yang membesarkan saya. Sebagai seorang kakak, saya hanya ingin memeluk kembali suara-suara riang itu, dan berbisik pelan: ‘Kalian bisa. Karena kakakmu juga pernah berdiri di titik yang sama seperti kalian sekarang.’
Dan jika satu anak di Tolanama kelak percaya bahwa dari desanya yang kecil ia bisa menjangkau dunia, maka perjalanan pulang ini sudah lebih dari cukup maknanya.
- Penulis: Admin
- Editor: Balengko Creative Media
- Sumber: Ba’a, 25 Agustus 2026 Welhelmus Poek, S.Pt., M.IntlDev. Relawan Rote Mengajar 2026 dan Project Manager RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi NTT, Relung Indonesia.

Saat ini belum ada komentar