61 Kebakaran Terjadi di Morotai Selatan, Luas Lahan Terbakar Capai 62 Hektare
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sepanjang Jan–Ags 2026, tercatat 61 kasus kebakaran di Kec. Morotai Selatan dengan total area terbakar 62,195 ha. (Source: Istimewa)
BALENGKO SPACE, MOROTAI – Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menghadapi ancaman serius akibat kebakaran lahan dan permukiman. Selama periode Januari hingga Agustus 2026, tercatat 61 kejadian kebakaran dengan total luas area terbakar mencapai 62,195 hektare.
Data tersebut dikonfirmasi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Pulau Morotai, Akri Yuti Wijaya, dalam keterangannya baru-baru ini.
Sebagian besar kejadian didominasi oleh kebakaran lahan kering dan semak belukar di sekitar permukiman warga. Faktor musim kemarau yang berkepanjangan serta minimnya sumber air di sejumlah lokasi menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.
Berdasarkan pemetaan titik rawan, Desa Gotalamo mencatatkan frekuensi tertinggi dengan 22 kejadian. Disusul oleh Desa Juanga (10 kejadian), Perumahan Amerika di Kilo 2 (9 kejadian), serta Desa Falila dan Dehegila yang masing-masing mengalami 4 kejadian.
Akri menjelaskan bahwa Desa Gotalamo, Juanga, Falila, dan Dehegila masuk dalam kategori risiko tinggi. Sementara itu, Perumahan Amerika dan Desa Darame berada pada kategori risiko sedang.
Ancaman kebakaran tidak hanya merusak lahan, tetapi juga menghanguskan properti warga. Pada 27 Juli 2026, kebakaran di Desa Falila melahap tiga bangunan semi-permanen. Sebelumnya, pada Maret 2026, kawasan Lemonade juga mengalami kebakaran yang menghanguskan rumah dan bengkel milik warga.
Dari sisi luasan, dua kejadian terbesar terjadi pada 27 Juli 2026 di Desa Falila dan 21 Agustus 2026 di Desa Juanga. Masing-masing kejadian mengakibatkan hangusnya lahan seluas sekitar 16 hektare.
Di tengah tingginya angka kejadian, kapasitas penanganan Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pulau Morotai masih sangat terbatas. Saat ini, instansi tersebut hanya memiliki dua unit armada, yakni satu mobil pemadam kebakaran dan satu kendaraan suplai air.
Akri mengakui bahwa keterbatasan ini menjadi risiko jika terjadi kebakaran simultan di beberapa lokasi.
“Selama ini dengan satu armada [pemadam] kami masih bisa menjangkau. Namun, saya menekankan pentingnya memiliki dua armada aktif. Jangan sampai terjadi kebakaran di Desa Juanga, lalu secara bersamaan ada kebakaran di Perumahan Amerika atau Desa Daruba. Dengan dua unit, kami bisa membagi tugas,” ujar Akri.
Selain armada, jumlah personel juga jauh dari kebutuhan ideal. Damkar Kabupaten Pulau Morotai saat ini hanya memiliki 16 personel, padahal standar ideal membutuhkan setidaknya 40 orang untuk melayani seluruh wilayah kabupaten.
“Untuk personel, kami masih kekurangan banyak. Seyogianya 40 personel adalah jumlah yang ideal,” tambah Akri.
Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat musim kemarau masih berlangsung. Api dari lahan terbuka berpotensi merambat cepat ke kawasan permukiman jika tidak segera ditangani.
Pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat upaya pencegahan, tidak hanya mengandalkan respons pemadaman saat kejadian berlangsung. Penambahan armada dan personel, serta penyediaan titik-titik sumber air strategis di kawasan rawan bencana, menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran di Pulau Morotai.
- Penulis: Mujizad Mandea
- Editor: Balengko Creative Media
- Sumber: Go Indonesia.id

Saat ini belum ada komentar